Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari minertrue

minertrue

laki-laki - 28 tahun, ternate, Indonesia
150 pengunjung

Blog / proposal kerja praktek

Senin, 28 Juni 2010 jam 01:45

Study Pengaruh Struktur Geologi Terhadap Pembentukan Endapan Nikel Laterit Pada PT. Weda Bay Nickel, Kecamatan Weda
Kabupaten Halmahera Tengah
Provinsi Maluku Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Industri pertambangan bersifat jangka panjang, padat modal dan mempunyai resiko yang tinggi. Diperlukan waktu bertahun-tahun dan modal yang besar untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi situs tambang baru serta untuk membangun pabrik. Biaya yang telah dikeluarkan untuk program eksplorasi, yang dikenal dengan “Risk Capital”, mungkin juga tidak mendatangkan imbal-hasil berhubung tidak ada kepastian bahwa program tersebut akan berhasil menemukan deposit yang secara ekonomis dapat ditambang. Sementara itu diperlukan waktu dua hingga tiga tahun untuk membangun pabrik dan hal itu pun masih dapat tertunda berhubung adanya kemungkinan gangguan atau cost overruns yang cukup sering terjadi di industri ini.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa usaha pertambangan pada dasarnya penuh dengan resiko. Resiko tersebut bertambah besar bila usaha tambang tersebut dijalankan di negara berkembang seperti indonesia dimana banyak terjadi perubahan secara fundamental dalam bidang ekonomi dan politik. Resiko-resiko yang secara terus menerus terjadi di industri pertambangan dan dapat mempengaruhi iklim investasi pertambangan berupa fluktuasi nilai tukar mata uang, ganguan operasional dan resiko yang berkaitan dengan lisensi dan perjanjian tambang dan juga akan adanya revisi terhadap undang-undang pertambangan.
Pada tahun 2007, terjadi peningkatan permintaan pasar terhadap bijih nikel. Tingginya permintaan terhadap bijih nikel ini datangnya dari pasar internasional seperti China, India, Jepang dan Eropa timur. Hal inilah yang melatar belakang salah satu perusahan tambang swasta Indonesia yaitu PT. Weda Bay Nickel, melakukan penyelidikan umum terhadap endapan nikel laterit yang terdapat di Halmahera Tengah, yang gunanya untuk memulai usahanya di bidang pertambangan.
PT. Weda Bay Nickel adalah salah satu perusahan swasta yang beroperasi di Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Perusahan ini di percayakan untuk mengelola endapan bijih nikel laterit dengan izin Kontrak Karya. PT. Weda Bay Nickel diberikan waktu bertahun-tahun untuk melakukan kegiatan eksplorasi, kontruksi dan dilanjutkan dengan kegiatan produksi.
Saat ini PT. Weda Bay Nickel masih dalam tahap eksplorasi dan kontruksi. Kegiatan ekplorasi dilakukan untuk mengetahui bentuk penyebaran biji nikel dan kegiatan kontruksi dilakukan dengan membangun perkantoran, perumahan staf dan karyawan, jalan, laboratorium dan fasilitas penunjang kegiatan pertambangan yang lain, kemudian dilanjutkan dengan pembanguan pabrik. Kegiatan eksplorasi lebih difokuskan agar cepat terselesaikan dan dilanjutkan dengan kegiatan yang lain seperti kontruksi dan penambangan.
Atas dasar latar belakang inilah yang mendorong kami untuk melakukan kerja praktek (KP) dengan judul :
“ Pengaruh Struktur Geologi Terhadap Pembentukan Endapan Nikel Laterit PT. Weda Bay Nickel, Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara ”.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang menjadi konsentrasi dalam kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1. Bagimana mengetehui keadaan struktur geologi yang ada di daerah pada PT. Weda Bay Nickel.
2. Bagaimana mengetahui struktur geologi terhadap pengaruh endapan nickel laterite pada PT. Weda Bay Nickel.

1.3. Batasan Masalah
Kerja Praktek ini hanya dibatasi pada pengaruh struktur geologi terhadap pembentukkan endapan nickel laterite pada PT. Weda Bay Nickel.

