Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari lantip

lantip

laki-laki - 39 tahun, Jakarta Pusat, Indonesia
301 pengunjung

Blog 41


  • Profile JawaTengah

    [right]GAMELAN JAWA
    Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut)"Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan, hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.

    WAYANG KULIT

    Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme.
    Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

    TARIAN JAWA

    Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.
    Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia) (Soedarsono, 1990). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.

    KERIS JAWA

    Keris dikalangan masyarakat di jawa dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “ dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. Di kalender masyarakat jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton merupakan kepercayaan terbesar pada hari satu sura.
    Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu. Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

    KETOPRAK

    Ketoprak kalebu salah sawijining kesenian rakyat ing Jawa tengah, ananging ugo bisa tinemu ing Jawa sisih Wetan (Jawa Timur ).Ketoprak wis nyawiji dadi budaya masyarakat Jawa tengah lan biso ngasorake kesenian liyane ,umpamane Srandul, Emprak lan sakliyane. Ketoprak wiwit bebukane awujud dedolanan para priyo ing dusun kang lagi nganaake lelipur sinambi nabuh lesung kanthi irama ana ing waktu wulan purnama ndadari , kasebut Gejog. Ana ing tembe kaering tembang bebarengan ing kampung /dusun kanggo lelipur . Sak teruse ana tambahan gendang, terbang lan suling, mula wiwit saka iku kasebut Ketoprak Lesung, kira-kira kadadeyan ing tahun 1887. Sak banjure ana ing tahun 1909 wiwitan dianaake pagelaran Ketoprak kanthi paripurna/lengkap.
    Pagelaran Ketoprak wiwitan kang resmi ing ngarsane masyaraket/umum, yokuwi Ketoprak Wreksotomo, dipandegani dening Ki Wisangkoro, sing mandegani kabeh para pria. Carita kang dipagelarake yoiku : Warso - Warsi, Kendono Gendini, Darmo - Darmi, dlan sapanunggalane.
    Sak wise iku pagelaran Ketoprak sang soyo suwe dadi lan apike lan dadi klangenane masyarakat, utamane ing tlatah Yogyakarta. Ing kadadeyan sak wise Pagelaran Ketoprak dadi pepak anggone carita lan ugo kaering gamelan . Anane gegayutan karo pagelaran "teater" para narapraja ,

    B A T I K

    (Batik of Central Java) Salah satu jenis produk sandang yang berkembang pesat di Jawa tengah sejak beberapa dekade, bahkan beberapa abad yang lalu, adalah kerajinan batik. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal batik baik dalam coraknya yang tradisional maupun yang modern. Pada umumnya batik digunakan untuk kain jarik, kemeja, sprey, taplak meja, dan busana wanita. Mengingat bahwa jenis produk ini amat dipengaruhi oleh selera konsumen dan perubahan waktu maupun model, maka perkembangan industri batik di Jawa Tengah juga mengalami perkembangan yang cepat baik menyangkut rancangan, penampilan, corak dan kegunaannya, disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri.

    Batik tradisonal secara historis berasal dari zaman nenek moyang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik di Jawa Tengah mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

    Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.

    Secara prinsip, terdapat 11 tahapan yang umumnya dilalui dalam pembuatan batik tradisional, yakni: nggirah, nganji, nyimpong, njereng, nerusi, nembok, medel, mbironi, nyoga, dan glorod.

    Sentra produksi batik di Jawa Tengah banyak dijumpai di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Surakarta, dan Kabupaten Sragen. Dari sisi permintaan dan keunikan produk, peluang usaha di bidang industri batik masih terbuka luas dan sangat menguntungkan. Pemasaran batik selain untuk konsumsi lokal juga telah menembus pasar Eropa dan Amerika.

    MEBEL UKIR

    Salah satu produk kayu olahan yang pertumbuhannya amat pesat dalam beberapa dekade terakhir ini adalah produk mebel dan furniture. Berawal dari pekerjaan rumah tangga, produk mebel kini telah menjadi industri yang cukup besar dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terdidik yang tidak sedikit. Produk jenis ini secara prinsip dibagi dalam dua kategori yaitu mebel untuk taman (garden) dan interior dalam rumah (indoor).

    Mebel dari Jawa Tengah ( furniture from Central Java )sudah terkenal sejak lama baik karena kualitas, seni maupun harganya yang kompetitif. Banyak konsumen baik dalam maupun luar negeri yang memesan furniture antik, yang walaupun dibuat baru, namun diproses seolah-olah merupakan produk kuno (antik). Ada pula produk furniture yang dibuat dari bonggol (tonggak) pohon yang dengan sentuhan-sentuhan seni berubah menjadi produk furniture yang sangat menarik dan memiliki nilai jual tinggi. Sedangkan corak dan gaya fungsional dan modern juga berkembang pesat bersamaan meningkatnya permintaan untuk kebutuhan perkantoran dan hotel yang pembangunannya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, baik di dalam maupun luar negeri.

    Produk furniture, khususnya ukiran dikembangkan oleh para pengrajin Jawa Tengah berdasarkan keterampilan mengukir yang diwariskan oleh para leluhurnya. Disamping itu, di Kota Semarang terdapat sekolah kejuruan yang mengkhususkan diri di bidang design dan teknik perkayuan (PIKA) yang menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian tinggi. Para luklusan PIKA tersebut telah ikut menjadi tulang punggung industri permebelan di Jawa Tengah hingga mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya saing tinggi yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

    Produksi mebel Jawa Tengah berkembang dan tumbuh pesat seiring dengan permintaan yang meningkat dari dalam maupun luar negeri, baik desain, konstruksi, corak maupun pewarnaannya. Sebagian bahannya terbuat dari kayu, dan saat ini makin bervariasi karena bahan bakunya tidak lagi semata-mata kayu jati tetapi juga mulai banyak menggunakan kayu mahoni dan jenis lainnya, serta bahan logam.

    Sentra-sentra produksi mebel di Jawa Tengah tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, Batang, Sragen. Investasi di produk ini masih terbuka dengan persaingan yang cukup ketat.

    R O K O K

    Rokok sigaret kretek merupakan salah satu produk Jawa Tengah yang cukup dikenal luas. terdapat berbagai tipe dan merk rokok sigaret kretek yang dihasilkan, baik oleh pengusaha yang dikategorikan sebagai K-1000 (memproduksi rokok di bawah 1000 batang per hari) hingga yang merupakan pabrikan modern dan besar seperti Jarum, Jambu Bol, Sukun, Tapel Kuda, dan lain-lain.

