Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari prillhuseno

prillhuseno

laki-laki - 53 tahun, Indonesia
65 pengunjung

Blog 4


  • SURGANYA KAUM COFEE MANIAC

    Tidak sangka tidak duga. Banda Aceh sekarang telah jadi "Cyber City" juga. Ini bahkan mendahului kota Solo yang oleh walikota Joko Widodo (Jokowi) telah dicanangkan sebagai kota "Cyber City"hari minggu lalu. Jika kota Solo sebagai "Cyber City" diprakarsai oleh pihak Pemda atas inisiatif Pak Walikota Jokowi, lain halnya dengan Banda Aceh. Dikota ini "Cyber City" telah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu justru oleh warung-warung kopi yang bertebaran diseluruh pelosok kota Banda Aceh.

    Banyak pihak luar Aceh sudah tahu bahwa orang Aceh sangat menyukai 'duduk ngariung' ngobrol berjam-jam di warung-warung kopi setiap kota dan desanya. Tapi semalam saya baru menyadari bahwa fungsi warung kopi sudah bertambah, tidak lagi sekadar tempat ngobrol ngariung, tapi juga telah menjadi tempat berkoneksi internet dari para pengunjungnya.

    Para 'coffe mania' di Banda Aceh sekarang kebanyakan adalah kaum muda yang tidak ketinggalan membawa serta laptop berbagai merk, untuk sekadar bertemu kawan atau pacar sambil browsing internet. Dari kawasan Ulee Kareng sebagai kawasan warung kopi yang telah mendunia sejak peristiwa Tsunami lalu, warung kopi yang kini telah dilengkapi dengan Wifi juga telah menyebar di semua sudut kota bahkan sampai dipinggiran kota seperti kawasan sekitar Darussalam dan beberapa pelosok kota lainnya. Penulis yang semalam punya kesempatan keliling kota Banda Aceh mendapati bahwa kota ini telah menambah trade mark kotanya sebagai "kota ribuan warung kopi cyber".

    Uniknya warung kopi kecil pun juga ikut melengkapi fasilitas dengan memasang Wifi. Pendek kata, jika ada warung kopi di Banda Aceh yang tidak dilengkapi dengan fasilitas internet, maka hampir dapat dipastikan akan sepi pengunjung. Ditambah lagi dengan fasilitas full music yang hingar bingar mirip cafe-cafe terkenal di Jakarta.Cuma, saya masih meragukan apakah yang dibahas diwarung-warung kopi Cyber itu masih masalah seputar hangatnya situasi politik jelang Pilkada di Aceh atau masalah geng-geng anak muda yang mulai menjamur di Banda Aceh.

    Jadi, jika kita sekarang berwisata di Banda Aceh, selain menikmati indahnya pantai Lampu'uk, tenangnya kota serta beberapa tempat wisata lain, siap-siaplah juga untuk menikmati sedapnya aroma dan rasa kopi Aceh yang terkenal dengan tidak lupa membawa serta laptop anda.

  • MENSYUKURI MAKNA HAKIKI DARI HARI RAYA KURBAN

    Dua hari lagi Hari Raya Idul Adha. Hari raya yang bagi kaum muslimin mempunyai posisi istimewa sebagai hari raya kurban. Orang Betawi menyebutnya dengan ‘Lebaran Haji’, karena hari itu bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1432 H, ketika jutaan kaum muslimin melaksanakan ritual wuquf di Arafah. Sebuah ritual yang diartikan sebagai perenungan atas perjalanan hidup manusia, khusyuk beribadah disebuah padang luas terbentang. Disebuah lokasi dimana Adam dan Hawa dipertemukan di bumi setelah tercampak dari surga.

    Idul Adha juga ditandai dengan ritual penyembelihan hewan kurban bagi mereka yang mampu. Penyembelihan hewan ternak peliharaan seperti kerbau, sapi, kambing atau domba, dan juga unta, disebutkan sebagai bukti ketundukan manusia terhadap perintah Tuhan penguasa alam semesta. Nabi Ibrahim, manusia pertama yang diperintahkan oleh Allah swt untuk menunjukkan ketundukan terhadap perintah Tuhannya, pada mulanya amat berat melaksanakan perintah ini karena yang diperintahkan adalah mengurbankan anak kandungnya sendiri Ismail, anak satu-satunya yang begitu disayangi karena merupakan anak yang telah lama dinantikan kelahirannya. Namun karena kepatuhannya atas perintah Sang Khaik, apalagi Ismail secara mengejutkan menyuruh lakukan saja penyembelihan dirinya kepada sang ayah, maka Ibrahim dengan tanpa ragu-ragu melaksanakan perintah penyembelihan itu sambil menutup rapat kedua matanya.

