Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari rowi_lky

rowi_lky

laki-laki - 28 tahun, Pemalang, Indonesia
131 pengunjung

Blog 7


  • KISAHKU

    Semilir angin pagi membuat kemalasan untuk bangun pagi, udara yang dingin tapi menyegarkan merasuk ketubuh manusia yang keluar untuk beraktifitas. Di sebuah desa yang diberi nama desa Longkeyang, Longkeyang adalah sebuah nama desa yang terletak di daerah pegunungan yang sekarang penduduknya 5000 orang. sebuah desa yang terpencil jauh dari perkotaan muncul pasangan suami istri yang hidupnya sangat sederhana, sebut saja Sunarto dan Khunipah, Sunarto kesehariannya yang sehari-harinya berdagang bakso goreng keliling desa. kamis pagi tanggal 24 Mei 1979 lahirlah.......

  • SEKILAS PERGERAKAN RIFAIYAH

    by.rowi

    Dalam perjalananya Rifaiyah merupakan suatu gerakan yang banyak mengalami tantangan dan hambatan. Dimana untuk mencapai tujuan yang maksimal itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan ataupun semulus sutra. Mengapa K.H Akhmad Rifai diasingkan ke ambon? itu tidak lain semata-mata perjuangan beliau dalam melawan penjajah (Kafir). Untuk menegakan suatu kebenaran. Jika kemudian rifaiyah tidak luas seperti halnya muhammadiyah dan NU, itu ada sebab-sebab histories dan sosiologis yang melatar belakanginya antara lain :
    Pertama ajaran-ajaran KH. Akhmad Rifai seperti yang termuat dalam kitab tarajumah dan susunannya tidak bersifat kompromistifk bahan cenderung kritis terhadap pemerintah belanda saat itu.kendati Ahmad Rifai tidak pernah mengorganisir suatu gerakan perlawanan terbuka dan keras, namun tak ayal sikap dan ajaran yang dikembangkannya ini tidak disenangi pemerintah belanda. Dengan tuduhan mengembangkan ajaran sesat dan permusuhan, K.H.Ahmad Rifai ditangkap, diadili dan kemudian diasingkan. Praktis dengan keadaan ini,gerakan rifaiyah jadi sulit berkembang.
    Kedua,sebagai penerapan dari ajaran yang diberikan KH.Ahmad Rifai,kehidupan jamaah rifaiyah cenderung mengisolasi diri dari kebudayaan kota yang dianggapnya kotor dan sesat, sehingga gerakan Rifaiyah menjadi terbatas di daerah-daerah tertentu saja.
    Gerakan Rifaiyah secara Embrional telah muncul disekitar Pesantren Kalisalak (kec.Limpung) ketika ia membetuk komunitas pengajian yang dihadiri oleh santri dari wilayah sekitar dan kemudian juga didatangi oleh santri dari luar kota. Dalam kedudukannya sebagai kiayi dengan pengalaman menimba ilmu diMakah selama delapan tahun,ia derusaha melakukan sosialisasi ajaran islam melalui tulisannya yang berbahasa jawa dan dalam bentuk nadham. Gerakan islam Rifaiyah bukan semata –mata gerakan protes terhadap kolonialisme pada waktu itu,tetapi berbentuk gerakan agama tradisional yang memiliki implikasi social dan politis. Aspek keagamaannya terlihat pada gerakan pengajaran islam tarajumah yang mencakup ushuludin,fiqh dan tasawuf.

    Gerakan Rifaiyah Dalam Fase-fase perkembangannya

    Gambaran tentang perkembangan gerakan kiai Rifai secara garis besar dibagi menjadi tiga fase,yakni:
    1. fase pembentukan (formative),
    2. fase konsolidasi dan
    3. fase pengembangan.
    Ketiga fase ini berada dalam rentan waktu sejak masa produktifnya,baik sebagai tokoh agama yang anti colonial maupun penulis kitab tarajumah,sampai dengan masa kini dimana pengikutnya terbebar diberbagai wilayah.

    1. Fase pembentukan (formative)

    Merupakan fase paling awal dari munculnya akumulasi ide-ide keagamaan KH Ahmad Rifai di kalangan simpatisan atau murid-muridnya . Ideologi gerakannya memang berada dalam kitab tarajumah,namun kemudian mengalami proses kristalisasi dan menjadi semacam etos yang dimiliki oleh murid-muridnya.Secara sosiologis inilah yang menjadi perhatian pemerintah karena dipandang berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan pada waktu itu,hanya saja kristalisasi ide tersebut belum sempat menjadi kekuatan yang mengkhawatirkan bagi stabilitas pemerintahan.Salah satu diantara penyebabnya adalah pemutusan hubungan guru dengan murid yang dilakukan pemerintahan atas nama undang-undang Negara. Meskipun diKalisalak sudah terbentuk suatu komunitas keagamaan suatu pengikut kiai rifai,namun hingga saat-saat tokoh sentral ini di ajukan kepengadilan Pekalongan (Rad Van Nederlandch – Indie) pada tahun 1859, intensitas gerakan masih belum efektif sebagai alat control bagi pemerintah sehingga tidak terlihat adanya tanda-tanda pembelaan dari santri-santrinya ketika sang guru harus menghadapi kenyataan pahit diasingkan ke Ambon, Pada akhirnya,gerakan ini menghadapi kekuatan pemerintah yang kemudian memupusnya melalui proses pengadilan atas tokoh sentralnya. Pada fase paling awal ini, ketergantungan para murid terhadap KH Ahmad Rifai sedemikian besarnya sehingga nyaris tidak ada inovasi dalam gagasan maupun tindakan. Tokoh Rifai sedemikian kuatnya dihadapan murid-murid sehingga wacana intelektual pada masa itu berpusat padanya,baik dalam tradisi tulisan seperti kitab-kitab tarajumah maupun tradisi lisan yakni pengajaran agama di pesantren Kalisalak.
    2. Pada fase konsolidasi

    Gerakan Rifaiyah berhasil menciptakan komunitas di berbagai daerah dengan militant yang sedemikian kuat.Akan tetapi posisinya yang berhadapan dengan pemerintah menjadi batu sandungan bagi pengembangan gerakan rifaiyah selanjutnya. Dilihat dari segi organisasi, sampai awal tahun 1965, kelompok pengikut KH.Ahmad Rifai belum mengalami perubahan yang berarti. Mereka masih terhimpun dalam sejumlah kelompok local dibawah pimpinan ulama rifaiyah setempat.

    3. Fase Perkembangan

    Gerakan Rifaiyah senantiasa tidak pernah sepi dari masalah, namun pengikutnya senantiasa memiliki kemandirian. Ada hambatan bagi warga Rifaiyah untuk menjalin hubungan dengan organisasi social keagamaan lain, karena faktor ajaran kiai Rifai sendiri.Tidak heran jika disana-sini masih muncul kesan ketertutupan mereka sehingga dalam banyak hal Rifaiyah kurang dapat berinteraksi dengan pihak lain seperti Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah secara luas.

    PEMUDA, SANTRI DAN MAHASISWA RIFAIYAH,
    BERSATU DAN BERGABUNGLAH DISINI…

    Generasi muda Rifaiyah menjadi penentu perjalanan organisasi Rifaiyah di masa berikutnya. Pemuda, santri dan Mahasiswa Rifaiyah sebagai inti dari penerus cita-cita organisasi Rifaiyah , mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya dan ‘kebersihan’-nya dari noda orde masanya. Pemuda, santri dan Mahasiswa Rifaiyah adalah motor penggerak utama perubahan. Dimana Pemuda,santri dan Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat yang menyimpang. Pemuda, santri dan mahasiwa rifaiyah ingin menjadikan organisasi yang lebih mengarah kepada kemurnian nilai-nilai yang diajarkan Syekhina H.Ahmad Rifai.
    Dalam perjalanan sejarah organisasi rifaiyah ini dapat kita lihat bagaimana peran pemuda, santri dan mahasiswa rifaiyah dalam setiap fase yang telah dilalui, antara lain: fase kebangkitan Rifaiyah, fase kebangkitan Angkatan Muda Rifaiyah (AMRI) , fase perjuangan perempuan dengan pembentukan organisasi Umroh Rifaiyah (UMRI), fase Forum Komunikasi Mahasiswa Rifaiyah (FKMR), dan fase sekarang yakni penyempurnaan civitas akademika sesuai job daripada organisasi rifaiyah agar maju dan berkembang di seluruh indonesia.
    Dalam setiap fase tersebut, pemuda, santri dan mahasiswa tidak pernah absent dalam memainkan perananya dalam berbagai dinamika organisasi. Kekuatan pemuda dalam rangka turut serta melakukan perubahan mendasar bangsa ini adalah terletak pada semangat pemuda, santri dan mahasiswa yang tidak pernah putus asa dalam dinamika pergerakan, perjuangan dan karya dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Mau tidak mau pergantian pemegang tongkat estafet generasi pasti terjadi. Dan hanya mereka yang berpengalaman profesional saja-lah yang akan dapat membangun kembali bangunan rumah kita (Organisasi Rifaiyah) menjadi lebih baik, melindungi dan menyejahterakan seluruh penghuninya, menuju masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin, sebagai perwujudan kita, menuju keridzoan Allah SWT.
    Dengan semangat dan rasa percaya diri, rasa memiliki bahwa organisisasi rifaiyah harus terdepan dan berkualitas dari segi apapun, Pemuda, santri pelajar dan mahasiswa rifaiyah, harus di gardu depan. Untuk itu, dalam memajukan dan menyebarluaskan ajaran Syekhina Haji Akhmad Rifai,ke seantero jagad, maka kami dari pengurus KONSTAN (Komunitas Tanbihun) dalam mempersatukan Pemuda, Santri pelajar dan mahasiswa se Indonesia, ingin Mengajak saudaraku wongedwe untuk bergabunglah disini, di http:// www.tanbihun.com atau kunjungi blog kami konstan-online blogspot.com kita satukan visi misi kita dengan cara :

    1. Membentuk suatu perkumpulan / komunitas dimana saudara tinggal, dari masing-masing perkumpulan di buat kepengurusan baik itu kalangan Pelajar, santri ataupun Mahasiswa rifaiyah dan yang diangkat menjadi ketua segera melakukan registrasi pendaftaran untuk bergabung di komunitas tanbihun (KONSTAN) dan di tulis diemail anda. Tulis Nama, alamat, No.Hp atau email dan nama komunitasnya serta cantumkan jumlah anggotanya. Kirimkan data-data lengkapnya ke email: rowi_lky@yahoo.co.id atau redaksikonstan@yahoo.com . atau mutiara_hitam4@yahoo.com atau asep_iana@yahoo.com
    2. Saling komunikasi sesama wongedewe, baik via telfon ataupun email: ataupun yang lainnya. Setelah sering online nanti dari kami Pengurus KONSTAN akan menginformasikan kegiatan-kegiatan yang bakal kita laksanakan bersama. Baik diskusi, pelatihan-pelatihan, workshop dan lain sebagainya untuk memajukan rifaiyah.
    3. Organisasi yang telah ada misalnya AMRI, UMRI, FKMR dan yang lainya haruslah di kembangkan dan di pertahankan, mari kita isi organisasi kita dengan segala kreatifitas dan kemampuan kita masing – masing. Selamat bergabung, maju mundurnya rifaiyah ada di tangan saudara, !!!

  • Pendidikan Bermutu Untuk Semua, Sudahkah ?

    oleh M.Rowi lky
    “…apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh ? Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi
    penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka”
    (Y.B Mangunwijaya)

    Baru-baru ini, Menteri Pendidikan membuat jargon baru dalam dunia pendidikan “Pendidikan bermutu untuk semua”. Bahkan, jargon tersebut kini telah dapat kita lihat di beberapa sekolah-sekolah dari tingkat dasar maupun menengah.
    Nampaknya, hal tersebut mempunyai makna yang mengacu pada program wajib belajar 9 tahun. Disamping itu juga, sebagai sebuah ‘simbolisasi’ pemacu perkembangan dunia pendidikan di tanah air.
    Persoalan pendidikan yang secara majemuk menjadi persoalan bangsa dan harus segera diselesaikan menjadi sebuah hegemoni dalam dunia pendidikan saat ini. Hal tersebut akan sangat terasa manakala kita menjadi pelaku dalam dunia pendidikan, baik ‘subjek’ maupun ‘objek’.
    Namun, sepatutnya kita akan bertanya dari jargon tersebut, apakah pendidikan bermutu untuk semua telah terealisasi, saat ini ? Pertanyaan yang memang membutuhkan sebuah penelitian secara komprehensif untuk menjawabnya.
    Berangkat dari hal tersebut, dunia pendidikan saat ini memang sudah mulai menunjukkan perkembangan yang cukup siginifikan, terutama dari segi infrastruktur sarana belajar bagi siswa. Dengan beberapa program yang dicanangkan baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun pemerintah kabupaten/ kota, kini mulai tampak gedung-gedung sekolah yang megah. Dengan adanya program DAK (Dana Alokasi Khusus) bagi sekolah dasar untuk proses pembangunan infrastruktur sekolah, banyak sekolahan yang kini mempunyai gedung perpustakaan.
    Tetapi, dibalik pembangunan infrastruktur yang megah, masih ada saja beberapa oknum yang berusaha ‘memperkaya diri’ dengan menyelewengkan dana tersebut untuk kepentingan pribadinya. Lagi-lagi, persoalan moral pejabat Negara yang menjadi penghambat perkembangan pendidikan.
    Pendidikan yang bermutu juga kurang begitu menggema di kalangan masyarakat bawah, terutama masyarakat pedesaan. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena kultur masyarakat yang masih menganggap rendah fungsi dan manfaat pendidikan di sekolah-sekolah. Namun, kondisi ini juga tak lepas dari peran serta pemerintah yang menjadi penentu kebijakan dalam dunia pendidikan.