1.4. Maksud Dan Tujuan Kerja Praktek
Maksud dalam melakukan kerja praktek, untuk mengetahui bagaimana pengaruh struktur geologi pada pembentukan endapan nikel laterit sebagai tahap awal dari kegiatan penyelidikan umum pada PT. Weda Bay Nickel adalah dalam rangka untuk memperoleh nilai yang termasuk dalam SKS, yang juga sebagai syarat untuk kelanjutan ke jenjang penilitian skripsi pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate.
1.5. Metode Penelitian
1.5.1 Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada PT. Weda Bay Nickel, dengan mengabungkan antara teori dan data-data lapangan.
Adapun langkah – langkah dalam pengambilan data adalah sebagai berikut :
a. Observasi Lapangan.
Observasi di lakukan dengan pengamatan secara langsung di lapangan.
b. Studi Literatur.
Studi literatur di lakukan dengan mencari bahan – bahan pustaka pada :
a. Perpustakaan.
b. Data Lapangan.
c. Pengumpulan Data.
Data yang di perlukan untuk menunjang kegiatan kerja praktek ini adalah :
1. Data Lapangan.
2. Dokumentasi Lapangan.
1.5.2 Teknik Pengolahan Data.
Pengolahan data di dasarkan pada data yang di ambil langsung dari lapangan dan data hasil analisis sampel pada laboratorium.

BAB II
TIJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah
Daerah tanjung Ulie adalah sebuah tanjung yang terletak diantara Desa Lelilef dan Desa Gamaf yang secara administratif termasuk dalam Kecamatan Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara. Untuk mencapai lokasi penelitian dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut:
Ternate-Tanjung Ulie
Ternate-Tanjung Ulie, Menggunakan pesawat udara Merpati Nusantara Air dengan waktu tempuh ± 15 dan rute penerbangan pada hari sabtu.
Ternate - Sofifi
Ternate – Sofifi, Dicapai dengan mengunakan transportasi laut (Speed Bout) dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit.
Sofifi – Weda
Sofifi – Weda, Dicapai dengan mengunakan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 6 jam.
Weda-Lelief (Tanjung Ulie)
Weda-Lelief (Tanjung Ulie), Menggunakan speed-bout atau long bout dengan waktu tempuh ± 1,5 jam. Alternatif lain bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua ke Desa Kobe kemudian dilanjutkan ke Desa Lelief (Tanjung Ulie) dengan waktu tempuh ± 2 jam.
Luas areal eksplorasi yang dikelola oleh PT. Weda Bay Nickel (WBN) adalah sebesar 54.000 Ha dengan 5 lokasi pertama oleh PT. Weda Bay Nickel adalah weda project, kemudian Pinto, Boki Makot, Sake West, dan Uni-uni (Tarzan).

2.2. Geografis Daerah Penilitian
Secara geografis wilayah Kuasa Karya (KK) Penyelidikan Umum PT. Weda Bay Nickel (WBN) terletak pada titik koordinat 000 28’ 46” Lintang Utara dan 1270 58’ 59” Bujur Timur.

Sumber : ( PT. Weda Bay Nickel 2000)
Gambar 2.1 Peta Lokasi Kerja Praktek
2.2.1 Topografi
Ciri khas yang menonjol pada daerah Weda project adalah topografi yang landai dan ditandai dengan kemiringan lereng yang curam dengan kemiringan lereng berkisar antara 40-45%. Daerah dataran hanya ditemukan pada beberapa tempat disepanjang daerah pesisir pantai, morfologinya berlereng curam merupakan cerminan batuan ultra basa yang menjadi batuan penyusun utama dari daerah ini. Daerah perbukitan merupakan daerah eksplorasi dengan ketinggian ± 400-500 meter, pada tiap daerah perbukitan terlihat adanya punggung utama yang kemudian dibatasi oleh lembah dan lereng dengan kedalaman yang bervariasi.

2.2.2 Vegetasi
Vegetasi pada daerah penelitian yang dijumpai adalah terdiri dari semak belukar dan pepohonan dengan ukuran besar hingga kecil, disamping itu juga terdapat tanaman dari perkebunan rakyat setempat mulai dari dataran pantai sampai dataran tinggi. Vegetasi yang ada dapat dibedakan menjadi dua vegetasi yang terdiri dari vegetasi pantai, dan vegetasi hutan. Vegetasi daerah pantai meliputi hutan bakau, pohon kelapa, ketapang dan cemara. Pohon kelapa cukup dominan dikawasan ini hanya pada tempat-tempat tertentu yang tidak memungkinkan dibudidayakan tanaman kelapa ditumbuhi pohon ketapang dan cemara. (Environment, 2005).

