Halaman profil dari upromosi

upromosi

laki-laki - 33 tahun, kartasura, Indonesia
4.677 pengunjung

Blog 34

Pendaftaran Saja Member Baru Dibuka kembali 16 JULI 2011 JAM 9 PAGI
s/d
17 JULI 2012 JAM 9 PAGI (24 JAM).
Join Bersama Saya Di :
HOME INVESTASI PROFIT TERBESAR DARI SEMUA WEB DIINTERNET

SILAKAN TELFON

KONFIRMASI AKTIVASI

Konfirmasi Pembayaran & Aktivasi

Format: #No.rekening # JumlahTransfer #Bank# NamaAnda

TRANSFER LIBERTY RESERVE SAJA
https://sci.libertyreserve.com/en?lr_acc=U68578...-

REKENING LR U6857821

kirim SMS SEBELUM TRANSFER
hp.082135866712

1. Menawarkan Paket Investasi mulai 300 Rb

2.Tiap member/investor diperkenankan memilih Paket Investasi yang ditawarkan . Seberapa banyak Paket Investasi yang dipilih diserahkan sepenuhnya kepada keinginan dan kemampuan masing-masing investor.

3. Memberikan keuntungan dengan KEPASTIAN PROFIT BULANAN berkisar antara 45 % - 55 % dari total investasi yang akan dibayarkan pada Tgl 1-7 tiap bulannya.
4. Masa kontrak selama 12 bulan .
5. Selesai Masa Kontrak (12 Bulan) seluruh dana member/ investor akan dikembalikan penuh (100 % dari total investasi).
6. Memberikan Bonus-Bonus tambahan
bonus tambahan antara lain

1.

Best-Forex-Signal untuk trading saya ini, senantiasa dapat membantu anda untuk mencapai sukses... more profit rtaher than lost .. di setiap akhir bulan-nya ...

Materi yang Saya tulis di dalam nya sudah lengkap dengan berbagai pengamatan maupun pengalaman Saya dalam menjalankan bisnis trading forex. Anda tinggal mengaplikasikan tanpa trial & error ..

Isi detail dan semua petunjuk pemakaian signal dari saya ini ... akan langsung saya kirim spesial & khusus untuk Anda ...

Tanpa perlu up date, tanpa perlu trial error lagi, Unlimited version ...

Saatnya mendapatkan profits, tidak ada istilah floating, tidak ada istilah swap dan yang penting tidak ada istilah margin call lagi ...

Itu semua akan Anda dapatkan ... Tentu saja setelah Anda memesannya ....

Oleh karena itu .... Segera Pesan sekarang juga !!
Dan jangan biarkan orang lain mendahului Anda

Jika Anda benar-benar berminat & ada kesungguhan memperoleh kekayaan yang melimpah-ruah ini, jangan berlengah lagi. Tempahlah naskah Anda SEKARANG. Lebih cepat Anda belajar, lebih cepat Anda mengisi rekening bank Anda.

Jika Anda ingin mencoba-coba juga membuat trade tanpa ilmu dan teknik yang benar, Anda bisa mencoba. Tidak ada bisa melarang Anda. Tapi percayalah, Anda mungkin menghadapi kerugian yang berlipat ganda. Jangan risikokan uang Anda ke trade yang merugikan. Dapatkan naskah Anda sekarang dan mulai menghasilkan trade yang terus-terusan menguntungkan Anda.

Jika Anda inginkan kekayaan cepat, forex TIDAK sesuai untuk Anda ..

Bagaimana kuasaforex Menguntungkan Anda?

Anda akan diberikan PERISIAN/SOFTWARE Istimewa indikator khas KUASAFOREX yang disertakan bersama pembelian ebook ini. Anda akan diberikan PERANGKAT LUNAK / SOFTWARE Istimewa indikator khusus kuasaforex yang disertakan bersama pembelian ebook ini. Anda hanya perlu BUY bila indicator berwarna biru & SELL bila indikator berwarna merah . Anda hanya perlu BUY bila indicator berwarna biru & SELL bila indikator berwarna merah. Ianya lebih mudah dan senang untuk membolehkan anda trade dengan betul. Ini lebih mudah dan senang untuk memungkinkan Anda trade dengan benar.

Setelah anda tahu posisi mana yang harus anda ambil (sama ada BUY atau SELL), anda kemudian boleh melakukan trade menggunakan trading platform broker apa saja sama ada menggunakan Streamster Marketiva, FXCM TradeStation atau apa saja trading platform. Setelah Anda tahu posisi mana yang harus Anda ambil (apakah BUY atau SELL), Anda kemudian bisa melakukan trade menggunakan trading platform broker apa saja apakah menggunakan Streamster Marketiva, FXCM TradeStation atau apa saja trading platform. Cara mendaftar brokering account juga diterangkan dalam ebook padat ini. Cara mendaftar brokering account ini dijelaskan dalam ebook padat ini.

Contoh: Contoh:
Jika anda menggunakan broker FXCM (atau apa saja broker forex lain) dan bila anda check Indicator Kuasaforex, ia menunjukkan BUY untuk pair GBP/USD . Jika Anda menggunakan broker FXCM (atau apa saja broker forex lain) dan bila Anda check Indicator kuasaforex, ia menunjukkan BUY untuk pair GBP / USD. Jadi, pada trading platform broker anda yang dihubungkan secara ONLINE, anda klik BUY. Jadi, pada trading platform broker Anda yang dihubungkan secara ONLINE, Anda klik BUY. Bila selesai, anda kini telah mempunyai posisi LONG atau BUY. Kapan selesai, Anda kini telah memiliki posisi LONG atau BUY. Begitulah caranya,tak kira sama ada anda trade guna Streamster, FXCM TradeStation ataupun Metatrader. Semuanya boleh. Begitulah caranya, tak peduli apakah Anda trade guna Streamster, FXCM TradeStation atau Metatrader. Semuanya bisa. Yang penting, anda tahu arah pergerakan pasaran (sama ada UP or Down) Yang penting, Anda tahu arah pergerakan pasar (apakah UP atau Down)

Indicator Kuasaforex ini mudah dilihat dan memberikan trading 'tips' bagaikan seorang pakar memberi anda "tips" untuk mendapatkan trade yang meguntungkan. Indicator kuasaforex ini mudah dilihat dan memberikan trading 'tips' bagaikan seorang pakar memberi Anda "kiat-kiat" untuk mendapatkan trade yang meguntungkan. Penerangan lanjut akan diberikan secara terperinci di dalam ebook KUASAFOREX. Deskripsi lanjut akan diberikan secara rinci di dalam ebook kuasaforex.

ebook KuasaForex juga akan memuatkan asas-asas bagi analisis teknikal (carta candlestick dan indicator lain-lain seperti MACD, RSI, Bollnger Band dan lain-lain) serta penerangan mengenai analisis fundamental yang mudah difahami. ebook kuasaforex ini akan memuat dasar-dasar untuk analisis teknis (tabel candlestick dan indicator lain-lain seperti MACD, RSI, Bollnger Band dan lain-lain) serta informasi mengenai analisis fundamental yang mudah dipahami.

Jangan Putuskan Sekarang ...
Try Profitable Trend Forex Trading System Risk-Free ... Cobalah Trend Forex Trading System Menguntungkan Bebas Risiko ...
...With My Iron-Clad 8-Week 100 Money-Back Guarantee ... Dengan Besi-Clad saya 8-Pekan Jaminan 100 Uang Kembali

Try it risk-free. Get the system . Cobalah bebas risiko. Dapatkan sistem. Discover the most powerful trading signals, techniques, and methods. Temukan sinyal perdagangan yang paling kuat, teknik, dan metode. Apply them to your trading. Menerapkannya pada trading Anda. And win numerous multiple trades . Dan memenangkan beberapa perdagangan banyak.

In the incredibly unlikely event that you cannot make money after 8 weeks strictly following the system's rules, just return it and you'll receive a prompt and courteous 100% refund - every penny of your money back. Dalam hal sangat mungkin bahwa Anda tidak dapat membuat uang setelah 8 minggu ketat mengikuti aturan sistem, hanya mengembalikannya dan Anda akan menerima pengembalian uang 100% prompt dan sopan - setiap sen uang Anda kembali.

You need to actually trade on a demo or live account to gain experience and knowledge. Anda harus benar-benar perdagangan demo atau account live untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Simply reading will not get you anywhere. Cukup membaca tidak akan mendapatkan Anda di mana saja. Just show me your trading records (demo or live account) which is not profitable after 8 weeks and I'll refund every single cent. Tunjukkan saja catatan trading Anda (akun demo atau hidup) yang tidak menguntungkan setelah 8 minggu dan saya akan mengembalikan setiap sen tunggal.

That's the whole 8 weeks to evaluate it yourself and put this powerful system to a test. Now I'm sure you agree it's more than fair! Itulah 8 seluruh minggu untuk mengevaluasi sendiri dan menempatkan ini sistem yang kuat untuk menguji. Sekarang aku yakin Anda setuju bahwa itu lebih dari adil!

Use this system in your trading every day to skyrocket your profits . Menggunakan sistem ini dalam trading Anda setiap hari untuk keuntungan Anda meroket. And within the full 8 weeks, I'm completely confident that you will be absolutely satisfied. Dan dalam 8 minggu penuh, aku benar-benar yakin bahwa Anda akan benar-benar puas. And your account will enormously fatten . Dan account Anda akan sangat menggemukkan.

If not, and if you cannot trade profitably with Profitable Trend Forex System, then return it to me for a full refund. Jika tidak, dan jika Anda tidak dapat perdagangan menguntungkan dengan Trend Forex System Menguntungkan, kemudian kembali ke saya untuk pengembalian dana penuh.
That's my personal promise . Itu janji pribadi saya. You have absolutely no risk. Anda benar-benar tanpa resiko. All the risk is on me. Semua risiko ini pada saya.


  • http://rahasiascript.com/gift/hadiahAnda.php

    http://rahasiascript.com/gift/hadiahAnda.php

  • video berjalan diatas air

    http://paranormal-indonesia.blogspot.com/searc...

  • http://paranormal-indonesia.blogspot.com/

    PECUT SAKTI BAJRAKIRANA
    BAGIAN 8

    Namun Sutejo tidak memusingkan hal itu. Kalau dia hendak mendesak Joko Susilo, dia harus lebih dahulu membuat dua orang laki-laki itu tidak berdaya. Oleh karena itu, dia lalu mengubah gerakan dan serangannya. Tidak lagi dia mendesak untuk merampas pecut dari tangan Joko Susilo. Sebaliknya dia mendesak Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo dengan gerakan ikat kepalanya. Dan usahanya berhasil. Dua orang laki-laki tinggi besar ini kalah jauh dalam hal kecepatan gerakan oleh Sutejo, maka begitu Sutejo mendesak, mereka menjadi kewalahan dan main mundur, mengelak dan menangkis sambaran ujung ikat kepala yang demikian cepatnya sehingga mereka tidak mampun membalas lagi!

    Joko Susilo melihat pemuda itu kini mendesak ayah dan pamannya, lalu menerjang Sutejo dengan pecut itu.

    “Tar-tarrr…..!” Pecut itu meledak di atas kepala Sutejo dan menyambar turun bagaikan seekor burung garuda mematuk ke arah ubun-ubun kepala Sutejo!

    Hemm, hebat juga pemuda remaja ini, pikir Sutejo. Bahkan mungkin ilmu kepandaiannya melampaui ayah dan pamannya. Akan tetapi dia sudah siap dan melihat pecut itu meledak dan menyambar ubun-ubun kepalanya, dia lalau menggerakkan tangan kirinya dan sekali sambar dia sudah dapat menangkap ujung pecut!

    Terjadi tarik menarik dan karena takut kalau-kalau pecut itu akan putus, terpaksa Sutejo melepaskannya dan dia kini mendesak dengan hebat ke arah dua orang laki-laki itu.

    Trisula yang menyambar ke arah dadanya dia sambut dengan ikat kepalanya yang ujungnya melibat trisula dan sebelum Ki Mundingloyo dapat menarik kembali trisulanya, tangan kiri Sutejo sudah mendahului memukul ke depan dengan Aji Gelap Musti, akan tetapi tentu saja dengan pengerahan tenaga terbatas karena dia tidak ingin mencelakai orang.

    “Wuuutttt…. Desss…..!” Tubuh Ki Mundingloyo terpental dan trisulanya terampas oleh Sutejo.

    Pada saat itu, Ki Mundingsosro menyerangkan goloknya. Sutejo yang memegang trisula dengan tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

    “Traanngggg…..!!”

    Golok itu patah menjadi dua dan Ki Mundingsosro melompat ke belakang dengan kaget sekali. Jelas bahwa dia dan Ki Mundingloyo telah kalah dan kini Joko Susilo menghadapi Sutejo seorang diri. Akan tetapi pemuda remaja itu tidak merasa gentar walaupun ayah dan pamannya sudah tidak membantunya lagi.

    “Berikan pecut itu!” kata Sutejo sambil mengejar Joko Susilo.

    “Hemm, Kalau engkau dapat merebutnya, rebutlah!” tantang Joko Susilo sambil menyeringai mengejek.

    Panas rasa hati Sutejo dan dia menubruk dengan cepat. Namun, Joko Susilo mengelak dengan kecepatan seperti seekor burung sikatan sehingga tubrukan itu luput. Sutejo menjadi penasaran. Tentu saja dia tidak ingin memukul pemuda remaja itu, melainkan hanya ingin merebut pecutnya. Kembali dia menubruk, namun Joko Susilo sungguh gesit luar biasa. Sampai belasan kali Sutejo menubruk, makin lama semakin cepat, namun tetap saja tidak berhasil, bahkan ketika Joko Susilo menggerakkan pecutnya, ujung pecut mengenai lengan Sutejo sehingga kulit lengannya terdapat guratan merah. Marahlad dia!

    “Anak kepala batu!” bentaknya dan kini dia menubruk, ketika Joko Susilo mengelak, ,tangan kirinya menyambar dengan pukulan Gelap Musti dengan tenaga terkendali ke arah kaki pemuda remaja itu. Sekali ini Joko Susilo tidak dapat mengelak. Kakinya mendadak seperti lumpuh dan diapun terguling jatuh, ,dan di lain saat pecutnya sudah berpindah ke tangan Sutejo! Sutejo cepat melibatkan pecut itu di pinggangnya dan ketika melihat pemuda remaja itu merangkak hendak bangkit berdiri, dia lalu menyambar lengan kanannya dan mememuntir lengan itu. Tubuh Joko Susilo terpuntir dan dia berteriak kesakitan dan di lain saat tubuhnya sudah di telungkupkan di atas kedua paha Sutejo yang sudah duduk di atas tanah. Kemudian, tangan kanan Sutejo mengempit kedua tangan itu kebelakang dan tangan kirinya mulai menampari pinggul Joko Susilo.

    “Plak plak plak plak!” Empat kali dia menampar bagian tubuhh yang berdaging itu.

    “Aduh-aduh-aduhhh…… lepaskan aku…. Huhuuh huhu….!” Joko Susilo berteriak-teriak sambil menangis mengguguk. Tubuhnya meronta sehingga pengikat rambutnya terlepas dan kini rambut yang panjang hitam itu terurai di sekitar pundak dan punggungnya.

    Sutejo merasa tubuhnya seperti disengat ular berbisa! Dia melepaskan pegangannya dan melompat berdiri, matanya terbelalak keherannya memandang kepada Joko Susilo yang masih menangis sesegukan, kedua tangannya menggosok mata yang mengalirkan air mata! Dia merasa terkejut bukan main dan ada perasaan aneh menyelinap di hatinya.

    “Kau…. Kau….!” Dia berkata sambil menundingkan telunjuknya ke arah pemuda remaja yang kini rambutnya tergerai lepas. Baru sadarlah dia bahwa Joko Susilo itu sebenarnya adalah seorang wanita, seorang dara yang cantik jelita! Dan baru saja dia menampari pinggulnya, pinggul seorang gadis.

    Ki Mundingsosro mengahmapiri anaknya dan membantunya bangkit berdiri.

    “Sudahlah, Retno. Tidak perlu menangis lagi karena engakau memang bersalah.”

    “Akan tetapi….. dia….. dia…… memukuli pinggulku. Aku benci padanya, ,aku benci…….!” Dan gadis itu lalu melarikan diri kembali ke perkampungan sambil menangis.

    Sutejo menghadapi dua orang laki-laki itu dengan muka masih kemerahan dan jantung berdebar tegang.

    “Paman, apa artinya ini? Apakah Joko Susilo itu……..?”

    “Ia seorang gadis, anak mas Sutejo. Memang sejak kecil ia suka berpakaian dan menyamar sebagai pria dan wataknya juga liar dan ugal-ugalan seperti seorang anak laki-laki. Karena itulah, apabila ia menyamar sebagai seorang pria, kami memanggilnya Joko Susilo. Sebenarnya namanya adalah Retno Susilo. Ahhh, anak itu memang nakal, akan tetapi ia cerdik sekali, anak mas. Buktinya ia telah dapat memancing engkau datang ke sini untuk membantu kami. Marilah kita bicara di perkampungan agar lebih leluasa. Adi Munidngloyo, karena Retno telah pulang, maka tolong engkau yang menggiring domba-domba ini.”

    “Baiklah, ,kakang Mundingsosro, jawab Mundingloyo sambil tersenyum geli menyaksikan peristiwa itu.

    Sutejo lalu kembali ke perkampungan Sardula Cemeng bersama Ki Mundingsosro dan tak lama kemudian mereka sudah duduk di sebelah dalam rumah besar dan bercakap-cakap.

    “Paman, maafkan perlakuanku terhadap puterimu. Sungguh saya tidak pernah mengira bahwa ia seorang wanita.” Kata Sutejo dengan hati yang tulus karena dia benar-benar menyesali perbuatannya. Tentu saja kalau dia tahuhu bahwa Joko Susilo sebenarnya adalah Retno Susilo, ,dia tidak meungkin berani menelungkupkan tubuh gadis itu di atas pangkuannya dan menampari pinggulnya!

    Ki Mundingsosro tersenyum, “Tidak mengapa karena engkau memang benar tidak tahu akan hal itu. Boleh jadi malah kebetulan. Anak itu terlalu dimanja dan liar, dan agaknya sudah sejak dulu aku harus menampari pinggulnya biar ia kapok.”

    Agak terhibur hati Sutejo mendengar ini.

    “Ada suatu hal lagi yang membuat saya benar-benar tidak mengerti, paman, yaitu mengenai perkumpulan Sardula Cemeng. Perkumpulan apakah ini sebenarnya?”

    “Perkumpulan kami terdiri dari paksaan para petugas dari Blambangan untuk menjadi tentara. Juga kami menentang kejahatan dan dengan bersatu kami merasa kuat. Tadinya perkumpulan kami hanya kecil saja, bekerja sebagai petani di daerah ini, akan tetapi setelah ada pelatihan-pelatihan itu perkumpulan kami bertambah besar. Kami menentang kejahatan dan kami bekerja sebagai petani dan nelayan, juga peternak.”

    Sutejo mengangguk-angguk. “Akan tetapi ada hal aneh yang tidak saya mengerti paman. Kenapa saya kemarin tidak melihat anak buah paman mengenakan pakaian hitam dan mencoreng moreng mukanya seperti itu? Apa artinya ini semua?”

    Ki Mundingsosro tersenyum dan memuntir kumisnya yang tebal. “Semua itu selalu untuk menyesuaikan dengan nama perkumpulan kami, juga untuk mencegah agar muka para anggauta kami tidak dikenal orang, agar kami tidak lagi menjadi pelarian. Pula, ada alasan kuat mengapa aku memerintahkan mereka mencoreng moreng muka mereka. Ketahuilah anak mas Sutejo. Sebelum tinggal di sini, belasan tahun yang lalu. Aku pernah tinggal di pedalaman Kalimantan dan kebetulan aku menjadi kepala suku Dayak di sana. Aku membawa kebiasaan suku Dayak di sana. Aku membawa kebiasaan suku Dayak itu kesini, yaitu setiap kali hendak melakukan aksi atau hendak bertempur kami mencoreng moreng muka kami seperti yang dilakukan oleh suku Dayak”.