    Rokok sigaret kretek merupakan slaah satu jenis produk rokok yang dihasilkan melalui proses pencampuran antara rajangan tembakau, cengkeh, dan diolah dengan campuran aroma tertentu yang menimbulkan rasa dan kenikmatan khas. beberapa jenis rokok K-1000 menambahkan bahan baku lain seperti kemenyan dan dibungkus dengan daun tertentu. Bahan baku utama yaitu tembakau umumnya berasal dari Jawa Tengah sendiri yakni dari Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Kendal, Boyolali, dan Batang.

    Sentra produksi rokok tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Surakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Karanganyar. Sedangkan pasarnya tidak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri, khususnya ASEAN.

    Penghargaan Pengembangan Agribisnis Peternakan Tingkat Nasional 2005

    Prestasi Jawa Tengah Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2004

    1. Piala Adibakti Tani Th.2004 kepada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Surakarta
    2. Penghargaan Pengembangan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 3 tahun berturut-turut kepada Gubernur Jateng
    3. Penghargaan Ketahanan Pangan kategori Pembina Ketahanan Pangan Kabupaten tahun 2004 kepada Bupati Sragen
    4. Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional tahun 2004 kepada Tim Penggerak PKK Desa Karang Klesem, Kutasari, Purbalingga dan Kelompok Lumbung Pangan Mardi Makmur Desa Kalimandi Kec. Purworejo, Banjarnegara
    5. Penghargaan Pengembangan Pangan Lokal dan Makanan Tradisi Tingkat Nasional

    Prestasi Jawa Tengah Bidang Perkebunan Tingkat Nasional Tahun 2004

    1. H.Kusnandi, Ketua Kelompok Tani Reksajaya Desa Padurasa Kec. Pemalang Kab. Pemalang sebagai Juara I Lomba Kelompok Tani Aksel dan Penggunaan Varietas Unggul Tebu
    2. H.Munawar, Ketua Kelompok Tani Kayumanis Desa Krengseng Kec. Gringsing Kab. Batang sebagai penerima Satyalencana Wirakarya
    3. Juara II Stand Nasional Teknologi Tepat Guna dengan menampilkan Pengembangan Teknologi Sonic Bloom
    4. Ketua Kelompok Tani Harapan Makmur Desa Ciwalen Kec. Dayeuh Luhur Kab. Cilacap sebagai penerima penghargaan atas peran yang menonjol pada pengembangan karet rakyat

    Prestasi di tingkat nasional pada tahun 2003 di sub bidang peternakan di Jawa Tengah berhasil meraih :

    1. Juara Umum Pengembangan Agribisnis Peternakan Tingkat Nasional Tahun 2003.
    2. Juara I Nasional Kelompok Tani Ternak (KTT) Sapi Potong.
    3. Juara I Nasional KTT Domba.
    4. Peringkat II Dokter Hewan Terbaik POSKESWAN Tingkat Nasional Tahun 2003.

    Prestasi di tingkat nasional pada tahun 2003 di sub bidang perikanan dan kelautan di Jawa Tengah berhasil meraih Juara I Tingkat Nasional untuk beberapa kegiatan antara lain :

    1. Intensifikasi Budidaya Udang.
    2. Usaha Perbenihan Rakyat.
    3. Kinerja Pembudidayaan Pecinta Lingkungan.
    4. Optimalisasi Usaha Penangkapan Ikan.
    5. Optimalisasi Usaha Penyelenggaraan Pelelangan Ikan.
    6. Optimalisasi Usaha Pemasaran Hasil Perikanan.

    Prestasi Nasional tahun 2002, untuk kategori-kategori sebagai berikut :
    Kelompok Tani / Gabungan kelompok tani, Perorangan dan Perusahaan / Dunia Usaha

    1. Kelompok Tani / Gabungan Kelompok Tani Amanah Tani, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah.
    2. Kelompok Petani Kecil (KPK) KPK Arum Sari I, Kabupaten Pati Propinsi Jawa Tengah

    3. Kelompok Tani Kedelai Kelompok Tani Bangau II, Kabupaten Kudus Propinsi Jawa Tengah

    4. Kelompok Tanaman Sayuran (kategori perorangan) H. Siyad, Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah.
    5. Agribisnis Ternak Kelompok Tani Makmur Satu, Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah

    6. Lomba Tambak Pemenang I Kelompok Tani Sumber Mulyo, Kabupaten Pati.

    7. Optimalisasi tempat Pelelangan Ikan ( OPTILANPI ) Pemenang I PPI Bajomulyo Kabupaten Pati

    Prestasi Internasional
    Juara I MTQ Internasional Kualalumpur, Wafiq Azizah

    SEJARAH SINGKAT

    HARI JADI PROPINSI JAWA TENGAH

    I. SEJARAH PERKEMBANGAN PROPINSI JAWA TENGAH

    Sebagai suatu Propinsi, Jawa Tengah sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda didasarkan pada peraturan-peraturan yang berlaku pada saat itu.

    A. Jaman Penjajahan Belanda

    Berdasarkan Wet houdende decentralisatie van het Bestuur in Nederland -Indie (Decentralisatie Wet 1903), maka pemerintahai di Jawa dan Madura terbagi atas Gewest (Karesidenan), Afdeeling/Regentschap (Kabupaten), District / Standgeemente (Kotapraja), dan Oderdistrict(Kecamatan).

    B. Jaman Pendudukan Jepang

    Pada masa pendudukannya, Jepang mengadakan perubahan Tata Pemerintahan Daerah yaltu Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1942 (Tahun Jepang 2062) yang menetapkan bahwa seluruh Jawa kecuali Vorstenkendeh (Kerajaan-kerajaan) terbagi dalam wilayah Syuu (Karesidenan), Si (Kotapraja), Ken (Kabupaten), Gun (Distrik), Son ConderDistrikdan Ku(Kelurahan)

    C. Setelah Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

    Berdasarkan Pasal 18 UUD 1945, diterbitkan UU No. 10 Tahun 1950 yang menetapkan Pembentukan Propinsi Jawa Tengah. Sesual dengan PP No. 31 Tahun 1950, UU No.10 Tahun 1950, dinyatakan berlaku pada tanggal 15 Agustus 1950.

    Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tenciab Nomor 7 Tahun 2004 ditetapkan Hari Jadi Propinsi Jawa Tengah tanggal l5 Agustus 1950.

    II. PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN PROPINSI JAWA TENGAH

    A. UU Pengaturan Pemerintah Daerah

    Sejak merdeka hingga sekarang peraturan per Undang-Undangan yang mengatur tentang system Pemerintah Daerah adalah :

    1. UU No. 1 Tahun 1945, dengan prinsip otonomi berdasarkan kedaulatan rakyat;

    2. UU No. 22 Tahun 1945, dengan prinsip otonomi sebanyak banyaknya;

    3. UU No. 1 Tahun 1957, dengan prinsip otonomi yang riil dan seluas-luasnya;

    4. PenPres No. 6 Tahun 1959;

    5. UU No. 18 Tahun 1965, dengan prinsip otonomi yang riil dan seluas-luasnya.

    6. UU No. No. 5 Tahun 1974, dengan prinsip otonomi nyata dan bertanggungjawab;

    7. UU No. 22 Tahun 1999, dengan prinsip otonomi seluas-luasnya, nyata dan bertangungjawab;

    8. UU No. 32 Tahun 2004, dengan prinsip otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab.

    B. Kepala Pemerintahan:

    Sejak merdeka sampai dengan sekarang, Jawa Tengah dipimpin oleh 12 (dua belas) Kepala Pemerintahan yaitu :

    1. R. Pandji Soeroso, pada Tahun 1945;

    2. KRT Mr Wongsonegoro, Tahun 1945 s/d 1949;

    3. R. Boedijono, Tahun 1949 s/d 1954;

    4. RMT. Mangunnegoro, Tahun 1954s/d 1958;

    5. R. Soekardji Mangoen Koesoemo, Tahun 1958 s/d 1960;

    6. RM Hadisoebeno Sosrowerdojo, Tahun 1958 s/d 1960;

    7. Mochtar, Tahun 1960 s/d 1966;

    8. Moenadi, Tahun 1966 s/d 1974;

    9. Soepardjo Rustam, Tahun 1974 s/d 1983;

    10. H.M. Ismail, Tahun 1983 s/d 1993;

    11. H. Soewardi, Tahun 1993 s/d 1998;

    12. H. Mardiyanto, Tahun 1998 sampai sekarang.

    C. Ketua DPRD Propinsi Jawa Tengah;

    Sejak Pemilu Tahun 1955 sampai sekarang DPRD Propinsi Jawa Tengah dipimpin 8 orang, yaitu :

    1. H. Imam Sofwan, Tahun 1955 s/d 1971;

    2. Parwoto, Tahun 1971 s/d 1977;

    3. H. Widarto, Tahun 1977 s/d 1982;

    4. Ir. H. Soekorahardjo, Tahun 1982 s/d 1992;

    5. Drs. H. Soeparto Tjitrodihardjo, Tahun 1992 s/d 1997;

    6. Alip Pandoyo Tahun 1997 s/d 1999;

    7. Mardijo, Tahun 1999 s/d 2004;

    8. H. Murdoko SH, Tahun 2004 s/d sekarang.

    PROFIL JAWA TENGAH

    Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674. Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Rorojonggrang atau Candi Prambanan. Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candi seperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll.

    Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.

    Di pertengahan abad 16 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia dalam usaha mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada saat yang sama, bangsa Inggris dan kemudian bangsa Belanda datang ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi.

    Di awal abad 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, setelah beliau wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin memilih/menunjuk raja baru. Perselisihan bertambah keruh setelah adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755. Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta.
    Sampai sekarang daerah Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950.

    Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Letaknya 5o40' dan 8o30' Lintang Selatan dan antara 108o30' dan 111o30' Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa).

    Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas Indonesia). Luas yang ada terdiri dari 1,00 juta hektar (30,80 persen) lahan sawah dan 2,25 juta hektar (69,20 persen) bukan lahan sawah.

    Menurut penggunaannya, luas lahan sawah terbesar berpengairan teknis (38,26 persen), selainnya berpengairan setengah teknis, tadah hujan dan lain-lain. Dengan teknik irigasi yang baik, potensi lahan sawah yang dapat ditanami padi lebih dari dua kali sebesar 69,56 persen.

    Berikutnya lahan kering yang dipakai untuk tegalan/kebun/ladang/huma sebesar 34,36 persen dari total bukan lahan sawah. Persentase tersebut merupakan yang terbesar, dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain.

    Menurut Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18oC sampai 28oC. Tempat-tempat yang letaknya dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Sementara itu, suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 Cm), berkisar antara 17oC sampai 35oC. Rata-rata suhu air berkisar antara 21oC sampai 28oC. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 73 persen samapai 94 persen. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.990 mm, dengan hari hujan 195 hari.

    Propinsi Jawa Tengah dibagi kedalam beberapa Wilayah Administrasi, meliputi :

    Wilayah Jumlah
    Kabupaten 29
    Kota 6
    Kecamatan 565
    Kelurahan 764
    Desa 7.804

    Perdagangan

    1.Pasar

    Pasar berfungsi sebagai tempat yang penting dalam penyaluran barang.Sesuai dengan perkembangan pembangunan,saatini banyak hadir pusat perbelanjaan modern,dimana konsumen bisa berbelanja lebih efisien.Di Jawa Tengah tahun 2007 tercatat sebanyak 2.012 unit pasar tradisional, department store 45 unit ,pasar swalayan 372 unit dan 36 pusat perbelanjaan.