2.2.3 Iklim Dan Curah Hujan
Keadaan iklim daerah Tanjung Ulie pada dasarnya sama dengan keadaan iklim Indonesia pada umumnya dan daerah-daerah diwilayah propinsi khususnya, yaitu daerah yang beriklim tropis dengan suhu udara berkisar 300 C-450 C dan curah hujan rata-rata antara 84 mm – 937 mm/ tahun. Musim yang berlangsung setiap tahun dipengaruhi oleh keadaan angin yaitu musim utara dan musim selatan diselingi oleh musim pancaroba yang merupakan transisi antara kedua musim tersebut. Musim utara terjadi pada bulan Nopember hingga april, musim selatan terjadi pada bulan Mei hingga September. Sedangkan temperatur udara maksimum 3500 C dan minimum 300 C terjadi pada bulan Nopember dengan kelembaban rata-rata 70-95 % (Environment PT. Weda Bay Nickel 2006). Data curah hujan daerah tanjung ulie.
Tabel 2.1 Curah Hujan Dari Tahun 2009 – 2010 ( Dalam MM)
No Bulan 2005 2006 2007
( MM ) Hari Jam ( MM ) Hari Jam ( MM ) Hari Jam
1 January 256,50 15 21,75 212,00 15 32,75 160,15 14 33,00
2
February 346,90 13 30,00 149,50 14 37,00 274,65 14 33,00
3
Maret 422,90 21 39,25 130,00 14 52,75 302,17 14 39,50
4
April 432,00 19 48,70 150,80 18 26,00 408,85 20 52,25
5
Mey 275,75 13 44,00 146,50 16 31,00 137,07 12 24,50
6
Juny 226,20 12 47,50 270,30 10 46,50 513,30 22 94,75
7
July 325,10 23 106,90 287,70 28 102,75 29,75 3 10,25
8
Agustus 166,00 18 45,85 6 1 0,50 67,00 5 11,50
9
September 148,00 11 35,25 162,6 13 42,15 9,05 3 2,50
10
Oktober 252,00 12 36,50 118,05 5 9,50 60,38 6 9,75
11
November 311,00 14 38,25 239,3 13 27,45 227,70 14 14,00
12
Desember 128,50 19 60,15 173,60 10 13,50 101,30 9 9,00
Total
3.290,9
190 554,10 2.046,4 157 421,85 2.291,4 136 334
Sumber : ( PT. Weda Bay Nickel2010)

2.3. Kondisi Geologi
2.3.1 Geologi Regional Pulau Halmahera
Pulau Halmahera didominasi oleh batuan vulkanik dimana berjalannya waktu menjadi lingkungan batuan tertua, dibagian selatan tersingkap di pulau bacan juga pulau obi dan sekitarnya yaitu batuan metamorf skis kristalin berumur jura. Wilayah ini merupakan busur kepulauan sejak akhir paleogen, dimana batuan vulkanik berumur akhir dengan batuan kalastik sedimen karbonat yang diperkirakan merupakan aktivitas vulkanik pada lingkungan laut. (Pushehsrosvky, 1973).
Mandala tektonik Halmahera Timur (Gag, Gebe, Weda, dan Waigeo) dicirikan dengan batuan ultra basa, sedangkan Halmahera Barat (Morotai, Bacan dan Obi) oleh batuan gunung api. Zona perbatsan antara kedua mandala tersebut terisi oleh batuan formasi weda yang sangat terlipat dan tersesarkan, disebut garis meridian. Struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi weda berumur miosen tengah-pliosen awal. Sumbu lipatan berarah utara-selatan, timur laut-barat daya dan barat laut tenggara. Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik, umumnya berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara. (Silitonga, 1985).
Kegiatan tektonik kemungkinan dimulai pada kapur dan awal tersier, dicirikan oleh adanya komponen batu lempung berumur kapur dan batuan ultra basa didalam konglomerat yang membentuk formasi dorosagu. (Silitonga, 1985).
Akibat dari perkembangan tektonik tersebut, maka Maluku Utara dan (Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya) dikelompokkan menjadi tiga wilayah tektonik (R. Sukamto dkk, 1980 ; R. Sokamto dan Suhanda, 1977). Masing-masing wilayah ini berbeda dari segi fisiografi, kelompok batuan yang membentuknya, stratigrafi struktur dan perkembangan tektonik.