    Pendidikan Mahal, Mengapa ?
    Dalam kehidupan sosial kemanusiaan, pendidikan bukan hanya satu upaya melahirkan proses pembelajaran yang bermaksud membawa manusia menjadi sosok yang potensial secara intelektual (Intelektual- oriented) melalui transfer of knowledge. Tapi proses tersebut bermuara pada upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika dan estetika melalui proses transfer of value yang terkandung di dalamnya (Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ, 1997).
    Karena pada dasarnya pendidikan bukan sekedar proses pengajaran, tetapi juga sebagai aktifitas transfer of knowledge secara mendalam yang ditopang dengan pendidikan etika dan moral guna menciptakan anak didik yang utuh dari aspek keilmuan, keterampilan dan juga perilaku. Demikianlah hakikat sebuah pendidikan, jika kita mau menilik tujuan dari pendidikan itu sendiri.
    Pendidikan semestinya juga merupakan proses ataupun jalan kehidupan dari semua manusia. Manusia mempunyai hak untuk mengetahui dan memahami segala sesuatunya tentang apa yang seharusnya diketahui. Karena manusia mempunyai hak dasar yang termasuk ke dalam hak asasi manusia (HAM), termasuk pendidikan adalah salah satu didalamnya.
    Di Indonesia sendiri, masalah pendidikan telah dijamin dalam dalam UUD 45 Bab XIII Pasal 31 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”. Serta pasal 31 ayat 2 yang berbunyi: “Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Hal ini mengindikasikan bahwa peraturan-peraturan yang ada benar-benar menjamin setiap warga Negara untuk berhak mendapatkan pendidikan secara layak.
    Namun apa yang terjadi, ketika kita melihat realitas dalam kehidupan masyarakat di Negara kita. Sesuatu yang singkron terjadi antara peraturan yang dibuat pemerintah dan realitas yang ada.
    Ribuan anak-anak bahkan jutaan anak tidak dapat meneruskan sekolah mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka putus sekolah dikarenakan mahalnya biaya sekolah. Mereka pun tak dapat merengek nangis ke orang tua agar menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Lagi-lagi, ujung konfliknya adalah masalah biaya sekolah.

    Ada Jaminan Pendidikan
    Dari situ muncullah permasalahan sosial yang baru. Di jalanan, sering kita miris melihat anak-anak kumal berkeliaran. Mereka tidak mengecap pendidikan karena tak ada biaya. Terpaksa, mereka harus mencari nafkah dengan berkeliaran di jalan. Menjadi pengamen, peminta-minta, tukang semir maupun jasa rental payung harus mereka lakoni. Sungguh pemandangan yang mengecewakan mata.
    Mimpi sebagian anak-anak bangsa untuk bisa bersekolah murah (lebih-lebih gratis) agaknya masih akan terus berlangsung. Selama pemerintah belum begitu kentara untuk menggolkan pendidikan gratis bagi sekolah dasar hingga menengah, selama itu pula pendidikan di Indonesia belum bisa berkembang maksimal.
    Padahal kalau kita lihat dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VIII pasal 2 yang berbunyi: “Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya”, maka sudah sangat jelas kewajiban pemerintah untuk segera merealisasikan pendidikan gratis. Jika tidak, pasal tersebut akan menjadi boomerang bagi pemerintah sendiri.
    Janji pemerintah tentang alokasi APBN pada pendidikan 20% pun hanya sekedar janji. Pemerintah belum mampu mengalokasikan anggaran Negara untuk pendidikan secara maksimal. Bahkan, dalam kesempatannya beberapa waktu yang lalu, presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan belum bisa merealisasikan alokasi APBN 20% untuk pendidikan. Lagi-lagi, rakyat hanya mampu pasrah menerima kenyataan pahit ini.

  • PEMUDA, SANTRI DAN MAHASISWA RIFAIYAH,

    Generasi muda Rifaiyah menjadi penentu perjalanan organisasi Rifaiyah di masa berikutnya. Pemuda, santri dan Mahasiswa Rifaiyah sebagai inti dari penerus cita-cita organisasi Rifaiyah , mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya dan ‘kebersihan’-nya dari noda orde masanya. Pemuda, santri dan Mahasiswa Rifaiyah adalah motor penggerak utama perubahan. Dimana Pemuda,santri dan Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat Pemuda, santri dan mahasiwa rifaiyah ingin menjadikan organisasi yang lebih mengarah kepada kemurnian nilai-nilai yang diajarkan Syekhina H.Ahmad Rifai. Dalam perjalanan sejarah organisasi rifaiyah ini dapat kita lihat bagaimana peran pemuda, santri dan mahasiswa rifaiyah dalam setiap fase yang telah dilalui, antara lain: fase kebangkitan Rifaiyah, fase kebangkitan Angkatan Muda Rifaiyah (AMRI) , fase perjuangan perempuan dengan pembentukan organisasi Umroh Rifaiyah (UMRI), fase Forum Komunikasi Mahasiswa Rifaiyah (FKMR), dan fase sekarang yakni penyempurnaan civitas akademika daripada organisasi rifaiyah agar maju dan berkembang di seluruh indonesia.
    Dalam setiap fase tersebut, pemuda, santri dan mahasiswa tidak pernah absent dalam memainkan perananya dalam berbagai dinamika organisasi. Kekuatan pemuda dalam rangka turut serta melakukan perubahan mendasar bangsa ini adalah terletak pada semangat pemuda, santri dan mahasiswa yang tidak pernah putus asa dalam dinamika pergerakan, perjuangan dan karya dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, sosial,budaya dan sebagainya. Mau tidak mau pergantian pemegang tongkat estafet generasi pasti terjadi. Dan hanya mereka yang berpengalaman profesional saja-lah yang akan dapat membangun kembali bangunan rumah kita (Organisasi Rifaiyah) menjadi lebih baik,melindungi dan menyejahterakan seluruh penghuninya, menuju masyarakat adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin, sebagai perwujudan kita, menuju keridzoan Allah SWT.
    Dengan semangat dan rasa memiliki bahwa organisisasi rifaiyah harus terdepan dan berkualitas dari segi apapun, Pemuda, santri pelajar dan mahasiswa rifaiyah, dalam memajukan dan menyebarluaskan ajaran Syekhina Haji Akhmad Rifai,ke seantero jagad, maka kami dari pengurus KONSTAN (Komunitas Tanbihun) dalam mempersatukan Pemuda, Santri pelajar dan mahasiswa se Indonesia, bergabunglah disini, http:// www.tanbihun.com atau kunjungi blog kami konstan-online blogspot.com kita satukan visi misi kita dengan cara :

    1. Membentuk suatu perkumpulan / komunitas dimana saudara tinggal, dari masing-masing perkumpulan di buat kepengurusan baik itu kalangan Pelajar, santri ataupun Mahasiswa rifaiyah dan yang diangkat menjadi ketua segera melakukan registrasi pendaftaran untuk bergabung di komunitas tanbihun (KONSTAN) dan di tulis diemail anda. Tulis Nama, alamat, No.Hp atau email dan nama komunitasnya serta cantumkan jumlah anggotanya. Kirimkan data-data lengkapnya ke email: rowi_lky@yahoo.co.id atau redaksikonstan@Gmail.com .
    2. Saling komunikasi sesama wongedewe, baik via telfon ataupun email: ataupun yang lainnya. Setelah sering online nanti dari kami Pengurus KONSTAN akan menginformasikan kegiatan-kegiatan yang bakal kita laksanakan bersama. Baik diskusi, pelatihan-pelatihan, workshop dan lain sebagainya untuk memajukan rifaiyah. Selamat bergabung, maju mundurnya rifaiyah ada di tangan saudara, suwun !!!

  • gender dalam rifaiyah studi kasus di longkeyang

    [/center]
    JURUSAN SYARI’AH AKHWAL SYAKHSHIYYAH
    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
    (STAIN ) PEKALONGAN
    2009[/center]

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah
    Al-qur'an secara normatif membebaskan manusia dari diskriminasi rasial, gender, perbudakan dan lain-lain. Implementasi ajaran Islam, tertoreh dalam sejarah terbebasnya perempuan dari pembunuhan semenjak bayi dan mendapatkan hak waris. Pra kedatangan Islam, menurut Reuben Leavy dalam Susunan Masyarakat Islam, masyarakat Arab jahiliyah sangat malu apabila dari mereka mempunyai anak berjenis kelamin perempuan, maka akan dikubur hidup-hidup setelah kelahirannya.
    Adapun alasan perempuan menjadi momok memalukan bagi masyarakat Arab Jahiliyah menurut Leavy, karena corak masyarakat pada waktu itu adalah kesukuan (kabilah). Masyarakat kesukuan di Jazirah Arab menurut Ibnu Khaldun di bentuk berdasarkan keberadaan mereka di gurun padang pasir yang panas, sehingga untuk mempertahankan hidup, manusia tidak mungkin sendirian. Ia harus bergabung dengan suku yang ada. Kesatuan suku tersebutlah yang nantinya akan merebut dan mempertahankan oasis (sumber mata air). Untuk mempertahankan oasis maka harus ditempuh dengan jalan perang. Dan yang menentukan kuat dan tidaknya suku dalam perang ditentukan dengan sedikit dan banyaknya laki-laki.
    Tidak hanya dalam masyarakat jahiliah perempuan mendapatkan kedudukan sebagai the second sex. Tetapi hampir di semua masyarakat dan tradisi keagamaan yang bercorak patriarkhi selalu menempatkan wanita sebagai konco wingking.
    Nilai keadilan (al-adl) dan musawah (kesederajatan), khususnya antara jenis kelamin, tersebut telah jelas tergambar dalam al-Qur'an. Tetapi dapat dipahami bahwa bahwa antara "apa yang seharusnya" dan "apa yang menjadi kenyataan" pada masa sesudah sepeninggal Nabi selalu berbeda.
    Nilai agama yang dipegang masyarakat ketika telah menjadi perilaku sosial, akan menjadi realitas sosial dan budaya, atau dalam bahasa Emile Durkherim agama sebagai realitas sosial. Dialektika nilai dengan realitas akan menghasilkan penafsiran tersendiri. Ia akan menciptakan kekhasan corak, pemahaman terhadap agama, dan konstruksi sosial yang berbeda.
    Rifa'iyah adalah salah satu gerakan keagamaan yang muncul pada pertengahan abad XIX di Jawa. Dimulai dari pulangnya seorang tokoh pembaharu KH. Ahmad Rifa'i dari Haramain (Mekkah, Madinah). Ia merupakan figur kharismatik yang mengarang banyak kitab. Menurut KH. Ahmad Syadzirin dalam Gerakan KH. Ahmad Rifa'i dalam Menentang Kolonial Belanda, KH. Ahmad Rifa'i mengarang 69 judul kitab tarajumah. Kitabnya dinamai tarajumah karena berbahasa Jawa dengan bentuk tembang (syair).
    Dari 69 judul kitab, ada beberapa kitab yang berisi tentang fiqih kewanitaan, yakni kitab Tabyinal Islah. Kitab ini berisi tentang nilai-nilai yang harus dipegang bagi wanita dalam menjaga kehormatannya. Kitab Tabyinal Islah, dipelajari oleh pengikut Rifaiyah, khususnya mereka wanita-wanita yang akan beranjak ke pelaminan. Di samping sebagai prasyarat, mempelajari kitab Tabyinal Islah, baik melalui pengajian maupun mutolaah sendiri- merupakan kewajiban, agar dalam menjalani kehidupan rumah tangga sesuai dengan pedoman syariat. Ada prinsip dalam ajaran Rifa'iyah bahwa tidak bisa (sah) secara fiqhiyah bagi seseorang yang akan melakukan sesuatu tanpa mengetahui lebih dulu ilmunya. Man amila bighairi ilmin ya'maluh 'amaluhu mardudatun la yuqbaluh (barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka segala amalnya akan sia-sia di tolak).
    Hal ini tidak hanya berlaku bagi perkawinan saja, tetapi juga haji, jual beli, toharoh, yang juga ada kitab tersendiri. Ada anggapan dalam masyarakat Rifaiyah bahwa orang yang tidak mempelajari lebih dulu kitab Tabyinal Islah, perkawinannya akan dianggap tidak sahih.
    Efek sosial yang dihasilkan dari keyakinan tersebut adalah perkawinan endogami menghindari perkawinan eksogami (perkawinan antara dua golongan yang berbeda). Karena mereka beranggapan bahwa orang njobo (istilah pengikut Rifa'iyah untuk menamai masyarakat yang berpaham di luar Rifa'iyah, atau mereka juga menamainya dengan ghairu: di serap dari bahasa Arab yang mempunyai maksud orang selain Rifa'iyah) adalah mereka yang kurang memahami tata cara ibadah secara benar.
    Berdasarkan teori sosiologi kita mengenal bahwa salah satu faktor yang menentukan dan mempengaruhi tindakan seseorang adalah word view (pandangan dunia). Terutama Max Weber sebagai pelopor asumsi tersebut, yang kemudian paradigmanya membingkai salah satu karya monumentalnya The Protestan Ethic Spirit of Capitalism. Dalam perkawinan dan kehidupan rumah tangga, masyarakat Rifa'iyah juga kelihatan terpengaruh oleh ajaran dan pemahaman yang diajarkan oleh KH. Ahmad Rifa'i melalui kitab-kitabnya, terutama dalam bidang munakahat (perkawinan) dan kekeluargaan terpengaruh oleh ajaran yang diketengahkan dalam kitab Tabyin al-Islah. Sedangkan kitab Tabyin al-Islah sendiri berisi aturan rigid yang menyangkut konteks keberagamaan masyarakat. Kitab-kitab yang dijadikan pegangan tidak akan lepas dari latar belakang KH. Ahmad Rifa'i (sebagai penulis). Ia juga tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan masyarakat pada waktu itu yakni masyarakat pedalaman Jawa (Rural Java) desa Kalisalak tempat berdakwah pertama KH. Ahmad Rifa'i.

    B. Rumusan Masalah
    Uraian di atas sebenarnya mempunyai kata kunci yang bertumpu pada pandangan hidup (world view) seseorang atau masyarakat yang melatarbelakangi mereka berprilaku. Konsep-konsep baku yang dianggap sudah final menjadi semacam jalan inspirasi bagi kekhasan masyarakat untuk menentukan masalah gender. Maka dapat dirumuskan bahwa permasalah yang akan diudar adalah:
    1.Menyangkut doktrin dalam kitab-kitab KH. Ahmad Rifa'I, khususnya kitab Tabyin al-Islah yang mewarnai dan memberi corak perilaku, interaksi masyarakat Rifa'iyah di Pemalang. Dan sejauh mana pengaruh doktrin tersebut terhadap kehidupan keluarga dan hubungan relasi gender.
    2.Bagaimana pandangan hidup masyarakat Rifa'iyah Pemalang terhadap perbedaan gender.
    3.Mengetengahkan secara deskripsi tradisi-tradisi dalam masyarakat Rifa’iyah, dan pola interaksi masyarakat yang menyangkut masalah relasi gender.
    4.Mengidentifikasi konstruksi gender dalam masyarakat rifa'iyah dan aspek-aspek sosial yang mempengaruhi kontruksi relasi gender.

    C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
    Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
    1.Mengetahui pandangan hidup (word view) masyarakat Rifa’iyah tentang relasi gender, melalui penelusuran ajaran KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab-kitabnya.
    2.Mengetahui konstruksi gender dalam masyarakat Rifa’iyah, khususnya di daerah Pemalang.
    Adapun kegunaan/manfaat praktis daripada penelitian ini antara lain adalah:
    1.Menambah dokumentasi dan data mengenai studi wanita khusunya dalam kasus mikro yang tentunya akan memperkaya pemahaman kita terhadap kehasan konstruksi gender dalam masyarakat.
    2.Menambah wawasan sosiologi pada khususnya dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, mengingat bahwa kajian-kajian mengenai gender makin mendapatkan tempatnya dalam kajian-kajian ilmu sosial dan ilmu hukum.