    “Dengan maksud?”

    “Untuk menambah wibawa, memperbesar semangat dan itu tadi, agar jangan dikenal orang.”

    “Kemudian, bagaimana dengan Mahesa Meta itu Paman? Siapakah sebenarnya orang itu dan bagaimana pula sampai bermusuhan dengan Paman?”

    “Sudah kuceritakan bahwa dia adalah seorang perampok tunggal yang sakti. Tidak mempunyai anak buah, akan tetapi untuk daerah pegunungan Kelud namanya terkenal sekali dan banyak penjahat yang tunduk kepadanya. Sebenarnya tidak ada permusuhan di antara kami karena daerah Gunung kelud bukan wilayah kami. Akan tetapi dua minggu yang lalu, Mahesa Meta menggangu penduduk dusun di daerah kami. Bukan saja dia menguras harta penduduk dusun itu, juga dia hendak menculik dua orang gadis kakak beradik. Mendengar ini kami lalu mendatanginya dan tidak dapat dihindarkan lagi, terjadi bentrokan antara kami dan dia. Dia seorang yang benar-benar digdaya, dan mungkin pengeroyokan kami bertiga tidak akan dapat mengalahkannya. Karena para penduduk dusun memihak kami hendak melakukan penggeroyokan, ditambah anak buah kami, ,dia lalu mundur dan berjanji bahwa dua pekan setelah hari itu, dia akan mendatangi perkampungan kami dan membinasakan semua orang. Kalau dia datang seorang diri saja, kami bersama semua anak buah mungkin masih dapat mengusirnya, akan tetapi kalau dia datang membawa pasukannya, bagaimana kami dapat melawannya? Itulah sebabnya maka Retno Susilo yang agaknya melihat kemampuanmu lalu memancingmu untuk datang ke sisni dan membantu kami. Maafkan caranya yang kasar, anak mas Sutejo, akan tetapi sesungguhnya anak saya itu tidak bermaksud buruk, sekedar untuk minta bantuanmu.”

    Sutejo mengangguk angguk. “Ia telah berhasil membuat aku berjanji dan tentu saja aku tidak akan mengingkari janji, Paman. Kalau Mahesa Meta datang hendak membikin ribut di sini, biarlah aku yang menghadapi dia. Akan kuminta dia mundur dengan baik-baik dan kalau dia memaksa tentu akan kutandingi. Akan tetapi, kapankah waktu yang ditentukan itu?”

    “Menurut perhitungan kami, besok pagi tentu dia sudah datang.”

    “Baik, aku akan menginap semalam lagi, menanti sampai dia muncul. “Kata Sutejo.

    Pada sore hari itu, setelah mandi dan bertukar pakaian, Sutejo berjalan-jalan dalam taman yang berada di belakang rumah indah perkumpulan Sardula Cemeng itu. Sebuah taman yang indah karena teratur baik dan tercium bau mawar dan melati bercampur keharuman bunga tanjung dan kantil. Ada pula bunga harum dalu dan sedap malam, menambah semaraknya taman itu dan merupakan pesta bagi hidung dan mata.

    Sutejo merasa segar dan senang berada di dalam taman itu. Akan tetapi ketika dia tiba di tengah taman dimana terdapat tempat peristirahatan beratap tanpa dinding, yang besarnya tidak lebih dari tiga meter persegi, dia melihat adanya seseorang duduk di sana. Orang itu duduk seorang diri, tidak bergerak-gerak. Karena orang itu adalah seorang wanita, ,dilihat dari samping ia seperti sebuah arca yang indah. Sutejo merasa tidak pantas untuk mendekatinya, , akan tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang aneh menariknya untuk menghampiri tempat peristirahatan itu. Tempat itu terbuka, maka apa salahnya untuk mendekati tempat itu?

    Akhirnya tibalah dia di belakang wanita itu. Wanita itu mendengar suara jejak kakinya, lalu memutar duduknya dan Sutejo terpesona. Alangkah cantik jelitanya gadis itu. Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing. Rambutnya panjang dibiarkan terurai dan di hias bunga dan hiasan rambut dari emas permata. Anak rambut berjuntai nakal di dahi dan pelipisnya. Alisnya hitam panjang dan sepasang mata itu! Bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, dihias bulu mata yang panjang lentik. Hidungnya kecil mancung, ujungnya agak berjungat ke atas sehingga tampak lucu sekali. Dan mulutnya! Demikian manis menggairahkan dengan sepasang bibir berbentuk gendewa terpentang.

    Sutejo terpesona dan tanpa berkedip mengamati wajah itu, bentuk tubuh yang langsing padat itu dan dia merasa seperti dalam mimpi. Mata dan mulut itu dikenalnya benar. Sama sekali tidak asing baginya. Akan tetapi kapan dan dimanakah dia pernah bertemu dengan dewi ini?

    Ketika memutar tubuh dan memandangnya, tiba-tiba saja kedua mata itu menjadi basah dan dua titik air mata menuruni sepasang pipi yang halus dan berbentuk sempurna itu.

    “Andika sungguuh cantik jelita,” keluar ucapan dari mulutnya yang langsung keluar dari hatinya, tidak sempat dicegahnya, “akan tetapi mengapa andika menangis?”

    Gadis itu berdiri perlahan-lahan dan tubuhnya tampak ramping dan padat dengan pinggang kecil dan dada membusung. Tangan kirinya bergerak perlahan, diangkat dan ditudingkan ke arah muka Sutejo.

    “Andika manusia kurang ajar! Mau apa engkau datang ke sini? Apakah mau menghina aku lagi?” suara itu terdengar mengandung isak.

    Suara itu! Sutejo segera mengenalnya. “Andika…..Joko……. eh, Retno Susilo?!”

    “Mau apa andika datang ke sini? Pergi!” Retno Susilo menundingkan telunjuknya mengusir Sutejo, , mulutnya cemberut dan sepasang matanya kini bersinar marah.

    Sutejo menundukkan mukanya. “Aku tahu…….. aku telah bersalah kepadamu, aku telah berbuat kurang ajar. Akan tetapi aku tidak tahuh bahwa andika seorang dara…..”

    “Tidak perlu membela diri. Engkau sudah melakukan hal yang tidak pantas terhadap diriku. Perbuatanmu tidak mungkin dapat kumaafkan sebelum aku membalas padamu!”

    “Begitukah, nimas? Baiklah, kalau andika baru dapat memaafkan aku setelah andika membalas perbuatanku itu, nah, lakukanlah! Pukullah aku dan aku tidak akan melawan, biar puas rasa hatimu!” Sutejo melangkah maju mendekat dan menundukkan mukanya, membiarkan kedua lengannya tergantung di kanan kiri tubuhhnya.

    Retno Susilo mengepal kedua tangannya, siap untuk memukul. Matanya menatap tajam penuh dendam. Kalau ia teringat betapa pinggulnya ditampari sampai empat kali, sehingga sampai saat itu masih terasa pedasnya, ingin ia memukuli pemuda di depannya ini untuk melampiaskan dendamnya dan untuk meredakan kemarahannya. Ia teringat bahwa tangan kiri pemuda ini yang memukuli pinggulnya. Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran dan ditangkapnya lengan kiri Sutejo, ditariknya mendekat dan…… digigitnya lengan tangan kiri itu sekuatnya!

    “Aduhh-aduhh…..!” Sutejo berseru kesakitan. Dia tidak mau menggunakan aji kekebalannya, takut kalau gigi dara itu menjadi rusak. Kalau dia menggunakan kekebalannya dan mengerahkan tenaga, tentu kulit lengannya akan berubah keras seperti baja. Maka diapun menyimpan tenaganya dan membiarkan lengan kirinya digigit. Akan tetapi gigitan itu kuat sekali sampai kulit dan dagingnya tertembus gigi dan robek.

    Setelah merasa kulit lengan itu robek dan ada rasa asin di mulutnya tanda bahwa luka itu berdarah, barulah Retno Susilo melepaskan giginya. Ia memandang terbelalak kepada lengan yang terluka dan berdarah itu, seperti orang tertegun.

    Seutejo menjulurkan kedua lengannya kedepan. “Kalau andika belum puas membalas, nimas Retno, silakan memilih lagi yang mana boleh kau gigit sampai penuh luka.”

    Retno Susilo memandang lengan yang terluka dan berkata lirih, “Lenganmu…. Luka berdarah…..! Nyerikah…..?”

    “Tentu saja nyeri.”

    “Biar kuberi obat agar lukanya tidak semakin parah.” Dara itu lalu menghampiri tanaman-tanaman obat yang terletak di sepetak tanah yang dipagari dan dengan cekatan dan cepat ia mengumpulkan beberapa macam daun dan terutama widoro upes, diremas-remasnya dengan jari tangannya dan setelah lebut dan mengeluarkan air lalu ditutupkan pada luka di lengan kiri Sutejo, ,kemudian dia membalut luka itu dengan sehelai saputangan sutera putih. Selama pengobatan ini Sutejo mengamati wajah itu dan jantungnya berdebar kencang. Alangkah cantik jelitanya dara ini. Jari-jari tangannya dengan cekatan merawat lukanya sehingga sebelum diobatipun Sutejo sudah merasakan kelembutan jari-jari tangan itu yang mempunyai daya menyembuhkan dan menghilangkan rasa nyeri.

    “Nah, sekarang lukamu tidak berbahaya lagi.” Kata Retno Susilo.

    “Terima kasih, nimas. Ternyata engkau seorang yang berbudi. Padahal aku pernah berbuat kurang ajar kepadamu, akan tetapi andika membalasnya dengan baik budi. Sekali lagi terima kasih dan sekali lagi maafkanlah aku atas perbuatanku tadi kepadamu.”

    “Kalau aku tidak memaafkanmu, tentu aku akan membunuhmu!” kata dara itu cemberut. “Dan aku tidak mau membunuhmu karena kami membutuhkan bantuanmu menghadapi Mahesa Meta.”

    “Andika memang pintar sekali, ,membuat aku sama sekali tidak mengira bahwa andika seorang dara.”

    “Sejak kecil aku memang suka berpakaian sebagai anak laki-laki, membuat aku lebih leluasa bergerak dan pergi ke mana saja. Kakang Sutejo, begitu sakitkah hatimu, begitu marahkah andika karena godaan-godaanku maka andika menghajarku?”

    “Maaf nimas. Karena aku menyangka andika seorang pemuda remaja yang amat nakal menggodaku, maka sejak semula aku sudah mengambil keputusan untuk memukuli pinggulmu kalau andika sampai terjatuh ketanganku. Kalau saja aku tahu bahwa andika seorang dara, sampai matipun aku tentu tidak mau melakukannya.”

    Agaknya setelah menggigit lengan Sutejo sampai berdarah, hati Retno Susilo sudah merasa puas dan ia tidak lagi memperlihatkan kemarahannya. Dua titik air mata yang masih tinggal di bawah matanya seperti embun di ujung daun, ,menambah kemanisannya.

    “Kakang Sutejo, aku sekarang menjadi khawatir.” Ia duduk kembali di atas bangku panjang itu dan tangannya mempersilahkan Sutejo untuk duduk di ujung bangku yang lain sehingga mereka duduk berjejer.

    “Apa yang kau khawatirkan, nimas Retno Susilo?”

    “Mahesa Meta itu sakti mandraguna, dan aku sudah melukai lengamu. Jangan-jangan luka di lenganmu itu menghalangi andika untuk memenangkan pertandinganmu melawannya.”

    “Ah, sama sekali tidak, nimas. Jangan khwatir. Luka di lenganku hanya kulit dan sedikit dagingnya saja, bahkan setelah andika memberi obat sekarang rasanya sudah sembuh dan sama sekali tidak terasa nyeri. Dan tentang Mahesa Meta, kalau memang dia itu jahat aku tentu akan berusaha untuk mengalahkannya sekuat tenagaku.”

    Gadis itu mengganguk. “Aku percaya bahwa engkau tentu akan menang, kakang Sutejo. Engkau telah dapat menangkan penggeroyokan kami bertiga. Andika ini masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Siapakah guru andika, kakang?”

    “Guruku adalah seorang pertapa, ,nimas.”

    “Ah, mengagumkan. Kalau begitu, ,gurumu tentulah seorang yang sakti mandraguna. Bolehkah aku mengetahui siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?”

    “Guruku bernama Bhagawan Sidik Paningal dan tinggal di lereng Gunung Kawi.”

    “Hebat, kiranya engkau seorang satria, murid seorang bhagawan, kakang. Aku sungguh merasa girang sekarang dapat bertemu dan berkenalan denganmu.”

    “Andika juga hebat, nimas. Seorang dara yang masih sangat muda….”

    “Muda? Usiaku sudah delapan belas tahun, kakang!”

    “Benarkah? Akan tetapi kalau andika berpakaian pria, tampaknya seperti bocah yang baru empat belas tahunn usianya. Andika masih begini muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang sudah tinggi, bahkan kalau aku tidak keliru menilai, kepandaianmu lebih tinggi dari ayah dan pamanmu. Terutama sekali kepandaianmu dalam hal kecepatan gerakan. Dan andika demikian penuh keberanian dan ketabahan.”

    Retno susilo memandang dengan senang. “Pandang matamu tajam bukan main, kakang. Dapat melihat dan membandingkan tingkat kepandaianku. Terus terang saja, selain menerima gemblengan dari ayah sendiri, akupun pernah selama beberapa tahun dijadikan murid seorang wanita sakti. Ia kebetulan merantau sampai ke daerah ini, bertemu dengan aku dan tertarik lalu memberi pelajaran aji kanurangan, terutama ilmu meringankan tubuh dan gerakan kilat.”

    “Pantas saja ketika aku pernah mengejar andika, aku tidak dapat menyusul. Bolehkah aku tahu, siapa nama gurumu yang mulia itu dan di mana tempat tinggalnya?”

    “ Sudah kukatakan ia seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia seorang nenek yang usianya sudah enam puluh lima tahun dan nama julukannya adalah Nyi Rukmo Petak karena seluruh rambutnya sudah putih.”

    Sutejo tidak pernah mendengar nama ini akan tetapi dapat menduga bahwa nenek yang menjadi guru Retno Susilo itu tentu seorang wanita yang sakti mandraguna.

    Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari arah luar rumah bagian depan. “Apa itu?” Retno Susilo bertanya.

    “Mari kita lihat!” kata Sutejo dan keduanya sudah berlompatan dan lari keluar dari taman itu. Biarpun ia berpakaian wanita, namun Retno Susilo masih dapat bergerak dan berlari dengan cepat dengan menyingkap kainnya karena ia mengenakan celana sebatas betisnya.

    Setelah tiba di luar, ternyata Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo telah berhadapan dengan tiga orang laki-laki.

    “Yang tinggi kurus itulah Mahesa Meta.” Kata Retno Susilo.

    Sutejo memandang penuh perhatian sambil menghampiri. Mahesa Meta adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan wajahnya membayangkan kecongkakan. Kepalanya dikedikan, sepasang matanya memancarkan sinar kejam dan mulutnya juga tertarik membentuk senyum mengejek dan memandang rendah semua orang. Wajahnya yang kurus tinggal kulit membungkus tulang sehingga dari jauh dia tampak seperti tengkorak.

    “Mahesa Meta!” seru Ki Munidngsosro dengan suara lantang. “Kiranya andika datang membawa kawan!”

    Mahesa Meta tersenyum lebar dan sinar matanya menyambar ke arah Retno Susilo dan seolah melahap gadis itu. Agaknya dia heran melihat dara yang cantik jelita itu berada di situ. Kepada Sutejo dia sama sekali tidak memperdulikan dan menganggap pemuda itu hanya seorang anggauta Sardula Cemen biasa saja.

    “Dua orang kawanku ini hanya datang sebagai saksi bahwa kalian tidak akan melakukan pengeroyokan atas diriku. Kita mempunyai perhitungan dan permusuhan, mari kita selesaikan satu lawan satu atau kalian boleh maju berbareng!” tantangnya. “Akan tetapi kalau anak buahmu semua maju mengeroyok, terpaksa dua orang kawanku ini akan turun tangan. Sardula Cemeng, hari ini aku Mahesa Meta akan membasmi kalian, kecuali kalau kalian semua menakluk dan menjadi anak buahku.

    “Dan membiarkan andika memimpin kami untuk menjadi perampok dan penjahat? Lebih baik mati daripada mempunyai seorang pemimpin macam andika, Mahesa Meta!” kata Ki Mundingloyo dengan suara nyaring.

    “Ha-ha-ha, memang yang membangkang akan mati ditanganku. Hanya yang menyerah saja akan dapat menjadi anak buahku. Sekarang siapakah diantara kalian berdua yang akan maju menandingiku? Ataukah kalian akan maju berdua mengeroyokku?” tantangnya sambil tertawa mengejek.

    “MAhesa meta, ,manusia sombong! Kami tidak akan main keroyokan. Kami telah mempunyai seorang wakil yang akan menandingimu! Anak mas Sutejo, silakan!” kata Ki Mundingsosro.

    Sutejo maju dengan langkah tenang menghadapi Mahesa Meta. Melihat yang maju hanya seorang pemuda yang tubuhnya tidak berapa besar, bahkan sikapnya sangat sederhana, Mahesa Meta tertawa bergelak. Juga dua kawannya yang semua bertubuh tinggi besar itu tertawa mengejek.

    “Hua hahahaha! Yang begini kalian ajukan sebagai jago? Suruh dia pulang ke pangkuan ibunya dan ajukan lawan yang lebih tangguh lagi. Kalian hendak menghinaku dengan mengajukan jagoan seperti ini, ,Mundingsosro?” Mahesa Meta tertawa sampai tubuhnya bergoyang-goyang.

    “Mahesa Meta, tadinya aku masih sangsi untuk percaya apakah engkau benar yang jahat. Akan tetapi setelah melihat sikapmu dan mendengar omonganmu, baru aku yakin bahwa engkau memang seorang penjahat besar yang berwatak sombong. Sumbarmu seolah dapat meruntuhkan puncak gunung! Ketahuilah, aku sudah berjanji kepada Sardula Cemeng untuk menandingimu dan mengalahkanmu. Apakah engkau gentar dan takut melawan aku?”

    Hua ha ha ha! Takut melawanmu? Biar ada semacam andika ini sepuluh orang jumlahnya dan maju bersama, aku tidak akan takut! Akan tetapi , orang muda sebelum kuhancurkan kepalamu, katakana dulu siapa engkau?”

    “Namaku Sutejo dan aku sudah siap untuk melawanmu, Mahesa Meta! Akan tetapi andika harus berjanji bahwa kalau andika kalah melawanku, selama hidupmu andika harus menjauhkan diri dari Sardula Cemeng dan tidak boleh mengganggu daerah wilayah ini lagi.”

    “Kalah olehmu? Hua ha ha ha, kalau aku sampai kalah olehmu, aku bersumpah tidak akan muncul lagi di dunia ramai!”