1. Mandala geologi Halmahera Timur-Waigeo
Wilayahnya meliputi : lengan timur laut dan tenggara pulua Halmahera. Cirri mandala ini adalah adanya batuan ofiolit yang telah mengalami imbrikasi dengan sedimen laut dalam berumur jura dan kapur (pra-tersier). Batuan kompleks ofiolit terdiri dari peridotit, gabro, diabas dan basal. Peridotit umumnya telah mengalami serpentinisasi sedang seluruh kelompok telah mengalami gesekan (sheared) dan breksiasi. Sediment laut dalam yang terletak di lengan timur Halmahera terdiri dari persilangan batu lanau dan serpih dengan interklasi (penyisipan) batu rijang radiolarit, gamping, dan batu pasir gampingan. Batuan ofiolit dan sediment laut dalam ini ditutupi oleh batuan sedimen kalstik dan karbonat berumur tersier yang juga telah mengalami imbrikasi dengan batuan ofiolit. Struktur batuan di wilayah ini menunjukkan pengaruh tektonik kopresional.
2. Mandala Geologi Halmahera Barat-Obi
Wilayahnya meliputi : Pulau Morotai dibagian utara, dan selatan Pulau Halmahera dan deretan pulau-pulau gunung api dibagian barat seperti pulau Bacan-pulau Obi dibagian selatan. Dicirikan oleh perkembangan ekstensif batuan gunung api karena sejak tersier awal merupakan busur gunung api.
Batuan gunung ini berumur oligosen-miosen tersebar luas diwilayah ini, berlangsung pada lingkungan laut yang secara bertahap melalui proses pengangkatan beralih ke lingkungan terestial. Batuan gunung api ini umumnya telah mengalami propilitisasi dan hancur, mengandung urat-urat kuarsa kecil (veinlets) silica dan karbonat, antara lain terdiri dari batu pasir, batu lempung, napal dan batu gamping.
3. Mandala Geologi Talaud-Tifore
Wilayah bagian barat ini sebagian besar terdiri dari pegunungan bawah laut seperti kepulauan Talaud di sulawesi utara dan pulau-pulau tifure di Maluku Utara, dicirikan oleh batuan ofiolit berumur paleogen yang berasosiasi dengan mélange dan ditutupi oleh pelapisan tebal sedimen klastik tufaan dan karbonat berumur miosen tengah-pliosen. Batuan di wilayah ini telah mengalami tektonik kompresional.

Sumber : ( PT. Weda Bay Neckel 2000)
Gambar 2.2 Peta Geologi Regional Daerah Halmahera

2.2.2 Geologi Daerah Penelitian
Mengenai adanya endapan nikel secara geologi dapat disebutkan bahwa pelapukan batuan ultra basa membentuk lapisan laterit yang menghasilkan residual serta pengkayaan nikel yang tidak mudah larut dan membentuk endapan nikel (Ni) dan Magnesium (Mg) dalam bentuk garnierite (Ni Mg)3 SiO2 Os (OH)4 pada lapisan saprolit terbentuk pula mineral himatit (Fe2 O3 ) pada lapisan laterit. Singkapan batuan ultra basa umumnya telah mengalami pelapukan berwarna kuning kecoklatan berbentuk hitam atau abu-abu putih dengan warna kehijauan pada bagian tepi atau pinggir. (Waheed ahmad, 2005).
Tampak pula batuan ultra basa pada penelitian ini telah mengalami proses serpentinisasi yang cukup kuat selain oleh keadaan morfologi. Pembentukan endapan bijih nikel laterit brecia sangat banyak pula terpengaruh oleh tektonik lempeng. Pelapukan batuan pada hakekatnya dipermudah karena adanya bagian yang lemah seperti perakahan, retakan, sesar dan sebagiannya. Pada lapangan terlihat bahwa banyak rekahan-rekahan kecil yang umumnya telah terisi oleh mineral-mineral sekunder (silica dan magnetit). (Ufi Maru’fianti, 2006).
Litologi endapan nikel didaerah ini hamper seluruhnya berasal dari pelapukan batuan ultra basa yang lebih dikenal dengan sebutan endapan bijih nikel laterit : harzburgit merupakan batuan asal penghasil nikel tersebut, secara umum disusun oleh mineral-mineral olivine dan ortopiroksine. Olivine itu sendiri mengandung nikel dalam jumlah kecil ± 0,25%, kemudian mengalami pengayaan hingga mencapai kadar bijih tertentu. Proses pelapukan pada batuan ultra mafik tersebut antara lain oleh pensesaran, perlipatan, dan pengkekaran yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dan berulang-ulang sehingga mineral penyusunnya mengalami desintegrasi dan dekomposisi. (Waheed Ahmad, 2005).