    D. Kajian Pustaka
    Kajian terhadap Rifa'iyah telah banyak dilakukan oleh para sarjana, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ada yang secara total mengkaji dalam skripsi, tesis, maupun disertasi. Beberapa sarjana hanya menyinggung dalam salah satu bab bukunya. Di antara para sarjana yang hanya sekilas mengkaji tentang KH. Ahmad Rifa'i dan gerakan Rifa'iyah adalah Kareel Steenbrink dalam Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad XIX. Kemudian Sartono Kartodirjo dalam Protest Movement In Rural Java: A Study of Agrarian Unrest Indonesia The Nineteenth and Early Twentieth Centuries. Sartono menyinggung Rifa'iyah merupakan gerakan yang paling survive hingga sekarang dalam menghadapi tekanan penjajah kolonial Belanda di pedalaman Jawa dibandingkan sederet gerakan-gerakan perlawanan dan protes lainnya. Sartono melakukan kajian tentang Rifa'iyah berdasarkan sumber sejarah tertulis yang ia dapatkan dari Universitas Leiden dan Pusat Dokumentasi pribadi Snouck Hourgronje. Sehingga, menurut Yumi Sugahara, Sartono terjebak pada kajian sepihak, dalam arti ia mengkaji tentang Rifa'iyah tetapi tidak melibatkan sumber sejarah yang dipunyai pengikut Rifa'iyah, demikian juga halnya dengan beberapa sarjana setelah Sartono. Demikian ungkap Yumi Sugahara, seorang sarjana Jepang dalam disertasinya Religious Movement In Central Java: A Study of Social Change in The Middle of 19th Century.
    Kuntowijoyo menyinggung KH. Ahmad Rifa'i dalam Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, dan beberapa tulisan yang terdapat dalam jurnal Ulumul Qur'an: Serat Cebolek, Mitos Priyayi-Abangan. Kemudian beberapa sarjana yang mengkaji tentang Rifa'iyah dalam tesis dan disertasinya adalah sejarawan UGM Adabi Darban, dalam tesisnya Rifa'iyah Gerakan Sosial Keagamaan di Pedesaan Jawa Tengah Tahun 1850-1982. Lokus kajian Adabi lebih terfokus pada bagaimana perkembangan sejarah gerakan Rifa'iyah semenjak kedatangan KH. Ahmad Rifa'I dari tanah haram, sampai kepada perkembangan Rifa'iyah pada masa tahun 1980. kajiannya tidak jauh beda dari pendahulunya Sartono Kartodirdjo yang mengategorikan Rifa'iyah sebagai gerakan protes keagamaan. Selain itu, ia juga mengkategorikan Rifa'iyah sebagai gerakan reformasi agama, gerakan revivalis dan gerakan protes keagamaan.
    Kajian selanjutnya tentang Rifa'iyah dilakukan oleh Abdul Jamil dalam disertasinya yang kemudian dibukukan dengan judul Perlawanan Kiai Desa. Ia lebih memfokuskan pada doktrin dan pemahaman normatif yang diajarkan KH. Ahmad Rifa'i, ia juga sedikit menyinggung historisitas Rifa'iyah dan ketokohan KH. Ahmad Rifa'i. Dengan pendekatan yang berbeda dari para sejarawan UGM. Abdul Jamil menyimpulkan bahwa sepeninggal KH. Ahmad Rifa'i dari Kalisalak, pengikut KH. Ahmad Rifa'i mengalami diaspora. Mereka tersebar dibeberapa tempat di nusantara, karena menghindari kejaran kekuasaan kolonial Belanda. Trauma dari kejaran kolonial Belanda ini menghasilkan sikap bagi para pengikutnya untuk anti terhadap kekuasaan dan terjadi apa yang dikatakan Abdul Jamil sebagai silent protest (protes diam).
    Kesamaan nasib pengikut KH. Ahmad Rifa'i ini menghasilkan corak keberagamaan kontekstual dan rigid. Tidak bisa dihindari pendalaman dan perilaku keagamaan masyarakat Rifaiyah ini juga tidak jarang membawa kepada klaim kebenaran dan menganggap minor terhadap pengikut ajaran lainnya. Misalnya mereka menganggap bahwa pengikut ajaran lain kurang memperhatikan kepada sitrul aurat (menutup aurat) semua badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan dan kaki; menyelenggarakan majlis yang tidak dipisahkan antara laki-laki dan perempuan dll.
    Dari ulasan kajian pustaka tersebut, penulis menganggap bahwa kajian masalah gender dalam konteks lokal masyarakat Rifa’iyah belum dilakukan sarjana lain. Sebagian besar puluhan skripsi yang membahas Rifa’iyah terfokus pada kajian fikih, tasawuf, teologi, dan sejarah KH. Ahmad Rifa’i dan Rifa’iyah. Maka penulis memandang perlu untuk mengkaji masalah gender yang ada dalam masyarakat Rifaiyah.

    E. Kerangka Teori
    Gender biasa diartikan sebagai pembedaan jenis kelamin secara sosial. Hillary M. Lips dalam bukunya Seks and Jender: An Introduction, mengartikan jender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan, pendapat ini sejalan dengan pendapat umunya kaum feminis seperti Linda L. Lindsey, yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian jender. Maka dapat dibedakan antara seks dengan jender. Jender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Sementara itu, seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.
    Ada banyak teori tentang stratifikasi gender dalam sosiologi, yang terbagi pada identifikasi sosiologi makro dan sosiologi mikro. Di antara teori teori sosiologi makro yang mengetengahkan tentang gender adalah teori perspektif biologi, teori fungsional, teori konflik.
    Perspektif biologi berasumsi bahwa perbedaan kekuatan tubuh dan agresifitas lelaki dilambangkan sebagai kekuatan maskulin yang membedakan dengan kekuatan tubuh wanita yang lebih lemah. Perspektif biologi agaknya terpengaruh paradigma Darwinian. Ia tidak jarang mengkiaskan hukum survival of the fittes yang berlaku dalam kehidupan hewan, misalnya simpanse dan kehidupan primat lainnya. Kekuatan merupakan modal utama kesurfivan spesies untuk mempertahankan hidup dan keunggulannya. Konteks masyarakat berburu telah menentukan konstruksi perbedaan kapasitas antara lelaki dan perempuan. Karena lelaki lebih mempunyai potensi dan kapasitas lebih banyak untuk mengumpulkan modal utama hidup dengan cara berburu. Maka lelaki dianggap lebih superior dan dominan dibanding dengan perempuan.
    Hukum tersebut juga berlaku dalam masyarakat kesukuan padang pasir di Arabia masa lampau. Lelaki sebagai lokomotif utama yang mempunyai kapasitas kepemimpinan untuk memimpin kabilah-kabilah dalam mempertahankan oase sebagai modal utama hidup di tengah gurun sahara. Lelaki dianggap mempunyai kekuatan bertempur dalam mempertahankan modal hidup dan harga diri suku.
    Teori Fungsionalime jender dipelopori oleh Miriam Johnson. Ia menempatkan asal usul ketimpangan jender dalam struktur keluarga patriarkis (patriarchal), yang ditemukan hampir di seluruh masyarakat. Keluarga mempunyai fungsi yang berbeda dari lembaga ekonomi dan lembaga publik lainnya. Keluarga mensosialisasikan anak-anak dan mempengaruhi emosi anggotanya yang dewasa. Keluarga juga berperan penting dalam memperkukuh ikatan sosial dan memproduksi nilai. Posisi sosial utama dalam struktur keluarga adalah sebagai produsen utama fungsi-fungsi pokok keluarga. Dalam melaksanakan peran tersebut, wanita harus berorientasi secara ekspresif, yakni dengan penyesuaian emosional dan tanggapan kasih sayang. Fungsi wanita dalam keluarga berorientasi ke arah penekanan perasaan kasih sayang (expressivness) dan memengaruhi fungsi mereka dalam seluruh struktur sosial lainnya, terutama ekonomi. Wanita, misalnya disalurkan ke dalam jenis lapangan pekerjaan yang tergolong memerlukan pengungkapan perasaan kasih sayang; di lapangan pekerjaan yang biasanya didominasi pria, wanita diharapkan juga mengedepankan perasaan, namun dalam waktu bersamaan menerima sanksi karena orientasi ini; dan selalu bertanggungjawab terhadap susunan keluarga dan turut dalam partisipasi ekonomi.
    Akan tetapi, tak satupun di antara fungsi-fungsi tersebut di atas selalu menghasilkan sistem stratifikasi jender yang dapat mendevaluasi dan merugikan wanita. Untuk memhami mengapa tercipta stratifikasi menurut jenis kelamin, kita harus kembali kepada keluarga patriarkis ini, wanita mengasuh anak dengan berorientasi pada pengungkapan perasaan kasih sayang, mereka bertindak dengan kekuatan dan wewenang, memberikan perasaan "kemanusiaan yang sama" baik kepada anak lelaki maupun wanita. Paksaan kultural dan kelembagaan mengharuskan wanita lemah dan selalu mengalah dalam hubungan dengan suaminya yang secara instrumental mengalami persaingan dalam mencari nafkah keluarga. Dengan melihat wanita dalam peranannya sebagai "isti yang lemah", anak-anak mulai belajar memuja-muja sistem patriarkis dan mendevaluasi sikap mental yang mengutamakan perasaan. Peran istrumental lelaki dinilai lebih obyektif daripada peran perasaan wanita, dan hal ini menyebar ke dalam kultur. Tetapi, pendirian ini sebenarnya tidak mempunyai landasan praktis kecuali jika dibentuk oleh ideologi patriarkis. Salah satu harapan Johnson adalah bahwa gerakan wanita dapat menghasilkan perubahan sosial dan kultural menuru ke penilaian ulang ekspresivitas tersebut.
    Dalam teori konflik menerangkan bahwa yang menentukan ketidakadilan stratifikasi gender adalah perbedaan akses terhadap sumber kekuatan produksi (peralatan, ilmu pengetahuan, tanah). Lelaki dianggap sebagai gender yang lebih mempunyai kapasitas untuk menguasai kekuatan produksi. Teori konflik selalu memandang bahwa yang kuat pasti akan menindas yang lemah. Sehingga, stratifikasi secara determinis akan menghasilkan struktur yang tidak adil. Langkah yang harus diambil untuk merubah ketidakadilan ini dengan cara menghapuskan segenap struktur sosial dan kelas-kelas sosial yang ada dalam masyarakat.
    Beberapa teori gender yang digolongkan oleh Ritzer dalam sosiologi makro banyak mempunyai kelemahan. Diantaranya teori ini cenderung determinis. Sebagaimana fungsionalisme jender yang telah dikemukakan di atas, ia selalu melihat masyarakat patriarki selalu menempatkan perempuan sebagai the second sex. Padahal setiap masyarakat meniscayakan kompleksitas perbedaan tingkat budaya, ekonomi, politik dan pendidikan. Hukum yang sama juga berlaku bagi teori konflik yang meyakini bahwa struktur sosial akan menghasilkan penindasan. Teori-teori ini tidak mengindahkan adanya nilai-nilai yang menjadi keyakinan individu yang juga mempengaruhi pola interaksi antar sesama. Ia tidak akan menggubris bahwa nilai juga menentukan kebijakan individu untuk lebih adil dalam membangun pola hubungan interaksi antar sesama manusia. Maka teori yang lebih cocok kita pakai dalam menganalisis masyarakat Rifa'iyah yang mempunyai keyakinan dan nilai normatif sebagai landasan hidup, adalah teori gender yang terbingkai dalam sosiologi mikro.
    Pakar teori sosiologi mikro kurang memperhatikan kerugian sosial wanita ketika membahas interaksi masyarakat. Pertanyaan yang mereka ajukan adalah mengapa gender muncul dalam interaksi dan mengapa interaksi menghasilkan perbedaan gender. Dua teori sosiologi mikro utama gender adalah interaksi simbolik dan etnometodologi. Teori interaksi simbolik tentang gender dimulai dengan proposisi yang penting bagi setiap analitis teoritisnya: “identitas gender, seperti identitas olist lainnya, muncul dari interaksi olist dan termasuk dalam diri individu dan dipertegas dari berbagai situasi interaksi ...karena diri tunduk pada ujian empiris terus menerus.” (Cahill, 1980:123). Interaksionisme simbolik membalikkan anggapan Freud yang menyatakan pengenalan diri dengan jenis kelamin orang tua yang sama adalah olist kunci dalam pengembangan identitas jender; dinyatakan bahwa dalam mempelajari bahasa, anak-anak mendengar bahasa itu diperkenalkan, dan dengan demikian mengenal dirinya sendiri sebagai “si anak” dan selanjutnya mengenal “ibu” dan “ayah”. Analisis pakar interaksionisme simbolik menunjukkan bahwa individu terlibat dalam mempertahankan diri berdasarkan jender dalam berbagai situasi; individu mempunyai gagasan tentang apa makna menjadi lelaki atau wanita. Individu membawa kedirian menurut jenis kelamin ke dalam situasi dan mencoba bertindak sesuai dengan pengertian yang telah dihayati ini, yang mungkin berubah melalui interaksi dari situasi ke situasi, tetapi merupakan gudang komponen jenis kelamin perilaku individu.
    Etnometodologi mempertanyakan stabilitas identitas menurut jender dan memperhatikan “bagaimana jender diperankan” oleh olis dalam berbagai situasi. Pakar etnometodologi memulai dari olistic (1978:11) yang menyatakan bahwa “olis kehidupan olist yang tampaknya obyektif, olisti, dan transisional, sebenarnya mengatur pencapaian atau prestasi proses olis”. Pakar etnometodologi membuat perbedaan penting teoritis antara jenis kelamin (pengenalan olist sebagai lelaki atau wanita) dan jender (perilaku yang memenuhi harapan olist untuk lelaki atau wanita). Jender tidak melekat pada diri seseorang, tetapi dicapai melalui interaksi interaksi dalam situasi tertentu. Karena kategoti jenis kelamin adalah kualitas individual yang secara potensial selalu ada, maka prestasi jender adalah yang selalu ada dalam situasi olist. Konsepsi olistic individu tentang perilaku lelaki atau wanita yang tepat adalah diaktifkan secara situasional. Orang dalam situasi tertentu tahu bahwa mereka “bertanggung jawab” melaksanakan peran jenis kelamin karena situasi memungkinkan seorang berperilaku sebagai lelaki atau wanita dan sejauh orang lain mengakui perilakunya. Ada kemungkinan bagi orang yang berasal dari kultur yang berbeda –termasuk kultur kelas dan ras- saling tak memahami perilaku orang lain dilihat dari sudut identitas jenis kelamin: apa yang dikerjakan orang lain tidak diakui sebagai perilaku lelaki atau wanita yang tepat. Sebaliknya, riset etnometodologi menunjukkan bahwa pembagian kerja dalam rumah tangga yang tampaknya sangat tak seimbang dilihat dari luar situasi rumah tangga, mungkin dilihat adil dan seimbang baik oleh lelaki maupun wanita dalam situasi itu karena lelaki dan wanita menerima dan menyesuaikan diri terhadap harapan olistic untuk berperan menurut jenis kelamin di dalam rumah tangga.
    Baik interaksionisme simbolik maupun etnometodolodgi menghargai dan menerima lingkungan institusional konsepsi olistic tentang jenis kelamin. Goffman (1979) dan teorisi interaksi simbolik di bawah pengaruh postmodernisme (Denzin, 1993) makin menegaskan bahwa konsepsi ini bukalah satu-satunya jalan untuk berinteraksi dengan orang lain. Pesan yang disampaikan melalui media iklan, olistic, film, buku, majalah, secara langsung menceritakan kepada anak-anak dan orang dewasa, tanpa intervensi interaksi, bagaimana jenis kelamin diperankan. Pesan yang disampaikan media itu menawarkan apa yang disebut Goffman “pertunjukan” jenis kelamin: “informasi yang disederhanakan, dilebih-lebihkan, diklisekan” tentang “kesejajaran” yang tepat untuk lelaki dan wanita dalam interaksi tertentu. Analisis ini menghasilkan teka-teki: apakah media yang meniru kehidupan atau sebaliknya? Di sini, seperti dalam contoh lainnya, eksplorasi sosiologi mikro tentang gender berhasil dalam paradigmanya sendiri tanpa menyentuh peran esensial lelaki.