  • http://www.duniaparanormal.com/

    http://www.duniaparanormal.com/

  • SANG PEWARIS

    Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga
    Bab Sebelum: Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Dua
    Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga
    “Bagaimana Nyi? Sudah mau keluar?!” tanya seorang laki-laki berpakaian hitam bercelana hitam komprang dengan ikat pinggang merah menyala, saat melihat seorang wanita tua keluar dari biliknya.
    Laki-laki berwajah bersih berbadan kekar itu tak lain adalah Ki Ragil Kuniran, kepala desa Watu Belah.
    “Entahlah Ki! Aku sendiri juga dibuat bingung oleh anakmu! Seharusnya sudah keluar dari tadi, tapi sampai menjelang tengah malam begini, tidak keluar-keluar juga. Padahal air ketuban istrimu sudah pecah dari tadi. Aku takut terjadi apa pada bayimu. Ilmu pengobatan yang kumiliki juga tidak ada gunanya,” keluh Nyi Cendani.
    Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam, dengan pikiran berkecamuk. Ki Ragil Kuniran kembali duduk di kursi tempat biasanya ia bersantai. Matanya menerawang jauh, entah apa yang dipikirnya.
    “Pasti ada hubungannya dengan mimpi itu,” gumamnya lirih.
    Walaupun lirih, telinga semua orang yang berada di situ, mendengar jelas gumaman laki-laki nomor satu di desa Watu Belah. Seorang laki-laki berbaju lurik dengan blangkon bertengger di kepala, mendekat dengan kening berkerut. Dialah yang bernama Ki Sampar Angin, kepala desa Cluwak Bodas.
    “Mimpi apa, Adi Kuniran?” tanya Ki Sampar Angin, sambil duduk di depan kursi sahabatnya.
    “Cuma mimpi biasa saja, Kakang Sampar Angin,” kata Ki Ragil Kuniran, pendek.
    “Kalau Adi Kuniran tidak keberatan, apa boleh saya tahu mimpi apa yang Adi Kuniran temui,” ucap Ki Sampar Angin, meyakinkan, “mungkin saja itu bukan mimpi biasa.”
    Semua orang yang ada disitu memandang laki-laki berbaju hitam itu dengan pandangan memohon.
    “Baiklah,” kata Ki Ragil Kuniran setelah menimbang-nimbang beberapa saat. “Akhir-akhir ini, aku sering mimpi aneh, Kakang Sampar Angin! Dalam mimpiku, aku ditemui seorang kakek yang sudah sangat tua sekali, berjubah putih berbulu, seperti bulu burung berwarna putih keperakan. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keperakan, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Kakek itu mengatakan sesuatu padaku, seperti sebuah syair atau sebuah pesan, tapi aku sendiri tidak begitu paham artinya.”
    “Apa isi dari sesuatu yang Adi sebut sebagai ‘syair’ itu tadi?”
    Setelah termenung beberapa saat, Ki Ragil Kuniran menjawab pertanyaan itu.
    “Isi seperti ini : ‘Cucuku, aku adalah Sang Angin! Aku memilih anakmu sebagai Pewaris Tahta Angin, yang akan membersihkan seluruh duri di muka bumi. Angin kecil-lah yang akan mewarisi kekuatan Sang Angin. Penunggang Angin akan menjadi pertanda kelahiran Pewaris Tahta Angin di dunia pada bulan ke tiga belas purnama sidhi. Jagalah dia baik-baik. Aku hanya bisa memberikan Telapak Tangan Bangsawan sebagai rasa terima kasihku padamu, yang akan kuberikan bersamaan dengan munculnya si angin kecil dan Penunggang Angin’. Itulah yang dikatakan kakek itu dalam mimpiku,” kata Ki Ragil Kuniran, lalu lanjutnya, “Setelah itu, kakek berjubah bulu burung itu seperti melemparkan cahaya putih keperakan dari tangan kanannya ke arah perut istriku, diiringi dengan suara deru angin membadai dan suara gelegar petir, mirip dengan deru badai yang pernah kita lihat di Pantai Selatan. Mimpi itu selalu datang padaku berturut-turut. Itulah mimpi yang kualami, Kakang Sampar Angin! Pada mulanya aku berpikir itu cuma kembang tidur saja, tapi setelah kejadian tadi siang, aku mulai memikirkan kebenaran dari mimpiku itu.”
    “Kejadian? Kejadian apa Adi?” desak Ki Sampar Angin.
    “Perkelahian antara kawanan burung dengan kawanan ular.”
    “Burung apa? Ular apa? Jelaskan yang benar, Ki lurah,” Nyi Cendani kini yang bertanya.
    “Pertarungan ganjil antara elang putih keperakan dengan ular hijau lumut.” jawab Ki Ragil Kuniran.
    Semua orang yang mendengar cerita tentang mimpi itu terkesima, seolah terhipnotis. Sungguh aneh dan sulit dimengerti apa arti dari mimpi Ki Ragil Kuniran itu. Semua tercenung memikirkan arti mimpi itu.
    Gineng yang sedari tadi duduk di pojok ruangan sambil mendengarkan cerita Ki Ragil Kuniran, manggut-manggut. Tahulah ia bahwa bulu-bulu yang ditemuinya berserakan itu adalah bulu elang, sedangkan bangkai ular yang telah dikuburkan tadi adalah bangkai ular hijau lumut!
    “Oh ... bulu burung elang to. Kukira tadi bulu ayam, he-he-he ... ” gumam Gineng.
    “Apa ada to, Gin, kok ndremimil kayak begitu,” ucap simboknya, lirih.
    Yang ditanya hanya tertawa cengengesan saja.
    Nyi Cendani mendengar disebutnya Ular Hijau Lumut, melengak kaget!
    Ular Hijau Lumut adalah ular yang selalu hidup berkelompok, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu dalam satu kelompok. Setiap kelompok akan memiliki seekor ular bermahkota dengan panjang kurang lebih empat hingga lima tombak. Seluruh tubuh ular itu beracun ganas dan mematikan. Satu tetes racun ular hijau lumut bisa membunuh orang dalam waktu sekian detik. Apabila ular itu berada di sungai atau danau, bisa dipastikan hewan-hewan air akan mati keracunan!
    Untunglah gurunya, si Iblis Botak, telah membuat semacam obat pemunah untuk mengatasi ganasnya racun Ular Hijau Lumut, yang bahan utamanya dari Empedu Beruang Salju yang dikeringkan. Bahkan mustika ular yang ada di kepala ular bermahkota itu, menurut gurunya bisa menaklukkan ular dari jenis apa pun.
    “Apa Ki Ragil selalu membawa obat pemunah racun yang saya berikan tempo hari?” tanya Nyi Cendani, dengan mimik serius.
    “I ... ya, Nyi! Bahkan aku telah menelannya dua butir saat bertarung dengan ular yang bermahkota,” kata Ki Ragil Kuniran.
    “Ular bermahkota juga ada? Dimana sekarang? Apa masih hidup?” seru Nyi Cendani, dengan wajah berbinar-binar.
    “Sudah mati.”
    “Bangkainya dimana?” kejar Nyi Cendani, seraya melangkah mendekat.
    “Sebagian besar dari bangkai ular sudah dibawa pergi oleh elang-elang itu, termasuk juga ular bermahkota itu,” kata Ki Ragil Kuniran.
    “Uh ... sayang sekali!” keluh Nyi Cendani.
    Nenek itu terdiam. Suasana di ruangan itu kembali lengang, yang terdengar hanyalah helaan napas dalam-dalam. Ki Ragil Kuniran kembali tenggelam dalam lamunan, demikian juga dengan Ki Sampar Angin, pikirannya mengembara mencari tahu siapa gerangan kakek berjubah putih berbulu burung yang diceritakan oleh sahabat karibnya itu.
    “Rasa-rasanya, aku pernah mendengar ciri-ciri itu. Kakek berjubah putih berbulu burung, dengan tubuh memancarkan cahaya keperakan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki!? Aku yakin pernah mendengarnya. Tapi kapan dan dimana? Andaikata guruku atau ayahku masih hidup, tentu tahu siapa tokoh yang memancarkan cahaya keperakan itu. Áh ... pusing aku!” pikirnya.
    Di saat semua orang sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba dari luar terdengar desau angin yang ganjil. Malam itu sedang bulan bulat penuh, yang semula sunyi sepi hanya terdengar suara jengkrik dan serangga lain, kini berubah suara dengan lirih dan akhirnya berhenti sama sekali. Angin malam semakin lama semakin meningkatkan alirannya. Suara desir yang tidak seperti biasanya, menggugah Ki Ragil Kuniran dari lamunan panjang.
    “Angin ini ... sama persis dengan suara angin yang kurasakan dalam mimpiku,” desisnya lirih.
    Semua orang tercenung mendengar desisan lirih itu. Tiba-tiba saja, terdengar pekikan nyaring dari atas wuwungan rumah ...
    Awwkkk! Awwkkk!
    “Pekikan elang!” gumam Ki Sampar Angin, mengenali suara nyaring melengking yang meningkahi desiran angin yang semakin meningkat tajam.
    Ki Ragil Kuniran segera bergegas keluar, diikuti dengan yang lain, kecuali Gineng yang sudah terlelap tidur di atas dipan. Lurah desa Watu Belah itu sampai di halaman, lalu memandang ke atas wuwungan rumah. Semua orang melihat sebentuk makhluk yang memancarkan cahaya putih keperakan karena tertimpa cahaya bulan purnama, yaitu satwa penguasa angkasa, burung elang yang berbulu putih keperakan!
    “Itulah elang yang kuceritakan tadi, Kakang Sampar Angin,” kata Ki Ragil Kuniran. “Elang putih keperakan yang bertarung dengan ular bermahkota tadi siang.”
    Elang berbulu putih keperakan itu bertengger di atas wuwungan rumah dengan gagah. Tidak seperti tadi siang yang memimpin kawanan elang saat bertarung dengan gerombolan ular, sekarang elang itu datang sendirian. Bulu putih berkilauan terkena pantulan cahaya bulan purnama. Angin yang semula meningkat tajam, sontak hilang dan berganti dengan hawa dingin menusuk tulang. hawa ini terlalu dingin untuk ukuran desa yang letaknya memang berada di kaki gunung.
    “Kenapa hawa jadi dingin membeku begini,” gumam kepala desa Cluwak Bodas, Ki Sampar Angin.
    Tanpa diperintah, seluruh hawa tenaga dalam yang dmilikinya perlahan mengaliri seluruh tubuh, mendesak hawa dingin yang semakin pekat. Sedikit demi sedikit hawa dingin membeku dapat ditekan seminimal mungkin. Tindakan Ki Sampar Angin diikuti semua khalayak yang hadir disitu. Nyi Cendani, Ki Ragil Kuniran dan dua orang Jagabaya melakukan hal yang sama. Hanya dua orang Jagabaya yang tenaga dalamnya agak rendah. Tubuh mereka berdua langsung menggigil kedinginan. Gigi berkerotokan, seluruh tulang rasanya menciut, wajahnya pias memucat.
    Nyi Cendani beringsut ke belakang dua Jagabaya, lalu menempelkan dua tapak tangannya ke punggung dan mengalirkan hawa panas ke dalam tubuh mereka berdua. Tak berapa lama, dua orang itu sudah bisa mengatasi hawa dingin membeku.
    “Terima kasih, Nyi Cendani,” ucap salah seorang diantara Jagabaya yang bertubuh gempal.
    Nenek dukun bayi itu hanya mengangguk pelan. Mata tuanya memandang burung elang berbulu putih itu dengan seksama, termasuk juga orang-orang yang ada di pelataran rumah. Ki Sampar Angin manggut-manggut, sambil mengelus-elus jenggot kelabunya yang panjang.
    “Menurutku, mungkin burung itu yang dimaksud dengan ‘Penunggang Angin’, Adi Kuniran,” kata Ki Sampar Angin tanpa menoleh ke arah Ki Ragil Kuniran yang berdiri di sampingnya.
    “Betul Kakang. Aku juga berpikir sama! Aku yakin bahwa yang dimaksud dengan Penunggang Angin adalah elang putih keperakan itu,” sahut Ki Ragil Kuniran.
    Tiba-tiba, terdengar sebuah suara tanpa wujud yang menggema di tempat itu. Suara seorang kakek!
    “Cucuku, Ragil Kuniran! Sudah tiba saatnya anakmu lahir ke dunia! Aku telah memilihnya sebagai pewaris Tahta Angin. Sebagai seorang pewaris, maka seluruh apa yang kumiliki akan menjadi milik anakmu. Aku minta kepadamu, jagalah pewarisku dengan sebaik-baiknya. Selain kau dan istrimu, Si Perak juga akan menjaga dan mengasuh anakmu! Dan aku minta, berilah nama anakmu Paksi Jaladara.”
    Suara itu menggema di seantero tempat itu. Ki ragil kuniran yang selama ini diliputi dengan rasa penasaran terhadap mimpinya, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.
    “Maaf, jika boleh saya tahu, siapa Andika ini sebenarnya? Dan mengapa memilih anakku sebagai pewaris?” tanya Ki Ragil Kuniran, dengan rasa ingin tahu yang menyala-nyala.
    “Ha-ha-ha-ha ... ! Sebenarnya aku malu mengatakan siapa diriku. Baiklah, karena kau yang meminta, kau boleh menyebutku Si Elang Berjubah Perak! Perkara aku memilih anakmu sebagai pewaris, hanya Hyang Widhi yang tahu! Biarlah nanti waktu yang akan menjawabnya! Sudahlah, waktuku tidak banyak! Sebagaimana janjiku padamu, terimalah ‘Telapak Tangan Bangsawan’ sebagai rasa terima kasihku. Selamat tinggal ... !”
    Suara tanpa rupa, yang menyebut dirinya Si Elang Berjubah Perak, menghilang. Seolah tertelan kegelapan malam dan terangnya rembulan. Suasana kembali menjadi sunyi. Udara kembali normal, tidak dingin membeku seperti sebelumnya.
    “Si Elang Berjubah Perak,” gumam Nyi Cendani. “Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama tokoh itu dari guruku, tapi siapa dia? Tapi aku yakin, dia adalah tokoh golongan putih. Ki Ragil, apa kau tahu siapa dia?”
    Yang ditanya hanya diam saja. Matanya terpejam dengan kepala tertunduk. Telapak tangannya menegang kencang terselimuti cahaya tipis kuning keemasan. Semua yang hadir di situ menjauhi Ki Ragil Kuniran sambil memandang heran.
    “Apa ini yang namanya ‘Telapak Tangan Bangsawan’?” gumam Nyi Cendani, lirih.
    Semua orang juga bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dialami oleh Ki Ragil Kuniran saat ini?
    Dalam pada itu, Ki Ragil Kuniran merasakan hawa panas menyengat menjalar melalui telapak kakinya. Seolah-olah di bawahnya adalah tungku pembakaran yang panas membara. Tangan terkepal mengencang keras, dimana cahaya tipis kuning keemasan semakin lama semakin menebal hingga menjalar sampai pergelangan tangan dan naik sampai siku. Di dalam daya nalarnya, terngiang sebuah suara yang bernada memerintah, suara Si Elang Berjubah Perak. Rupanya Si Elang Berrjubah Perak tidak benar-benar pergi dari tempat itu, dan suaranya cuma Ki Ragil Kuniran saja yang mendengar!
    “Cucuku, serap hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’ itu dan alirkan menuju telapak tanganmu. Satukan dengan hawa sakti yang ada di pusar. Tarik terus ke atas hingga semua berkumpul di telapak tanganmu! Bagus, bagus! Ya, seperti itu!”
    Ki Ragil Kuniran mengikuti perintah Si Elang Berjubah Perak. Kekuatan gaib ‘Inti Panas Bumi’ terus menjalar dari pusar terus ke sekujur tubuh dan akhirnya mengalir ke telapak tangan, sehingga cahaya kuning keemasan tampak semakin jelas terlihat.
    “Bagus! Geser kaki kiri ke belakang dan tarik kedua tangan sampai di samping pinggang. Sekarang ... hentakkan kaki kanan ke bumi dan dorong kedua telapak tanganmu ke arah pohon yang ada di depanmu!”
    Ki Ragil Kuniran segera saja menggeser kaki kiri ke belakang, kedua tangan di tarik ke samping pinggang. Lalu didorongkan ke depan dengan mantap, diikuti dengan hentakan kaki kanan ke bumi.
    Wuushh! Srakk! Srakkk ... !!!
    Terlihat bayangan sepasang telapak tangan raksasa berwarna kuning keemasan menebarkan hawa panas membara melesat cepat bagai kilat dan menghantam pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa hingga hancur lebur berkeping-keping. Tanah yang dilewati bayangan itu seolah diaduk dengan bajak yang ditarik sepuluh ekor kerbau!
    Blarrrr ... !!
    Suara benturan itu mengguncangkan seluruh penjuru desa, guncangan itu begitu keras, seakan-akan sekitar tempat itu terkena gempa bumi yang dahsyat.
    Ki Ragil Kuniran terpana melihat hasil pukulannya, lalu melihat kedua telapak tangannya berganti-ganti yang masih menyisakan cahaya tipis kuning keemasan. Beberapa saat kemudian, cahaya kuning keemasan itu lenyap dari tangannya dan berganti menjadi semacam gambar atau rajah berbentuk telapak tangan berwarna kuning emas di masing-masing telapak tangan!
    Tiba-tiba, telinganya mendengar suara Si Elang Berjubah Perak.
    “He-he-he-he! Bagus, cucuku! Nah, jika kau ingin menggunakannya, gosoklah kedua telapak tanganmu tiga kali untuk menarik hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’, lalu alirkan hawa ‘Gaib Inti Panas Bumi’ ke telapak tanganmu. Satukan dengan hawa sakti yang ada di pusar. Tarik terus ke atas hingga semua berkumpul di telapak tanganmu! Kau pun kuijinkan mewariskan ilmu ‘Telapak Tangan Bangsawan’ pada anakmu, atau pada siapa saja dengan syarat harus digunakan untuk membela kebenaran dan keadilan! Nah, cucuku, selamat tinggal!”
    Semua khalayak yang hadir memandang takjub.
    Tontonan yang mungkin pertama kali mereka saksikan, yang biasanya hanya mendengar saja tentang kehebatan tokoh-tokoh legendaris rimba persilatan atau mungkin hanya cerita mambang tentang kesaktian para dewa. Kini, mereka berempat seolah sebagai saksi tentang munculnya sebuah ilmu pukulan yang dahsyat luar biasa sekaligus menakutkan, pukulan ‘Telapak Tangan Bangsawan’!
    Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani, bergidik ngeri dan membayangkan bagaimana jadinya jika pukulan maut berbentuk bayangan telapak tangan raksasa itu mengenai tubuh manusia, pastilah tubuh hancur lebur menjadi bubur daging. Sedangkan dua Jagabaya sampai gemetar saking kaget dan takut. Tubuh mereka menggigil seperti orang kedinginan, saat menyaksikan tumpahan ilmu olah kanuragan yang baru pertama kali mereka lihat. Akhirnya mereka berdua jatuh pingsan karena ketakutan yang mendera batin.
    Beberapa saat kemudian, dari atas langit melesat cahaya terang berwarna putih keperakan.
    Weessshh!
    Cahaya putih keperakan itu langsung menabrak burung elang putih keperakan yang sejak tadi bertengger di atas wuwungan dan melihat setiap kejadian di pelataran dengan matanya yang merah saga, dibalut bulatan coklat ditengahnya.
    Blasssh!
    Aneh, cahaya itu seakan-akan menembus tubuh elang dan langsung masuk ke dalam rumah. Tepatnya di bilik, dimana Nyi Salindri dan Mbok Inah berada.
    “Istriku!” seru Ki Ragil Kuniran, saat teringat bahwa di dalam bilik itu istrinya yang hamil tua berada.
    Blasss!
    Tubuh laki-laki berbaju hitam itu berkelebat cepat, diikuti dengan yang lain. Ada yang lain dari kelebatan laki-laki itu, lebih cepat dan lebih ringan dari pada biasanya. Namun karena semua diliputi ketegangan yang semakin memuncak, mereka semua tidak ambil dengan perubahan diri Ki Ragil Kuniran.
    Zlapp!
    Ketika sampai di depan pintu bilik kamar tidurnya, terdengar suara nyaring yang selama ini sangat dirindukan Ki Ragil Kuniran, suara tangis bayi!
    “Ooeeekhh! Ooeeekhh ... !”
    Mendengar tangis bayi, Nyi Cendani bergegas masuk ke dalam bilik.
    “Laki-laki tidak boleh masuk,” katanya dengan suara cempreng, lalu menutup pintu bilik.
    Nyi Cendani membalikkan badan, dan saat itu matanya melotot melihat pemandangan di depannya. Sebuah kejadian ganjil kembali disaksikan untuk kedua kalinya, sedangkan Mbok Inah berdiri menggigil ketakutan, karena Nyi lurah melahirkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki!
    Sebenarnya, bukan itu saja yang membuat Mbok Inah ketakutan, bukan karena Nyi Salindri yang melahirkan tanpa bantuan seorang dukun bayi, tetapi karena keanehan yang terjadi pada bayi merah itu. Bayi montok berkulit putih bersih itu ternyata yang sudah bisa duduk, seperti bayi berumur lima enam bulan!
    Dan lebih anehnya lagi, tali pusarnya sudah hilang entah kemana dan tidak ada noda darah sedikitpun di sekujur badannya. Betul-betul keajaiban yang sulit di nalar dengan akal sehat. Anak Ki Ragil Kuniran memiliki mata bening, sebagaimana layaknya mata seorang bayi, namun pandangan mata bocah itu sangat tajam seperti mata orang dewasa atau setidaknya orang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
    Sedangkan kondisi Nyi Salindri pun bukan seperti wanita yang habis melahirkan, yang tergolek lemah kehabisan tenaga sehabis melahirkan. Wajah Nyi lurah berbinar-binar penuh kegembiraan. Kemudian tangan kanannya melambai ke arah sang anak.
    “Sini, sayang ... dekat sama Ibu ... ”
    Bayi montok itu merangkak ke arah ibunya, dan akhirnya sampai di pelukan sang ibu. Nyi Salindri mencium anaknya dengan gemas.
    Nyi Cendani hanya terlongong bengong seperti sapi ompong. Peristiwa yang dialaminya hari ini, betul-betul mengejutkan. Nyi Cendani mendekati ranjang Nyi Salindri.
    “Nyi lurah, bagaimana keadaanmu?” tanya Nyi Cendani.
    “Entahlah, Nyi Cendani, aku sendiri juga bingung dengan kejadian yang baru saja kualami,” kata Nyi Salindri masih memeluk bocah itu.
    Nyi Cendani hanya manggut-manggut saja. Tiba-tiba saja, daun pintu diketuk dari luar.
    Tok! Tok! Tok!
    “Nyi Cendani, bagaimana keadaan istri dan anakku? Apa baik-baik saja? Tolong buka pintunya, aku ingin masuk.”
    Nyi Cendani bergegas membuka pintu, dan tampaklah Ki Ragil Kuniran dengan wajah harap-harap cemas. Laki-laki itu masuk diiringi Ki Sampar Angin.
    “Silahkan masuk, Ki Ragil! Istri dan anakmu tidak apa-apa,” kata Nyi Cendani, sambil menunjuk ke arah Nyi Salindri.
    “Nyi, bagaimana kea ... ”
    Suara Ki Ragil tercekat di tenggorokan melihat pemandangan yang terpampang di depan mata, melihat istrinya sedang menyusui anaknya yang baru saja lahir ke dunia. Matanya di kucal-kucal untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan mimpi. Ki Sampar Angin juga mengkerutkan kening, dengan pandangan tidak percaya.
    “Apa benar yang kulihat ini,” pikirnya.
    Ki Ragil Kuniran menoleh ke arah Nyi Cendani dengan pandangan mata bertanya.
    “Jangan tanya aku, Ki! Aku sendiri juga bingung dan heran melihat kelahiran anakmu! Anak baru saja lahir sudah bisa merangkak. Ini sudah diluar nalarku sebagai manusia!” kata Nyi Cendani, menjawab pandangan mata laki-laki itu.
    Sementara itu, Mbok Inah sudah mulai bisa menenangkan diri. Dirinya tidak ketakutan seperti sebelumnya. Bibi tua itu segera mendekati majikannya, dengan takut-takut.
    “Maaf ... Ki lurah, saya ... saya ... ”
    “Tidak apa-apa Mbok! Terima kasih simbok telah menjaga istriku dengan baik. Oh ya ... Mbok, mungkin Mbok Inah bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya,” tanya Ki Ragil Kuniran.
    Laki-laki itu duduk di sebelah kiri ranjang dan mulai mengelus-elus kepala anaknya. Bocah kecil itu hanya menoleh sekilas, sambil tertawa riang memamerkan mulutnya yang bergigi dua. Ki Ragil Kuniran membalas dengan senyuman.
    “Begini Ki Lurah, waktu itu saya dan Nyi Lurah sedang ngobrol. Tiba-tiba terdengar ledakan keras seperti suara petir yang menggelegar. Entah suara apa saya tidak tahu. Terus rumah ini seperti dilanda gempa bumi, seperti mau kiamat. Setelah guncangan itu reda, tiba-tiba melesat cahaya putih dari atas. Cahaya itu berputar-putar di dalam bilik ini. Lama-kelamaan seperti membentuk bayangan burung, entah burung apa saya tidak tahu. Lalu bayangan itu melesat masuk ke dalam perut Nyi lurah yang sedang tiduran di ranjang. Nyi lurah tidak bisa menghindar karena gerakan cahaya itu cepat sekali. Setelah cahaya itu masuk, tiba-tiba Nyi lurah merasakan perutnya mules, mungkin karena kemasukan cahaya itu. Baru saja saya akan menyentuh perutnya, tiba-tiba ... tiba-tiba ... “
    “Tiba-tiba apa Mbok?” potong Nyi Cendani dengan cepat.
    “Tiba-tiba bayi itu ... keluar sen ... diri, Ki Lurah,” ucap Mbok Inah dengan terbata-bata.