Stratigrafi daerah Weda project disusun oleh beberapa batuan diantaranya adalah batuan ultra basa dan batuan sediment kapur :
- Batuan Ultra Basa :
Dunit umumny aberwarna hijau tua franerik, granular eahedral dalam keadaan segar, dan mengandung olivine > 90% dan piroksin. Harzburgit : berwarna hijau tua, fanerik sedang, granular subhedral mengandung piroksin dan olivine.
- Batuan sedimen kapur
Berupa batu gamping berwarna putih kelabu dan merah, berbutir halus-sedang, mengandung banyak fosil dan plankton, menunjukkan umur kapur akhir dengan pengendapan laut dalam.

2.3. Genesa Endapan Bijih Nikel Sekunder
Proses terbentuknya endapan bijih nikel sekunder (laterit) dimulai dengan proses pelapukan pada batuan peridotit, dimana batuan ini banyak mengandung olivine, magnesium, silica dan besi. Batuan peridotit sangan midah terpengaruh oleh proses pelapukan dimana air tanah yang kaya akan CO2 yang berasal dari udara luar dan tumbuh-tumbuhan yang menghancurkan olivin, penguraian olivine, magnesium,besi, nikel dan silika kedalam larutan cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel silica yang submikroskopik, (Waheed Ahmad, 2005).

Di dalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Dimana air ini akan menghilangkan air dengan membentuk mineral-mineral seperti karat yaitu geothit (FeO (OH), hematite (Fe2 O3) dan cobalt dalam jumlah kecil. Jadi besi oksida mengendap dekat dengan permukaan air tanah . sedangkan magnesium, nikel, silica tertinggal didalam larutan selama air tanah asam, tetapi jika dinetralisasi karena reaksi dengan batuan dan tanah muka zat-zat tersebut cenderung mengendap sebagai hidrosilikat.
Adanya erosi air tanah dan erosi dipermukaan bumi akan menyerang mineral-mineral yang telah diendapkan, zat-zat tersebut tertransport ketempat yang lebih dalam, selanjutnya diendapkan sehingga terjadi pengayaan pada bijih nikel. Endapan nikel pada saat teredpkan akan semakin bertambah banyak, dan selama itu magnesium tersebar pada permukaan air tanah. Endapan nikel laterit terdapat pada lapisan bumi yang kaya akan besi, dimana pembagian yang sempurna dari besi dan nikel kedalam zona-zona yang berbeda dan tidak pernah ada.
Pengayaan besi dan nikel terjadi melalui pemindahan magnesium silikat, dimana besi dan material ini paling banyak berbentuk mineral ferrioksida yang pada umumnya berbentuk gumpalan yang disebut limonit. Endapan nikel dapat ditunjukkan dengan adanya jenis limonit tersebut atau sebagai nikel ferrous iron ore. Hal ini berlawanan dengan nikel tipe silica (kadang-kadang disebut sebagai bijih serpentin).

2.4. Proses Terbentuknya Endapan Bijih Nikel
Pembentukan endapan bijih nikel terjadi karena proses pelapukan kimia dan pengayaan batuan ultra basa atau endapan molaca (rombakan batuan ultra basa) proses pelapukan dan pengayaan mengakibatkan kadar aluminium dan kalsium mengalami pengurangan. Sebaliknya kadar unsure besi, kromium, nikel dan cobalt meningkat. Unsur nikel melarut selama proses pelapukan dan pengayaan, kemudian mengisi rekahan, celah atau bidang lemah batuan induk yang membentuk mineral hidrosilikat yaitu garnierite dan krisopras, proses selanjutnya adalah pengendapan pada daerah-daerah cebakan mineral. (Rab. Sukamto, 1981).
Endapan bijih nikel yang terdapat pada daerah penelitian termasuk jenis nikel laterit, yang terdiri dari hasil pelapukan batuan ultra basa. Pembentukan nikel laterit umumnya langsung mengalami proses serpentinisasi oleh larutan hidrotermal atau larutan residual pada waktu proses pembekuan magma.

