Blog / PENGUATAN DAN AUTO KRITIK TTS
Sabtu, 21 November 2009 jam 05:49
OLEH SHOFWAN KARIM
Di antara beberapa prestasi Sumbar yang di”gadang”kan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato di hadapan DPD RI dan Gubernur se-Indonesia pekan lalu adalah kesiapan Sumbar menghadapi tantangan era globalisasi dunia. Seperti telah dilansir media, karena itu Sumbar merupakan sedikit provinsi di Tanah Air yang telah menunjukkan tingkat kemajuan pembangunan yang berada pada posisi papan atas. Baik soal pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan, dan penuruan angka pengangguran serta peningkatan prestasi pendidikan, pelayanan publik dan lainnya. Pada pidato pengantar Gubernur Gamawan kemarin malam, ketika membekali Tim Ramadhan yang akan berkunjung ke 36 Masjid di seluruh daerah dan kota di Sumbar, hal itu dikutip ulang Gubernur. Tetapi yang menjadi perhatian penulis adalah ketika Gubernur menyinggung soal peranan “tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin” (TTS).
Di dalam paparan Gubernur itu terkesan kepada penulis, bahwa pujian Presiden SBY untuk peranan TTS dalam menghadapi globalisasi, masih belum meyakinkan kepuasan hati Gubernur dan mungkin pula berbagai pihak, terutama para pemangku kepentingan di daerah ini. Apakah alim-ulama, ninik-mamak, candiak-pandai (cendiakawan) yang dikenal sebagai TTS itu sudah optimal menjalankan peranannya sebagai tulang-punggung sosial-kemasyarakatan, kebudayaan dan pradaban ke-Islaman, ke-Minangkabauan dan ke-Indonesiaan di negeri ini ?. Oleh karena itu, wacana soal penguatan, pemberdayaan, dan revitalisasi TTS, baik orang perorang sebagai eksponen maupun kelembagaannya sebagai komponen masyarakat mesti di baca dan ditelaah ulang.
Secara perorangan, dewasa ini para alim-ulama di Sumbar dalam segi kuantitas, agaknya lebih banyak baru pada kapasitas muballigh, muballighat, da’i atau juru dakwah, sarjana, doktor dan professor yang bertebaran pada berbagai profesi di pemerintahan atau non-pemerintah. Sementara itu ada “romantisisme” kalangan tertentu tentang sosok ulama yang dirindukan. Mereka mendamba ulang munculnya ulama kharismatis dan memiliki kompetensi seperti masa lalu yang tidak begitu jauh seperti Syekh Iniyak H. Sulaiman al-Rasuli, Buya HMD Dt. Palimo Kayo, Buya H. Haroen el-Maany dan HAK Dt. Gunung Hijau, Buya Zainal Abidin Syuaib (Buya ZAS) dan lainnya.
Di kalangan adat atau ninik-mamak, tentu saja setelah HKR Dt. P. Simulie wafat beberapa waktu lalu yang tinggal kini H. Djafri Dt. Lubuak Sati dan lain-lain yang ada di LKAAM, KAN, dan nagari-nagari salingka Minangkabau, yang diteruskan oleh angkatan muda seperti dr. H. Alis Maradjo Dt. Sori Marajo dan Drs. H. M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M. Pd dan lain-lain. Mengiringi itu ada Bundo Kanduang seperti Rangkayo H. Nur Ainas Abizar, Prof. Ir. Yuliar Anas, Dr. Hj. Puti Raudha Tahib, M.P. dan lainnya.
Lain halnya kaum cerdik-dendekia (cendekiawan), orang banyak memahaminya sebagai kaum ilmuwan dan pemimpin dan penggerak masyarkat serta kaum inspirator dan motivator. Maka secara kasat mata, mengikuti terma umum tentang kualifikasi ini, kaum cendekiawan adalah juga birokrat-pemerintahan, anggota legislatif, yudikatif, untuk level tertentu termasuk TNI dan Kepolisian, pemimpin profesional, ahli hukum dan pengacara, usahawan, budayawan, seniman, wartawan, editor, para penulis dan pengarang, guru, dosen, guru besar, aktitifis dan pemimpin perempuan, aktifis organisasi masyarakat serta kalangan pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mereka disebut cendekiwan di samping karena ilmu pengetahuan dan pengalaman, lebih-lebih lagi karena pengaruh dan kepedulian dalam memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan dan hak-hak warga-masyarakat.