    Tetapi kemudian Allah swt menunjukkan kebesaran makna dibalik perintah penyembelihan itu. Posisi Ismail dengan seketika ditukar oleh seekor domba, sehingga ketika Ibrahim mengayunkan pedang untuk menyembelih leher anaknya Ismail, yang disembelih ternyata leher seekor domba. Sedang Ismail sendiri telah berpindah posisi sambil duduk termangu. Maka menangislah nabi Ibrahim sambil memeluk buah hati kesayangannya.

    Allah swt telah menunjukkan bahwa ajaran mengorbankan sosok manusia seperti yang dilakukan kaum penyembah berhala bukanlah amanah Tuhan Sang Pencipta. Tetapi lebih pada perilaku menyerah diri kepada alam pikiran sesat yang sama sekali bukan ajaran ketuhanan. Peristiwa mengganti posisi Ismail dengan seekor domba adalah lambang ajaran yang menegaskan adanya kekeliruan konsepsi ritus pengorbanan manusia.

    Pelaksanaan ritual kurban dengan membagi-bagikan daging hewan sembelihan kepada kaum tak berpunya juga mempunyai arti bahwa Islam adalah agama yang kental dengan semangat solidaritas sosial. Statemen sinis terhadap acara pembagian daging hewan kurban yang hanya satu kali dalam setahun sebagai tidak menyelesaikan masalah kemiskinan, adalah pernyataan tergesa-gesa dan tidak melihat konteks manfaat psiko-sosial yang muncul dari pembagian daging hewan kurban. Sampai dengan saat ini, belum ada satupun ideologi ciptaan manusia yang benar-benar mampu menyelesaikan masalah kemiskinan yang dialami umat manusia.

    Disamping semua makna itu, peristiwa haji adalah momen paling bersejarah dalam perjalanan kerasulan Muhammad SAW. Tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari ketika penghuni kota Mekkah bergetar ketakutan dengan kedatangan kembali Nabiyullah Muhammad SAW bersama dengan sepuluh ribu orang pasukan dan pengikutnya untuk melaksanakan ibadah haji. Pintu-pintu rumah tokoh kaum kafir Quraisy ditutup dengan tergesa. Ketakutan melihat betapa besar semangat dan keyakinan yang datang setelah belasan tahun mendirikan ‘masyarakat madani’ di kota Madinah. Inilah peristiwa besar yang sebenarnya patut diingat dan dirayakan oleh ummat Islam pada hari raya Idul Adha, ketimbang sibuk merasakan lezatnya sate kambing sisa hasil pembagian jatah kaum dhuafa. Kembalinya Muhammad SAW ke kota Mekkah adalah tonggak dakwah berlipat kali lompatan kedepan yang akan menentukan arah dari perkembangan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

    Peristiwa ‘penaklukan’ kota Mekkah inilah semestinya yang harus dirayakan dengan gegap gempita. Takbir yang dikumandangkan pada shalat Iedul Adha juga adalah kepada rasa syukur atas kemenangan strategi dakwah Muhammad SAW yang memilih untuk membangun basis pendukung diluar kota Mekkah. Madinah Al Munawwarah merupakan titik tolak kemenangan peradaban yang dibangun Muhammad SAW dengan membangun masyarakat Islam yang mematuhi hukum-hukum kemasyarakatan sesuai digariskan Al Qur’an. Juga masyarakat yang begitu toleran tetapi tegas terhadap kaum non muslim, seperti yang dialami warga yahudi. Madinah juga kota yang egaliter sebagaimana sosok Muhammad SAW, sambil terus berdakwah mengikuti garis Qur’ani yang tiap kali diturunkan wahyu langit menjadi ayat-ayat Madaniyah yang dihormati. Dari Madinahlah berkilau konsep ‘Deklarasi Madinah’. Sebuah deklarasi yang merupakan butir-butir kesepakatan seluruh warga kota Madinah, lintas etnis dan keyakinan, agar saling menghormati, melindungi dan berko-eksistensi sebagai warga kota, asalkan tidak saling melukai dan berkhianat kepada musuh dari luar kota Madinah.