    F. Metode Penelitian
    Penelitian ini berupa penelitian kualitatif yang diarahkan kepada konstruksi gender yang ada dalam masyarakat Rifa’iyah di Pemalang. Ia juga mengetengahkan beberapa ragam varian kekhasan tradisi yang mendukung pola relasi gender. Adapun pendekatan daripada penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi olist. Studi kasus dapat memberi nilai tambah pada pengetahuan kita secara unik tentang fenomena individual, organisasi, olist, dan politik. Studi kasus juga memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik olistic dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata – seperti siklus kehidupan seseorang, proses-proses organisasional dan manajerial, perubahan lingkungan sosisl, hubungan-hubungan internasional, dan kematangan industri-industri.
    1. Sumber Data
    Yang dimaksud dengan sumber data ialah subjek dari mana data dapat diperoleh. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah informan-informan kunci tokoh-tokoh Rifaiyah di Pekalongan dan pengurus umroh (organisasi wanita Rifaiyah) kemudian beberapa informan yang melakukan kawin di bawah tangan dan mereka yang menyempal mengisolasi dari tradisi kawin satu golongan, kemudian juga masyarakat Rifaiyah pada umumnya.
    2.Instrumen Pengumpulan Data
    Pada penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode dalam rangka mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam proses penelitian untuk menghasilkan analisis serta kesimpulan yang lebih valid dan komprehensif.
    Beberapa metode tersebut antara lain adalah:
    a.Wawancara Mendalam/Depth Interview
    Depth interview dilakukan kepada responden-responden yang secara langsung mengikuti ajaran-ajaran KH. Ahmad Rifa’i. Guna memperoleh hasil yang valid, sebelum melakukan wawancara/interview, penulis terlebih dahulu membuat panduan wawancara (interview guide) sebagai pedoman dan acuan dalam proses wawancara agar nantinya wawancara tidak bias dan tidak terlalu banyak membicarakan hal-hal yang tidak signifikan terhadap penelitian ini.
    b.Observasi/Pengamatan Langsung
    Metode lain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasi/pengamatan langsung. Peneliti melakukan pengamatan langsung yang mungkin juga dilakukan dengan cara participant observation (observasi partisipatoris) yang bertujuan untuk mendapatkan data-data yang lebih valid karena mendapatkan dan mencari langsung dari sumber data. Secara teknis mungkin dilakukan dengan mengamati dan mengambil data-data yang secara langsung maupun tidak langsung, material maupun non material diperlukan demi kelangsungan penelitian ini.
    c.Dokumentasi
    Metode ini dilakukan dengan cara mencari, mengumpulkan, dan mendata dokumentasi material maupun non material mengenai objek yang akan diteliti. Salah satunya dapat dilakukan dengan mengambil gambar dan moment-moment/aksi-aksi yang dilakukan pengikut ajaran Rifa’iyah.
    3.Metode Analisis Data
    Data yang telah terkumpulkan pada tahap selanjutnya akan diklasifikasi dan dianalisis dengan metode analisis deskriptif analitis. Yaitu dengan memaparkan data-data yang ada dan dikaitkan dengan asumsi-asumsi dan teori-teori yang ada yang pada tahap akhirnya nanti akan menghasilkan kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti.
    G. Sistematika Pembahasan
    Penelitian ini terdiri dari lima bab yaitu:
    Bab pertama berisi mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah dan tujuan penelitian, kajian teori, kerangka teoritik, dan juga metode penelitian yang digunakan.
    Bab dua akan membahas mengenai sejarah Rifa’iyah dan deskripsi sosiologis kondisi keagamaan masyarakat di Pemalang, khususnya masyarakat Rifa’iyah.
    Bab tiga membahas doktrin ajaran Rifa’iyah dan sosialisasi doktrin, khususnya doktrin yang menyangkut kepada stratifikasi gender. Dan sejauh mana pengaruh doktrin terhadap masyarakat Rifa’iyah di Pemalang.
    Bab empat merupakan bab utama dalam penelitian ini yaitu akan membahas pola interaksi masyarakat Rifa’iyah yang mempengaruhi identifikasi relasi gender. Dalam bab ini juga akan diungkap tentang berdirinya UMROH (organisasi otonom wanita Rifa’iyah) yang mempunyai aspek latar belakang pemberdayaan wanita dan mempunyai konsekwensi bagi perubahan pandangan hidup masyarakat Rifa’iyah.
    Bab lima merupakan bab penutup yaitu berisi kesimpulan-kesimpulan hasil penelitian dan hasil analisis data dan selanjutnya saran-saran bagi penelitian lebih lanjut

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL …………………………………………- ……… .i
    HALAMAN NOTA DINAS …………………………………………- ii
    HALAMAN MOTTO …………………………………………- ……. iii
    HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………… iv
    KATA PENGANTAR …………………………………………- …… v
    ABSTRAK …………………………………………- ……………….. vii
    DAFTAR ISI …………………………………………- ……………… viii
    DAFTAR TABEL………………………………………- ……………… x
    BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………- … 1
    A. Latar Belakang Masalah …………………………………………- . 1
    B. Rumusan Masalah …………………………………………- ……… 6
    C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian …………………………………... 6
    D. Tinjauan Pustaka …………………………………………- ………. 7
    E. Kerangka Teori …………………………………………- ……….. 10
    F. Metode Penelitian …………………………………………- ………. 26
    G. Sistematika Pembahasan …………………………………………- . 30
    BAB II. GAMBARAN UMUM ………………………………………… 32
    A. Gambaran Umum kabupaten Pemalang …………………………….. 32
    B. Sejarah Penyebaran Rifa'iyah ………………………………………… 37
    BAB III. DOKTRIN GENDER DALAM RIFA'IYAH ………………… 48
    A. Doktrin-doktrin KH. Ahmad Rifa'i …………………………………… 51
    B. Doktrin tokoh-tokoh Rifa'iyah ……………………………………….. 55
    C. Sosialisasi, Inplementasi, dan Praktik doktrin ……………………… 62
    BAB IV. KONSTRUKSI DAN RELASI JENDER ………………………. 75
    A. Pernikahan Sesama Golongan Keyakinan (Endogamy) ……………….. 80
    B. Logosentris Jender: Sitrul Aurat, Satir, Sumur,
    Dapur, Kasur, wong njobo …………………………………………- . 88
    C. UMROH Fajar transformasi wanita Rifa'iyah …………………………. 95
    D. Pola Interaksi Relasi gender Masyarakat Rifa'iyah …………………… 100
    BAB V. PENUTUP …………………………………………- …………. 105
    A. Kesimpulan …………………………………………- ………………. 105
    B. Saran-Saran …………………………………………- ………………. 106
    DAFTAR PUSTAKA …………………………………………- ………. 107
    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • sms sejati, berangkat dari ilu,inu,imu

    Sms sejati,
    Berangkat dari ILU,INU,IMU,
    Oleh : Rowi @n al ibnu Abi Salam

    Dalam kesunyian malam ku rebahkan tubuhku di atas kasur berselimut kain tebal, setelah siang tadi full time beraktifitas rutin yang banyak menguras energi, tetapi pikiran dan hayalanku terbang ke angkasa nan jauh dan jauh disana. Malam inipun aku teringat sesosok bidadari cantik yang mengisi lamunanku. “ Saat – saat yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat kau ucapkan kata yaaa…. Untuk menerima cintaku,” Alhamdulillahilladzi bini’matihii tatimussholihaat. Sebut aja Akhi Anwar, akhi adalah mahasiswa STAIN Pekalongan, santri, ustadz TPQ. dan lebih dari itu ketika Ukhti Nur mahasiswi STAIN, santri, ustadzah MADIN berucap, “ Kupercaya padamu, Ukhti nderek Akhi mawon…,sebagai wujud mahabbah fillah.” Betapa berbunganya hatiku saat itu.
    Keesokan harinya, Pagi 1 januari 2009 saat aku membereskan dan merapikan tempat tidurku, tiba-tiba ponselku bergetar, rupanya alarm yang ku aktifkan untuk membangunkan tidurku. Bergegas ku ambil Hp Nokia kebanggaanku. Biasa anak muda yang sedang kasmaran jemari tangan mengotak-atik huruf kecil yang ada di ponselku,” Assl. Shobahul khoir1, ukhti tasih2 tilawah3? Afwan4…. Buku “ masa depan anak” nti masuk kulyh dibw, coz tmnq mo minjem, tur nuwun…. ILU’ INU’ IMU’
    Sambil menanti jawaban akupun bergegas masuk kedapur buat minuman, secangkir teh manis, ku seduh dan ku cicipi minuman teeh itu “ bismilahirrohmanirrohim, Sruup auh panas “ gerutuku. Lalu ku bawa kekamar tidurku sambil leyeh-leyeh (nyante) dan ku ambil satu kitab dari sekian tumpukan kitab yang ada di kamarku. Tiba-tiba kulihat ponselku bergetar, rupanya ada pesan yang masuk, terlintas fikiranku ah mungkin sms ku tadi baru dibalas, oh ternyata bener, ku lihat ada sms dari Nur, “ wlkum slm wr.wb, “ shobahakallahu bikhoirin bakirin, bini’ma thoirin wasyababin fakhirin5”, bku kry Dr. Ali Qoimi6 itu? Afwn akhi, dah dipjem temn UNIKAL, ukhti “ada tamu7” mbotn tilawah, ukhti saiki lgi nyeri padaran8, duh ni’maat banget, mpe ukhti menangis. Apasih ILU’ INU’ IMU’ ITU Akhi?.
    Dengan bangga ku balas sms ukhti Nur, “ Nyeri EM, kok mpe nangis? Andai akhi bsa trasfr sktnya, yaqn q transfr ke akhi. Tnang j dah umum,3 dari 4 prempuan merasakan nyeri haid ko’, coba atasi nyeri dengan 1. mnum obat anti radang non steroid spt buprofen biasanya lbih efektif dripda parasetamol, 2. letakan btol hangt diperut/punggung bagian bawah, 3. kendorkan diri dgn mandi air hangt, 4. lakukn olh raga yg bsa mredakn nyeri. ILU’ (I Love u) INU’ (I Need Your Love) IMU’ ( I Miss YoU).
    Dari ponselku terlihat pesan terkirim, beberapa saat kemudian ada balasan dari Ukhti Nur, “ ILU’ INU’ IMU’? akhi ada ada aja. Matur nuwun pk Dokter do’akn lekas smbuh, jazakallah.
    Sementara sang surya mulai menampakan cahayanya yang begitu terangnya dan dengan begitu sempurnanya Allah menciptakan jagad raya ini, langit tak bertiang masyaallah, itulah kebesaran dan keagungan Tuhan kita Allah SWT.
    Siang 21 januari 2009,kulihat tumpukan jahitan pakaian merk cardava yang belum selesai ku jahit, ah… ternyata sanggan pakaian yang ku jahit masih banyak, weleh-weleh gerutuku dalam hati. Tiba-tiba dalam kantong saku pakainku bergetar dan berbunyi ,,,telilit..telilit, oh ternyata ada sms, perlahan ku buka hpku,eh ternya Ukhtiku, dengan hati gembira ku baca smsnya: “Asslm sugeng siang, niki ukhti sek maos “ The true power of wather” (hikmah air dalam olah jiwa ) akhi mpun nate maos?” Langsung aja ku balas smsnya: “Walkum salam wr.wb, kok baca trus sih ti? Klo jadi kutu buku akhi nich yang kehilangan. DR. Aidh Al qorni di LATAHZAN nerangin faedah membaca mpe ada sebelas. Ukhti mo jadi kutu buku, kecoak buku rayap buku terserah! He.hee. dengan senyam-senyum sendiriku kirimi lagi sms ke ukhtiq: ” ukhtiq … arti CINTA dmikian rumit & luhur, sukar dilukiskan dg kata2, tdk dapat diketahui hakikatnya kecuali dengan mengalami dan menghayatinya. Cinta bukan kemungkaran dalam pandangan agama coz Allah yang menguasai hati manusia. Namun setelah itu kan dibawa keman cinta? Kekanan atau kekiri kehalal atau keharam, ukhtiq dah dapat brp hari kau q khitbah9?
    Setelah ku kirim sms, langsung ukhtiku membalasnya: “ Hari ini ke 16 dari khitbahmu akhi… masya Allah ….htiq gerimis akhi saat prosesi khitbahmu, dengan basmalah hamdalah sholawat dan shahadat kau mengkhitbahku… dg iringan fatikhah dan do’a duch ukhti +++ndredeg… semoga Allah menjadikan khitbah & pernikahan qita kelak penuh berkah, memberkahi ortu, anak2 qita Dzuriyah, tmen2 qtia &muslimin muslimat amin barokallahulana walakum. Setelah beberapa saat aku sms, aku langsung nerusin pekerjaanku, tanpa sadar waktu menunjukan pukul 11.30 WIB, dan aku bergegas kebelakang menuju kamar mandi. Terdengar suara adzan dzuhur bergema, mengingatkan kita untuk menunaikan sholat, dan setelah aku selesai mandi, aku langsung menuju ke masjid,kebetulan masjid di kampungku tidak jauh dari rumahku hanya beberapa meter.
    Sore 23 januari 2009 kampungku masih rame karena banyak para penjahit yang masih aktif menyelesaikan jahitannya. Aku kembali ambil hpku yang ku taruh di atas kasur tempat tidurku, lalu aku mengotak-atik huruf kecil-kecil yang ada di hpku:
    Ukhtiq… cinta suka memberi perhatian lebih dari pada menarik perhatian,,, cinta menemukan unsur2 kebaikan & membangun diatasnya… ku pencet tombol kirim dan terdengar bunyi laporan pengiriman sms yang aku buat tadi. Sambil menunggu jawaban ku ambil sebatang singkong di piring warna putih dekat meja belajarku. Eh ternyata ukhti langsung balas smsku : “Akhi… Cinta tdk membesarkan cacat,,, cinta adalh api yang menghangatkan namun tidak pernah menghanguskan”….. aku balas lagi sambil makan singkong :
    Ukhtiq…. Cinta mengetahui bagaimana berselisih pendapat tanpa menjadi tidak menyenangkan,,, cinta bersuka cita atas keberhasilan orang lain bukannya iri hati….. Afwan tii dah sore akhi pamitan mau ke TPQ dulu, da pesan apa untukq….
    Ukhti langsung membalas smsku…. “Ngajar yang telaten ya pak ustad, jangan asal2an dan jangn beda2kan murid, akhi harus ada riayatal himmah, menjaga cita2 luhur, yakinlah bahwa murid2mu adalh calon orang2 besar, waliyullah,ulama2 besar.
    Nawwarollahu qulubakum.
    Sejak matahari terbit hingga orang-orang sudah pantas naik ke tempat tidur. Seperti langit di bulan januari yang sering menurunkan hujan,membawa keberkahan bagi penghuni jagad raya. malam,24 januari 2009 sehabis sholat isya aku melihat hpku ada sms, ku baca dan ku fahmi ternyata dari operator indosat im3,lalu aku teringat ukhtiku, oh ya aku belum ngabarin berita duka, ah biar ku kabari sekarang,lalu aku sms: “ Sugeng ndalu10 ukhti ……? berita duka cita kakak sepupuku. Barusan pukul 07.00 masih bikr11 26 tahun meninggal dunia, 2kakaknya juga sudah meninggal dunia, seumuran itu, ini akhi sedang sibuk mengurusi jenazah padahal besok UAS pukul 08.00 mohon besok malam ukhti sholat TA’NIS12 untuk almarhumah (karimah binti rofik) jazakallah.
    Dengan perasaan gak enak, aku ambil segelas air putih,kemudian aku meminumnya. Beberapa saat kemudian ukhtiq membalas smsku: “ inalillahi wainna ilaihi roooji’unn, Allahumma ‘u jurnaa fii musibatinaa wahlufliana khoiiron minha13, mugi angsal ganjaran ingkng lipat lan angsal ganti ingkang lngkung sae, pamanmu balaknya kok abot nemen ku terharu sekali, jaalanallah minashobirinn fii doro asyakiriina fiisarro14.