2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Nikel
1. Batuan Asal
Dalam hal ini yang mendominasi batuan asal pembentukan nikel adalah batuan ultra basa karena :
a. Mempunyai elemen Ni yang paling banyak dianatara batuan-batuan lain.
b. Mineral-mineralnya mudah lapuk.
c. Komponen-komponennya mudah larut dan memberi lingkungan pengendapan yang baik untuk endapan nikel.
Batuan asal yang merupakan syarat utama terbentuknya endapan bijih nikel adalah peridotit yaitu yang termasuk batuan ultra basa dengan kadar (Ni) kecil dari 0,2%. Batuan asal ini mengandung unsur-unsur Ca, Mg, Fe, Si, Al, Cr, Mo, Ni, dan Co yang kemudian mengalami perubahan bentuk dan struktur kimia sebagai akibat dari pelapukan mekania dan kimiawi, yang mana kandungan nikelnya akan terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu dan membentuk endapan nikel. Menurut Bolt (1997), kandungan yang terdapat pada batuan peridotit adalah seperti pada tabel berikut :

2. Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim hujan dimana terjadinya kenaikan dan penurunan muka air tanah yang menyebabkan proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperature yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanik, dimana akan timbul rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia terutama dekomposisi batuan.
3. Vegetasi
Didalam pembentukan endapan bijih nikel, factor yang akan menjadi percepatan proses pelapukan adalah factor vegetasi. Dalam hal ini dapat mengakibatkan penetrasi air lebih banyak dan lebih mudah dengan mengikuti jalur-jalur akar pohon, akumulasi hujan lebih banyak dan humus akan lebih tebal.
Keadaan ini akan menjadi petunjuk dimana hutan lebat pada lingkungan baik terdapat endapan bijih nikel tebal dan kadar yang lebih tinggi. Selain itu vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap terjadinya erosi.
4. Struktur
Struktur geologi dapat menyebabkan deformasi batuan yang erat kaitannya dengan pembentukan endapan bijih nikel. Struktur geologi yang berpengaruh diantaranya adalah struktur rekahan-rekahan (Joint) dan struktur patahan (Faults). Seperti diketahui bahwa batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang rendah, maka adanya rekahan-rekahan akan mempermudah masuknya air, sehingga proses pelapukan akan semakin intensif.

5. Topografi
Untuk daerah lantai air permukaan akan bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi endapan nikel umumnya terjadi pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan tertentu, sehingga hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
6. Waktu
Dalam proses pelapukan faktor yang sangat penting, transportasi dan konsentrasi endapan dari suatu tempat. Untuk itu dalam pembentukan endapan bijih nikel silikat ini membutuhkan jangka waktu yang relatif panjang. Apabila waktu dari proses pelapukan terlalu mudah, transportasi dan konsentrasi berlangsung cepat maka endapan yang terbentuk cenderung tipis.

2.6 Penyebaran Endapan Bijih Nikel
Secara umum penyebaran endapan bijih nikel laterit terdapat pada pegunungan dan lereng-lereng bukit dengan kemiringan yang landai sampai sedang (100-200), tetapi umumnya endapan terkaya terdapat pada punggung bukit dengan kemiringan tidak terlalu landai dan tidak terlalu curam ± 150.

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1. PENGERTIAN GEOLOGI
Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan Logos yang artinya ilmu, Jadi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi. Secara umum Geologi adalah ilmu yang mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan sejarahnya.
Karena Bumi tersusun oleh batuan, pengetahuan mengenai komposisi, pembentukan, dan sejarahnya merupakan hal utama dalam memahami sejarah bumi. Dengan kata lain batuan merupakan objek utama yang dipelajari dalam geologi.

3.2. RUANG LINGKUP GEOLOGI
Secara keseluruhan bumi ini terdiri dari beberapa lapisan yaitu :
1. Atmosfer, yaitu lapisan udara yang menyelubungi Bumi
2. Hidrosfe


Komentar

Kamu harus login untuk memposting komentar. Saya belum mempunyai account, daftar sekarang!
Rating kamu: 0
rating: 4,0 (1 suara)