    “Hahhh!?” kali ini Ki Sampar Angin yang kaget. “Ngomong yang benar, Mbok!”
    Mbok Inah sampai terlonjak kaget!
    “Be ... benar, Ki Sampar Angin, saya tidak bohong. Tanya saja Nyi lurah, kalau tidak percaya,” kata Mbok Inah, sambil mengelus dada karena dibentak Ki Sampar Angin.
    Semua mata memandang ke arah Nyi Salindri. Bayi ajaib itu kini tertidur pulas di pelukan ibunya setelah kenyang.
    “Betul kata Mbok Inah,” sahut Nyi Salindri, pendek. “Mbok, lebih baik simbok istirahat saja di kamar.”
    “Tapi, Nyi ... ”
    “Nggak apa-apa, saya sudah baikan,” kata Nyi Salindri dengan halus.
    Mbok Inah hanya mengangguk pelan, lalu keluar dari bilik Nyi Salindri.
    Sementara itu, Ki Ragil Kuniran masih mengelus-elus kepala anaknya dengan rasa sayang sebagai seorang ayah. Kepalanya manggut-manggut mendengar cerita Mbok Inah.
    “Persis dengan apa yang kulihat dalam mimpiku,” pikirnya.
    Memang Ki Ragil Kuniran sengaja tidak menceritakan mimpinya secara lengkap, takut jika mimpi itu hanya kembang tidur saja atau malah takut perkataan dianggap cerita bohong. Sekarang mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan yang memang harus diterimanya dengan ikhlas.
    Kini lengkap sudah kebahagiaan yang selama ini diimpikan. Meski kebahagiaan itu diikuti dengan beban berat yang belum terjawab dengan kelahiran anak laki-lakinya itu. Tiba-tiba tangan yang mengelus itu menyentuh sesuatu yang aneh di bagian dahi.
    “Apa ini?”
    Ki Ragil Kuniran menyibak rambut anaknya dengan pelan, supaya bocah itu tidak terjaga dari tidurnya. Matanya yang tajam mengamati sebentuk gambar yang tertera di dahi anaknya.
    “Rajah kepala elang,” gumamnya.
    Nyi Cendani dan Ki Sampar Angin beranjak dari tempatnya semula, mendekati Ki Ragil Kuniran dari sisi kiri. Nyi Salindri juga melihat gambar yang diraba oleh suaminya.
    “Ada apa, Adi?” tanya Ki Sampar Angin.
    “Coba Kakang Sampar Angin lihat, apa ini benar rajah bergambar kepala elang atau tanda lahir anakku?” kata Ki Ragil Kuniran.
    Nyi Cendani dan Ki Sampar Angin mengamati gambar itu dengan seksama.
    “Itu rajah, bukan tanda lahir,” kata Nyi Cendani dengan yakin.
    “Apa Nyi Cendani yakin?”
    “Yakin sekali! Kalau tanda lahir biasanya berwarna hijau keabu-abuan atau coklat, sedangkan yang dimiliki anakmu berwarna putih. Itu hal yang tidak lazim sebagai tanda lahir. Dan saya yakin bahwa tanda itu memilki arti tertentu,” terang Nyi Cendani.
    Semua khalayak mengangguk-anggukkan kepala.
    Mereka bertiga keluar dari ruangan itu, dan duduk di kursi yang ada di pendapa, sedangkan Nyi Salindri sudah memeluk anaknya dengan kasih sayang seorang ibu.
    “Hemmm, pusing kepalaku,” desah Ki Sampar Angin, sambil meletakkan pantatnya di kursi. Laki-laki parobaya yang usianya sepantaran dengan Ki Ragil Kuniran itu melepas blangkon, kemudian mengusap-usap kepalanya untuk mengurangi rasa pening.
    “Pusing kenapa, Ki Sampar Angin?’ tanya dukun bayi itu, heran.
    “Bagaimana tidak pusing, semua kejadian malam ini sungguh di luar dugaanku! Luar biasa! Saat aku diberitahu Gineng bahwa istri sahabatku ini mau melahirkan, aku tidak berpikir bahwa peristiwanya akan menjadi seperti ini. Munculnya suara gaib si Elang Berjubah Perak, lalu Adi Ragil yang kinayungan pukulan ‘Telapak Tangan Bangsawan’, sampai cerita si kecil keluar sendiri dari rahim ibunya. Lalu rajah putih berbentuk kepala elang di dahi. Semua itu tidak bisa diterima oleh otakku yang sudah karatan ini,” cerocos Ki Sampar Angin, sambil geleng-geleng kepala.
    “Hi-hi-hi-hik, kau kira hanya kau yang pusing! Aku pun juga mumet! Masa’ bayi yang seharusnya kutangani kelahirannya, malah keluar dengan sendirinya,” ucap Nyi Cendani dengan terkekeh-kekeh.
    “Ha-ha-ha-ha!”
    Tawa Ki Ragil Kuniran dan Ki Sampar Angin hampir bersamaan.
    “Yahhh, memang begitulah kalau Yang Di Atas sudah berkehendak, kita sebagai manusia hanya bisa menerima saja, bukankah begitu, Kang?” ucap Ki Ragil Kuniran menimpali.
    “Betul ... betul sekali, Adi! Aku setuju dengan pendapatmu!”
    Nyi Salindri berjalan mendekat tiga orang yang sedang ngobrol sambil menggendong bayinya, lalu duduk di sebelah suaminya. Ki Ragil Kuniran menggeser duduknya ke kanan. Nyi Salindri mengulurkan tangan yang menggendong bayi ke arah suaminya. Ki Ragil Kuniran menerima lalu menimang-nimang bocah yang lahir dengan segudang keanehan itu.
    “Tapi, ngomong-ngomong, anak laki-lakimu ini kau beri nama siapa, Kakang?” tanya Nyi Salindri, setelah duduk di samping suaminya.
    Ki Ragil Kuniran menoleh ke arah istrinya, lalu menoleh pada Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani. Kedua orang itu hanya mengangguk saja.
    “Nyi Cendani dan Kakang Sampar Angin, biarlah kalian berdua sebagai saksinya. Mulai hari ini, saat ini juga, anakku ini aku beri nama ... Paksi Jaladara!” kata Ki Ragil Kuniran.
    Sekejab setelah kata-kata Ki Ragil Kuniran selesai, dari dahi bayi mungil yang kini bernama Paksi Jaladara itu memancarkan cahaya putih terang keperakan, seperti pertanda bahwa dirinya menerima nama yang kini disandangnya.
    Paksi Jaladara!
    Yang melihat hanya berdecak kagum melihat keanehan pada diri putra Ki Ragil Kuniran. Bersamaan itu pula, elang putih keperakan yang sedari tadi bertengger di atas wuwungan, terbang berputaran di atas rumah dengan suara melengking nyaring.
    Aawwwkkk! Aawwwkkk!
    Semua khalayak yang ada disitu hanya memandang burung elang yang berputaran itu.
    “Elang siapa itu, kakang?” tanya Nyi Salindri, heran. “ ... setahuku, di desa kita tidak ada burung elang, sarangnya pun juga tidak ada.”
    “Oooh ... itu miliknya Paksi, anakmu,” sahutnya Ki Ragil Kuniran, pendek.
    Tangannya masih menimang-nimang Paksi Jaladara dengan pelan, sementara bocah mungil itu tertidur lelap dalam buaian sang ayah. Dahi Paksi Jaladara sudah tidak lagi memancarkan cahaya terang. Bocah itu tertidur pulas ditimang-timang oleh ayahnya.
    “Milik Paksi?”
    “Iya ... milik Paksi!”
    “Kok bisa? Kapan kakang memeliharanya?”
    Kemudian, Ki Ragil Kuniran menceritakan seluruh rentetan peristiwa yang terjadi hari ini, dari awal pertarungannya dengan ular hijau lumut sampai terjadinya guncangan hebat akibat pukulan yang dilontarkannya, yang diterimanya langsung dari si Elang Berjubah Perak secara gaib. Bahkan sampai mimpi yang dialaminya, semua diceritakan dengan lengkap, tidak ada yang tercecer sedikitpun. Sebagian mimpi yang pernah didengar Ki Sampar Angin dan Nyi Cendani, dilengkapi oleh Ki Ragil Kuniran sampai sedetail-detailnya. Semua yang mendengar uraian mengangguk-angguk pelan. Sekarang pahamlah mereka tentang segala rentetan peristiwa yang terjadi.
    “Bukan main, aku yakin putramu kelak akan menjadi seorang tokoh besar, Adi.” ucap Ki Sampar Angin, sembari menoleh pada Paksi Jaladara yang kini tertidur. “Dengan patokan serentetan kejadian yang kalian alami, aku bisa menyimpulkan bahwa anakmu mengemban tugas khusus. Tugas yang mulia. Entah tugas seperti apa yang dibebankan pada Paksi Jaladara oleh kakek berjubah yang mengaku si Elang Berjubah Perak itu.”
    Semua khalayak tercenung mendengar uraian Ki Sampar Angin, orang nomor satu dari desa Cluwak Bodas. Memang laki-laki yang selalu memakai blangkon itu patut diacungi jempol, otak encernya dalam menganalisa setiap masalah, selalu memberikan pikiran atau ide-ide cemerlang dan sukar dibantah kebenarannya.
    “Kakang Ragil, bagaimana kalau kita bertanya pada ayah atau Kakang Jalu? Mungkin beliau tahu siapa adanya si Elang Berjubah Perak itu,” usul Nyi Salindri, menimpali.
    “Iya ... betul! Kenapa aku sampai lupa pada ayah?!” seru Ki Ragil Kuniran sambil menepak jidat dengan keras.
    “Iya ... ya, kenapa kita tidak berpikir ke sana! Mungkin Ki Ageng Singaranu mengetahui siapa tokoh misterius yang bernama si Elang Berjubah Perak itu,” kata Nyi Cendani manggut-manggut.
    “Baiklah, aku akan bertanya pada ayah,” kata Ki Ragil Kuniran, memutuskan.
    “Kira-kira kapan kakang akan berangkat?’
    “Yahhh ... mungkin kalau umur Paksi sudah cukup, sekalian saja diajak. Hitung-hitung ... biar Paksi tahu kakeknya,” kata Ki Ragil Kuniran sambil menimang-nimang anaknya itu.
    Paksi Jaladara menggeliat lucu. Tangannya diangkat tinggi-tinggi sambil menguap. Semua mata memandang bocah ajaib ini dengan pandangan penuh misteri. Pandangan yang menorehkan harapan besar pada bocah yang memiliki rajah kepala elang!
    Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Empat
    Bab Sebelum: Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga
    Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Empat
    Lima tahun kemudian ...
    Seorang bocah berusia lima tahun lebih sedang bermain-main di pelataran yang cukup luas dan asri, karena banyak pepohonan tumbuh dengan subur. Bocah itu memakai ikat kepala merah dengan baju dan celana biru muda yang diikat sehelai sabuk kain yang juga berwarna merah. Wajahnya yang bersih tampak kemerah-merahan tertimpa sinar matahari pagi. Meski masih bocah, namun tampak gurat ketampanan yang tersirat di wajahnya. Mata bening kecoklatan dengan alis menukik seperti sayap elang. Bibir mungilnya selalu tersenyum-senyum riang. Badan dan tulangnya kokoh dengan kulit putih bersih. Kaki-kakinya yang kecil pendek melompat-lompat mengejar burung putih keperakan yang terbang rendah. Burung itu hanya terbang berputaran di sekitar halaman itu, dialah kawan main si bocah berikat kepala merah.
    Tangannya berusaha menangkap burung itu, sambil tertawa-tawa riang.
    “Ha-ha-ha-ha, Perak! Sini ... sini ... kutangkap kau ... ”
    Sabuk merahnya berkibaran saat melompat ke atas. Walau pun lompatannya tidak terlalu tinggi, nampak bahwa itu bukan lompatan seorang bocah biasa, tapi bocah yang sudah terbiasa dengan ilmu silat atau setidaknya terlatih menggunakan ilmu meringankan tubuh.
    Burung putih keperakan yang tak lain adalah burung elang, yang dulu pernah bertarung dengan ular hijau lumut lima tahun silam. Sedangkan bocah kecil berikat kepala merah itu tak lain adalah Paksi Jaladara. Gerakan Paksi Jaladara kadang melompat, menyambar bahkan menubruk Si Perak yang selalu bisa berkelit setiap kali Paksi berusaha menangkapnya.
    Aaawwwkk!
    Si perak berteriak nyaring, memberi semangat pada Paksi Jaladara.
    “Wah, kamu susah sekali ditangkap,” ucapnya sambil tersenyum-senyum.
    Kali ini gerakan bocah kecil itu sedikit lebih cepat dari sebelumnya, bahkan kini meniru-niru gerakan Si Perak, sehingga nampak Paksi seolah-olah sedang berlatih silat dengan meniru gerakan elang!
    Jika elang itu bergerak ke kiri dengan sayap dimiringkan, Paksi mengikuti dengan memutar badan ke kiri dengan tangan kiri melambai seperti sayap elang. Gerakan elang perak semakin lama semakin cepat, dan Paksi pun semakin lama semakin cepat pula menggerakan tangan dan kakinya, hingga Si Perak melenting tinggi seperti bersalto dan hinggap di atas palang kayu tempat mengikatkan kuda.
    Awwwkkk!
    “Hoi ... kok berhenti? Main lagi dong!” seru Paksi Jaladara, sambil mengikuti gerakan melenting dan berdiri diatas palang kayu!
    Tap!
    Awwkkk! Awwkkk!
    Elang putih keperakan itu berteriak serak sambil menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kenan, sembari mengepakkan sayap.
    “Oh ... kau ingin aku mengulangi gerakanku tadi?” tanya bocah kecil itu.
    Putra tunggal Ki Ragil Kuniran itu jongkok sambil mengelus-elus kepala Si Perak. Elang putih keperakan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sungguh aneh, kalau bocah sekecil itu sudah bisa paham bahasa isyarat, apalagi bahasa satwa pemakan daging itu. Si Perak menggerakkan sayap kanan berkali-kali, menyuruh Paksi mengulangi gerakan yang ditirunya.
    “Baiklah,” ucap Paksi.
    Paksi Jaladara melenting ke atas sambil berjungkir balik tiga kali. Saat menyentuh tanah, tubuhnya sudah bergerak cepat ke kiri dan ke kanan, dengan kaki bergeser menyamping. Bocah cerdas itu terus menggerakkan tubuh meliuk-liuk. Kedua tangan bergerak gemulai bagai sayap elang, kadang lembut kadang keras, sedangkan kakinya menendang-nendang udara kosong. Kedua tangan kadang membentuk cakar, mencengkeram dengan kokoh. Sepenanakan nasi kemudian, Paksi telah selesai mengulang semua gerakan Si Perak dengan tuntas. Napasnya keluar dengan teratur, tidak terengah-engah seperti layaknya orang yang berlatih silat. Tubuhnya lalu melenting tinggi dan kembali berdiri tegak di atas palang kayu!
    “Perak, bagaimana? Sudah betul belum?” tanya bocah itu sambil berjongkok dengan satu kali.
    Kerrkk! Kerrk!
    “Oh ... begitu! Jadi gerakan kakiku kurang cepat ya? Tenagaku juga perlu ditambah? Baiklah, kulangi sekali lagi!” ucap Paksi Jaladara.
    “Heaaa ... ”
    Diiringi teriakan keras, tubuh Paksi melenting tinggi, lebih tinggi dari sebelumnya, lalu berjungkir balik beberapa kali. Gerakannya persis seperti sebelumnya, hanya kali ini lebih cepat dan lebih bertenaga. Setiap tendangan, sampokan tangan dan cakaran menimbulkan desiran angin tajam. Di pelataran rumah yang cukup luas itu seperti dilanda angin ribut kecil, karena gerakan Paksi dilambari dengan kekuatan tak kasat mata yang keluar tanpa disadari oleh bocah itu.
    “Heyyaaa ... ”
    Saat akan mengakhiri gerakannya, Paksi melenting tinggi ke atas, berbalik membelakangi sambil kaki kiri dijulurkan dengan hentakan keras.
    Wessshh! Dharr!
    Terdengar ledakan kecil saat kaki pendek itu menghantam tanah, sehingga yang membentuk cekungan sedalam seperempat tombak dalamnya. Lalu tubuh kecil itu melenting ke atas dan berdiri tegak di atas palang kayu, tempat dimana Si Perak bertengger!
    Paksi Jaladara tertegun melihat cekungan dalam di tanah akibat tendangannya tadi.
    “Wah ... bisa seperti itu ya?” gumamnya.
    Awwkk! Kwwaak!
    Burung elang berteriak nyaring sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya.
    “Gerakanku sudah betul? Tapi tenaganya perlu ditambah lagi?!” jawab si bocah sambil manggut-manggut.
    Paksi tidak tahu, bahwa gerakan yang dikiranya main-main dan hanya meniru gerakan Si Perak adalah salah satu rangkaian ilmu silat yang dinamakan jurus ‘Kelebat Ekor Elang’, sebuah jurus yang mengandalkan gabungan kecepatan serangan dan ilmu meringankan tubuh. Setiap serangan kaki yang dilambari dengan hawa tenaga dalam yang tinggi bisa menghancurkan tebing. Belum lagi dengan desiran angin tajam yang timbul akibat kecepatan serangan yang menggesek udara kosong bisa merobek kulit.
    Semua kejadian itu tidak lepas dari pandangan mata seorang laki-laki yang sejak tadi mengamati si bocah tampan dari teras rumah. Laki-laki dengan kumis tipis menghias bibir, berbaju hitam lengan panjang dengan celana putih diikat dengan sabuk kain warna hijau. Dialah Ki Ragil Kuniran, kepala desa Watu Belah!
    “Bukan main! Anak yang cerdas! Hanya dengan sekali lihat, bisa menyerap gerakan elang dan hapal di luar kepala. Tanpa seorang guru pun dia bisa belajar ilmu silat, bahkan sudah paham ilmu ringan tubuh dan mencerna hawa tenaga dalam. Untuk bocah seukuran dia, Paksi cukup hebat. Untunglah jiwanya bukan jiwa perusak. Semoga saja kelak dia menjadi orang berguna, seperti yang dikatakan si Elang Berjubah Perak dulu,” pikir Ki Ragil Kuniran.
    Kemudian, laki-laki berbaju hitam lengan panjang itu mengambil sebuah buntalan kain kuning dan berjalan ke halaman depan, melewati palang kayu dimana Paksi dan elang kesayangan ‘sedang ngobrol’, sebab memang dialah seorang yang paham bahasa Si Perak. Di sana telah menanti kereta kuda dengan dua ekor kuda penariknya, memasukkan buntalan kain kuning ke dalam kereta kuda.
    Beberapa saat kemudian, keluar seorang wanita berparas cantik mengenakan pakaian ringkas merah muda, seperti pakaian seorang pesilat. Dibelakangnya, mengiringi seorang pemuda remaja berkulit sawo matang dengan baju buntung warna coklat dengan celana pangsi berwarna putih sambil menenteng buntalan yang cukup besar, lalu buntalan itu dimasukkan di belakang kereta kuda. Di pinggang sebelah kiri terselip sebilah pisau panjang dengan sarung dari kayu dewandaru.
    Yang paling belakang, seorang perempuan tua dengan kemben lurik berjalan dengan santai, karena tidak membawa barang sedikit pun, juga menuju ke arah kereta kuda.
    “Simbok benar tidak mau ikut?” tanya Ki Ragil Kuniran pada perempuan tua itu.
    “Benar Ki Lurah! Biar saya saja yang menunggu di rumah. Saya cuma titip si Gineng ini,” kata perempuan tua, yang tak lain Mbok Inah.
    Pemuda remaja berusia lima belas tahun berbaju buntung coklat itu tak lain adalah Gineng, telah menjadi seorang pemuda berbadan tinggi besar dan kekar.
    “Ya sudah! Biar Gineng ikut kami. Hitung-hitung cari pengalaman di luar. Siapa tahu, waktu pulang malah bawa mantu buat simbok,” kata wanita berpakaian ringkas merah muda, yang tak lain Nyi Salindri.
    “Nyi lurah ada-ada saja,” jawab Gineng, pendek.
    “Ha-ha-ha-ha! Betul, Nyi ... betul! Bukankah di padepokan ayah juga banyak murid-murid gadisnya yang cantik-cantik? Atau malah si Gineng ini sudah kecantol sama Sariti, putrinya Kakang Sampar Angin?” seloroh Ki Ragil Kuniran.
    Gineng semakin tersipu malu.
    “Ha-ha-ha-ha ... !”
    Semuanya tertawa melihat tingkah polah pemuda itu yang kikuk. Nyi Salindri segera naik ke dalam kereta kuda diikuti dengan Ki Ragil Kuniran. Sedangkan Gineng mendekati simboknya, lalu meraih tangan dan mencium tangan Mbok Inah dengan takzim.
    “Gineng, hati-hati di jalan, yo le! Jaga bendoromu dengan baik,” ucap Mbok Inah.
    “Inggih, Mbok.”
    Gineng balik badan dan berjalan ke arah bagian depan, lalu dengan sigap duduk di depan bangku pendek, meraih tali kekang kuda, karena dia ditugasi kusir kereta.
    Ki Ragil Kuniran melongok keluar lewat jendela, lalu berkata, “Paksi, kamu ikut ke rumah kakek tidak?”
    “Ayah, Paksi ikut ke rumah kakek! Si Perak boleh diajak?”
    “Ajak saja, biar tidak kesepian kalau ditinggal di rumah!” ucap Nyi Salindri.
    “Ayo, Perak! Ikut ke rumah kakek,” kata Paksi Jaladara.
    Wutt!!
    Bocah berikat kepala merah itu melenting ke atas sambil jungkir balik ke arah kereta.
    “Paksi! Awaass!”
    Nyi Salindri berteriak kaget melihat gerakan jungkir balik itu, sedangkan suaminya hanya tenang-tenang saja melihat gerakan Paksi.
    “Tenang saja, Nyi! Tidak apa-apa!” kata laki-laki itu sambil menenangkan istrinya.
    Hampir saja istrinya berlari menyongsong Paksi, jika saja tangannya tidak dipegangi oleh suaminya.
    Jleg!
    Setelah melayang beberapa saat di udara dengan tangan terkembang, kaki kiri Paksi terlebih dulu menyentuh bangku kosong di dekat Gineng, sedangkan Si Perak sudah terbang berputar-putar di atas kereta kuda, sambil berteriak nyaring.
    Aawwwkk!
    “Ilmu ringan tubuh yang bagus,” pikir Gineng, saat melirik majikan kecilnya duduk di bangku sebelah kirinya.
    “Ayah, Paksi di depan saja, menemani Kakang Gineng,” kata Paksi sambil melongok ke dalam kereta.
    Saat melongok tadi, ibunya melotot besar. Yang dipelototi hanya tersenyum-senyum sambil mengedip-ngedipkan matanya.
    “Boleh! Gineng, jalankan kereta!”
    “Baik, Ki!” Gineng segera menghela kereta kuda.
    “Heeaaa! Heeeaaa ... ”
    Kereta kuda melaju dengan kencang, bagai anak panah lepas dari busurnya, meninggalkan rumah kediaman Ki Ragil Kuniran. Kuda dihela dengan tenang dan pelan, namun sudah melaju dengan kencang.
    Sementara itu di dalam kereta, Nyi Salindri masih kaget saat menyaksikan Paksi jungkir balik di udara. Wanita cantik itu lalu menoleh ke arah suaminya dengan pandangan bertanya.
    “Bukan aku yang mengajarinya,” jawab Ki Ragil Kuniran, dengan kepala menggeleng-geleng, seolah sudah tahu pertanyaan lewat pandangan mata itu.
    “Lalu siapa?”
    “Si Perak!”
    “Si Perak? Mana mungkin seekor burung bisa mengajari ilmu silat pada anak manusia, masih bocah lagi. Kakang Ragil jangan bohong!”
    “Siapa yang bohong?”
    Ki Ragil Kuniran menceritakan apa yang dilihatnya pagi tadi, saat Paksi Jaladara bermain dengan elang kesayangannya, semua diceritakan kepada istrinya dengan panjang lebar.
    “Aku yakin, Si Perak pasti mengajari sesuatu pada Paksi tanpa sepengetahuan kita berdua ... ” kata Ki Ragil Kuniran. “ ... apalagi dengan adanya tanda lahir di kening berbentuk rajah kepala elang putih dan proses kelahirannya yang aneh itu, aku yakin anak itu memiliki keistimewaan terpendam yang lain, yang belum kita ketahui. Sementara ini yang kita tahu secara pasti adalah bahwa Paksi bisa bercakap-cakap dengan segala macam bangsa burung.”
    Nyi Salindri mengangguk-anggukkan kepala.
    Sedang bocah yang dibicarakan kedua orang tuanya, sedang asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Gineng, yang berada di depan sebagai kusir. Bocah berikat kepala merah berbaju biru yang selalu riang dan tertawa-tawa, seperti layaknya bocah pada umumnya.
    “Gerakan Den Paksi tadi hebat, lho ... ”
    “Masak cuma jungkir balik saja sudah hebat? Pasti lebih hebat Kakang Gineng, karena Kakang diajari langsung sama Ayah. Sedangkan aku hanya meniru gerakan Si Perak saja,” ucap bocah itu sambil memperhatikan cara Gineng mengendalikan kereta.
    “Oh ... begitu! Lalu sama Si Perak, Den Paksi meniru gerakan apa saja? Yang paling hebat aja dech ... ” tanya Gineng, ingin tahu lebih dalam.
    Bocah itu terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang jawaban yang ingin diberikan.
    “Emmm, tapi jangan bilang sama ayah, ya? Janji?” kata si bocah sambil mengajukan jari manis sebelah kanan ke atas. Seperti orang mau janjian saja.
    Gineng hanya tertawa saja, lalu mengajukan jari manis kirinya, terus kedua jari berbeda ukuran itu saling bertaut, sambil berkata, “Aku berjanji sama Den Paksi.”
    Kemudian Paksi beringsut mendekati telinga kiri Gineng, dan membisikkan sesuatu.
    Gineng hanya mengkerutkan alis, lalu Paksi kembali duduk ke bangku kembali.
    “Den Paksi tidak berbohong?” tanya Gineng, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
    Paksi hanya menggeleng-gelengkan kepala.
    “Yakin bisa melakukannya?” ulang Gineng bertanya.
    Paksi menganggukkan kepala sebagai jawaban.
    “Ha ... ha ... heh ... ”
    Gineng tertawa lebar sambil memandang majikan muda untuk mencari kepastian. Di mata bocah itu, yang terlihat sebuah kepastian bahwa dirinya bisa melakukan hal itu.