    2. Perusahaan

    Pada tahun 2007 menurut Dinas Perdagangan,jumlah Surat Ijin Usaha Perdagangan ( SIUP) menurut skala usaha tercatat 258.815 perusahaan.Pada keadaan yang sama,jumlah perusahaan yang mendapat Tanda Daftar Perusahaan (TDP)naik 1.317,92 persen dari 21.853 perusahaan pada tahun 2006 menjadi 303.859 perusahaan pada tahun 2006.
    Berikutnya untuk jumlah anggota Kadinda tahun 2006 ( Kwalifikasi B,M,K1,K2,GEl ) sebanyak 875 perusahaan.Dari jumlah tersebut terbagi kedalam perusahaan kualifikasi B ( nilai pekerjaan diatas 1 milyar rupiah ) sebanyak 47 perusahaan,kualifikasi M (nilai pekerjaan diatas 500 juta sampai 1 milyar rupiah ) sebanyak 86 perusahaan,K1 ( nilai pekerjaan diatas 200 juta sampai 500 juta rupiah ) sebanyak 0 perusahaan dan K2 (nilai pekerjaan diatas 15 juta sampai 200 juta rupiah )
    sebanyak 742 perusahaan

    3. Perdagangan

    Pelaksanaan operasi pasar komoditi beras yang dilakukan oleh Dolog,bertujuan untuk memberikan jaminan harga yang layak kepada petani produsen,sehingga dapat meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani. Penyaluran beras pada tahun 2007 mencapai 362 ribu ton atau meningkat sekitar 11,55 persen dari tahun anggaran sebelumnya ( 325 ribu ton )
    Sementara itu,untuk realisasi pengadaan beras melalui Dolog Jawa Tengah pada tahun 2007 mencapai 332,77 ribu Ton ,lebih rendah dari yang direncanakan semula ( 325 ribu ton ).

    4. Expor

    Perolehan devisa sektor minyak dan gas ( migas ) yang cenderung menurun ,telah memacu sektor non migas untuk berkembang.Hal tersebut ditunjukkan oleh besarnya nilai ekspor Jawa Tengah pada tahun 2007 yang mencapai 3,5 milyar dolar Amerika,terdiri dari ekspor migas sebesar 347,2 juta dolar Amerika ( 10,01 persen ) dan ekspor non migas sebesar 3.122,5 juta dolar Amerika ( 89,99 persen ). Jika dibandingkan tahun sebelumnya nilai ekspor Jawa Tengah mengalami peningkatan sebesar 11,39 persen.

    5. Impor

    Realisasi nilai impor Jawa Tengah tahun 2007 mencapai 7,0 milyar dolar Amerika.Nilai impor tersebut mengalami peningkatan sebesar 11,81 persen dari tahun 2006 ( Januari-desember ) dari data yang ada tampak bahwa nilai impor selama 5 tahun ( 2003-2007 ) masih cenderung lebih tinggi dibanding nilai ekspor,padahal yang diharapkan akan berlaku sebaliknya sehingga akan memperbesar penerimaan devisa.

    6. Koperasi

    Koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia fungsinya semakin diperhatikan dalam berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Usaha usaha yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Jawa Tengah antara lain,melakukan pemberian bantuan modal kepada koperasi dan pengusaha kecil dalam bentuk pinjaman ,pembinaan koperasi di daerah pedesaan / perkotaan,pembentukan Forum Koordinasi Pembinaan Koperasi dan Pengusaha Kecil (FKPPK )
    Sampai dengan Juni 2008 terdapat 17.508 unit koperasi di Jawa Tengah dengan jumlah anggota seluruhnya sekitar 4,14 juta orang. Total aset,volume usaha serta sisa hasil usaha,secara umum meningkat.

    PERINDUSTRIAN,PERTAMBANGAN,ENERGI DAN KONSTRUKSI

    1. Perindustrian

    Pembangunan di sektor industri merupakan prioritas utama pembangunan ekonomi tanpa mengabaikan pembangunan di sektor lain. Sektor industri dibadakan menjadi besar dan sedang serta industri kecil dan rumah tangga. Difinisi yang digunakan BPS,industri besar adalah perusahaan yang mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih, industri sedang adalah perusahaan dengan tenaga kerja 20 orang sampai dengan 99 orang, industri kecil dan rumah tangga, adalah perusahaan dengan tenaga kerja 5 orang sampai dengan 19 orang , dan industri rumah tangga adalah perusahaan dengan tenaga kerja 1 orang sampai dengan 4 orang.
    Perusahaan industri besar dan sedang di Jawa Tengah pada tahun 2005 tercatat sebesar 3.544 unit perusahaan dengan 620,58 ribu orang tenaga kerja. Berarti, dari tahun sebelumnya jumlah perusahaan industri besar dan sedang naik 1,96 persen dan jumlah tenaga kerja naik 11,82 persen.
    Pada tahun yang sama, nilai output industri besar dan sedang mencapai 65,35 triliun rupiah, lebih tinggi 2,27 persen dari nilai output tahun 2004. Nilai tambah brito ( NTB ) atas dasar harga pasar turun, dari 24,55 triliun rupiah pada tahun 2004 menjadi 21,71 triliun rupiah pada tahun 2005.
    Nilai tambah bruto terbesar dihasilkan oleh industri kecil ( 17 ) yaitu senilai 4,40 triliun rupiah dan memperkerjakan sekitar 172,15ribu orang. Nilai tambah terbesar ke dua dihasilkan oleh industri pengolahan tembakau ( 16 ) dengan NTB sebesar 3,75 triliun rupiah dan menyerap tenaga kerja sebanyak 88,83 ribu orang.Industri pengolahan daur ulang ( 37 ) merupakan sub sektor industri dengan NTB terkecil, yakni 0,86 milyar rupian.
    Menurut Dinas Perindustria dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, terdapat 644,14 ribu perusahan industri kecil dan menengah pada tahun 2007 atau meningkat relatif kecil ( 0,02 persen ) dibandingkan jumlah perusahaan tahun sebelumnya. Jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 2,70 juta orang. Nilai produksi indusri kecil dan menengah pada tahun yang sama mencapai 5.463,4 milyar rupiah atau meningkat 0,84 persen dari tahun sebelumnya
    Total nilai investasi industri kecil dan menengah yang ditanamkan di Jawa Tengah tahun 2007 sebesar 1.486,5 milyar rupiah atau naik sekitar 5,46 persen dibandingkan dengan tahun 2006.

    2. Pertambangan

    Sektor pertambangan dengan kandungan sumber tambang yang cukup melimpah belum seluruhnya dapat digali maupun ditambangkan.Barang tambang seperti emas, tembaga, andesit, pasir besi dan barang tambang lainnya baru sedikit yang diusahakan. Dinas Pertambangan Provinsi Jawa Tengah terus berupaya mengadakan explorasi dan exploitasi, utamanya bahan galian golongan C ( pasir dan kerikil,pasir urug batu kapur,tanah liat tanah urug, andesir dan lainnya ). Produksi bahan galian golongan A B C tahun 2007 sementara mencapai 17.060,5 ribu Meter kubik dengan tenaga kerja 3.754 orang.