    Malam selasa terasa sangat cepat hingga aku tak sadar bahwa aku mempunyai tugas, nganterin barang-barang (pakaian) untuk aku jual di pasar-pasar, sudah menjadi tradisi di kampungku bahwa setiap hari selasa mengirimkan pakaian yang sudah selesai di jahit untuk di jual. malam 27 januari 2009 seperti malam-malam sebelumnya aku sms ke teman-temanku untuk menjelaskan soal keberangkatan nganterin pakaian ke langganan. Ternyata temanku nelfon katanya ada pembeli yang akan memborong hasil jahitan pakaianku. Saking girangnya aku mengucapkan syukur alhamdulillah, inilah rezeki dari Allah, belum sempat nganterin barang ke pasar-pasar ternyata ada yang mau membeli.
    Malam itupun aku meneruskan pekerjaanku nganterin barang keorang yang memesan pakain tadi, setelah selesai aku pun masuk kekamar dan kuambil hpku: “ asslmualaikum ukhti sdang apa?......ukhti …kamu adlah calon ibu dari anak2q, kira2 kita tarjet berapa anak tii?? Sambil merebahkan tubuhku di kasur yang empuk, aku menunggu balasan sms ukhtiku. Sms ku pun dibalas “ wakaikumskam wr.wb. ukhti sedang ngetik makalah…..anak??? berapalah!! Yang penting berkualitas,pondok pesantren,lampus,majelis ta’lim, madrasah tapi tanpa uswah15, ortu/keluarga kaifa?? Klo kita sendiri larut dalam ghibah,namimmah16, larut didepan TV kaifa?? Keluarga adalah madrasah pertama dan yang paling utama. Kullu maulidin yuladdu ‘alalfitroh,faabawahu…. (alhadits). Dengan penuh bangga aku balas “ …njih bu nyai,njih,njih…??
    Ortu adalah sumber spiritual,pusat rokhani dan maha guru bagi putra-putrinya… semoga kita menjadi ortu terbaik bagi putra-putri kita kelak amin. Afwan ti ada tamu. Hatta liqo17, jazakillah.
    Malam 28 januari 2009 aku seperti pecandu sms, apa boleh dikata, yang namanya kasmaran seakan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan, aku sms ukhti lagi: …. Afwan ganggu ukhti, mpon bade bo2k? q bisiki sesuatu tukMu. “ Allah tidak menciptakan wanita dari kepala pria supaya dia dapat memerintahnya, bukan pula dari kakinya supaya dia bisa menjadi budaknya, tapi dari tulang rusuknya supaya dia bisa berada dekat dihatinya.”
    Kemudian ukhti membalas smsku:”… ya.. akhi.. cinta (mahabbah) adalh anugerah ilahi dan kepercayaan (amanat) bukan permainan dan main2….
    Ku balas lagi smsnya “.. Ukhtiq.. jangan beri kesempatan aku dan orang lain menyentuhmu walau sehelai rambutpun demi keberkahan pernikahan kita dan keberkahan dzuriyyah kita”.
    Ukhti Nur…membalas sms dariku tadi : “ njih akhi maturnuwun. Ukhti juga ndak suka dengan sms yang betrmanja-manja, mengumbar hawa nafsu coz akhi belum qobiltu..coz ku takut dosa & mengurangi keberkahan nikah dan dzuriyyah kita kelak. Allah tak kan melarang sesuatu kecuali di gantinya dengan yang lebih baik, semoga sayap2 malaikat selalu melindungi kita. Sugeng sare mpun supe, doanya dan dzikir mpe lelap”.
    Pagi 29 januari 2009 suasana di kampungku sangat sibuk,apalagi di rumahku, ibuku menyiapkan sarapan pagi,sedangkan ayahku menyiapkan peralatan mesin jahit untuk anak buahnya dan adik-adiku sibuk berdandan mengenakan pakaian seragam sekolahnya. Akupun demikian membereskan buku dan kitab yang masih berserakan di pinggir kasur, maklum tadi malam aku belajar tentang filsafat hukum islam dan lainnya. Sehabis beres-beres buku aku langsung menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat duha. Habis sholat aku kembali kekamarku dan aku lihat ponsel nokiaku berbunyi, ternyata ada sms: …. Musykil nich akhi….. pa sich gambaran cinta sejati….?
    Aku langsung balas sms dari ukhtiku : …. Tiiii cinta sejati itu;
    1.cinta pada titik kesalahan yang paling besar18
    2.cinta pada titik mudah di serang yang paling besar19
    3.cinta pada titik kegagalan yang paling besar20
    kalo ukhti pengin ngerti keadaan orang2 yang saling mencinta tanda2 kecintaan dan kemungkinan2 yang di hadapi lestari atau putus dan hal2 yang mengakibatkan dalam percintaan berbuah pahala atau dosa ukhti dapat baca “ THAWQ AL-HAMAMAH FI AL-ULFAH WA AL AL-ALF21” ( kalung dara dalam kemesraan asmara) karya ibnu Hazm.
    Kemudian ukhti Nur membalas: …. Syukron katsir akhi.. ni dek gi banyak kerjaan mo nyuci pakaian, ngepel nganter ibu ke pasar dll. Niat khidmah ortu akhi… taqobalallahu minna wa minkum…..
    pagi,2 febuari 2009, seperti pagi-pagi biasanya, aku selalu nyempetin sms ke ukhti nur,padahal acaraku padat banget, karena hari ini aku ikut DM( Dauroh Marhalah) di semarang, tanpa sms ke dia hari-hari terasa sepi dan tidak ada yang mensuport aku, biasalah anak muda,sambil aku duduk dikursi bus jurusan semarang ku nikmati pemandangan yang begitu indah,aku kirim sms ke ukhti, karena wanita ingin dimengerti aku langsung aja sms: … ukhti….. akhi sekarang lagi mo ikut DM (Dauroh Marhalah) di semarang, sekarang dah nyampe weleri beri sesuatu tuk bekal … sambil nyantai di kursi bus yang empuk aku menunggu balasan dari ukhtiku. Akhirnya balasan dari ukhti Nurpun nyampai ke hpku …… Zawwadakallahu bittaqwa (smoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan) qolallahu ta’ala fainna khoirozadittaqwa22.
    Lalu aku kirim sms lagi …. Nyuwun ++ bekalipun Tii… ingkang katah, matur nuwun.
    Ukhti Nur balas lagi …. Bissmillah… ini ada tasyrikhatal mukhtaj (menjelaskan perkara yang dibutuhkan). Key to succes the 17 principles of personal achievement. Menggapai prestasi gemilang adalah:
    1.menentukan tujuan jelas
    2.membuat aliansi dengan orang brilian
    3.mengembangkan pribadi yang menarik
    4.mendayagunkan kepercayaan
    5.melangkah lebih jauh
    6.membuat inisiatif pribadi
    7.membangun sikap mental yang positif
    8.mengendalikan antusias
    9.memicu di siplin diri
    10.berfikir dengan akurat
    11.mengendalikan perhatian
    12.menginspirasi kerjasama
    13.belajar dari kegagalan dan kesalahan
    14.memupuk visi kreatif
    15.menjaga kesehatan tubuh
    16.alokasi waktu dan uang
    17.mendayagunakan kebiasaan. Ilu, inu, imu

    Anwar…. Thank you very much, nggak usah bls batere hp ku lemah lowbed. Jazakumullah khoiron katsiro fiddaroin amin. Ilu, inu, imu.to…….

    Tunggu cerpen selanjutnya yang lebih menarik lagi ok?

  • Longkeyang city

    Sebuah Refleksi tentang
    Hawa Nafsu

    Pencarian sahabat sejati memang sulit,apalagi guru yang mampu membimbing dan memberikan makna sejati tentang jiwa manusia.namun sekiranya anda membutuhkan untuk menjadi sebuah tauladan pada diri anda dan pada setiap detik hidiup kita ini. Ibnu atta’illah As-Sakandary mengatakan : “ wahai manusia engkau berguru atau mencari sahabat yang bodoh, yang ia tidak menuruti hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada engkau berguru pada orang alim yang merelakan dirinya untuk mengikuti hawa nafsunya. Lalu ilmu macam apa yang ada pada orang alim yang mengikuti hawa nafsunya itu ? dan disebut kebodohan macam apa jika orang itu mampu tidak menuruti hawa nafsunya?” setidaknya inilah etika yang menjadi penuntun, tatkala jiwa kita mencari sesosok manusia yang mampu memberikan atau menunjukan jalan kepada kesejatian jiwa. Kepentingan hawa nafsu seringkali dijadikan umpan setan untuk berselingkuh dengan ilmu pengetahuan,kebenaran,agama dan hal-hal yang suci. Maka berhati-hatilah dan waspada, jauhi tiga kreteria orang berikut ini :
    Orang yang apabila membaca Alqur’an penuh dengan kepameran
    Orang-orang alim yang bodoh
    Seorang pemimpin yang lupa diri.
    Niscaya engkau akan menemukan dirimu yang sejati. amin

    Kata Pengantar

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Puji syukur kehdirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk mewujudkan sebuah media informasi dan komunikasi masyarakat yang diberi nama “ Buletin Kinaweruhan “ yang mengupas fenomena masyarakat Longkeyang . Buletin kinawaruhan ini merupakan buah karya crew baru dari Lembaga Pers Tarsyib Longkeyang, yang mungkin banyak sekali kekurangannya. Oleh sebab itu mohon kiranya para pembaca yang budiman sudi memberikan masukan saran atau kritik yang membangun.
    Dalam buletin perdana ini kami mencoba menilik komunitas Rifa’iyah Desa Longkeyang.dan masih banyak lagi yang layak dibaca. Mudah-mudahan buletin yang dikemas dalam bentuk sederhana ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan . akhir kata Selamat membaca !!!
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    1. SEKILAS PROFIL SYEKHINA HAJI AHMAD RIFA’I
    Disebut Sebagai Kyai Ndeso yang Sangat pintar dan karismatik.

    PERATURAN-PERATURAN TENTANG PERGAULAN UMAT ISLAM
    Bagaimana menghadapi berita yang dibawa orang fasik
    . Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS.AL HUJJURAT:6)
    Pada awal kebangkitan rasulullah SAW menyampaikan risalah tauhid dan ubudiyah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah makkah,pada saat itu muncul beberapa reaksi dari masyarakat sekelilinya.muncul reaksi itu disebabkan oleh kesalahan pendapat mereka sendiri,bahwa risalah islam yang disampaikan oleh rosulullah dianggap sebagai ajaran yang akan merusak tatanan ajaran yang telah lama dianutnya.mereka beranggapan ajaran rosulullah sebagai penghalang dan perusak terhadap kekuasaan dan kepentingan mereka.padahal mereka belum tau bahwa risalah yang diajarkan rosulullah adalah ajaran yang benar-benar mampu memberikan keselamatan bagi kaumnya baik didunia maupun diakhirat.karena rosulullah adalah seorang nabi dan rosul yang di utus oleh Allah untuk mengatur tatanan kehidupan. Sekarang kita simak sekilas perjuangan seorang anak yatim kelahiran tempuran kendal jawa tengah cucu seorang penghulu landrad hindia belanda di kendal pada waktu itu, sekitar tahun 1786 M / 1200 H, yaitu Raden kiai Abi Sujak alias Raden Sucowijoyo,anak seorangkiai,Raden Muhammad,pernah mondok di makkah,pernah berjuang selama 23 tahun,mengarang kitab kurang lebih 53 buah, bahkan sekarang sudah diketemukan beberapa kitab yang lain.pernah dijerumuskan kedalam tahanan,tinggal dikalisalak dan akhirnya diasingkan ke ambon,yaitu Syaikhina Kiai Haji Akhmad Rifa’i ibnu Muhammad bin Abi Sujak. pembawa dan pelanjut serta pelestari risalah ajaran rosulullah,Muhammad SAW. Pada abad 19 Syaikina Haji Akhmad Rifa’i dalam melanjutkan dan memajukan warisan nabi Muhammad bin Abdillah, risalah dakwah islamiyahpun mendapat tantangan, rintangan dan hambatan cukup berat,seperti yang dialami oleh pembawa risalah tauhid dan uibudiyah,yaitu Rosulullah SAW. ” PEGANG TEGULAH SUNNAHKU DAN SUNNAH KHULAFA’URROSYIDIN SESUDAHKU,PEGANG TEGUHLAH DENGAN GERAHAMMU ” ( HR. ABU DAUD, TIRMIDZI )
    Dengan ketegasan dan keluwesan,keberanian dan kebijaksanaan beliau sampaikan ajaran tauhid dan ubudiyah,keimanan dan keislaman melalui hasil karyanya, kitab tarajumah itu kepada masyarakat jawa.kehadiran ajaran tarajumah dengan kitabnya itu adalah sebagai jawaban terhadap situasi yang ada yaitu kebatilan dan kemungkaran yang harus dihilangkan. dengan demikian syariat islamiyah dapat berjalan sesuai dengan aslinya. Selain itu kehadiran ajaran tarajumah ternyata mendapat sambutan dari berbagi pihak,terutama masyarakat jawa yang kurang memahami kitab berbahasa arab. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan,minimal harta dan perasaan.dimana ada hak disitu ada yang benci dan begitu seterusnya.