    “Bisa terbang? Mana ada manusia yang bisa terbang? Punya sayap pun tidak,” kata hatinya dengan ragu. “Tapi, kalau melihat tatapan matanya, Den Paksi tidak berbohong. Ahhh ... entahlah. Namanya juga bocah, pasti khayalannya kemana-mana.”
    Kereta kuda melaju dengan kencang ke arah matahari terbit, sementara elang putih keperakan mengikuti laju kereta dari atas. Setelah melewati dua bukit yang dipisah oleh aliran sungai yang cukup lebar, mereka beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Gineng melepaskan kuda dari kereta, dan membiarkan kuda itu merumput di tepi sungai.
    Nyi Salindri membuka perbekalan, sedangkan Paksi ngobrol dengan ayahnya dan juga Gineng. Sementara Si Perak, elang putih keperakan itu bertengger di atas sebuah batu, sambil menikmati daging asap yang diberikan Nyi Salndri. Mereka berlima, termasuk Si Perak, makan minum dengan nikmat. Ki Ragil Kuniran dan Nyi Salindri sangat senang melihat kerukunan antara Paksi Jaladara dengan Si Perak dan juga Gineng, yang oleh suami-istri itu sudah dianggap sebagai anak sendiri!
    Setelah cukup beristirahat, dan kuda-kuda itu kenyang merumput, perjalanan dilanjutkan kembali. Perjalanan mereka tidak banyak mengalami hambatan, bisa dikatakan berjalan mulus. Saat memasuki padukuhan Selo Gilang, hari sudah menjelang malam. Ki Ragil Kuniran mencari sebuah penginapan dan mereka berlima menginap di padukuhan Selo Gilang.
    Keesokan harinya, setelah mandi sehingga badan segar dan mengisi perut, rombongan keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan ke Padepokan Singa Lodaya yang berada di kaki Gunung Singa Putih, yang jaraknya tinggal beberapa ratus tombak saja dari padukuhan Selo Gilang. Memang, pada awalnya Nyi Salindri ingin langsung saja menuju ke padepokan, tapi Ki Ragil Kuniran menyarankan bahwa tidak baik bertamu terlalu malam. Akhirnya Nyi Salindri hanya pasrah saja dengan keputusan suaminya.
    Padepokan Singa Lodaya, adalah sebuah perguruan ilmu joyo kawijayan guno kasantikan (olah kanuragan) yang dipimpin oleh Ki Ageng Singaranu, seorang tokoh sakti yang pada masa itu jarang memiliki tandingan. Seorang dedengkot golongan putih yang usianya mendekati sembilan puluh tahun, seluruh rambut di kepala dan jenggot sebagaian besar sudah memutih. Kakek itu gemar sekali mengenakan baju abu-abu dipadu dengan celana biru tua.
    Sepak terjangnya di rimba persilatan dalam memerangi kebatilan dan membela kebenaran benar-benar menggegerkan. Kawan maupun lawan segan padanya. Ilmu Silat ‘Singa Gunung’ itulah yang membuatnya dijuluki sebagai Dewa Singa Tangan Maut. Belum lagi dengan ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ dan pukulan ‘Telapak Singa Murka’ yang pernah menggegerkan rimba persilatan puluhan tahun yang silam.
    Bahkan seluruh murid-murid Ki Ageng Singaranu diharuskan bisa menguasai ilmu kebal ajian ‘Kulit Singa’ sebagai tahap awal, karena ilmu kebal ini merupakan dasar-dasar dalam mempelajari Ilmu Silat ‘Singa Gunung’. Bisa dikatakan bahwa seluruh murid Padepokan Singa Lodaya memiliki ilmu kebal, meski pun berbeda tingkatannya antara satu murid dengan murid yang lain. Semakin tinggi kekuatan tenaga dalam yang dikuasai, maka semakin hebat pula ilmu kebal yang dimiliki.
    Ki Ageng Singaranu memiliki dua orang anak, yaitu Jalu Lampang dan Salindri. Jalu Lampang sendiri lebih suka berkelana di rimba persilatan daripada berdiam diri di Padepokan Singa Lodaya. Sedangkan Salindri, setelah menikah dengan pendekar muda yang bernama Ragil Kuniran, diboyong oleh suaminya ke desa asalnya, Desa Watu Belah. Jarak antara Desa Watu Belah dengan Padepokan Singa Lodaya dapat ditempuh dengan kereta kuda selama sehari semalam.
    Kereta kuda yang dikusiri oleh Gineng dengan ditemani putra majikannya, Paksi Jaladara, memasuki pintu gerbang padepokan. Diatas pintu tertulis sebuah papan besar berwarna hitam dengan tulisan putih : PADEPOKAN SINGA LODAYA. Di kiri kanan pintu gerbang, terdapat dua patung singa raksasa dari batu hitam dengan posisi siap menyerang.
    Dua orang murid penjaga bergegas berdiri saat melihat sebuah kereta kuda yang cukup mewah mendekat.
    “Hooopppss!”
    Gineng menarik tali kekang kuda dengan sentakan ringan. Meski kelihatan ringan, tenaga tarikan itu sudah cukup membuat kaki kuda terangkat ke atas, dan berhenti tepat di depan pintu gerbang.
    Seorang dari penjaga berbaju hitam-hitam menghampiri Gineng. Di dada kirinya tersulam gambar kepala singa mengaum. Wajahnya kelihatan dibuat sangar dengan cambang melintang. Di pinggang terselip sebilah golok berwarna hitam legam.
    “Maaf kisanak, boleh saya tahu kisanak hendak kemana? Dan siapa kisanak ini?” tanya si cambang, dengan suara sedikit serak.
    Tangan kirinya mengelus-elus golok, sedang kawannya yang bertubuh gempal memegang tombak, hanya melirik-lirik dengan waspada seperti mata maling. Matanya yang tajam memandang Gineng dan Paksi bergantian. Menyelidik.
    Gineng tidak menjawab, malah balik bertanya, “Apakah ini Padepokan Singa Lodaya?”
    “Betul! Kisanak ada perlu apa?” ulang si cambang, dengan nada meninggi. Agak meradang juga saat pertanyaannya tidak digubris, malah yang ditanya balik bertanya.
    Gineng menggangguk-anggukkan kepala.
    Pemuda remaja itu melongok ke dalam kereta, sambil berkata, “Bagaimana Nyi? Kita sudah sampai, apa mau turun disini?”
    Yang di tanya hanya menggangguk, lalu berkata, “Kita turun disini saja.”
    Nyi Salindri keluar dari kereta diikuti dengan suaminya, Ki Ragil Kuniran. Pasangan suami-istri itu melangkah berdampingan. Melihat Nyi Salindri dan Ki Ragil Kuniran, dengan tergopoh-gopoh kedua penjaga itu mendekat dan menyambut dengan wajah dan suara berbeda saat berbicara dengan Gineng. Lebih halus dan lebih sopan.
    “Oh ... maaf ... maaf ... rupanya Den Ayu Salindri dan Den Ragil yang datang. Saya kira siapa?” kata si cambang dan si gempal sambil membungkukkan badan.
    “Huh, dasar manusia bermuka kadaì,” pikir Gineng.
    “Apa Ayah ada?” tanya Nyi Salindri, pelan.
    “Ada ... ada ... silahkan masuk ... Den Jalu juga ada.”
    “Kakang Jalu juga disini?” timpal Ki Ragil Kuniran.
    “Betul, Den! Den Jalu sudah berada di padepokan satu purnama lebih,” sahut si gempal yang membawa tombak.
    Wajah pasangan suami-istri itu cerah, keduanya saling pandang sambil mengangguk pelan.
    “Mungkin Kakang Jalu sudah bosan berkelana, kakang,” kata Nyi Salindri.
    Ki Ragil Kuniran hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa.
    “Gineng, masukkan kereta, letakkan saja di istal, itu ... samping kiri gerbang ini!” kata Ki Ragil Kuniran, setelah menepuk-nepuk pundak penjaga berbaju hitam itu.
    “Baik, Ki!”
    Kemudian pasangan suami-istri itu bergegas masuk melewati pintu gerbang. Si gempal berjalan di depan sebagai penunjuk jalan, sedangkan si cambang membuka pintu gerbang lebih lebar, untuk memberi jalan Gineng memasukkan kereta. Paksi Jaladara membantu Gineng memasukkan kereta kuda ke istal kuda yang terletak sisi kiri pintu gerbang, sedangkan Si Perak yang sedari tadi terbang rendah kini hinggap di atas wuwungan yang ada di atas pintu gerbang, tepat di atas papan nama padepokan.
    Setelah menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua menyusul masuk ke dalam. Paksi berjalan sambil melambaikan tangan ke arah elang kesayangannya. Elang itu segera melesat terbang ke arah Paksi dan langsung menerobos masuk ke dalam dan hinggap di palang kayu yang ada di pendapa padepokan.
    Mereka melewati tanah lapang yang luas dan asri, tempat di mana biasanya para murid padepokan berlatih silat. Sedangkan di kiri kanan terdapat pondok-pondok kecil, tempat tinggal murid Padepokan Singa Lodaya. Di bagian ujung tanah lapang itu ditanami dengan sayur-mayur dan buah-buahan. Beberapa orang murid yang sedang berkebun dan mencangkul tanah, menghentikan pekerjaannya sementara, di saat melihat si gempal mengiring masuk pasangan suami-istri dan dua orang laki-laki beda usia.
    Seorang kakek berbaju abu-abu menyambut di depan pintu sambil tertawa lebar, diikuti seorang laki-laki kekar bertubuh tinggi menjulai yang juga tersenyum ramah. Laki-laki itu mengenakan sepasang gelang akar bahar yang melingkar di kedua pergelangan tangan. Matanya tajam mencorong seperti mata kucing dalam gelap. Baju buntung tanpa lengan berwarna putih itu sangat kontras dengan kulitnya yang sawo matang dipadu dengan celana putih komprang yang diikat dengan sabuk putih pula.
    “Ayah!”
    “Ha-ha-ha-ha! Rupanya kalian yang datang! Pantas saja burung prenjak sejak tadi berkicau terus tanpa henti! Ada tamu istimewa rupanya,” kata si kakek yang ternyata Ki Ageng Singaranu, ayah kandung Nyi Salindri.
    Seperti gadis kecil saja, Nyi Salindri berlari-lari kecil dan langsung memeluk ayahnya dengan suka cita. Rasa rindu dan kangen tumplek-blek menjadi satu. Sang ayah memeluk putrinya yang sudah lama tidak dijumpai dengan wajah cerah, secerah matahari yang bersinar di pagi itu.
    Jalu Lampang membiarkan adik dan ayahnya saling berpelukan melepas rindu, lalu menghampiri adik iparnya dan saling berjabat tangan erat.
    “Bagaimana kabarnya, Dimas Ragil? Baik-baik saja!?” ucap Jalu Lampang.
    “Kami sekeluarga baik-baik saja, bagaimana dengan kakang sendiri? Sehat-sehat, bukan?”
    “Ha-ha-ha-ha, seperti yang kau lihat ... !”
    “Saya dengar kabar slentingan dari jauh kalau kakang Jalu sudah beristri. Apa benar?” seloroh Ki Ragil Kuniran.
    “Ha-ha-ha, bujang lapuk seperti aku ini mana laku di mata para gadis! Paling-paling juga nenek-nenek!?” canda Jalu Lampang.
    “Ha-ha-ha-ha-ha!”
    Tawa dua orang itu berderai sampai terkial-kial.
    Mereka berempat duduk memutari meja bundar yang ada di pendapa. Meja dari kayu jati alas yang sudah sangat tua, namun sangat kokoh. Konon, meja itu usianya hampir sama tuanya dengan usia Ki Ageng Singaranu, karena meja jati itu dibuat bersamaan dengan lahirnya Ki Ageng Singaranu. Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang perempuan berkebaya sambil membawa baki berisi makanan kecil dan minuman. Nyi Salindri mengkerutkan alis melihat perempuan berkebaya itu, namun dia diam saja.
    “Srinilam, duduk sini,” kata Jalu Lampang dengan mesra.
    “Kakang Jalu, siapa dia? Kok aku baru tahu?” tanya Nyi Salindri.
    “Ohh ... aku lupa, ini istriku! Maaf, aku lupa mengenalkannya pada kalian,” jawab Jalu Lampang. “Srinilam, kenalkan, ini Salindri, adikku yang paling bawel dan laki-laki ganteng itu adalah suaminya, Ragil Kuniran.”
    “Ooohhh, jadi ini mbakyuku tho?” sahut Salindri, sambil menjabat erat tangan Srinilam.
    Ki Ragil Kuniran beringsut mendekati Jalu Lampang, yang berada di sisi kirinya, sambil berbisik-bisik, “Jadi ini ‘nenek-nenek’ itu? Cantik amat?!”
    “Ha-ha-ha-ha-ha!”
    Kembali Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran tertawa berderai, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Jalu Lampang malah sampai mengeluarkan air mata.
    “Kalian ini, kalau ketemu pasti kumat urakannya, seperti anak kecil saja,” gerutu Ki Ageng Singaranu.
    Walau dalam mulut menggerutu, namun dalam hatinya sangat gembira dan bahagia karena antara mantu dengan anaknya sangat rukun satu sama lain.
    “Maaf, saya mau ke belakang,” kata Srinilam, sambil beringsut berdiri.
    “Mbakyu, boleh saya temani?”
    Srinilam hanya menganggukkan kepala.
    Dua perempuan itu berjalan beriringan menuju ke dalam, tepatnya menuju ke dapur. Nyi Salindri sangat senang melihat kakak iparnya yang manis itu, tapi lebih senang lagi karena kakaknya Jalu Lampang telah beristri seorang wanita cantik dan menarik hati.
    “Hebat juga pilihan Kakang Jalu,” puji Nyi Salindri dalam hati.
    Srinilam yang mulanya agak rikuh dengan adik iparnya, tapi rasa rikuh sirna setelah melihat keceriaan Salindri. Keduanya terus ngobrol ngalor ngidul tak karuan juntrungannya.
    Setelah dua orang wanita itu berlalu, seorang bocah berikat kepala merah berlari-lari kecil dari arah halaman menuju ke pendapa. Bocah yang tak lain Paksi Jaladara itu langsung menghampiri ayahnya dengan senyum tersungging di bibirnya yang kecil.
    “Ayah, Paksi boleh main sama Si Perak? Habis ... Kakang Gineng malah ngobrol dengan dua paman di depan itu,” kata Paksi sambil memegang tangan kanan Ki Ragil Kuniran.
    “Boleh, tapi beri salam dulu sama kakek dan pamanmu,” kata Ki Ragil Kuniran, sambil mengelur-elus kepala anak laki-lakinya, sambil menoleh ke arah Jalu Lampang dan Ki Ageng Singaranu.
    Paksi menghampiri dua orang itu dengan sikap tenang dan langkah kaki yang ringan, lalu meraih tangan kanan kakeknya dan menciumnya.
    “Ha-ha-ha, jadi ini cucuku? Sini cah bagus, sini ... kakek pengin menggendongmu.”
    Ki Ageng Singaranu langsung meraih Paksi dalam pelukannya. Paksi pun juga merangkul leher orang tua itu dengan kedua tangan kecilnya. Sudah lama Paksi mendengar tentang sang kakek dari ibunya. Senang sekali Ki Ageng Singaranu dapat menimang cucu di usianya yang sudah senja itu.
    “Cah bagus, namamu siapa?” tanya Ki Ageng Singaranu.
    “Nama saya Paksi, Kek.”
    “Oh ... nama yang bagus! Sebagus orangnya,” puji Ki Ageng Singaranu.
    Kemudian kakek berpakaian abu-abu itu melepaskan pelukannya. Paksi menghampiri Jalu Lampang, lalu meraih tangan kanan laki-laki itu dan menciumnya, seperti yang dilakukan pada kakeknya. Jalu Lampang tersenyum sambil mengelus-elus kepala Paksi.
    “Ha-ha-ha-ha, ternyata keponakanku sudah sebesar ini! Oh ya, kau boleh panggil Paman Jalu saja,” kata Jalu Lampang, sambil tersenyum.
    Bocah itu hanya memandang muka pamannya dengan seksama, lalu tersenyum penuh arti. Setelah itu, Paksi kembali ke depan ayahnya, sambil berkata, ”Ayah, Paksi mau main sama Si Perak, di halaman saja.”
    Bocah itu menuding halaman yang luas, tempat dimana biasanya para murid berlatih silat.
    “Boleh, tapi jangan jauh-jauh.”
    “Ya, Ayah.”
    Bocah itu berlari keluar pendapa. Langkah kakinya ringan dan teratur, diikuti dengan suitan nyaring.
    Suitt!! Suitt!!
    Dari arah barat, melesat sesosok bayangan putih keperakan menghampiri Paksi. Bocah itu tertawa-tawa riang, lalu duduk bersandar di sebatang pohon. Dua makluk beda jenis itu asyik berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
    Jilid 1 : Sang Pewaris – Bab Lima
    Ki Ageng Singaranu memandang bocah itu dengan kepala manggut-manggut. Mata tuanya melihat bakat luar biasa pada diri Paksi Jaladara. Saat memeluknya tadi, tangan tuanya bisa merasakan kekokohan susunan tulang, di tambah lagi dengan melihat cara berjalan dan berlari bocah itu, sudah bisa menebak seberapa bagus susunan tulang tubuh Paksi Jaladara. Apa yang dipikirkan Ki Ageng Singaranu sama dengan apa yang ada di otak Jalu Lampang.
    “Bakat yang luar biasa,” gumam Jalu Lampang.
    “Hemm, susunan tulangnya sangat bagus! Ragil, apa kau yang mengajari anakmu ilmu silat dan ringan tubuh?” tanya Ki Ageng Singaranu, menebak.
    Ki Ragil Kuniran sudah menduga apa yang akan dilontarkan oleh ayah mertuanya begitu melihat Paksi. Itulah yang menjadi sebab kedatangannya ke Padepokan Singa Lodaya, tentang keanehan yang disandang putra tunggalnya, Paksi Jaladara!
    “Bukan, ayah! Saya belum mengajari Paksi apa pun,” jawab Ki Ragil Kuniran, pendek.
    “Bukan kau?” kali ini Jalu Lampang bertanya. “Lalu siapa? Apa Salindri yang mengajarinya?”
    Lagi-lagi yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
    “Lalu siapa?” tanya Ki Ageng Singaranu, penasaran sekali.
    Baru kali ini tebakannya meleset.
    “Ayah, apakah ayah mengenal tokoh sakti atau seorang pendekar yang bergelar Si Elang Berjubah Perak?” balik tanya Ki Ragil Kuniran.
    Ki Ageng Singaranu menjungkitkan alis. Nama yang disebut itu sangat mengagetkan dirinya, meski tidak diperlihatkan secara nyata. Tapi pandangan mata Ki Ragil Kuniran tidak bisa ditipu, meski hanya sekilas dapat melihat kekagetan ayah mertuanya.
    Jalu Lampang pun terlengak kaget mendengar pertanyaan adik iparnya.
    “Untuk apa Dimas Ragil menanyakan tokoh golongan putih itu?” pikir Jalu Lampang.
    “Si Elang Berjubah Perak? Untuk apa kau bertanya tentang tokoh itu?” kata Ki Ageng Singaranu, menyelidik.
    “Ayah, tokoh atau orang yang bergelar Si Elang Berjubah Perak sangat erat hubungannya dengan pertanyaan yang ayah ajukan pada saya ... ” jawab Ki lurah Desa Watu Belah. “ ... Saya sangat membutuhkan keterangan tentang siapa adanya tokoh sakti itu, Ayah.”
    “Ada hubungannya dengan pertanyaanku tadi? Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?” ganti balik bertanya Ki Ageng Singaranu.
    “Dimas Ragil, darimana Dimas mengetahui nama si Elang Berjubah Perak?” kali ini Jalu Lampang yang bertanya, menyusul pertanyaan ayahnya.
    Ki Ragil Kuniran menceritakan serangkaian kejadian yang dialaminya tentang proses kelahiran Paksi Jaladara yang aneh dan unik, juga tentang segala kejadian yang berhubungan dengan mimpi yang pernah diterimanya, yang dianggap sebagai sasmita.
    “Saya hanya mendengar suaranya saja, sedangkan wujudnya tidak kelihatan. Dia mengaku berjuluk si Elang Berjubah Perak dan memilih anakku sebagai pewaris Tahta Angin dan mengaku pula bahwa dirinya adalah Sang Angin! Kemudian tokoh gaib itu juga mengatakan bahwa Penunggang Angin akan menjadi pertanda kelahiran anakku tepat di bulan ke tiga belas. Kemunculan diiringi dengan suara deru angin membadai dan gelegar petir. Nama anakku pun, beliau pula yang memberi, bukan saya sebagai ayahnya.”
    “Apakah dalam mimpimu, dia berjubah bulu burung keperakan?” tanya Ki Ageng Singaranu, menegaskan.
    “Betul, Ayah.”
    “Siapa si Penunggang Angin itu? Apa Dimas sudah mengetahuinya?” tanya Jalu Lampang.
    “Sudah, Kakang! Bahkan sekarang pun ada disini. Ternyata yang dimaksud si Penunggang Angin adalah burung elang itu,” jawab Ki Ragil Kuniran, sembari telunjuk kanannya menuding ke arah Paksi dan elang kesayangannya bermain.
    Ayah dan anak itu memandang ke jurusan barat. Pada awalnya Ki Ageng Singaranu hanya menganggap sebagai elang biasa, hewan peliharaan menantunya dan juga teman bermain anaknya supaya tidak nakal. Mata tua itu memandang tajam ke arah Si Perak, seakan sedang menerka-nerka. Sedang yang diperhatikan, masih asyik dengan si majikan muda. Sambil bermain berkejar-kejaran, Paksi menirukan gerakan-gerakan elang putih itu.
    Ki Ageng Singaranu kaget melihatnya.
    “Mustahil!” ucap Ki Ageng Singaranu. “Bagaimana mungkin bocah sekecil itu bisa menirukan gerakan hewan sehingga nyaris sama dengan gerakan hewan itu sendiri?”
    “Itulah sebabnya saya berkunjung ke sini untuk mencari keterangan siapa adanya si Elang Berjubah Perak.” kata anak mantunya.
    Sejenak Ki Ageng Singaranu terdiam, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
    Keningnya berkerut.
    Jalu Lampang dan Ki Ragil Kuniran memperhatikan Ketua Padepokan Singa Lodaya dengan raut muka sedikit tegang, terutama Ki Ragil Kuniran, karena dirinyalah yang bersangkutan dengan masalah ini.
    Lalu, Ki Ageng Singaranu berkata, “Kalau mengetahui betul, aku juga tidak yakin. Dari cerita mendiang Guru yang pernah kudengar, ratusan tahun silam muncul seorang pendekar yang berjuluk Si Elang Berjubah Perak. Dia seorang pendekar pilih tanding di rimba persilatan. Tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Dia seperti orang kabur kanginan, tidak diketahui siapa orang tuanya, gurunya, semua serba misterius. Waktu itu guruku baru berumur lima belasan tahun. Yang mengetahui secara pasti hanyalah Eyang Guru. Guru pernah berjumpa dengan si Elang Berjubah Perak beberapa kali. Terakhir kali yang kudengar, Eyang Guru bertemu di Gunung Tambak Petir. Saat itu guruku sudah berusia hampir tiga puluh tahun ketika bertemu dengan si Elang Berjubah Perak ... “
    “Gunung Tambak Petir? Dimana letak gunung itu?” gumam Jalu Lampang, seolah-olah memotong pembicaraan.
    “Ya, Gunung Tambak Petir! Aku sendiri juga tidak tahu dimana letak gunung itu. Ketika akan berpisah, laki-laki berjubah bulu burung itu menepuk punggung Guru sekali, dan mengatakan dirinya menitipkan sesuatu untuk diberikan ke seseorang. Entah siapa, Guru juga tidak mengatakannya. Bahkan bentuk titipannya seperti apa, Guru juga tidak tahu. Mungkin hanya Eyang Guru yang tahu, tapi Eyang Guru juga tidak mengatakan sesuatu pada muridnya,” kata Ki Ageng Singaranu lebih lanjut.
    “Aneh, yang dititipi juga tidak tahu apa bentuknya dan kepada siapa titipan itu akan diberikan,” kata Ki Ragil Kuniran, dengan pelan. “Lalu, lanjutnya bagaimana, Ayah?”
    Setelah berhenti sejenak dan meminum air jahe yang ada di cawan tanah itu, Ki Ageng Singaranu melanjutkan ceritanya.
    “Sampai Guru menjelang ajal, beliau pun juga menepuk punggungku sekali, dan mengatakan bahwa diriku sebagai pengemban titipan itu dan harus memberikan titipan itu pada orang yang berhak. Aku pun bingung, pada siapa titipan itu harus kuberikan, sedangkan bentuk titipan itu pun aku tidak tahu. Bahkan saat almarhum adik seperguruanku ingin melihat bentuk titipan itu di punggungku, tidak terlihat apa-apa dan dia tidak menemukan apa-apa di punggungku. Aneh, bukan?” jelas Ki Ageng Singaranu.
    “Jadi, almarhum paman Gagak Sempana juga tidak melihat apa-apa di punggung Ayah? Hemmm, betul-betul membingungkan,” kata Jalu Lampang sambil menghela napas.
    “Apa paman Rangga Jembangan juga tidak mengetahui, Ayah?”
    “Tidak ... Rangga Jembangan bahkan menggunakan ilmu ‘Netra Benggala’ untuk menembusnya, juga tidak melihat apa-apa. Gagal total.”
    Ki Ragil Kuniran terdiam. Semua keterangan yang didengarnya masih samar-samar.
    Lalu berkata, “Apa Ayah juga tahu tujuan pertemuan antara Eyang Guru dengan si Elang Berjubah Perak? Mungkin pernah menyinggung nama tempat? Atau tokoh-tokoh tertentu?”
    Ki Ageng Singaranu terdiam sejenak, alisnya berkerut-kerut seakan mengingat sesuatu. Laki-laki tua itu memeras otaknya. Keringat sampai bercucuran dalam mengingat sebuah tempat yang sudah puluhan tahun dilupakannya.
    “Kalau tidak salah, beliau pernah membicarakan tentang sebuah perkumpulan pendekar aliran putih yang berpusat di Istana Elang. Ya ... Istana Elang!” kata Ki Ageng Singaranu dengan yakin.
    “Istana Elang?” Ki Ragil Kuniran bergumam.
    “Dimana letak Istana Elang itu, ayah?”