Ketiga komponen dalam TTS di atas tadi, tampaknya dalam sejarah masa lalu dan sekarang, mungkin pula di masa depan adalah kepemimpinan dalam makna filosofis dan normatif. Hal itu sepertinya lebih dominan ketimbang dalam makna praktis dan operasional. Oleh karena itu untuk mengukur dinamika dan implementasi kepemimpinan mereka, tidak serta merta dapat divisualisasikan dalam angka nominal-kuantitatif. Maka makna kualitas kepemimpinan itu yang mungkin lebih banyak dikaji sekaligus menjadi rujukan oleh bebagai kalangan.
Dalam rangka itulah barangkali dapat dilihat pujian Presiden SBY kepada kalangan TTS yang telah disinggung tadi. Dengan kata lain, para TTS telah berhasil secara filosofis dan normatif membimbing umat dan masyarakat Sumbar di dalam melewati gerbang globalisasi di tandai dengan tidak adanya gejolak pergesekan budaya yang menafikan antara budaya adat, syarak dan nilai-nilai pengetahuan dan perdaban Minang menghadapi budaya global seperti media grafika dan elektronik, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi dan kepariwisataan, gaya dan mode, makanan, dan fasilitas penunjang kesenangan serta mengisi waktu luang serta produk-produk kesenangan duniawi yang hedonistik serta pengaruh-pengaruhnya.
Di balik itu semuanya, berdasarkan pengamataan dan tulisan di milis-milis grup internet seperti rantau-net dan lainnnya, masih banyak keluhan, terutama dari para perantau. Mereka yang pulang kampung sering mengkritik dan mengeluh tentang perilaku pelayanan, fasilitas supra dan infra struktur, serta orientasi budaya yang tidak berubah dan yang berubah. Yang paling dikeluhkan oleh seorang perantau misalnya, ketika kakinya menginjak BIM, disambut oleh kebersihan wc yang tak berstandar internasional di emperan luarnya. Karena sebelum kakinya masuk taksi atau naik bus, di Bandara Internasional itu dia terburu-buru mencari tempat “kajamban” kemudian hendak shalat, sebelum cigin ke kampungnya. Lalu ketika melewati nagari tertentu, perantau yang sudah bertahun tahun tak pulang ini dikagetkan oleh pemandangan seronok pentas organ tunggal yang di situ bernyanyi biduanita berpakaian dan gerakkan seronok yang ditonton di pinggir jalan oleh orang ramai. Katanya, di balik sarung dan sebo penonton yang kebanyakan anak muda itu, ada pula yang memegang botol wishky, dan minuman keras lainnya. Dan, lebih dari itu, katanya, di kampung kampung kesenian randai, pencak silat, salawat dulang serta kesenian tradisional lainnya tergeser habis-habisan ke peinggir bahkan ada yang lenyap dan terjun bebas entah kemana akibat hantaman budaya populer dan global bunyi-bunyian elektronik dan semacamnya. Jadi ada continuity and change yang tak diharapkan yaitu keberlanjutan yang negatif dan perubahan yang tidak positif. Padahal yang diharapkan adalah sebaliknya, keberlanjutan yang positif dan perubahan ke yang lebih baik.
Pada sisi lain, pernah ada tulisan Fachrul Rasyid, suatu kali dulu yang mengatakan bahwa “ayam kinantan tak lagi berkokok”, suatu kritik kepada kaum ilmuwan dan cendekiawan Minang yang tinggal di ranah ini tidak seramai masa lalu, mewarnai percaturan pemikiran dan ilmu pengetahuan dan intelektualiatas serta kecendekiwanan nasional, haruslah pula dipertimbangkan.Banyak karya tulis tak terpublikasikan. Banyak hasil penelitian yang tidak teraplikasikan dan sebagainya. Memang ada Saldi Isra, atau Mestika Zet atau Gusti Asnan, yang sering juga dikutip media nasional atau menulis dimedia nasional, sehingga ada sedikit pengobat hati. Namun lebih dari itu semua, memang setiap eksponen dan komponen TTS di ranah ini , agaknya perlu melakukan dua hal: pertama, penguatan, pemberdayaan dan revitalisasi serta kedua, auto-kritik yang serius. Sudah hampir 3 ratus orang dan 6 ratus orang bergelar Profesor dan Doktor di berbagai perguruan tinggi di Sumbar dalam berbabagai bidang disiplin ilmu. Mungkin penguatan dan auto kritik ini merekalah subyek sekaligus obyeknya. Wa Allah al- a’lam bi al-shawab.***
.
Tunggu...
Reaksi