    2. Ajaran yang di anut oleh organisasi Rifa’yah

    Ajaran yang dibawakan organisasi Rifa’yah identik dengan Tarajumah (terjemah) yaitu suatu tuntunan islam yang tertulis didalam kitab-kitab terjemah bahasa jawa dan bahasa melayu karangan Syekhina Haji Ahmad Rifa’i bin Muhammad marhum bin Abi Sujak. Beliau lahir pada tahun 1786 M = 1200 H. Didesa Tempuran (sebelah selatan masjid jami’ Kendal Semarang jawa tengah). Ajaran Islam yang termaktub didalam kitab tarajumah itu bersumber pada Al - qur’an, Al - Hadist, Al – Ijma’ dan Al – Qiyas. Didalam diuraikan mengenai dasar-dasar pokok Islam, iman dan yang bertalian dengan Islam dan iman yang lazimnya dikatakan ” ILMU USHULIDIN” dan menguraikan masalah Ibadan DAN Mu’amalah atau mengenai Furu’iddin yang kadang disebut “ ILMU FIQIH “ dan menguraikan mengenai Akhlaq dalam beribadah dan mu’amalah yang lazim dikatakan sebagai “ILMU TASAWUF” serta beberapa nasehat dan hukum yang berhubungan dengan ketiga ilmu itu. Ketiga ilmu Ushuliddin Fiqih dan Tasawuf yang diajarkan ádalah menganut faham atau aliran Ahlussunah waljamaah sesuai apa yang dianut oleh golongan terbesar ummat Islam khususnya diindonesia seperti NU, Muhammadiyah dan Rifa’yah. Dalam ilmu Ushuliddin menganut faham madzhab Imam Abu Hasan Asy’ari, dan Abu Mansyur Al-maturidi,dalam ilmu fiqih menganut faham Madzhab Imam Syafi’i, dan dalam ilmu tasawuf mengikuti faham Madzhab Imam Abu Qosim Junaidi al – Baghdadi dan Imam yang sehaluan lainnya.

    3. Maksud dan Tujuan Ajaran organisasi Rifa’yah
    Ajaran yang dibawakan Organisasi Rifa’yah dimaksudkan agar orang – orang yang buta bahasa arab dapat mengerti mengenal iman, islam dan iihsan serta lainnya.karena pada umumnya orang – orang awam di pulau jawa kurang menguasai bahasa arab, maka dengan adanya ajaran tarajumah(terjemah) ini sangat efektif untuk bisa mempelajari dan memahami serta mendalami dan mengamalkan Syari’atul Islam secara benar dan sempurna.untuk bisa memahami kitab berbahasa arab,orang awam selain bisa membaca harus menguasai makna bahasa arab ( Lughotul Arabiyah , pandai ilmu shorof,ilmu nahwu dan sebagainya, maka dengan adanya tuntungan kitab tarajumah (terjemah) mereka bisa mengatasi atas kesulitanya itu.

    4. Alasan Syeikhina Haji Ahmad Rifa’I menterjemahkan kitab Arab atau kitab kuning kebahasa jawa dan melayu
    Syekhina Haji Ahmad Rifa’I dalam menterjemahkan kitab arab ke kitab bahasa jawa dan melayu tidak asal –asalan, beliau punya dasar yang kuat, yaitu firman allah dalam kitab Alqur’an surat Ibrahim ayat 4 berikut ini:

    Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya[779], supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan[780] siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

    Keterangan: [779]. Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa Al Qu'an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia.

    Dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya: “ Berbicaralah kamu kepada manudia-manusia dengan bahasa ( tutur kata ) yang dapat dipahami akal fikiran mereka”. Dan juga dalam hadits lagi yang artinya: “ Berbicaralah kamu kepada manusia-manusia dengan kadar kemampuan akal fikiran mereka”.
    Dengan dasar Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW maka Kyai Haji Ahmad Rifa’i merasa berkewajiban untuk menterjemahkan kitab –kitab berbahsa arab kebahasa jawa dan melayu. Kyai Haji Ahmad Rifa’i adalah putra jawa asli yang pertama menterjemahkan kitab arab dipulau jawa dengan metode yang tertib dan menarik, baik susunan, isi maupun bahasanya. Dalam waktu yang relatif singkat,Beliau dapat menyelesaikan karya yang bermutu tinggi sebanyak 53 buah kitab, didalamnya ada 5000 tanbih bahsa jawa,700 nadzom do’a dan jawabnya,dan beberapa tanbih “ Rejeng ” dipulau jawa.60 tanbih bahasa melayu diselesaikan di Ambon.

    5. Empat Belas ( 14 ) Kode Etik Kitab Tarajumah (Terjemah bahasa jawa) dalam Rifa’yah

    Kitab- kitab tarajumah Syaikh Haji Ahmad Rifa’i mempunyuai tanda – tanda khusus (ciri khas) dari kitab tarajumah yang lainya. Berikut Kode etik atau tanda itu dapat diketahui :

    1)Kitab-kitab pokok yang menjadi rujukan para santri
    2)Kitabnya bernadzam, menggunakan akhiran yang samadisetiap 4 baris. Dan setiap satu halaman ada 22 baris dan ada yang 26 baris. Khusus untuk yang tanbih ada 34 baris dan 36 baris. Pada kitab yang tidak bernadzam ada 11 baris dan ada yang 13 baris panjang.
    3) Pada Kata pengantar kitab selalu disebetkan nama kitab,bentuk susunan,hukum yang dibahas,madzhab yang dianut,nama pengarang dan aliran yang dianut. Kata pengantar diawali dengan tulisan tanbihun artinya peringatan,dengan tinta merah. Bentuk dan susunan kalimat dibuat segitiga (kerucut),suatu ciri khas yang diciptakan dan dilestarikan oleh para ulama salaf.
    4)Dalam iftitahul Kitab atau pendahuluan kitab tertulis,lafad Bismillah,Alhamdulillah,dan sholawat atas rosulillah SAW serta Amma ba’du.
    5)Pada ikhtitam kitab tertulis kalimat Tammat,hari tanggal,bulan dan tahun hijriyah.serta sebelumnya tertulis kalimat waallahu’alam wabillahitaufiq, terakhir sekali ditulis hamdallah dan sholawat atas Rosulillah SAW serta anak keluarganya.
    6)Semua awalan nadzam dalam 4 baris sekali memakai tulisan merah, dan seterusnya dengan tulisan hitam, kecuali hal-hal yang dianggap penting. Dalil - dalil Alqur’an .al hadits dan Aqwalul Ulama juga dengan tulisan merah,kecuali tafsir atau syarahnya. Dimaksudkan untuk memudahkan para pembaca dalam menghindarkan kemungkinan tersentuhnya tulisan Alqur’an oleh orang yang berhadas, karena mengakibatkan ia berdosa.
    7)Selain itu tulisan merah dimaksudkan untuk ikut melestarikan karya seni tulis yang sebelumnya telah banyak para ahli yang menulis dengan tulisan merah hitam.
    8)Juga pada Alqur’an cetakan Alma’arif Bandung 1957 yang telah mendapat ijin cetakdari menteri Agama RI diJakarta No.D-10/q.1 tertanggal 18 November 1957 ialah H.M. Ilyas. Disana lafadz: Walyatalatof tertulis merah. Alqur’an Darul Fikri Bairut tahun 1983 atau 1403 H beredar di Indonesia ada 2000kalimat atau lafadz lebih, yang tertulis dengan merah terutama lafadz Allah dan sebagainya. Maka dengan demikian tulisan merah masih sangat relevan dengan dengan keadaan sekarang.
    9)Memang benar, bahwa kitab tarajumah itu berbahasa jawa, akan tetapi susunan kalimat yang berasal dari bahasa Arab tidak berubah seperti kalimat Tanbihun
    10)Dalam mencari bab,fasal atau masalah dapat diketahui dengan korasan tyidak dengan shahifah atau halaman atau pagina. Setiap 1 koras terdiri sari 10 halaman. Bab demi bab, pasal demi pasal, masalah demi masalah dapat diketahui pada catatan tapi atau margin halaman
    11)Pada setiap 1 pembahasan ilmu dalam kitab tarajumah biasanya memulai kalimat Baabun artinya inilah bab, Fashlun inilah pasal ,tanbihun peringatan atau Far’un cabang atau Fa’idatun suatu faidah dan pada kalimat tekanan memakai I’llam ketahuilah! Kalimat istilah itu biasa digunakan oleh para ulama pengarang kitab kuning yang diajarkan di pesantren di indonesia.
    12)Dalam pengantar firman Allah menggunakan kalimah inilah dalil qur’an ,...Qolallahuta’ala Azawajalla dan dalam Ulama memakai kalam Ulama memakai kalimah: Qoolal ’Ulamau Rohimahumullahu dan dalam hadist memakai kalimah : Qoola Nabiyyu atau Wafil Khobri atau Ikilah Hadist Nabi. Rawi-rawi hadist tidak disebutkan namanya. Hal ini sebagai tradisi yang dilakukan Ulama Salaf, dan sebagian Ulama Khalaf.
    13)Jilidan kitab ukuran saku untuk Nadzam Minwaril Himmah,Nadzam Arja dan jam’ul Masail kecil dan ukuran 17 X 21 cm,18 X 22 cm atau lebih besar,
    dengan kulit sampul depan belakang warna hitam . jilid paling besar berisi 15 koras atau 300 halaman termasuk halaman lampiran kosong 4 atu 6 lembar, masing – masing 3 lembar atau 6 halaman didepan dan belakang atau 4 halaman didepan dan 4 halaman dibelakang, paling kecil 1 koras.
    14)Dengan tulisan tangan, alat tulis memakai kalam atau lainnya yang dapat digunakan menulis tipis tebal, dan sejak tahun 1960-an baru sebagian ada yang dicetak, yaitu setelah mendapat pengesahan dari Direktorat Pendidikan Agama Pusat di jakarta tahun 1967.

    6. PEMBAGIAN INTI DALAM AJARAN RIFA’YAH DAN KITAB YANG HARUS DIBELAJARI
    Dalam pembagian inti ajaran Rifa’yah ada 3 perkara yang Fardu atau wajib yaitu:
    1.Fardu ‘Ain Mudoyiq
    2.Fardu ‘Ain Muwassi’
    3.Fardu kifayah.
    Didalam salah satu kitab Tarajumah karangan Syeh Haji Ahmad Rifa’i namanya Tansyirah dikatakan bahwa kitab yang dikarang oleh beliau yang harus diajarkan kepada para santri dan semuannya sebanyak 10 nadzam kitab yang isinya membahas berbagai dasar dan cabang ilmu Agama Islam dengan landasan Alqur’an Alhadist Alijma’ dan Alqiyas, bermadzhab Imam Syafi’i atau As Syafi’iyah dan i’tiqod Ahlussunnah Wal Jamaah.

    Sejarah Ringkas Tokoh Pembawa Agama Islam
    Di Longkeyang
    Disusun Oleh : Nachrowi
    ( hasil wawancara ke sesepuh Longkeyang tanggal 1 juli 2008 )

    Masuknya Ajaran Islam Ke Longkeyang

    A)Orang yang pertama mengajarkan ilmu Agama Islam Di Longkeyang

    Menurut Tokoh sejarah yang bersumber dari sesepuh kauman Longkeyang diantaranya, Romo Kyai Kasad, Romo Kyai Castro, Mbah Dahun, Mbah Rasadi, Nyi Jariyah ( istri dari Romo Kyai Tarji’an ) dan lain-lainnya yang tidak kami sebutkan satu persatunya, bahwa orang yang pertama mengajarkan Agama Islam di desa Longkeyang adalah Mbah Kyai Nafsiah,Mbah Kyai Qoyimah dan Mbah Kyai Kholifah, antara mereka ada garis keturunan yang sama terutama Mbah Kyai Qoyimah dengan Mbah Kyai Kholifah, beliau mbah kyai Qoyimah adalah kakak dari mbah Kholifah, sedangkan Mbah kyai Nafsiah masih ada garis keturunan dari mereka berdua Mbah Qoyimah dan Mbah Kholifah.
    Dalam sejarah disebutkan bahwa dahulu kala orang – orang Longkeyang menganut ajaran tarjumah semua, yang dibawakan dari ketiga tokoh islam tersebut. Berikut beberapa kisah tokoh islam pembawa kitab tarajumah di desa Longkeyang. Adapun dari ketiga tokoh diatas kami kesulitan melacaknya hanya Mbah Kyai Kholifah saja yang sedikit kami tahu dari sesepuh kauman.

    :)Periode perkembangan Ajaran Rifaiyah Tarajumah didesa Longkeyang.

    Dari sejarah membuktikan seorang figur pemimpin adalah yang mau menumbuhkembangkan ajarannya ataupun organisasinya, baik melalui pengkaderan ataupun dengan cara yang lain yang penting organisasinya ataupun ajaran sang tokoh islam tersebut bisa berkesinambungan terus menerus.
    Berikut periode sejarah menmgenai tokoh-tokoh penerus perjuangan dari murid Pertama Syeikh H. Ahmad Rifa'i yatiu mulai dari Romo Kyai Nafsiyah, Romo Kyai Qoyyimah, Romo Kyai dan Romo Kyai Kholifah. Beliau bertiga Adalah pertama dan sekaligus yang melihat sosok ulama' jawa berkharismatik tinggi yaitu Syaikh Ahmad Rifa'i, sewaktu ulama Kharismatik jawa tersebut itu singgah di Longkeyang walaupun hanya sebentar. Tatapi melahirkan generasi generasi yang bisa dipertanggung jawabkan contohnya yang ketiga Romo Kyai tersebut( Nafsiyah, Qoyimah, Kholifah). Didalam segi sepakterjang dari ketiga tokoh islam di Longkeyang yang peling mneonjol sekaligus banyak program yaitu Romo Kyai Kholifah. Sebagai bukti yang autentik didirikannya mushalla dan masjid dan rumah-rumah Khusus untuk mengaji. Karena kecerdikan Romo Kyai Kholifah dalam Syi'ar agama Islam maka tumbuh berkembang kegiatan pengajian rutin yang di adakan kala itu.