    Keberhasilan peradaban yang dibangun Muhammad SAW itulah yang kemudian terdengar oleh kaum kafir quraisy di kota Mekkah, sehingga beberapa kali terjadi upaya penaklukan Madinah lewat beberapa perang bersejarah. Badr, Uhud, Khandaq, dan beberapa bentrok kecil antara dua kota terjadi. Namun semua upaya aneksasi kota dan ajaran yang dibangun Muhammad SAW gagal total. Malah berbalik menjadi sesuatu yang mengerikan dan menggetarkan, setelah sang nabi memutuskan akan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Bekal sebagai sebuah kota yang membangun peradaban agung dan secara revolusioner merubah cara pandang dan jati diri ummat manusia itulah yang tidak dapat dilawan oleh jiwa-jiwa yang tidak mempunyai ruh Ilahiah dikota Mekkah.

    Itulah hal sebenar-benarnya yang patut dirayakan oleh semua ummat muslim ketika bergembira ria merayakan Hari Raya Idul Adha.

    Dengan tidak menafikan ritual simbolik kurban sebagai sebuah ajaran suci yang diwariskan Nabi Ibrahim, kita tidak akan kehilangan makna hari raya kurban ketika mensyukuri peristiwa kemenangan peradaban yang dibangun Muhammad SAW, saat berhasil memasuki kota Makkatul Mukarramah. Ibadah haji, berkurban dan peristiwa kembalinya Muhammad SAW dan pengikutnya ke kota Mekkah adalah satu kesatuan yang meyakinkan kita semua bahwa kemenangan itu sesungguhnya adalah kemenangan dari jiwa-jiwa yang tenang dan khusyuk dalam beribadah, yang pada gilirannya akan menjadikan pencerahan bagi peradaban selanjutnya.

    -Pril Huseno-

  • SUMPAH SERAPAH KAUM MUDA 2011

    Jangan bicara sumpah pemuda yang terjadi 83 tahun lalu. Sumpah kaum muda waktu itu memang cuma menegaskan bahwa kaum muda yang berkumpul, ingin diketahui sebagai sekumpulan angkatan muda dalam satu komunitas (calon) negara baru yang bernama Indonesia, yang berbangsa satu, berbahasa satu dan bertanah air satu - dan itu sudah selesai. Negara itu sendiri memang diproklamirkan 17 tahun kemudian oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta.

    Yang harus diperhatikan sekarang setelah 66 tahun Indonesia merdeka adalah : kaum muda yang tidak lagi mewarisi semangat revolusioner para pendahulu negara ini, dan berubah menjadi semangat memperkaya diri sendiri lewat beragam akal bulus. Akal bulus itu sendiri terbentuk dari pengalaman bersama kaum muda yang melewati proses mobilitas sosial (baca:keikutsertaan) sebagai kader partai ditingkat pemula, lalu menjadi kader inti partai, dan kemudian berkat nasib baik dan sedikit kegigihan melobby elit partai tingkat daerah dan pusat, berhasil menjadi anggota legisatif dipusat ataupun di daerah. Dan dari sanalah ‘berkah alam’ itu turun keharibaan kaum muda.

    Berkat kerjasama apik dengan kader senior partai di dewan perwakilan rakyat, juga kongkalingkong dengan birokrat daerah/pusat dan juga pengusaha instan bentukan partai, maka ‘berkah alam’ itu terwujud lewat sim salabim diberbagai panitia anggaran rutin dan proyek daerah, dan lalu kaya rayalah komune-komune partai berkat ajian sakti petinggi-petinggi Dewan atau Partai.

    Lalu dimanakah letak sumpah keramat kaum muda pada 1928 ? yang didalamnya-sesungguhnya-terkandung makna pemuliaan terhadap nasib bangsa dan tanah air ? jangan berhayal muluk-muluk bahwa kaum muda eksklusif dan wangi itu sempat berpikir tentang makna sumpah 83 tahun lalu. Atau bahkan repot-repot memikirkan sumpah yang sudah uzur.

    Walaupun kebanyakan mereka dulunya adalah kader muda unggulan (semacam bibit) dari berbagai ormas kemasyarakatan pemuda yang terkenal dengan slogan-slogan normatif kenegaraan seperti kebhinekaan, keadilan sosial, keberpihakan kaum lemah, NKRI, wawasan nusantara, masa depan IPTEK, masa depan negara dan bangsa, dan lain-lain slogan pemanis dalam berlembar-lembar makalah dan konsep pidato, yang bertujuan agar dapat dilihat sebagai bibit unggul kaum muda. Siapa tahu dapat direkrut sebagai kader muda bangsa, atau syukur-syukur diangkat sebagai menteri atau wakil menteri, agar dapat memperbaiki nasib ninik mamak seketurunan mereka di kampung halaman.