    3. Energi

    Kebutuhan energi listrik, akan terus meningkat sejalan dengan roda perekonomian daerah.Sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di perdesaan, pemerintah telah mengupayakan program listrik masuk desa, sehingga sampai tahun 2007 terdapat 7.746 desa sudah beraliran listrik PT PLN ( Persero ) sebagai sumber energinya,dengan jumlah pelangan 3,62 juta pelanggan.
    Jumlah energi listrik yang terjual selama tahun 2007 sebesar 12,02 milyar kwh atau menngkat 8,67 persen dibandingkan dari tahun sebelumnya.Energi listrik tersebut sebagian besar dimanfaatkan oleh rumah tangga (93,99 persen ), berikutnya untuk usaha ( 2,93 persen ), selebihnya untuk industri, kantor pemerintah, penerangan jalan dan sosial.

    Hotel Dan Pariwisata

    1. Hotel

    Pengembangan kepariwisataan saat ini makin penting,tidak saja dalam rangka meningkatkan penerimaan defisa negara,akan tetapi juga dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan.
    Pada tahun 2007,banyaknya usaha akomodasi di Jawa Tengah sebanyak 1.236 usaha dengan jumlah kamar sebanyak 25.951 kamar. Diantara usaha akomodasi tersebut,102 usaha atau 8,25 persennya merupakan hotel-hotel yang diklasifikasikan sebagai hotel berbintang dengan jumlah kamar sebanyak 6.263 kamar. Semantara itu,jumlah usaha akomodasi lainnya tercatat sebanyak 1.134 usaha dengan jumlah kamar sebanyak 19.688 kamar.
    Banyaknya malam tempat tidur yang tersedia untuk seluruh usaha akomodasi sekitar 19,20 juta malam tempat tidur,dengan rincian sekitar 4,33 juta malam tempat tidur (22,53 persen) tersedia pada hotel-hotel berbintang,sedangkan sekitar 14,88 juta malam tempat tidur(77,47 persen) tersedia pada usaha akomonodasi lainnya.
    Banyaknya wisatawan yang menginap di usaha akomodasi(hotel bintang dan hotel melati) tahun 2007 sebesar 4,41 juta wisatawan,dengan rincian 4,34 juta wisatawan nusantara dan 67,01 ribu wisatawan manca negara. Dibandingkan dengan keadaan tahun 2006, wisatawan yang menginap pada tahun 2007 meningkat sebesar 13,89 persen, dengan peningkatan sebesar 14,42 persen untuk wisatawan nusantara dan untuk wisatawan manca Negara mengalami penurunan sebesar 12,42 persen.

    Banyaknyaknya Hotel dan Kamar

    Jenis Hotel Tahun Unit Kamar
    Hotel Bintang 2007 102 6.263
    2006 102 6.263
    2005 100 6.098
    2004 92 5.449
    Hotel Melati 2007 1.134 19.688
    2006 1.030 17.812
    2005 1.027 17.724
    2004 970 16.874

    2. Pariwisata

    Pada tahun 2007 banyaknya obyek wisata/taman rekreasi di Jawa Tengah tercatat sebanyak 233 obyek wisata/taman rekreasi,mengalami penurunan 5,28 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. Keadaan yang sama,jumlah wisatawan manca negara yang mengunjungi obyek wisata naik sebesar 4,10 persen,sementara untuk jumlah wisatawan nusantara naik sebesar 4,92 persen.

    Banyaknya Pengunjung Obyek Wisata/Taman Rekreasi
    Tahun Wisatawan Mancanegara Wisatawan Nusantara Jumlah
    2007 302.116 15.762.394 16.064.510
    2006 290.217 15.023.901 15.314.118
    2005 303.898 15.455.546 15.759.444

    Investasi

    Perkembangan perekonomian daerah,tidak lepas dari peranan investasi yang ditanamkan di Jawa Tengah,dimana lealisasi investasi selama periode tahun 2003-2007 berfluktuatif. Penanaman Modal Daerah Dalam Negeri (PMDN) berdasarkan Surat Persetujuan Tetap(SPT) pada tahun 2007 telah disetujui sebanyak 24 proyek dengan total investasi sebesar 1.307,0 milyar rupiah dengan perkiraan tenaga kerja yang akan diserap sebanya 2.912 orang. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) SPT yang dikeluarkan sebanyak 108 proyek dan diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 26 ribu orang dengan nilai investasi sebesar 374 juta dolar Amerika.

    Realisasi Proyek dan Nilai Investasi Penanaman Modal
    di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Proyek Nilai Investasi(Juta Rp) Tenaga Kerja (Orang)
    2007 24 1.306.994,53 2.912
    2006 15 3.821.468,58 22.086,00
    2005 20 1.912.678,00 18.263,00

    1. Ketenagakerjaan

    Tenaga kerja yang trampil merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun keatas, dan dibedakan sebaai angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh terhadap pertumbuhan angkatan kerja.
    Berdasarkan hasil Susenas, angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2007 mencapai 17,66 juta orang atau naik sebesar 7,66 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan angka ini, tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 70,16 persen. Sedangkan angka pengangguran terbuka di Jawa Tengah relatif kecil, yaitu sebesar 7,70 persen.
    Bila dibedakan menurut status pekerjaan utamanya, buruh/karyawan sebesar 24,54 persen. Status pekerjaan ini lebih besar dibanding status pekerjaan lain. Sedangkan berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap, berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain, berusaha sendiri dibantu buruh tetap dan pekerja lainnya masing-masing tercatat sebesar 23,74 persen, 18,31 persen, 2,61 persen dan 30,80 persen.
    Sektor tersier dimasuki sekitar 37,43 persen pekerja dan merupakan sektor terbanyak menyerap tenaga kerja.Hal ini dapat dikarenakan sektor tersebut tidak memerlukan pendidikan khusus. Sektor lainnya yaitu sektor primer dan sekunder , masing-masing menyerap tenaga kerja sebesar 38,56 persen dan 24,01 persen.

    Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas
    yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama
    di Jawa Tengah 2007
    Keterangan Tahun Jumlah
    Berusaha sendiri 2007 2.984.783
    2006 3.179.633
    2005 3.230.500
    Berusaha Buruh Tidak Tetap 2007 3.871.357
    2006 2.911.064
    2005 2.856.165
    Berusaha Buruh Tetap 2007 425.021
    2006 481.634
    2005 508.746
    Buruh/Karyawan 2007 4.000.894
    2006 4.214.199
    2005 4.548.115

    2. Transmigrasi

    Upaya memperluas kesempatan kerja antara lain dilakukan melalui program transmigrasi. Di Jawa Tengah tercatat sebanyak 581 kepala keluarga transmigran pada tahun 2007 atau turun 32,52 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka berasal dari hampir semua daerah Kabupaten/Kota dan yang terbanyak berasal dari Kabupaten Magelang (7,06 ersen).
    Kalimantan merupakan daerah tujuan yang paling banyak diminati transmigran asal Jawa Tengah. Jumlah keluarga yang berangkat kedaerah tersebut sebanyak 415 keluarga (71,43 persen), disusul Sumatera 90 keluarga (15,49 persen) selebihnya tersebar di Sulawesi, Gorontalo dan Maluku Utara.

    Banyaknya Warga Negara Asing Izin Tinggal Tetap (Itap)
    di Wilayah Kerja Kantor Imigrasi Cilacap Menurut Kebangsaan
    Periode 2006 - Maret 2007

    Kebangsaan Tahun Laki-laki Perempuan
    01. Amerika Serikat 2006 2 3
    2007 2 3
    02. Arab Saudi 2006 - l 2
    2007 - 2
    03. Argentina 2006 2 5
    2007 2 5
    04. Australia 2006 - 3
    2007 - 3
    05. Belanda 2006 4 1
    2007 4 - 1
    06. Cina 2006 143 7
    2007 143 7
    07. Finlandia 2006 1 1
    2007 1 1
    08.India 2006 1 -
    2007 1 -
    09. Ingrris 2006 2 -
    2007 2 -
    10. Italia 2006 1 -
    2007 1 -
    11. Jepang 2006 4 1
    2007 4 1
    12. Jerman 2006 1 -
    2007 1 -
    13. Kanada 2006 2 -
    2007 2 -
    14. Korea Selatan 2006 46 15
    2007 46 15
    15. Malaysia 2006 6 2
    2007 6 2
    16. Maroko 2006 - 1
    2007 - 1
    17. Meksiko 2006 - 1
    2007 - 1
    18. Myammar 2006 - 1
    2007 - 1
    19. Pakistan 2006 2 -
    2007 2 -
    20. Perancis 2006 1 -
    2007 1 -
    21. Philipina 2006 2 1
    2007 2 1
    22. Singapura 2006 4 3
    2007 4 3
    23. Sri Langka 2006 2 1
    2007 2 1
    24. Swiss 2006 3 2
    2007 3 2
    25. Taiwan 2006 2 7
    2007 2 7
    Thailand 2006 5 5
    2007 5 5
    26. Yaman 2006 - 1
    2007 - 1

    Peternakan

    Jenis ternak yang diusahakan di Jawa Tengah adalah ternak besar yaitu sapi(potong/perah), kerbau dan kuda sedangkan ternak kecil terdiri dari kambing, domba dan babi. Disamping itu juga diusahakan aneka ternak, termasuk unggas (ayam, itik, dan burung puyuh) dan kelinci.
    Populasi ternak besar pada tahun 2007 untuk sapi, kerbau dan kuda masing-masing tercatat sebanyak 1.532,72 ribu ekor, 109,00 ribu ekor, 14,62 ribu ekor. Kabupaten Blora merupakan kabupaten dengan jumlah ternak besar terbanyak di Jawa Tengah.
    Pada tahun 2007 populasi kambing, domba dan babi yang merupakan ternak kecil tercatat sebanyak 3.126,25 ribu ekor, 2.023,45 ribu ekor dan 139,75 ribu ekor. Dibandingkan tahun sebelumnya , populasi ternak kecil dan unggas pada umumnya mengalami penurunan.
    Banyaknya ternak besar yang dipotong pada tahun 2007 untuk sapi tercatat sebesar 244,08 ribu ekor, kebau 14,88 ribu ekor dan kuda 32 ekor. Bila dibandingkan tahun sebelumnya, pemotongan ternak besar mengalami penurunan kecuali ternak sapi. Untuk kuda dan kerbau turun masing-masing sebesar 67,35 persen dan 4,15 persen. Sedangkan untuk sapi naik sebesar 3,57 persen. Untuk ternak kecil yang banyak dipotong adalah kambing dan domba, yaitu sebanyak 569 ribu ekor dan 309 ribu ekor.
    Produksi telur (ayam ras, ayam kampung,itik dan burung puyuh) tahun 2006 tercatat sebesar 191,64 ribu ton. Tahun 2007 meningkat menjadi 200,75 ribu ton atau naik sebesar 4,76 persen. Untuk produksi susu turun sebesar 1,99 persen, demikian juga dengan produksi kulit mengalami penurunan sebesar 16,69 persen.

    Populasi Ternak di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Kuda Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi
    2007 14.617 1.416.464 116.259 109.004 3.126.250 2.023.448 139.745
    2006 14.527 1.392.590 115.158 112.963 3.165.040 2.017.656 153.742
    2005 14.245 1.390.208 114.116 123.815 3.224.067 1.944.362 167.225

    Populasi Unggas dan Kelinci
    di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Ayam Kampung Ayam Pedaging Ayam Petelur Itik Puyuh Kelinci
    2007 32.730.955 64.552.869 14.920.824 4.541.807 4.166.213 495.314
    2006 33.158.074 61.258.115 13.160.587 4.614.468 4.086.169 300.815
    2005 35.838.934 62.043.402 12.660.184 4.917.777 4.250.117 182.479

    Pemotongan Ternak di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Kuda Sapi Kerbau Kambing Domba Babi
    2007 32 244.082 14.883 568.597 308.610 26.127
    2006 98 235.668 15.528 776.607 340.910 26.822
    2005 17 228.333 17.621 538.252 287.130 23.512

    Produksi Daging di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Sapi Kerbau Kuda Babi Kambing
    2007 46.885.213 3.228.482 6.177 1.705.108 8.304.187
    2006 50.326.159 3.499.062 14.274 1.755.978 13.510.636
    2005 53.962.235 3.648.688 6.223 1.617.042 8.916.527