    C)Urutan tokoh Islam Dalam memperjuangkan Agamanya di desa Longkeyang.

    Dalam urutan sejarah yang bersumber dari sesepuh desa Longkeyang bahwa yang pertam adanya Mubaligh atau Kyai ( tokoh Islam ) di desa Longkeyang adalah Sebagai berikut:

    1.Romo Kyai Nafsiyah (1834 M)
    2.Romo Kyai Qoyimah (1850 M)
    3.Romo Kyai Kholifah / Mbah Kholifah (1870 M)
    4.Romo Kyai Toyibah (1879 M)
    5.Romo Kyai Tarji'ah / Mbah Ma'un (1885 M)
    6.Romo Kyai Tarminah (1890 M)
    7.Romo Kyai Burhan / Mbah Casmin (1895 M)
    8.Romo Kyai Waslim / Mbah Mu'adah (1930 M)
    9.Romo Kyai Wasmad (1940 M)
    10.Romo Kyai Tarji'an (1945 M)
    11.Romo Kyai Kasad bin Mukhtari (1990 M)

    Berikut ini periode masa kepemimpinan dari kesebelas tokoh islam pembawa ajaran tarjumah didesa Longkeyang :

    1.periode pertama pertengahan abad 19 Romo Kyai Nafsiyah ( 1834 M)

    Pada Awal sejarah perkembangan ajaran syekh Haji Akhmad Rifa'i di desa Longkeyang kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang, semua masyarakat Longkeyang mengikuti ajaran tarajumah semua, yang pada waktu itu penduduknya sekitar kurang lebih 2000 jiwa. Penduduk Longkeyang mengenal dan mendalami kitab karangannya Syekh Haji Akhmad Rifa'i atas bimbingan dari tokoh penyebar islam tarajumah yang secara keilmuannya dan tingkat kecerdasannya sangat patut diberi penghargaan dan di samping itu banyak melahi9rkan generasi yang profesional yang bisa dijadikan panutan. menurut keterangan dari sesepuh kauman, Romo Kyai Nafsiyah adalah orang pertama menyebarkan Agama Islam di desa Longkeyang dan beliau juga seorang tokoh yang pemberani yang pada jaman dahulu desa Longkeyan hanya hutan belantara dan masih banyak binatang buasnya. Romo Kyai Nafsiah berasal dari desa Longkeyang kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang, baliau Lahir pada tahun 1834 yang Istrinya bernama Nyi Nafsiyah, Mungkin disini bila dikaitkan dengan kisah sejarah berdirinya desa Longkeyang yang menurutu sumber cerita orang yang pertama mendirikan desa Longkeyang yaitu Mbah Blondo dan Nyi Blondo tapi mungkin kami dari tim penelusur sejarah,tidak membahas tentang adanya perwujudan sebuah desa yang kenapa dinamakan Longkeyang. Karena keterbatasan kami dalam penelusuran banyak sekali kesibukan dan juga kurangnya tim dalam penelusuran sejarah, mungkin insyaAllah kita telusuri kisah desa Longkeyang kalau Allah mengijinkan dan kalau punya waktu yang cukup. Murid yang sebagai penerus perjuangan islam pada waktu itu ialah Romo Kyai Qoyyimah dan Romo Kyai Kholifah, dan beliau bertiga bersama-sama memperjuangkan Agama Islam, padahal pada waktu itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda dan orang-orang Jepang. Tetapi dengan keberanian beliau bertiga mereka tetap eksis mengajarkan ilmu agama walaupun penuh hambatan.

    2.Periode kedua sekitar tahun 1850 Romo Kyai Qoyimah meneruskan perjuangan dari Romo Kyai Nafsiah.

    Setelah Romo Kyai Nafsiah wafat kepemimpinan organisasi Longkeyang dipegang alih oleh Romo Kyai Qoyimah yang pada saat itu menjadi murid angkatnya. Beliau Romo Kyai Nafsiah memperjuangkan ajaran tarajumah didesa Longkeyang dengan metode yang begitu unik yaitu dengan melagukan syair-syair jawa karangan syekh Haji Akhmad Rifa'i. Dan pada sekitar tahun itu masyarakat Longkeyang banyak sekali yang mengikuti pengajiannya, setelah cukup lama menyebarkan agama islam dengan ajaran tarajumah barulah adiknya yang bernama Romo Kyai Kholifah yang pada saat itu masih kecil ikut mengaji kepada beliau, dan setelah Mbah Kholifah remaja ikut membantu kakaknya Romo Kyai Qoyimah untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat setempat. Dan setelah Romo Kyai Kholifah sudah dewasa, Romo Kyai Qoyimah menyuruh adiknya untuk pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren. sebelum Romo Kyai Kholifah berangkat nyantri (mondok) ke pesantren ada suatu kejadian yang tak terduga, yaitu Romo Kyai Nafsiah, Romo Kyai Qoyimah dan Romo Kyai Kholifah bertemu dengan ulama karismatik yang bernama Syekh Haji Akhmad Rifa'i di sekitar desa Longkeyang, konon sejarah pada waktu itu sang pemberontak yaitu bangsa belanda mengejar Syekh Haji Akhmad Rifa'i yang berlari dan mengungsi di sekitar desa Longkeyang. Tetapi dengan ijin Allah SWT belanda tidak bisa mengejar Syekh Haji Akhmad Rifa'i, dan tanpa di duga disitu Romo Kyai Nafsiah, Romo Kyai Qoyimah dan Romo Kyai Kholifah bertemu dengan Syekh Haji Akhmad Rifa'i yang sedang bersembunyi disekitar desa longkeyang tersebut. Mereka bertiga langsung berbincang-bincang memperkenalkan dirinya masing-masing dan akhirnya merekapun akrab. Dalam perbincangan mereka kami dari penelusur sejarah tidak tahu apa yang di perbincangkan. Tetapi wal hasil mereka bertiga Romo Kyai Nafsiah, Romo Kyai Qoyimah dan Mbah Kholifah pulang ke rumah menghasilkan ilmu yang di ceritakan oleh Syekh Haji Akhmad Rifa'i.
    Setelah syekh Haji Akhmad Rifa'i pulang kekalisalak mereka bertiga langsung sepakat untuk memperjuangkan ajaran tarajumah yang dibawakan oleh Syekh Haji Akhmad Rifa'i.

    3.Periodeketiga masih dalam pertengahan abad 19 perjuangan Romo Kyai Nafsiah dan Romo Kyai Qoyimah diteruskan oleh Romo Kyai Kholifah (Mbah Kyai Kholifah) pada tahun1870 M yang sekarang dikenal sebagai deretan Murid dari Syekh Haji Akhmad Rifa'i sang ulama yang begitu karismatik, berwibawa dan penuh gudang ilmu agama.

    Mbah kyai Kholifah nama lengkapnya adalah Syekhina Kholifah Istrinya bernama Nyi Kholifah dahulu sebuah nama dijadikan satu, terkadang misalkan ayahnya namanya si A anaknya ikut nama si A, begitulah konon ceritanya. Syekhina Kholifah berasal dari desa Longkeyang kcamatan Bodeh kabupaten Pemalang dan mempunyai seorang Kakak bernama Mbah Qoyimah, sekitar pertengahan abad XIX atau sekitar tahun 1870. Mbah kyai Kholifah pernah berguru kepada Syekhina Haji Ahmad Rifa’I bin Muhammad marhum ( 1786 – 1875 ), Pendiri dan pembangun ajaran dan tuntunan tarajumah Rifa’yah, selama kurang lebih tiga tahun. Selama masa remajanya Mbah Kholifah sering bersama-sama dengan Mbah qoyimah kakaknya bekiau. Pada saat itu menurut nara sumber sesepuh kauman, bekiau berdua ( Mbah Qoyimah dan Mbah Kholifah adiknya ) pertama bertemu dengan Gurunya yaitu Syekhina Haji Ahmad Rifa’i pada masa penjajahan belanda, dan disitu Syekhina Haji Ahmad Rifa’i sedang berkelana atau mengamati negeri ini sampai ke daerah Longkeyang, di daerah tersebut Syekhina Haji Ahmad Rifa’i bertemu dengan Mbah Qoyimah dan Mbah Kholifah. Setelah berbincang-bincang dengan Shekhina Haji Ahmad Rifa’i akhirnya mereka berdua diajarkan kitab Tahyiroh ( rukunan ) setelah beliau berdua hafal kitab tersebut, Syekhina Haji Ahmad Rifa’i pulang ke Kalisalak, tetapi sebelum ke Kalisalak Syekhina Haji Ahmad Rifa’i melanjutkan perjalanan menuju ke Tanah Baya kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang.
    Mbah kholifah dan mbah qoyimah setelah bertemu dengan syekhina Haji Akhmad Rifa'i, langsung menyampaikan ilmu yang diajarkan dari H.Akhmad Rifa'i kepada istrinya. Setelah beberapa bulan mbah Kholifah mempelajari ilmu yang diajarkan oleh Syekhina Haji Akhmad Rifa'i dengan tekun dan teliti dan penuh kesabaran.beliau berkeinginan berguru lagi untuk menambah ilmu dan meperluas wawasannya. Akhirnya beliau mbah kholifah dengan niat bulat dan tekat yang suci pergi berguru ke syeikh H. Ahmad Rifa'i yang pada waktu itu masih di kalisalak. Senentara mbah qoyimah tidak itu berguru karena mungkin masih banyak kesibukan pekerjaan yang harus diselesaikan. Mbah khoplifah belajat(berguru) kepada Syekh H.Ahmad Rifa'i kurang lebih selama tiga tahun dan mendalami ilmunya disana. Setelah selesai berguru mbah kholifah pulang ke Longkeyang, dan menurut sumber cerita mbah kholifah berguru pada Syeikh H. Ahmad Rifa'i sambil berdagang unuk membiyayahi kehidupannya dalam menuntut ilmunya. Mbah Kholifah sendiri sudah berguru yang paling utama di ajarkan pada keluarganya terutama istrinya Nyi Kholifah adalah hafalan surat Fatikhah, hafalan syahadad dan praktek shalat. Berkat kecerdasan dan keuletan serta kewibawaan beliau Alhamdulillah pada masa itu masyarakat Longkeyang semua mengikuti ajaran tarajumah yang dibawakan oleh mbah kholifah.

    D)Uraian Mata Rantai Guru Mbah Kholifah dalam mendalami ilmunya di pesantren Kalisalak.

    Agar kita makin bertambah kemantapan didalam mengikuti dan mengamalkan ajaran dan tuntunan dari murid Syeikh H. Ahmad Rifa'i berikut penjelasan mata ranatai guru-gurunya Mbah Kholifah :
    Mbah Kholifah dalam mendalami ilmunya mengikuti mata rantai yaitu Syeikh H. Ahmad Rifa'i Ibnu Muhammad Almarhum. Agar kita makin bertambah yakin dan mempunyai kemantapan bahwa ajaran tarajumah yang dibawakan oleh murid Syeikh H. Ahmad Rifa'i yatiu Mbah Kholifah adalah benar-benar mempunyai dasar yang kuat yaitu Al Qur'an,Hadist, Ijma', Qiyas. Dan Imam Abdullah berkata Isnas atau sandaran keilmuan termasuk bagian penting dari agama sebab seandainya tanpa sanad maka seseorang dapat berkata sekehendaknya. Berdasarkan dalil tersebut perlu kiranya diketahui kepada siapa Mbah Kholifah berguru :
    a) Allah SWT.
    :)Nabi Muhammad SAW.
    c)Mengikuti mata rantainya Syeikh H. Ahmad Rifa'i
    d)Mbah Kholifah.
    Kemudian setelah mendalami berbagai ilmu agama di Pesantren Kalisalak Batang Mbah Kholifah pulah ke daerah asal yaitu desa Longkeyang Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang. Murid Syeikh H. Ahmad Rifa'i yang bernama Mbah Kholifah ini banyak menumbuhkan kader generasi yang kompeten serta pakar, pemikir, dan mubaligh di sekitar Longkeyang. Mbah Kholifah Wafat sekitar abad ke-20 dimana yayasan tarajumah baru dibentuk. Pada tahun 1880 dan di makamkan di sebelah utara desa Longkeyang.
    Romo Kyai Kholifah dalam perjuanganya tak kenal lelah, beliau selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT setiap ada masalah. Dalam segi pengkaderan beliau memupuk putra-putri anak didiknya yang konon pada waktu itu SDM (sumber Daya Manusia) masih minim alias masih rendah, disamping itu masih banyak kerusuhan akibat adanya penjajah belanda yang membuat suli untuk menyebarkan agama Allah di desanya. Berkat ketekunan beliau akhirnya banyak masyarakat yang sudah mengenal huruf-huruf arab walaupun pada waktu itu hanya sekedar biasa saja, tetapi kalau dilihat kepekaan berfikir orang-orang jaman dulu dengan orang-orang jaman sekarang sangat jauh berbeda. Orang jaman dahulu misalkan belajar ataupun hafalan sangat cepat dan lancar dan tanggap setiap diajarkan ilmu agama, kita lihat jaman sekarang tekhnologi semakin canggih dan makin maju tetapi daya ingatnya (IQ) rendah. Tidak sesensitif orang-orang jaman dahulu yang tetep awet apabila memperoleh pelajaran dari gurunya. Yah mungkin sekarang banyak yang berbuat maksiat jadi ilmunya suli masuk ke IQ kita.

    4.Periode keempat yaitu kepemimpinan Romo Kyai Toyibah sekitar akhir abad 19 atau sekitar tahun 1879 M.