    Sumpah tinggal sumpah. Yang penting kaya raya, urusan penjara nanti saja. Toh, ada tetua partai yang juga penguasa negeri yang dapat melindungi dan tinggal menunjuk sesuai kesepakatan, siapa yang jadi kambing hitam dan dikorbankan atas nama penegakan hukum. Yang penting kader unggulan selamat sehat wal afiat, dan urusan pemilihan raya mendatang semua pihak masih tegak dalam satu perahu. Memang kaum muda yang berjaya itu tidak melulu datang dari kalangan partai, dari kalangan non partai pun tidak kalah ganas menerapkan ilmu aji mumpung. Bermodal kedekatan dengan elit pemerintahan, eit partai dan elit daerah, banyak kaum muda yang amat sukses bergelimang dollar berkat ajian sakti mandraguna pengelola negara sehingga semua proyek mereka jebol. Pola yang disebut ‘patron klien’ ini sudah berlangsung lama dan merupakan warisan dari masa-masa gelap orde baru sehingga memunculkan barisan eksekutif muda kaya raya yang anti sosial. Warisan budaya tengik ini terus dijaga bahkan dengan menyesuaikan beberapa peraturan yang akan menguntungkan oligarki sebagaimana disebutkan :

    Para pelaku politik tidak hanya berjuang untuk sekadar memuaskan kepentingan-kepentingan pribadi sesaat dan atau kepentingan orang lain yang – menurut mereka – mereka wakili, namun juga berjuang untuk menetapkan peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur yang konfigurasinya dapat menentukan siapa yang mungkin akan menang atau kalah dimasa mendatang. Sesungguhnya, peraturan-peraturan yang muncul akan sangat menentkan sumber-sumber mana yang secara sah boleh dikerahkan ke dalam arena politik, serta pelaku-pelaku mana yang diperkenankan masuk. (“Transisi Menuju Demokrasi”; Guilermo O’Donnel, Philippe C Schmitter;1993)

    Agak menyedihkan jika sumpah (pengakuan) atas ke-indonesiaan kita hanya manjur di gegap gempitanya stadion utama Gelora Bung Karno (GBK). Ketika kesebelasan sepakbola nasional berlaga lawan tim dari Negara lain. Banyak pihak mengakui bahwa hati nurani mereka bergetar - mengalahkan ‘getarhati’ jika mendengar nama Tuhan disebut - ketika para penonton bersama-sama meneriakkan koor “Indonesia” berulang-ulang, walaupun kalah. Stadion GBK seolah menjadi saksi bahwa ‘semangat sumpah pemuda’ para penonton tetaplah bergelora lewat gocekan manis pemain sayap dan striker timnas. Termasuk didalamnya para tokoh muda yang ikut menonton dan meneriakkan nama negara. Setelah perhelatan sepakbola selesai, semua kembali menjadi pepesan kosong.
    Sumpah Pemuda 1928 mestinya dimaknai sebagai ideologi pemuda yang berniat membawa segenap anak bangsa kepada kemakmuran yang berkeadilan sosial, sadar akan pentingnya keadilan agar negara- bangsa tidak terbawa kepada gejolak disintegrasi akibat perilaku segelintir elit yang sibuk memenuhi pundi-pundi kekayaan demi memuaskan kepentingan pribadi dan kepentingan pemilik modal, asing maupun domestik. Sehingga seluruh harkat dan martabat anak bangsa tergadai.

    Bangsa yang satu, tanah air yang satu, mestinya juga punya satu kesatuan bahasa dan pemahaman bahwa seluruh rakyat mempunya hak daulat atas tanah air Indonesia, sehingga eksploitasi terhadap sumber daya alam (SDA) harus diikendalikan dan hasil bumi juga dapat dinikmati oleh segenap rakyat. Tambang emas, batubara, nikel, dan lainnya di beberapa daerah juga mestinya menjadikan penduduk sekitar hidup makmur dan berkecukupan dan tidak hanya menjadi pelengkap penderita sebagaimana yang terjadi selama ini. Peristiwa pendudukan tambang Freeport di Papua mestinya dijadikan titik evaluasi menyeluruh atas kebijakan pengelolaan SDA oleh pemilik modal, agar memperhatikan aspek keadilan terhadap kompensasi yang didapat karyawan dan juga hak mendapatkan bagian kemakmuran buat penduduk. Pemilik modal selama ini telah mendapatkan bagian keuntungan terlalu besar dalam bagi hasil dengan negara dan warga lokal.