  • TEMAN - TEMAN YG AKTIF

    http://yulian.firdaus.or.id/2006/03/26/gajahma...

  • http://www.joyoharto.com/

    http://www.joyoharto.com/

  • https://www.maybank2u.com.my/mbb/m2u/common/M2ULogin.do?acti

    https://www.maybank2u.com.

    CDROM DIKTAT PARANORMAL & ILMU AL-HIKMAH
    by www.geocities.com/infotrade2u/kitab

    Bagi peminat ilmu-ilmu kebatinan & paranormal, kini kami menawarkan CD-ROM KITAB AL-HIKMAH yang mengandungi himpunan ilmu-ilmu rahsia Paranormal, Kebatinan, Tenaga dalam, Kerezekian Pesugihan islami, Pengasih, Aji kesaktian, Pengobatan penyakit Medis & Non-Medis dan lain-lain yang boleh anda jadikan koleksi. Diantara isi kandungan CD-ROM Kitab ini ialah:

    ASMARA TANTRA – ILMU MIMPI BASAH

    Dengan ilmu "ASMARA TANTRA" ini anda akan punya ilmu pengasihan yang unik, asyik, menggelitik, membuat si dia bermimpi indah, mesra (mimpi basah) dengan anda, Si dia akan terlena, terkenang-kenang, terbayang saat bercinta dengan anda. Tundukkan gadis nakal, binal, genit, sangat baik untuk yang berkeluarga apalagi beristeri lebih dari satu dapat menghindari perselingkuhan saat ditinggal tugas. (ilmu dapat dikuasai oleh semua orang ~~ untuk semua agama~~)

    BERTEMU DENGAN JIN-JIN MUSLIM

    Panduan ini merupakan Ilmu Hikmah untuk bertemu dengan Jin-Jin Islam. Ia merupakan suatu cara termudah untuk kita meminta bantuan seperti kenaikan pangkat, murah rezeki, perlindungan dari musuh, belajar ilmu ghaib dan lain-lain. Sesuai untuk belajar menjadi seorang paranormal.