    Produksi Telur, Susu dan Kulit
    di Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun Telur Ayam ras Telur Itik Telur Ayam Kampung Telur Burung Puyuh
    2007 129.862.284 29.600.540 33.757.098 7.534.490
    2006 125.221.390 28.558.983 30.657.636 7.198.850
    2005 923.161.875 31.996.900 29.610.177 5.966.320

    Perkebunan

    Produksi tanaman perkebunan merupakan salah satu sumber devisa sektor pertanian. Perkebunan terdiri dari perkebunan besar dan perkebunan rakyat.
    Luas dan produksi tanaman perkebunan besar tahun 2007 pada umumnya mengalami peningkatan dibanding dengan luas tanaman dan produksi tahun sebelumnya. Peningkatan dialami untuk karet,teh, kakao dan kelapa.
    Luas dan produksi tanaman perkebunan rakyat selama tahun 2003 sampai dengan 2007 di Jawa Tengah mengalami fluktuasi. Dilihat dari sisi luas, tanaman perkebunan rakyat yang mempunyai area yang cukup besar pada tahun 2007 adalah tanaman kelapa, kapok, tebu, cengkeh, kopi, tembakau, dan jambu mete. Sedangkan dilihat dari sisi produksi, tanaman kelapa, tebu, kapok, tembakau,kopi, nilam dan jahe mempunyai produksi yang cukup besar.

    Luas Panen Produksi Sayuran Jawa Tengah tahun 2007

    Jenis Tahun Luas Panen rata-rata Produksi Produksi
    Buncis 2007 3.365 71 238.829
    2006 3.656 64,13 234.466
    2005 3.356 64,42 216.197
    2004 3.434 65,32 224.303
    Ketimun 2007 2.477 83 205.654
    2006 2.546 103,41 263.277
    2005 2.379 95,80 227.909
    2004 2.243 100,32 225.022
    Bawang Daun 2007 8.918 92 818.992
    2006 10.646 97,40 1.036.916
    2005 9.074 88,91 806.790
    2004 9.214 97,10 894.682
    Petsai/Sawi 2007 5.588 95 533.046
    2006 5.426 102,86 558126
    2005 4.284 88,13 377.560
    2004 4.608 112,76 519.589
    Kacang Merah 2007 4.995 24 119.461
    2006 4.933 22,38 110.425
    2005 5.136 27,81 142.819
    2004 6.425 21,97 141.186
    Terong 2007 2.543 98 249.251
    2006 2.625 100,71 264.363
    2005 2.611 92,82 242.362
    2004 2.240 84,82 189.987
    Labu Siam 2007 413 396 163.511
    2006 469 338,80 158.895
    2005 218 454,77 99.140
    2004 386 170,41 65.777
    Kangkung 2007 2.187 135 294.710
    2006 2.192 116,44 255.232
    2005 1.721 132,79 228540
    2004 1.965 104,35 205.045
    Bayam 2007 2.102 29 61.656
    2006 2.010 33,13 66.590
    2005 1.849 35,78 66.150
    2004 1.808 27,14 19.078
    Sukun 2007 184.095 73 134.354
    2006 112.811 137,95 155.628
    2005 203.172 51,90 105.439
    2004 147.511 56,72 83.666
    Melinjo 2007 937.604 41 384.478
    2006 843.032 57,21 482.268
    2005 1.489.532 25,88 385.469
    2004 1.403.195 42,74 599.672
    Petai 2007 583.506 61 357.318
    2006 1.200.598 34,23 410.941
    2005 1.005.271 25,82 259.572
    2004 673.297 65,59 441.584
    Kembang Kol 2007 1.976 87 172.858
    2006 2.141 88,45 189.375
    2005 2.289 89,50 204.860
    Lobak 2007 42 45 1900
    2006 34 56,29 1.914
    2005 20 8,10 162
    Jamur 2007 62.593 1 32.415
    2006 95.582 14,30 1.366.821
    2005 50.420 26,84 1.353.076

    Banyaknya Panen, Produktivitas Dan Produksi
    Buah-Buahan di Jawa Tengah
    Tahun 2007

    Jenis Tahun Luas Panen Rata-rata Produksi Produksi
    Mangga 2007 3.881.425 67,89 2.635.067
    2006 3.184.612 64,90 2.066.719
    2005 3.500.839 57,81 2.023.662
    2004 4.032.886 82,16 3.313.247
    Rambutan 2007 868.661 65,30 567.260
    2006 2.411.261 42,36 1.021.398
    2005 1.082.213 65,75 711.510
    2004 2.751.710 48,06 1.322.421
    Duku 2007 139.584 100,67 140.522
    2006 96.568 39,45 38.098
    2005 137.731 76,64 105.562
    2004 72.521 76,61 55.558
    Klengkeng 2007 - - -
    2006 - - -
    2005 - - -
    2004 16.974 67,83 11.513
    Blimbing 2007 170.654 71,94 122.758
    2006 199.267 87,64 174.641
    2005 235.979 48,59 114.671
    2004 244.439 52,83 129.135
    Durian 2007 518.347 86,71 449.477
    2006 508.750 123,11 626.318
    2005 378.229 91,00 344.191
    2004 409.255 77,14 315.685
    Pisang 2007 15.556.871 41,60 6.472.050
    2006 12.591.979 39,65 4.992.173
    2005 38.564270 17,03 6.568.352
    2004 30.762.244 12,79 3.935.182
    Salak 2007 15.298.640 11,19 1.712.168
    2006 10.671.714 18,97 2.024.319
    2005 5.624.113 24,33 1.368.290
    2004 15.347.622 14,58 2.238.434
    Jeruk Siam 2007 515.625 88,83 458.022
    2006 412.674 56,88 234.749
    2005 598.620 43,11 258.090
    2004 588.344 42,76 251.570
    Nanas 2007 9.317.528 3,67 342.383
    2006 18.534.755 1,87 347.341
    2005 5.498.159 2,39 131.579
    2004 16.361.645 2,33 381.089
    Pepaya 2007 1.041.152 53,12 553.027
    2006 961.370 64,95 624.382
    2005 1.257.506 34,86 438.360
    2004 1.383.367 46,26 639.912
    Melon 2007 921 150,96 139.030
    2006 761 223,45 170.042
    2005 794 276,71 219.710
    2004 778 207,90 161.747
    Semangka 2007 4.874 148,12 721.931
    2006 5.354 181,38 971.111
    2005 5.268 161,28 849.599
    2004 5.688 158,71 902.757
    Alpokat 2007 147.370 40,89 60.257
    2006 85.284 177,11 151.047
    2005 268.175 43,17 115.759
    2004 92.221 68,93 63.567
    Jambu Biji 2007 395.928 41,80 165.484
    2006 383.945 51,30 196.970
    2005 464.914 36,47 169.570
    2004 488.754 47,31 213.232
    Jambu Air 2007 199.114 67,22 133.850
    2006 174.733 99,13 173.211
    2005 335.196 39,54 132.537
    2004 331.905 49,64 164.756
    Manggis 2007 119.770 24,62 29.486
    2006 50.871 45,14 22.961
    2005 68.772 21,99 15.121
    2004 169.749 35,14 59.648
    Nangka/Cempedak 2007 757.216 100,99 764.678
    2006 531.455 171,15 909.591
    2005 1.426.403 60,47 862.487
    2004 832.518 87,16 725.611
    Sawo 2007 70.684 97,44 68.878
    2006 68.443 150,568 103.053
    2005 303.284 21,16 64.189
    2004 482.641 29,21 140.978
    Sirsak 2007 77.283 40,00 30.913
    2006 72.083 62,98 45.397
    2005 3.564 31,43 1.120
    2004 171.038 48,63 83.172
    Jeruk Besar 2007 12.252 75,73 9.279
    2006 12.547 95,31 11.959
    2005 31.800 39,12 12.439
    2004 13.693 59,97 8.212
    Markisa 2007 19.393 11,73 2.275
    2006 5.950 31,28 1.861
    2005 114.834 67,69 77.730
    2004 - - -
    Blewah 2007 592 32,03 65.813
    2006 319 32,03 2.044