    Sumpah Pemuda juga harus memaknai arti perjuangan kaum muda belia dipedalaman Banten ketika berjuang setiap pagi buta demi dapat masuk sekolah dengan berenang menyeberangi sungai dan semak. Setiap malam belajar hanya dengan cahaya pelita tanpa ketersediaan listrik. Sumpah Pemuda juga mestinya melihat perjuangan para dai muda di semua pelosok daerah di Indonesia guna membangun masyarakat pedalaman yang beragama dan beradab, dengan membangun sekolah-sekolah agama darurat tanpa modal sedikitpun dan tanpa menerima gaji bulanan. Semuanya dilakukan dengan ikhlas dan penuh pengorbanan.

    Melihat juga dengan mata hati cara hidup pemulung-pemulung muda dan buruh-buruh bangunan muda di ibukota agar dapat membeli nasi warteg lima ribuan rupiah. Untuk pulang kampung menengok anak istri harus terlebih dahulu mengumpulkan botol-botol plastik bekas Aqua. Belum lagi kaum muda buruh pabrik, kaum muda yang terpaksa menerima undangan lembaga peneliti atau pendidikan asing di luar negeri karena negara tidak mempunyai goodwill dalam memberikan penghargaan yang layak dan pantas bagi kaum muda berotak jenius, kaum muda guru honorer yang menjerit minta diakui sebagai bagian dari tenaga pengajar nasional, kaum muda yang terpaksa bekerja sebagai debt collector dengan resiko terbunuh karena kelangkaan lapangan kerja, kaum muda yang celaka karena sibuk berkumpul dipojok-pojok gang sempit menikmati narkoba dan ikut tawuran antar kampung, sebagai bentuk dari frustrasi sosial, juga kaum muda yang masuk penjara karena mencopet, merampok, dan membunuh.

    Lalu dimanakah letak sumpah keramat kaum muda 1928 ? yang didalamnya-sesungguhnya-terkandung makna pemuliaan terhadap nasib bangsa (anak bangsa, kaum muda) dan tanah air ?

    Mengharapkan pembinaan kaum muda dari rasa frustrasi sosial berkepanjangan kepada seonggok Kementrian Pemuda dan Olahraga nasional mungkin terlalu naïf. Kementrian yang ‘ketua’nya berlagak pilon di pengadilan, ketika sekretaris kementrian melakukan tindak KKN berjamaah dengan pengusaha fasilitas SEA GAMES. Juga naïf mengharapkan lapangan pekerjaan terbuka seluas-luasnya kepada Kementrian Tenaga Kerja yang ‘ketua’ nya juga berperilaku sama, berlagak pilon, ketika jajaran dibawahnya juga KKN dgn pengusaha.

    Sadarkah kita semua bahwa kaum muda yang 83 tahun lalu bersumpah keramat sekarang tengah dimandulkan dengan jebakan uang, agar tidak mempunyai legitimasi moral untuk dapat memimpin masa depan negeri yang indah ini ?

    Memberi amanah kepada kaum muda yang diberi stigma ‘sama saja dengan angkatan sebelumnya’ untuk dapat memimpin negeri, apalagi mengangkat harkat kaum muda, tidak akan mendapatkan kredit kepercayaan publik. Publik akan kembali melihat pada angkatan yang sudah mapan, yang mampu memenuhi semua selera dan kepentingan-kepentingan oligarkis-birokrat. Apalagi selera pemilik modal.

    Teriakan kaum muda di jalan-jalan Jakarta dan kota-kota besar lainnya pada April – Mei 1998 yang menggaungkan revitalisasi sumpah pemuda 1928 dan mengubah bunyi sumpah keramat menjadi bangsa yang gandrung akan keadilan, berbahasa kebenaran dan bertanah air tanpa penindasan, saat ini benar-benar telah dikencingi oleh para pengkhianat revolusi reformasi 1998. Revitalisasi sumpah yang berdarah-darah dan mengorbankan nyawa kaum muda saat itu sekarang seolah menjadi basi dengan stigma ‘sama saja’ tersebut.

    Maka jangan dipersalahkan kepada kaum muda ‘sadar diri sadar lingkungan’ sekarang, yang melaksanakan sumpah serapah kepada pemilik modal dan oligarki dengan kembali berkumpul dijalan-jalan meluapkan amarah, ditambah bumbu teramat pedas anti kapitalisme dari gerakan Occupy Wall Street yang menjalar ke ibukota.