    JIN YANG BERNAMA RAIHAN - Jin yang bernama Raihan ini boleh diperintah apa saja jika ada yang memanggilnya asal tidak bertentangan dengan agama. Ciri-ciri Raihan: Tinggi, tampan dan gagah ( Jin Laki-laki )

    JIN YANG BERNAMA MAIMUUN - Jika anda dalam keperluan yang mendesak,

    JIN YANG MEMBERITAHU ISI HATI SESEORANG - Bila ingin mengetahui isi hati seseorang atau sedang dipikirkan seseorang.

    JIN YANG BERNAMA SYAMTHUUNIN - J in bertubuh hitam dan amat tinggi tubuhnya dapat membantu kita dibidang Mahabbah atau membungkam mulut seseorang atau mencerai berai komplotan penjahat atau mengusir orang suka mengganggu…….!

    JIN YANG MEMBANGUNKAN TIDUR (QASAM)

    JIN YANG BERBENTUK ULAR

    JIN YANG BERNAMA SYAMSUI QIRMID - Puteri dari 7 Raja Jin

    JIN YANG DIMINTA UNTUK MENGGANGGU MUSUH KITA - Jin untuk di perintah agar mengganggu musuh kita, sehingga kita aman dari gangguan atau ancaman musuh kita.

    MENGUNDANG JIN ISLAM - HALUSYIIN

    JIN BERNAMA SUFAIHUUTSAN - Jin yang baik ini akan muncul dan membantu kita tatkala kita mendapat ancaman dari orang lain akan dibinasakan penjahat, musuh, ….atau dalam keadaan terdesak……

    AMALAN TASBIH MAGROBI - Amalan pengisian melalui kaedah wirid yang tidak membebankan. Kekuatannya benar-benar dapat dirasai , sesuai untuk:

    * kebal senjata tajam * pengasihan

    * penglarisan / kerezekian * cepat jodoh

    * pagar diri / pendinding * penyembuhan dari sihir

    * hutang * memindahkan hujan, dan byk lagi…

    REIKI USHUI - Manual lengkap dan teknik attunement Reiki Ushui.

    KUNDALINI - Perihal kundalini dan Teknik pembangkitan Shaktipat Kundalini

    GEMBLENG THERAPI ELEKTRIK - Ilmu ini sangat dirahsiakan. Ada perguruan yang meminta ribuan ringgit untuk memberikan anda rahsia ini. Anda akan mampu menjinakkan beribu-ribu watt untuk pengubatan, elektrik akan dimasukkan dalam tubuh anda, kemudian disalurkan ketubuh pesakit yang menderita sakit. Tubuh anda akan menyala bila ditestpen. Dengan Gembleng Therapi Listrik ini anda dapat mengubati : Kanser, Tumor, Darah Tinggi, Stroke, Liver, Asam Urat, Ginjal, Impotensi, Kencing Manis, Kencing Batu, Keputihan, Paru-Paru, Sesak Nafas, Rematik, Kolesterol Tinggi dll.

    25 ILMU REZEKI KEKAYAAN PESUGIHAN ISLAMI - Kitab ini mengandungi himpunan 25 ilmu-ilmu kerezekian yang disebut Pesugihan Islami kerana sumbernya dari para Kyai, Ulama’ dan para Wali diJawa yang berpangkal pada ajaran Islam.

    PROGRAM PEMBANGKITAN TENAGA DALAM INTI SISTEM 2 MINGGU - Menyingkap rahsia pembangkitan tenaga dalam inti untuk beladiri, penyembuhan untuk berbagai-bagai penyakit, membuka mata batin, mengisi benda menjadi bertuah, mengolah energi metafisik, menguji kekuatan, menyerang tanpa gerak, dan sebagainya yang banyak membawa manfaat di dalam kehidupan di samping bertakwa kepada Allah Swt dengan doa-doa khusus yang telah di amalkan oleh para sesepuh dahulu kala.

    ILMU PENGASIH NUSANTARA

    Merupakan himpunan lebih 30 ilmu-ilmu pengasih dari Tanah melayu, Jawa dan Siam. Di antara isi kandungannya ialah:

    · Ilmu pengasih cahaya muka

    · Ilmu pengasih untuk menjadi pemimpin

    · Ilmu pengasih Gajah Putih

    · Ilmu Pengasih Nabi Yusuf

    · Ilmu Pengasih Pakai Bedak

    · Ilmu Penerang Hati

    · Ilmu Pengasih Cinta Mani

    · Ilmu Pengasih Suara Merdu

    · Ilmu Kunci Nafsu Isteri

    · Dan banyak lagi….

    RAJAHAN KUAT SEX - Ilmu kuat sex 3-4 jam secara akal dan ghaib + Bikin orgasme/klimak wanita secara jarak jauh.

    ILMU ASMA MANDAL - Ilmu ini untuk melihat wajah pencuri menggunakan media air. Ada yang menggunakannya untuk melihat angka-angka ramalan yang akan keluar.

    ILMU MERAGA SUKMA - Ilmu meraga sukma adalah perjalanan astral diluar tubuh , iaitu pemergian roh ke alam ghaib ataupun nyata.

    ILMU TERAWANGAN - Berguna untuk melihat alam ghaib dan alam nyata dari jarak jauh serta untuk melihat kekuatan gaib atau energi yang ada pada benda, pusaka atau azimat. Syarat ilmu ini : ISLAM, yakin pada diri sendiri dan pada ALLAH, tekun berlatih dan sabar, tidak tergesa-gesa dan tidak cepat putus asa.

    KITAB AJI-AJI KESAKTIAN - Kitab merupakan Panduan belajar Ilmu Langkah milik pinih sepuh/pendekar zaman dahulu kala yang jarang dibuka / disebarkan pada masyarakat umum. Disini kami sebarkan agar ia tidak pupus ditelan zaman. Diantara isi kandungannya adalah seperti berikut:

    AJI-AJI KESAKTIAN PILIH TANDING

    AJI RAJAH KALACHAKRA - Rajah Kalachakra merupakan senjata ghoib yang boleh untuk membinasakan musuh yang sakti. Rajah inipun juga boleh untuk pagaran tubuh, pagaran rumah dan lain-lainnya.

    Biasanya rajah ini berupa sinar berputar dan terletak didada pemiliknya. Bagi yang sudah boleh melihat alam ghoib, akan boleh melihat ujud rajah ini.

    AJI BRAJAMUSTI - Dizaman dulu aji Brajamusti adalah aji kebanggan para pendekar. Kerana aji Brajamusti ini merupakan perisai badan yang ampuh sekali. Orang yang mempunyai aji brajamusti mempunyai kekuatan badan dan kekuatan ghaib yang tidak ada tandinggannya. Maka orang yang memiliki tidak boleh menggunakan aji brajamusti kalau tidak dalam keadaan terpaksa. Sebab kalau digunakan sembarangan boleh membahayakan lawan. Kegunaan aji brajamusti selain untuk mengisi kekuatan badan dan tangan, aji barajamusti juga sebagai aji kekebalan terhadap berbagai macam senjata tajam. Senjata yang ampuh bagaimanapun kalau terkena aji brajamusti pasti akan tawar, tak bertuah.

    AJI BANDUNG BONDOWOSO - Seperti halnya aji Brajamusti, aji Bandung Bondowoso juga mempunyai khasiat yang luar biasa hebatnya. bagi orang yang mengamalkan aji Bandung Bodowoso akan mempunyai kekuatan badan yang mentakjubkan. Barang yang mustahil boleh diangkat dengan kekuatan manusia, maka dengan aji Bandung Bodowoso barang itu dapat diangkat dengan mudah. Bahkan lebih dari itu dengan aji ini orang boleh menagkis tanpa cidera semua senjata tajam. Senjata tajam akan terpental dengan sendirinya bila mengenai badannya.

    AJI INTI LEBUR SAKHETI - Inti lebur saketi merupakan ajian pamungkas handalan beberapa perguruan. Ajian ini bila diamalkan terus menerus dayanya sangat hebat, Boleh digunakan untuk membakar hangus golongan jin yang sakti. Tetapi boleh juga untuk pengobatan, khususnya orang yang kena santet, teluh, tenung, sihir dan lainlainnya lagi. Aji ini kerana dayanya yang dahsyat tidak boleh digunakan sembarangan.

    AJI KOMARA GENI - Aji Komara Geni sejenis Gembala Geni yang juga merupakan aji pamungkas. Komara Geni boleh juga digunakan untuk membakar bangsa jin. kegunaan aji Komara Geni selain untuk pukulan kontak membakar jin, juga untuk pagaran badan, pagaran rumah dan pengobatan berbagai penyakit. Yang penting adalah niat si empunya aji ini.

    AJI BADA’ TUBI - Sebenarnya aji Bada' Tubi ini merupakan aji kekebalan yang tak kalah dengan aji Tameng Waja atau Blabak Pengantolan. Bahkan aji ini mempunyai kelebihan untuk bertempur. Ilmu kontak Bada' Tubi boleh membikin lawan kaku seperi patung (terkunci).

    AJI JALA SUTRA

    Aji Jala Sutra bila diamalkan dengan baik dapat untuk melumpuhkan lawan dan kesaktiannya. Biasanya musuh yang kena aji Jala Sutra akan menjadi lemah tak berdaya, semua kesaktian seolaholah punah.

    AJI KANCING KONCI - Amalan Kancing Konci ini khusus digunakan untuk mengunci lawan. lawan yang terkunci gerakannya akan terhenti seketika dan seolah-olah tubuhnya kaku, sukar digerakkan. amalan Kancing Kunci ini sangat penting dimilki oleh orang-orang perguruan tenaga dalam, kerana boleh menunjang keampuhan jurus-jurus kuncian.

    AJI GELAP SAYUTA - Orang dulu sering membangga-banggakan aji Gelap Sayuta, kerana orang yang mengamalkan ajian ini suaranya boleh menggetarkan orang yang mendengarkan. Untuk pukulan tenaga dalam yang dilamuri ajian ini boleh mematikan lawan.

    AJI QULHU GENI - Qulhu Geni merupakan ajian khusus untuk mengalahkan bangsa jin setan, Menurut orang dulu bila dibaca 1 kali, maka syetan putus tangan kirinya, bila dibaca 2 kali putus tangan kanannya, bila dibaca 3 kali putus kedua kakinya dan bila dibaca 4 kali akan lebur seluruh badannya.

    AJI QULHU DERGA BALIK - Kekuatan Qulhu Derga Balik hampir serupa dengan Qulhu Geni dan Komara Geni. amalan ini boleh digunakan untuk kontak, pagaran tubuh dan mengobati orang kena tenung, santet,. Bla diserang akan kembali pada sipenyerang. Sudah barang tentu agar amalan ini boleh lebih mujarab harus sering di wirid.

    AJI MACAN PUTIH - Aji Macan Putih merupakan aji kewibawaan yang sangat tinggi. Bila aji ini diwatek (di rapal), suaranya boleh membuat lawan gemetar dan nyali lawan menjadi kecil.

    AJI LEMBU SEKILAN - Aji Lembu Sekilan ini sangat terkenal sejak dahulu, hingga sekarang. Aji ini memang sangat baik untuk keselamatan dalam pertempuran. Bila diamalkan dengan baik semua serangan lawan baik menggunakan tangan kosong maupun senjata tajam bahkan senjata api tak akan mengenianya.

    AJI TAMENG WAJA - Aji Tameng Waja adalah aji khusus kekebalan. daya keampuhannya memang hampir dengan aji Lembu Sekilan. barang siapa mengamalkan aji tameng waja ini dengan baik Insya Allah dalam suatu pertempuran tidak akan cedera oleh senjata lawan.

    AJI TEGUH A LOT PAYUNG ALLOH - Aji Teguh Alot Payung Allah ini adalah merupakan aji keselamatan dan kekebalan yang sangat ampuh. Dulu aji ini sangat dirahasiakan, setelah ditimbang-timbang demi perkembangan ilmu didunia ini maka boleh disebar luaskan.

    AJI PANCASONA - Aji Pancasona sangat terkenal sejak zaman dahulu. Dalam pewayangan aji ini dimiliki oleh Prabu Dasamuka. Siapa memiliki Aji Pancasona sukar untuk matinya. Kerana bila tertembak misalnya dan kena hingga mati, maka setelah jatuh ke tanah ia akan hidup lagi dan bekas lukalukanya akan lenyap. Aji Pancasona memang hampir sama dengan aji Rawarontek. Orang yang memiliki aji ini matinya hanya boleh bila kepala dan tubuhnya dipisahkan dan ditaruh di tempat yang sangat jauh, bila mungkin dipendam di dalam sumur yang dalam.

    AJI BENGKELENG - Aji Bengkeleng di zaman dahulu sangat dirahasiakan. Kerana itu sangat jarang yang memilikinya. Keunggulan aji Bengkeleng sebagai ilmu kebal adalah kalau orang yang mengamalkan aji tersebut sempurna, bila kena senjata tajam dan peluru rasanya seperti kena titisan air.

    AJI PAYUNG ALLOH - Amalan Payung Allah adalah amalan untuk keselamatan atau pageran badan. Amalan ini nampaknya memang sederhana, tetapi khasiatnya sangat luar biasa. Amalan ini sangat penting untuk mereka yang sering bergelut dengan dunia kekerasan.

    AJI WA LAQAD - Amalan Wa Laqad yang diambil dari surat saba' ayat 10 mmpunyai khasiat yang mengagumkan yaitu :

    a. Untuk ajian saifi angin

    b. Untuk kesaktian yang dapat membengkokkan besi atau mematahkan baja.

    Aji Saifi Angin atau Sapu Angin adalah suatu kedikdayaan yang dapat mempercepat seseorang dalam perjalanan. Dengan aji Sapu Angin ini orang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang singkat, ibaratnya lebih cepat darai pesawat terbang. Aji ini pula yang menjadikan orang seperti kijang atau burung srikatan dalam kecepatan bergerak. Orang yang mempunyai aji sapu angin dan mengamalkan dengan baik dapat meringankan tubuh sringan-ringannya, sehingga dapat lari cepat sekali. Dahulu para wali songo selalu menggunakan aji sapu angin ini, khusunya bila diundang untuk rapat di masjid demak.

    AJI SUKET KALANJANA - Aji Suket Kalanjana merupakan aji untuk melihat alam ghaib, aji ini sangat kuno dan langka. Jarang orang yang memilikinya. aji Suket Kalanjana ini bila diamalkan dengan baik akan boleh tahu alam ghaib, seperti tahu ujudnya bangsa jin, setan dan sebagainya hanya saja syarat laku ilmu ini sangat sukar, kecuali bagi orang-orang yang berbakat.

    AJI PANGLIMUNAN - Sangat jarang orang sakti yang memiliki aji Panglimunan. aji Panglimunan adalah aji untuk menghilang atau untuk menutup suatu benda agar tidak nampak. aji ini memang cukup berbahaya bila disalah gunakan.

    AJI SENGGORO MACAN - Aji Senggoro Macan adalah suatu ilmu kedikdayaan yang diambil dari nenek moyang dari daya kewibawaan binatang macan. apabila seekor macan telah mengeluarkan aumnya maka calon mangsanya tidak akan berkutik. Untuk dapat menguasai ilmu tidak mudah, siapa saja yang mempunyai ilmu ini akan disegani oleh segenap manusia.

    AJI KEKEBALAN - Aji Kekebalan adalah untuk melindungi tubuh dari senjata tajam. orang yang sudah memiliki aji kekebalan ini hanya boleh ditembus dengan senjata yang dilapisi emas atau senjata yang ditancapkan ke tanah sebayak 3 kali. Didaerah Banjarmasin saat ini sedang tumbuh perguruan yang mengajarkan kekebalan tubuh. biasanya tubuh yang kebal apabila kena senjata tidak merasakan apa-apa. Namun dengan ilmu kekebalan dari pulau jawa akan kebal luar dan dalam. Sedangkan kebanyakan yang berada di kalimantan kekebalannya hanya luar tubuh saja.

    ILMU KARANG - Orang yang memiliki ilmu ini akan ditakuti lawan, sebab bila sampai terkena tanggannya menyebabkan kematian. apa yang tersentuh oleh tangan orang yang menguasai Ilmu Karang akan lebur. Di Kalimantan ilmu ini disebut dengan Pelebur. Persyaratan agar kita boleh memiliki ilmu yang langka ini tidaklah mudah, sebab ilmu ini yang ditakuti oleh semua mahluk. Untuk mendapatkan dan memiliki ilmu ini kita harus mampu menaklukkan berbagai cobaan dari diri kita dan dari bangsa jin.

    AJI MEGANANDA - Aji ini adalah suatu ilmu yang dapat menidurkan orang /lawan. keampuhan ilmu sulit dicari tandingannya dari zaman nenek moyang hingga kini.

    AJI KRESNA - Aji Kresna ini untuk menjadikan tubuh seperti raksasa bila dilihat musuh . Bila tidak dalam keadaan terancam keselamatan dirinya, tidak boleh aji yang satu ini dikeluarkan. Sebab musuh akan menjadi gila kerana takut dengan penglihatannya. Dalam pewayangan, yang memiliki aji ini hanyalah Prabu Dewa Kresna.

    AJI PENATASAN - Orang yang menyimpan ilmu penatasan ini akan dapat melumpuhkan lawan tanpa perlawanan. Sebab penatasan sejenis ilmu yang dapat melumpuhkan lawan dan mematikan semua ilmu yamng dimilkilawan. orang yang memilki ilmu ini hanya menggunakan lewat tangan atau mata. Tentunya dengan menggunakan jurus-jurus dan ilmu-ilmu tersebut dialirkan pada tangan, atau kaki, mata. Akan tetapi dalam penggunaan ilmu ini tidak boleh sembarangan. Kalau kita dalam keadaan terdesak barulah ilmu boleh anda keluarkan, sebab jika tidak dalam keadaan yang membahayakan keselamatan, dan ilmu digunakan dulu, maka musuh akan lumpuh total. Persyaratan untuk mendapatkan ilmu ini juga tidak mudah dilaksanakan.

    AJI TUGUMANIK JAYAKUSUMA - Kehebatan dan kegunaan ilmu ini hampir menyerupai ilmu Pancasona, namun ilmu juga berbeda dengan dengan ilmu Pancasona, jika ilmu Pancasona boleh hidup kembali bila potongan tubuhnya tidak dikubur melalui sungai. akan tetapi ilmu Tugumanik Jayakusuma tidak akan mati kalau belum waktunya.(kalau belum tuhan yang mematikan).

    AJI PANGUNCEN - Aji Panguncen ini salah satu ilmu yang digunakan para siswa perguruan tenaga dalam. Sebab dengan ilmu ini musuh bila terkena akan terhenti gerakannya. Dalam pengerakan ilmu ini kita harus mempunyai tenaga dalam yang sudah sempurna.

    AJI CIUNG WANARA - Dengan aji Ciung Wanara ini anda mampu mengalahkan musuh yang sangat tinggi ilmunya. Bukan itu saja anda akan ditakuti segenap binatang, baik binatang yang hidup didarat maupun yang hidup diair. Aji Ciung Wanara juga dapat menundukkan bangsa jin dan bangsa makhluk ghaib lainnya. Serta dapat menundukkan ilmu sesat seperti tenung , teluh dan santet.