    Romo kyai Toyibah adalah murid dari pada Romo Kyai Kholifah yang telah membawa harum desa Longkeyang sampai terkenal diberbagi daerah jawa yang ada rifa'iyahnya. Untuk sejarah dari romo kyai Toyibah kami tiem penelusur sejarah mencoba menelusurinya tetapi untuk kali ini mungkin penyampaian ceritanya belum lengkap, muda-mudahan generasi muda yang lain mau menelusuri sejarah ini dengan cermat dan tepat. Romo kyai toyibah sesosok figur yang patut kita banggakan dan kita kenang terus, karena dengan jasa beliau selama beliau masih hidup sering mrngadakan pengajian yang cukuk spektakuler. Romo kyai Toyibah mendirikan tempat pengajian di longkeyang dengan cara membacakan surat alfatihah (nyekseake fatihah) supaya makhrojul hurufnya sesuai dengan kaidah bahasa arab. Disamping itu muncul gagasan dari Romo kyai Toyibah diadakannya tahlil bersama yang bertempat di masjid dan dirumah-rumah. Setelah Romo Kyai Toyibah bekerja keras dalam menyebarluaskan agama islam maka munculah generasi handal yaitu Romo Kyai Tarji'ah yang pada saat itu masyarakat Longkeyang sedang mengalami kesulitan pangan (musim paceklik), tetapi Romo Kyai Toyibah tetap maju melangkah dalam perjuangan yang diridhoi Allah SWT. Dan mudah-mudahan amal perbuatannya sewaktu hidup di dunia dalam memperjuangkan agama Allah SWT diberi balasan yang setimpal dan di jembarkan kuburnya amien.

    5.Periode kelima yaitu Romo Kyai Tarji'ah (Mbah Maun) sekitar tahun 1885 meneruskan perjuangan dari Romo Kyai Toyibah.

    Setelah Romo Kyai Toyibah wafat diteruskan oleh Romo Kyai Tarji'ah (Mbah Maun), beliau berjuang meneruskan ajaran tarajumah karangan Syekh Haji Akhmad Rifa'i didesa Longkeyang tercinta. Dan waktu penjajah belanda memporak porandakan negeri indonesia, Romo kyai Tarji'ah ikut memperjuangkan negeri ini dengan kemampuan yang dimiliknya. Dalam sejarah menurut sesepuh kauman Longkeyang Romo Kyai Tarji'ah (mbah Maun) seorang yang mampu memimpin masyarakat di desanya, Romo Kyai Tarji'ah dalam mendidik santri – santrinya dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Sebelum Romo Kyai Tarji'ah menjadi panutan alam arti pemimpin beliau sering membantu mengajar bersama dengan Romo Kyai Toyibah. Dahulu metode mengajarnya hanya dengan hafalan kitab takhyirah dan lainnya seperti mengenalkan rukun islam, rukun iman dan praktek ibadah. Romo kyai Tarji'ah ikut berkiprah dalam si'ar agama mencapai titik kemajuan yang konon ceritanya mencetak kader dan menumbuhkembangkan jiwa – jiwa sang pejuang islam dalam menghadapi jaman diwaktu itu. Setelah beliau usiannya sudah lanjut beliau Romo Kyai Tarji'ah menyerahkan kepemimpinannya kepada Romo Kyai Tarminah yang sejak dulu aktif ikut kegiatan pengajian. Begitulah sedikit tentang perjuangan Romo Kyai Tarji'ah yang namanya hampir mirip dengan romo Kyai Tarjian.

    6.periode keenam yaitu Romo Kyai Tarminah sekitar tahun 1890 M meneruskan perjuangan Romo Kyai Toyibah.

    Sesudah di serahkan jabatan dalam kegiatan pengajian rutin dari Romo Kyai Tarjiah baru pada periode ini Romo Kyai Tarminah ikut andil dan meneruskan ajaran islam di Longkeyang. Dengan penuh keikhlasan beliau mengadakan yang mungkin pada jaman itu hanya pengajian-pengajian lewat rumah-rumah, tetap pada jaman itu hanya belum ada Listrik, desa yang penuh keasrian dan keasejukan. Karena masih banyak hutan dan banyak binatang buas, tetapi beliau tak berkecil hati dalam suasana yang seperti itu justru suasana yang seperti itu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Beliau seoarang pemimpin yang bijaksana terhadap santri-sanrinya, dan justru para santri pada waktu itu sangat hormat kepadanya, karena keilmuan beliau yang mendidik cukup mudah untuk dipahami maka banyak mumbuhkan banyak kader-kader yang mampu menghadapi tantangan di jaman itu. Diantara murid yang paling terkenal sampai sekarang yaitu Romo Kyai Burhan atau Mbah Casmin. Gerak langkah Romo Kyai Tarminah dalam mengembangkan ajaran tarajumah pada waktu itu banyak sekali yang simpatik kepada beliau baik tutur katanya atau perbuatannya. Setalah belaiau lannjut usia, Beliau menyerahkan kegiatan pengajiannya kepada Romo Kyai Burhan (Mbah Casmin). Dan akhirnya beliau wafat,tetapi dari sumber sejarah belum mengetahui kapan tanggal lahirnya atau tanggal wafatnya karena sesepuh kauman yang paling dituakan pada waktu itu tidak tidak bercerita lengkap karena mungkin takut terjadi kesalahan sejarah.

    7.Perode Ketujuh yaitu Romo Kyai Burhan (Mbah Casmin) pada tahun 1895 M meneruskan perjuangan Romo Kyai Tarminah.

    Pada periode Romo Kyai Burhan dalam Perjuangan melanjutkan syi'ar agama islam cukup profesional dalam arti selalu memberi warna baru dalam mendidik santri-santrinya,baik dari mulai tutur bahasa jawanya menggunakan kromo inggil dankasih sayang terhadap santrinya selalu di prioritaskan. karena tingkah laku beliau sangat terpuji dan mendidik, justru para santrinya sangat hormat kepada beliau. Adapun para santri didikan beliau adalah Romo Kyai Waslim (Mbah Mu'adah). dalam sejarah Romo Kyai Burhan dalam mendidik santrinya memakai metode kajian terjemah (ngaji sorogan) di mushola dan di masjid. Romo Kyai Burhan mempunyai istri bernama Nyi Mursiah, dan dalam perjuangannya mendampingi suaminya, Nyi Mursiah ikut membantu mendidik kepada kepada santri putri di desa Longkeyang. Sedangkan Romo Kyai Burhan mendidik santri putra. Setelah usianya cukup lanjut Romo Kyai Burhan menyerahkan pucuk kepemimpinannya ke Romo Kyai Waslim yang mungkin pada waktu itu Romo Kyai Waslim dianggap mampu meneruskan perjuangannya dalam syi'ar islam, karena pada saat itu Romo Kyai Waslim satu-satunya murid yang dianggap paling cerdas, karena Romo Kyai Waslim (mbah Mu'adah) masih saudara dengan Romo Kyai Burhan (Mbah Camin). Sebelum menyerahkan seluruh kegiatan pengajian rutinnya, Romo Kyai Burhan menyuruh Romo Kyai Waslim(mbah Mu'adah) untuk berangkat kepesantren dulu untuk meperdalam ilmunya, setelah Romo Kyai Waslim (mbah Mu'adah) pulang dari pesantren akhirnya Romo Kyai Burhan menyerahkan kepemimpinan kepada Romo Kyai Waslim sebagai penerus perjuangan beliau.

    8.Periode kedelapan sebagai penerus ajaran Syekh Haji Akhmad Rifa'i di desa Longkeyang sekaligus yang paling di segani di desanya yaitu Romo Kyai Waslim (Mbah Mu'adah) pada tahun 1930 M.

    Romo kyai waslim(mbah Muadah) adalah murid kesayangan dari Romo Kyai Burhan, pantas jika Romo kyai Waslim padawaktu memegang pucuk kepemimpinannya banyak yang takut dan tunduk kepada beliau, karena keilmuannya, kecerdikannya dan kelincahannya maka beliaudihormatidan disegani oleh masyarakat Longkeyang,apalagi santri-santrinya. Nama lengkapnya Beliau adalah Romo kyai Waslim, tetapi entah kenapa kok banyak yang mengatakan namanya Mbah Muadah, istri Beliau bernama Nyi Markati, seorang istri yang sangat setia mendampingi kemanapun kyai Waslim pergi apalagi kalau sedang mengaji sang istrinya ikut jadi muridnya. Pada periode ini banyak kader-kader(murid) beliau yang sangat cerdas dan bisa menjadi panutan diantaranya:
    1. Romo kyai Wasmad
    2. Romo kyai Tarjian
    3. Romo kyai Kasad
    4. Romo Kyai Kasbullah
    5. Romo Kyai Samad
    6. Romo Kyai Dahun
    7. Romo Kyai Castro
    8. Romo Kyai Taslani
    9. Romo Kyai Daan
    10.Romo Kyai Kasno
    11.Romo Kyai Rakup
    12. Romo Kyai Maryat
    13. Romo Kyai Sakeh
    14. Romo Kyai Rasadi
    15. Romo Kyai Tarmo
    16. Romo Kyai Suyono
    17. Romo Kyai Khaeri
    18. Nyi Warkiah
    19. Romo kyai Rahadi
    20. Ustad castono
    21. Ustad Abdul Khamid
    22. Ustad Asmawi
    23. Ustad Tahyono.
    24. Ustad Nurhasan
    9.Periode kesembilan sekitar tahun 1940 M yaitu Romo Kyai Wasmad Penerus Ajaran Tarajumah.

    Romo Kyai Wasmad adalah Murid dari kyai waslim yang memperjuangkan ajaran tarajumah, dalam periode ini romo klyai wasmad membantu kyai waslim dan menjadi kaki tangan beliau, cara istilah sekarang tetapi tetapi bukan kaya gitu romo kayi wasmad murid yang memang selalu aktif di setiap kegiatan. Jadi dalam menruskan perjuangannya selalu siap sedia walaupun cuaca buruk serkalipun beliau tetap melaksanakan kegiatan pengajian rutin.dan di samping ityu banyak murid romo kyai waslim seperti ustad kasbolah Nyi warkiah membantu melaksanakan kegiatan pengajian rutinan di rumah ataupun di masjid attaqwa. Pada periode ini para santri di bagi dua kelompok putra dan putri, untuk santri putra di tempatkan di rumahnya Ustad kasbolah, sedangkan yang putrinya di tempatkan di rumahnya Nyi Warkiah.itulah sedikit sejarah yang kami susun tetapi sebenarnya mungkin kisahnya banyak tetapi dari nara sumber sejarah tidak mendetail dalam menceritakan romo kyai wasmad ini. Tetapi konon katanya romo kyai wasmad adalah tokoh yang mau bekerja keras tanpa mengeluh, dan inilah yang mungkin menjadi contoh bai kita agar setiap perbuatan kita selalu tertata dan tidak ngawur. Romo Kyai wasmad memegang kepemimpinankegiatan pengajian hanya beberapa tahun saja kemudian kepemimpinan diserahkan kepada Romo Kyai Tarjian, sosok yang penuh segudang Agama baik ilmu fiqih ataupun yang lainya.

    10.periode kesepuluh sekiatar tahun 1945 penerus perjuangan agama islam di Longkeyang yaitu Romo Kyai Tarjian Bin Waslim.
    Romo Kyai Tarjian adalah Putra dari Romo Kyai Waslim (Mbah Muadah) yang istrinya bernama Jariyah. Romo Kyai Tarjian Lahir pada tanggal 9 pebuari 1937, beliau pada waktu remaja adalah salah satu dari sekian banyak murid yang paling cerdas. Beliau pernah mondok (nyantri) di Pesantren Al-Insap Paesan kedungwuni pekalongan. Beliau berguru di Paesan dengan Romo Kyai Rokmatullah, Romo Kyai Nasihun dan banyak para kyai yang ada di paesan yang tidak kami sebutkan satu persatu. Romo Kyai Tarjian juga pernah nyantri di desa Donorejo Limpung Batang. Beliau berguru disana dengan tokoh-tokoh ulama kenamaan seperti Romo kyai haji Nurhadi, Romo Kyai Haji Ismail dan lain-lainnya. Setelah selesai dari pondok pesantren Romo Kyai Tarjin membantu ikut mengajar para santri -santri dari murid-murid Romo Kyai waslim. Dan pada waktu itu muncul beberapa perbedaan pendapat dari masyarakat longkeyang. Semula masyarakat longkeyang mengikut ajaran tarajumah tetapi sesudah ada tokoh islam dari kalangan rifaiyah sendiri namanya Mbah Jadz, mondok kepesantern salaf tersebut ajaran tarajumah di tinggalkan begitu saja, lalu mandirikan organisasi sendiri yaitu Nahdtul Ulama, dan yang muncul berikutnya adalah Mbah Munawar pembawa Ajaran Muhammadiyah, setelah terjadi perbedaan golongan Masyarakat Longkeyang terpecah menjadi tiga Aliran, ada yagng Rifaiyah, NU dan Muhammadiyah. Romo Kyai Tarjian Wafat Senin Manis bulan Syura tanggal 14 tahun 1998. dan di makamkan disebelah Timur pemakaman lebe Rurah. Atau masih disekitar kauman longkeyang.

    11. periode kesebelas sekitar tahun 1990-an dan sampai sekarang yaitu Romo Kyai Kasad bin Muhtari yang sebagai tokoh islam penerus perjuangan ajaran rifaiyah longkeyang
    Romo Kyai Kasad bin Muhtari lahir pada tanggal 12 juli 1933. beliau salah seorang murid dari romo kyai Waslim dan Romo kyai Tarjian. Beliau juga pernah mondok dipaesan tengah kedungwuni pekalongan dan di pondok pesantren kesesi, beliau menggantikan romo kyai tarjian sesudah romo kyai tarjian wafat, sedangkan istrinya bernama raumi, beliau Nyi raumi juga seorang ustadzah yang cukup terkenal didesa longkeyang, banyak progam yang di jalankan oleh romo Kyai kasad dan kawan-kawan nya yaitu : Romo Kyai Casto, Romo Kyai Khaeri, dan lain-lainnya. Diantaranya program sudah berjalan sampain sekarang yaitu adanya pengajian rutin setiap ba'da sholat maghrib, dan pengajian rutin setiap sholat subuh. Sedangkan program mingguan seperti Ahad pon, pemgjian setiap hari saxtu, hari jum'at dan masih banyak kegiatan yang tidak kami catat. Romo Kyai kasad seorang figur yang harus kita hormati dan kita timba ilmunya, sebab tanpa adanya beliau-beliau dan kawan-kawannya mana mungkin perjuangan yang telah di cita-citakan dari mulai Romo Kyai Nafsiyah sampai sekarang perekonomian diindonesia sangat mahal tidak menjadi kendala dalam menimba ilmu agama.

    Catatan narasumber sejarah ini:
    1.Romo Kyai Kasad
    2.Romo kyai Castro
    3.Romo kyai Kasno
    4.Romo kyai Dahun
    5.Romo Kyai Rasadi
    6.Romo kyai Khaeri
    7.Nyi Jariyah.
    8.Semua sesepuh yang telah mendukung penelusuran sejarah ini.

    Dalam penelusuran sejarah ini mungkin banyak kekurangan dalam penulisan kata, oleh sebab itu kami buka lebar-lebar kepada penelusur sejarah untuk bisa mengembangkan dan menginformasikan apabila ada kata-kata yang sulit di fahami.