    Kritis

    Semangat sumpah pemuda 1928 telah lama berlalu. Dibutuhkan bukan hanya sekadar sumpah sloganistik semata tanpa melihat persoalan kesenjangan cara pandang pemuda kita masa kini. Disatu sisi sebarisan kaum muda yang menganggap persoalan kebangsaan dan pembinaan kaum muda cukup diutarakan di forum-forum resmi kabinet dan dewan legislatif serta forum-forum musyawarah ormas kepemudaan, sementara ada sebarisan besar kaum muda lain yang cukup kritis membuka mata hati anak bangsa akan persoalan sesungguhnya dari kebijakan pembinaan kepemudaan nasional. Membicarakan kaum muda tidak cukup hanya terbatas pada mereka yang telah menikmati kue pembangunan dan pemerataan KKN di semua lini pusat dan daerah, tetapi juga membedah persoalan kebangsaan yang menjadi tanggungjawab kaum muda, sebagai ‘pengejawantahan’ dari semangat Sumpah Pemuda 1928.

    Kaum muda yang berada pada posisi tidak menguntungkan karena persoalan klasik tiadanya kesempatan kerja yang memadai, harus dijadikan batu pijakan dari kebijakan nasional kepemudaan, bukan hanya persoalan urusan seremonial upacara pembukaan seminar dan simposium kepemudaan
    Yang penuh jargon kosong. Terlalu banyak potensi kaum muda yang tidak terekspos kepermukaan akibat strategi pembinaan yang kekurangan daya kritis.

    Membicarakan semangat Sumpah Pemuda, adalah membicarakan persoalan kejujuran semua pihak dalam memperlakukan kaum muda. Apakah kaum muda masih dilihat sebagai generasi penerus negara-bangsa, ataukah hanya dijadikan potensi jangka pendek sebagai sumber daya tenaga buruh murah disemua sektor ketenagakerjaan pabrik dan perkantoran, sementara tenaga kerja asing dari pemilik modal terus dibiarkan memenuhi semua sektor industri, padahal dari segi kemampuan hanya berbanding tipis. Jika strategi buruh murah yang dipakai, maka nasib kepemimpinan nasional akan tetap berada dilingkaran status quo, dengan mengajukan stigma ‘sama saja’ sebagai pelaku KKN dari generasi penerus.

    Maka kalau sudah demikian halnya, biarlah sumpah serapah akan terus terjadi, sambil menunggu bara api berubah menjadi sesuatu yang menghanguskan akibat tiupan angin.

    -Pril Huseno-

  • Jakarta : labyrinth yg absurd..

    Sekarang, ada lagi jalur khusus busway yg tengah dibangun didepan pasar jatinegara, arah stasiun.
    Sekembalinya sy dengan kereta api dri bandung, sy dikejutkan oleh deadlocknya macet dikawasan itu. Rupanya jalur busway sedang dibangun dari pasar Jatinegara melewati stasiun menuju ke arah Pondok Kopi Jakarta Timur. Lalu lintas seputaran Jatinegara sontak menjadi amburadul dan macet-cet.

    Jakarta kini telah berubah wajah menjadi labyrinth yang seolah berniat menjebak warganya dgn keputus-asaan tak berujung. Pergi kemana-mana menjadi hal yg mengerikan,dan sdh harus siap dgn kemungkinan terburuk dijalan. Kena macet atau 'serempetan' dgn pengendara lain. Bagi yg menggunakan busway, saat ini sdh harus siap dgn antrian yang bertumpuk di terminal-terminal busway, gara-gara pengurangan jumlah perjalanan kereta api Jakarta-Bogor oleh Perumka.

    Apa kabar Pemda DKI dan Fauzi Bowo ? masihkan anda dengan pongah mengatakan bahwa anda adalah "Ahlinya Jakarta" ketika berkampanye dulu ? (jadi ingat sebuah kaleng rombeng yang saya lemparkan ke aspal, bunyinya sungguh nyaring dan mengganggu).

    Sebentar lagipun musin penghujan tiba, siklus banjir 5 tahunan datang menjelang. Kiamat apalagi yang bakal menghantui warga DKI ? moga-moga ini tidak menjadi mimpi buruk berikutnya bagi warga bantaran kali, warga kompelks perumahan yang menjadi langganan banjir tiap tahun dan warga pengguna jalan raya yang kembali akan tergenang, sehingga mematikan mesin motor, mesin mobil dan moda transportasi alternatif lain.

    So, selamat siang Jakarta, anda memang bikin kangen ...!!!