    AJI GEMBALA GENI - Siapa yang memiliki aji Gembala Geni bila digunakan maka bangsa jin akan terbakar. Disamping itu boleh digunakan untuk membakar orang yang mempunyai sifat angkara murka. Persyaratan untuk dapat memiliki ilmu Gembala Geni tidaklah ringan. Berbagai cobaan yang menggoda dada kita harus mampu kita tundukkan. Bila kita masih bernafsu untuk menyombongkan suatu ilmu seperti gembala Geni mengakibatkan diri kita terasa terbakar.

    AJI KIDANG KUNING - Orang yang memiliki ilmu satu ini dalam berjalan atau dalam bepergian jauh dengan kecepatan yang luar biasa dan susah diikuti dengan pandangan mata. Dalam dunia pesilatan ilmu ini disebut ilmu meringankan tubuh. Dengan secepat kilat kita akan sampai pada tempat yang dituju.

    AJI TINGGENGAN - Aji Tinggengan ini kegunaannya sama dengan aji Panguncen. Bila orang yang memiliki aji Tinggengan ini dalam menghadapi lawannya dialirkan lewat tangannya hingga lawan yang terkena sentuhan tangannya tidak akan boleh bergerak.

    AJI DAN MANTRA

    PENANGKAL SEGALA RACUN (BOLEH) - Pada bahagian ini anda akan mendapatkan pengetahuan tentang ilmu dan aji-aji serta mantra penangkal racun. Baik untuk racun binatang maupun racun senjata pusaka.

    AJI WISA KIBLAT PAPAT -Boleh atau racun yang dikeluarkan binatang seperti ular, sangat membahayakan bagi keselamatan orang yang digigitnya. Tapi bila orang orang yang digigit ular dan binatang berboleh lainnya mempunyai penangkalnya tidaklah hal yang aneh. Anda boleh menangkal racun tersebut dengan menggunakan aji Kiblat Papat.

    AJI WISA KIBLAT PAPAT - Aji Wisa Bathari Durga adalah aji untuk menangkal racun ular belang. Yang mana racun tersebut sangat ganas. Bila ada orang yang digigit ular tersebut tidak segera diobati akan membawa pada kematian. Namun selama ini belum ada obat yang boleh menangkal atau membunuh racun ular tersebut. Sebab racun tersebut menjalar dengan cepat dalam aliran darah dan langsung menyerang jantung. Dalam beberapa menit orang tersebut akan mati . Bila anda menguasai aji ini dengan mudah menyembuhkannya.

    AJI WISA SANG KALITAR PUTIH - Orang yang memiliki aji Wisa Kalitar Putih akan mampu menundukkan bisa racun ular sendok/cobra. Racun ular cobra hampir sama dengan ular belang. Kekuatan racun ular cobra agak lambat menjalar ke jantung.

    AJI WISA WARIS KANJENG SINUHUN YOGYAKARTA - Warisan ilmu sebenarnya jarang diturunkan pada anaknya. Namun berhubung banyak masyarakat waktu zaman kerajaan yang takut dengan racun ular ataupun racun kalajengking, maka ilmu diajarkan pada masyarakat.

    AJI PAMBUNGKEM SAWER (ULAR) - Aji ini untuk melumpuhkan ular dengan cara membungkam mulutnya agar tidak boleh mengigit kita.

    AJI BILA TERKENA SENJATA PUSAKA - Adakalanya senjata seperti keris, tombak, badik mengandung racun yang sangat kuat. Bila anda benda tersebut kalau tidak lekas diobati boleh membahayakan keselamatan jiwa. Tetapi bila anda merapal mantra dibawah ini dengan penuh keyakinan, racun tersebut akan luntur dengan sendirinya seketika.

    AJI BISA KALAJENGKING - Binatang kalajengking juga mempunyai bisa yang kuat, apalagi kalajengking yang berwarna biru. Untuk menangkal racun tersebut gunakan mantra aji wisa kalajengking.

    AJI PENGASIHAN DAN PENGLARISAN

    AJI SEMAR NANGIS - Dalam pelaksanaan puasa untuk dapat memilki ilmu ini, harus berpuasa selama 4 hari 4 malam, kemudian dilanjutkan dengan pati geni semalam.

    AJI SELASIH IRENG - Ilmu sangat tepat bila digunakan pada anak perempuan yang sombong / orang tuanya tidak menyukai anda.

    AJI SEMAR KUNING - Pengasihan Semar Kuning digunakan untuk perempuan yang memutuskan hubungan cinta. Bila aji ini anda rapal maka perempuan yang anda tuju akan menangis untuk meminta kembali bersatu. Jika anda tidak melayani permintaan untuk kembali lagi dengannya boleh mengakibatkan gila.

    AJI SILU JANGGAH - Kegunaan ilmu ini untuk guna-guna pada seorang gadis yang menjadi rebutan. Apabila gadis tersebut sudah takluk apada anda, jangan dipermainkan cintanya.

    AJI WIJAYAKUSUMA - Aji ini sebenarnya milik raja-raja dizaman dahulu. Sehingga banyak rakyat dijadikan selir. Anda boleh memiliki ilmu ini namun anda harus mampu membahagiakan para isteri anda.

    AJI DEWA MANIK - Aji Dewa Manik ini bila dirapal pada suatu perkumpulan, anda akan disenangi orang yang berada di perkumpulan tersebut. Dan apabila dirapal seseorang pada orang yang dikehendaki, maka anda akan dikasihi oleh orang tersebut.

    AJI JARAN GOYANG - Persyaratan untuk memiliki ilmu ini tidaklah mudah. Sebab ilmu Jarang Goyang sangat ampuh untuk mengguna-guna seorang gadis atau sebaliknya.

    AJI MENJANGAN PUTIH - Kegunaan dari ilmu ini sama dengan pengasihan lainnya.

    AJI PENGLARISAN - Bila anda berdagang atau berjualan makanan, agar laris dan pelanggan tetap beli pada anda.

    AJI PENUNDUK PEJABAT - Bila anda seorang pegawai suatu perusahaan atau pegawai pada instansi pemerintah dan selalu kena marah majikan/atasan, maka mantra dibawah ini bila dibaca sewaktu masuk pejabat, boleh menundukkan majikan/atasan anda.

    DIKTAT PARANORMAL

    KACA BENGGALA / MELACAK PENCURI - Kaedah melihat pencuri menggunakan piring.

    ALIN TELUR - Memindahkan penyakit Medis dan Non Medis kedalam telur.

    ILMU MENGHILANG TANPA BAYANG - Dengan keyakinan yang optimal anda mampu menghilang dengan kata erti berjalan tanpa menampakkan bayangan, melewati kumpulan orang tanpa terlihat.

    MEMBUAT GELANG TANGAN ASMA' - Fungsi: Memiliki daya pukul mematikan, kebal pukulan dan senjata dan di takuti musuh.

    PENGERTIAN AZIMAT & SUMBERNYA

    TAWASSUL - Yang di maksudkan tawassul di sini adalah menjadi lantaran para waliyullah alim ulama (kyai) dsb, dalam rangka memohon sesuatu keberhasilan hajat kepada Allah SWT.

    MEMATRI KEKEBALAN - Fungsi: Menahan tikaman, tembakan dan pukulan yang bahaya.

    PASANG SUSUK KEKUATAN – MEDIA BOBERING - Mengunakan bobering yang boleh di beli kedai-kedai motor atau basikal.

    UNTUK DAPAT MENGHILANG - Fungsi - Musuh tidak dapat melihat kita

    BUKA KUNCI - Fungsi: Membuka gembok, terali besi, kuncian jurus tenaga dalam dan lain-lain lagi.

    MELUNTUR KEKEBALAN - Fungsi: melunturkan kekebalan orang jahat kerana bantuan Jin atau syaitan

    MENAKLUK GEROMOLAN JIN JAHAT - Fungsi: Membuat gerombolan Jin yang mengeroyok kita bertekuk lutut.

    MENGAMBIL PUSAKA KUNO - Fungsi: Menarik benda-benda kuno berisi di tempat keramat

    BERDIALOG DENGAN PUSAKA KUNO - Fungsi: Berdialog dengan penunggu pusaka kuno (Khodam)

    ISMU GUNTINGAN - Fungsi: Memotong anggota tubuh lawan dari jauh dengan Visualisasi isyarat.

    PUKULAN GODAM MEMATIKAN - Fungsi: Pukulan dasyat sehebat kodam, hati-hati kerana ia boleh mematikan musuh.

    PUKULAN PEMINGSAN - Fungsi: Musuh langsung jatuh pingsan, tidak sedarkan diri.

    KEBAL SIHIR, TENUNG ATAU GUNA-GUNA - Fungsi: Meredam serangan-serangan ghaib jahat, guna-guna, ilmu hitam dan sebagainya.

    MENGESAN TUMBAL SIHIR DI TANAH - Fungsi: Mengesan barang yang ditanam di kawasan rumah.

    MELENYAPKAN BARANG SIHIR & TAHU PELAKUNNYA. - Fungsi: Menghilangkan barang sihir dari tubuh dan tahu pelakunya

    MENGISI KESAKTIAN PADA ORANG LAIN - Fungsi: orang yang kita isi memiliki power ghaib dan kekebalan tubuh

    KEBAL CAMBUKAN - Fungsi: Tidak merasa sakit meskipun di rotan/sebat berkali-kali.

    MENGISI KEKUATAN PADA BATU MULIA - Fungsi: Dapat mengisi power ghaib & kekebalan pada akik, zamrub dsb.

    MEMBUAT MINYAK PENGASIH - Fungsi: Menarik idola, memudah urusan perniagaan, pelanggan dsb.

    PASANG SUSUK PENGASIH - Fungsi: Wajah awet muda dan mempesona (menarik)

    MENJILAT BESI PANAS - Fungsi: Artraksi menelan besi membara dll.

    MADU ASMA' UNTUK OBAT, PAGAR DIRI DAN ILMU KESAKTIAN - Fungsi: Untuk pengubatan, Kesaktian, dan Pagar tempat.

    AMALAN KESAKTIAN AMPUH - Fungsi: Sakti mandraguna, kekuatannya luar biasa, kebal senjata dan semua jenis serangan ilmu ghaib, wibawa super, seranganya mematikan, mematahkan rel kereta, rantai baja dll.

    MENANGKAP TUYUL - Fungsi: Menangkap tuyul peliharaan orang

    PENGAWAL SERIBU MALAIKAT - Fungsi: Memiliki pengawal 1000 malaikat pelindung dari semua serangan.

    PUKULAN PEREMUK BATU - Fungsi: Menghancurkan batu dengan pukulan tangan kosong

    DOA LARI CEPAT KILAT (SAPU JAGAD) - Fungsi: Dapat lari secepat kijang.

    TERAWANGAN - Fungsi: melihat barang-barang ghaib, pencuri, letak mata air, harta karun dan lain-lain lagi.

    PASANG SUSUK KEKUATAN - Fungsi: Memberikan kekuatan pada orang lain melalui bebola basikal

    MENHILANGKAN PENGARUH JIN & IBLIS - Fungsi: Mengusir jin/makhluk halus penghuni rumah yang selalu mengganggu

    ILMU MERAGA SUKMA - Fungsi: Melepaskan sukma/roh ke alam ghaib ataupun alam nyata.

    BERTEMU NABI KHIDIR

    TOLAK PELURU - Fungsi: Menolak sasaran terkena peluru musuh saat terjadi tembak menembak

    MEMBUAT GELANG TANGAN ASMA' - Fungsi: Memiliki daya pukul mematikan, kebal pukulan dan senjata dan di takuti musuh

    MENGUSIR JIN DALAM TUBUH & TEMPAT (RUMAH)

    TANGKAL SIHIR/SIHIR SEHEBAT APAPUN. - Fungsi: Untuk menangkal sihir atau sihir yang dikirim dukun yang jahat.

    TANGKAL SENGATAN HEWAN BERMAMPU - Fungsi: Selamat dari serangan ular, kelabang, kalajengking dll. Insya-Allah, haiwan-haiwan akan tunduk kepada anda.

    MELIHAT ALAM KUBUR - Fungsinya: Dapat melihat keadaan seseorang (ahli kubur), di siksa atau diberi nikmat di alam kubur.

    KEKUATAN HIZIB BARQI GELAP SAYUTA - Fungsi: Membutakan musuh, membisukan, menulikan, sehebat aji gelap sayuta. (Gelap = kilat = bargi sayuta = sejuta), bahkan mematikan, musuh tunduk dan segan, wibawa bagai singa.

    MENDENGAR PERBICARAAN RAHSIA JIN - Fungsi: Mampu mendengar perbicaraan Rahsia lelembut dan mampu melihat alam ghaib, dunia Jin, perkampunganya, dsb.

    ASMA AGAR DI SEGANI ORANG - Banyak orang yang berstatus / jawatan tinggi disesebuah syarikat, tetapi pekerja bawahannya mereka kurang di segani, bahkan kadang-kadang timbul pencaci maki terhadap dirinya, hal semacam itu mampu menjadikan antara pro dan kontra, timbul hasut menghasut, untuk mengatasi yang demikian itu sebaiknya kita harus waspada, di samping waspada kita harus mempunyai alat yang sangat Rahsia. Insya Allah anda dengan ilmu ini anda akan mempunyai daya kepribadian yang sangat tinggi

    HAJAT DUNIA DAN AKHIRAT - Anda di idzinkan untuk melakukan amalan ini. Semoga ALLAH mengabulkan permintaan kita, hanya ingat setiap permintaan akan dimintakan pertanggung jawab. Jadi mintalah yang baik-baik saja. Semoga Allah merestui kita.

    MANTRA PANGEDEPAN - Digunakan untuk menaklukkan musuh sehingga musuh menjadi takut dan kalut.

    ILMU BANDUNG BONDOWOSO - Ilmu Bandung Bondowoso, merupakan ilmu pilihan yang banyak diburu orang saat ini. Konon Pasukan PBM Pembela GusDur wajib memiliki ilmu ini. Nama Bandung Bondowoso mengingatkan kita akan cerita tokoh sakti yang menciptakan Candi Prambananan hanya dalam 1 malam saja. Dan ilmu ini memang akan membuat seseorang menjadi kuat seperti Bandung Bondowoso.

    MANTRA ISMU KAROSAN - Gunanya untuk menambah kekuatan fisik.

    MANTRA MALAIKAT SERATUS EMPAT - Insya-Allah segala jenis lelembut jahat akan lari.

    MANTRA PENENANG DAN PENCERAHAN PIKIRAN

    MANTRA PENOLAK ILMU HITAM / MAGIC - Mantra tersebut berfungsi untuk menolak magic yang akan mencelakakan kita, yang dibuat oleh orang lain.

    AURAD MENDATANGKAN KHODAM - Jangan digunakan untuk hal-hal yang buruk kerana sangat berbahaya bagi anda.

    MANTRA RUWATAN SENGKOLO

    MANTRA PENGOBATAN

    ILMU MALIH RUPA

    RIYADLOH MATA BATIN - Fungsinya: Digunakan untuk pembukaan mata batin sehingga diperoleh kewaskitaan (Insya-Allah).

    PINDAH JIN KE TEMPAT LAIN

    BOLO SEWU (MENTAL SERIBU) - Barang siapa yang mengamalkan Bolo Sewu, memiliki keberanian luar biasa kemana ia pergi selalu memiliki mental seribu (Seribu Tentera), yang membuat orang jahat tercengang atau musuh yang mengancam kita terlihat kita yang di ancam, musuh akan melihat kita menjadi 1000 wajah.

    TEKNIK MENGASAH KEKUATAN BATIN - Agar kekuatan batin kita menjadi berlipat ganda/bertambah tajam secara Automatik.

    PENGAWAL SERIBU MALAIKAT - Fungsi: Memiliki pengawal 1000 malaikat pelindung dari semua serangan.

    ILMU DETEKSI RAHSIA RASA INDERAWI - Ilmu deteksi rasa inderawi ini berfaedah untuk mendapatkan jawapan seketika dari tubuh kita sendiri, apakah suatu masalah itu benar atau salah, ataupun jawapan ya dan Tidak.

    ILMU DETEKSI SUPER DIMENSI GHAIB - Suatu rahsia ilmu deteksi super yang berfaedah, Isya-Allah untuk:

    * Mendeteksi dimensi alam ghaib

    * Mendeteksi isi hati seseorang

    * Mampu mendeteksi rahsia makhluk halus

    * Melihat tanpa batas

    * Mengetahui letak harta karun, tumbal, emas dll

    BELADIRI DENGAN KEKUATAN KAROMAH - Tujuan beladiri ini adalah untuk melatih secara ghaib ilmu silat dari berbagai aliran dan mempertahankan diri secara nyata apabila dalam bahaya.

    DAN BERMACAM-MACAM LAGI KEILMUAN SEPERTI RAHSIA DEMO SILAP MATA & TENAGA DALAM, NUMEROLOGY, PRIMBON JAWA, AURA DAN LAIN-LAIN LAGI

    Materi ilmu-ilmu diatas jika dicetak mencapai ratusan halaman, dan diperguruan lain ditawarkan ratusan hingga ribuan ringgit. Kami hanya meminta sedikit mahar pengganti kos pencarian kami selama bertahun-tahun. Kesemua keilmuan diatas telah dimuatkan didalam satu CD-ROM dan boleh anda perolehi dengan mahar pengganti RM 250.00 sahaja. Ya! Kami boleh memberi anda dengan harga yang murah kerana kos cetak CD-ROM lebih murah jika dibanding dengan kos cetak diatas kertas. CD-ROM yang lebih ringan ini telah mengurangkan kos pos.

    ANDA TIDAK AKAN MENDAPAT TAWARAN INI DIMANA-MANA PUN!!TEMPOH PROMOSI ADALAH TERHAD...

    --------------------------------------------------- ---------------------------

    CARA MEMBUAT BAYARAN:
    Anda boleh membuat pembayaran secara internet ON-LINE melalui Maybank2u.com atau dari mana-mana bank anda yang menyediakan perkhidmatan secara internet ON-LINE.

    Melalui bank-bank lain ON-LINEkan bayaran anda ke: Nama Bank : MAYBANK BERHAD
    Bayar Kepada : MOHD HISHAM YAHYA
    Nombor Akaun : 1643 5106 8284
    Cawangan : Jalan P Ramlee Business Centre

    Atau kirimkan Wang Pos / Bank Draf atas nama MOHD HISHAM YAHYA dan kirimkan bersama BORANG PENDAFTARAN kepada alamat berikut:

    MOHD HISHAM YAHYA
    BF-4-25 JALAN PANDAN INDAH 5/20,
    PANDAN INDAH,
    55100 KUALA LUMPUR.

    --------------------------------------------------- -------------------------

    BORANG PESANAN

    CD-ROM KITAB ILMU AL-HIKMAH

    Ya! Saya ingin memesan Cd-Rom Kitab Ilmu Al-Hikmah.
    Saya memesan dalam tempoh 20 hari & layak mendapat:

    BONUS
    1) CDROM 40 Panduan Kewangan (bernilaiRM99.00)
    2) Panduan Membuat Ramalan No. 4 Angka Dengan Kuasa Minda

    Sila isi Butir-butir diri dengan lengkap & cetak Borang ini:

    Nama Penuh:____________________________________________- _
    Alamat Lengkap:_________________________________________
    Umur:_____________________________________________- ______
    Pekerjaan:________________________________________- ______
    Telefon:__________________________________________- ______
    Tarikh:___________________________________________- ______
    No. Wang Pos / Bank Draf / Bank-in Slip:________________
    Jumlah *RM:_______________

    * Dari Luar Malaysia sila tambah RM50.00
    --------------------------------------------------- ------------------------

    ATAU LAYARI LAMAN WEB : www.geocities.com/maklumatlanjut

  • DAPAT UANG HANYA DENGAN DAFTAR HARUS PUNYA ATM MANDIRI

    http://www.uanggratis.net/?id=untorossueno

    [center]http://Acme-People-Search.com/


    http://www.padrowidjaja.com/paypal/[/center]

  • http://konsultasiruqyah.makeforum.org/konsultasi-serba-serbi

    http://konsultasiruqyah.makeforum.org/konsulta...

« 1 2 3 4