    Luas Area Perkebunan Rakyat
    di Jawa Tengah Tahun 2007

    Jenis Tahun Jumlah
    Bengkle 2007 -
    2006 -
    2005 -
    2004 2,60
    Casiavera 2007 1.010,76
    2006 1.055,30
    2005 1.119,48
    2004 1.101,36
    Cabe Jamu 2007 364,10
    2006 356,30
    2005 353,70
    2004 15,70
    Cengkeh 2007 36.973,41
    2006 38.363,35
    2005 39.348,30
    2004 42.349,15
    Dlingo 2007 -
    2006 -
    2005 -
    2004 0,02
    Glagah Arjuna 2007 1.415,15
    2006 1.406,05
    2005 1.424,04
    2004 1.466,64
    Jahe 2007 2.006,58
    2006 2.130,64
    2005 2.796,85
    2004 3.061,88
    Jarak 2007 121,92
    2006 430,44
    2005 67,00
    2004 33,00
    Jambu Mete 2007 N/A
    2006 27.881,18
    2005 28.434,00
    2004 28.733,50
    Janggelan 2007 1.386,00
    2006 1.419,00
    2005 1.418,50
    2004 1.419,70
    Jenitri 2007 35,00
    2006 22,00
    2005 18,00
    2004 13,00
    Kakao 2007 4.611,00
    2006 4.100,34
    2005 3.278,07
    2004 3.340,40
    Kapok 2007 44.303,96
    2006 44.965,65
    2005 51.994,00
    2004 59.585,11
    Kapulogo 2007 3.197,22
    2006 3.076,57
    2005 2.689,38
    2004 2.906,13
    Kapas 2007 1.286,78
    2006 749,31
    2005 1.418,69
    2004 2.322,91
    Karet 2007 1.630,76
    2006 1.524,35
    2005 1.391,15
    2004 1.276,65
    Kelapa Dalam 2007 230.910,37
    2006 231.846,44
    2005 240.666,22
    2004 266.959,82
    Kelapa Deres 2007 22.184,01
    2006 21.499,03
    2005 21.470,82
    2004 22.157,44
    Kelapa Hibrida 2007 871.98
    2006 943,54
    2005 943,54
    2004 1.049,20
    Kelapa Kopyor 2007 672,72
    2006 672,20
    2005 450,55
    2004 392,85
    Kantil 2007 7,65
    2006 7,65
    2005 8,35
    2004 8,90
    Keji Beling 2007 -
    2006 -
    2005 -
    2004 -
    Kemiri 2007 177,16
    2006 182,01
    2005 204,87
    2004 131,80
    Kemukus 2007 369,02
    2006 373,12
    2005 353,56
    2004 387,89
    Kenanga 2007 187,88
    2006 192,80
    2005 225,91
    2004 223,20
    Kencur 2007 1.405,72
    2006 1.897,64
    2005 2.056,95
    2004 2.037,11
    Kina 2007 26,25
    2006 46,82
    2005 42,88
    2004 61,57
    Kopi Arabika 2007 4.779,51
    2006 5.265,21
    2005 5.852,77
    2004 6.180,87
    Kopi Robusta 2007 30.561,78
    2006 30.245,26
    2005 30.182,05
    2004 31.163,11
    Kunyit 2007 1.724,46
    2006 2.098,13
    2005 2.376,06
    2004 1.763,11
    Klembak 2007 201,00
    2006 236,00
    2005 180,64
    2004 266,20
    Lada 2007 1.682,90
    2006 1.659,80
    2005 1.675,10
    2004 1.612,81
    Lempuyang 2007 46,18
    2006 51,76
    2005 25,57
    2004 31,23
    Lengkuas 2007 690,76
    2006 707,03
    2005 1.252,78
    2004 595,19
    Melati Gambir 2007 867,59
    2006 869,69
    2005 869,35
    2004 872,59
    Melati Putih 2007 535,96
    2006 627,96
    2005 656,21
    2004 760,53
    Mendong 2007 25,50
    2006 25,50
    2005 27,00
    2004 23,50
    Mlinjo 2007 6.044,55
    2006 6.562,43
    2005 6.728,14
    2004 6.418,41
    Mengkudu 2007 33,89
    2006 20,61
    2005 24,56
    2004 9,50
    Mahkota Dewa 2007 303,18
    2006 331,08
    2005 171,30
    2004 165,71
    Nipah 2007 241,00
    2006 241,00
    2005 242,00
    2004 242,00
    PERTANIAN

    Pertanian Tanaman Pangan

    Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu Provinsi penyangga pangan nasional, oleh karena itu produktivitas padi khususnya terus dipicu. Pada tahun 2007, produktivitas padi sekitar 53,38 kuintal per hektar, meningkat 2,27 persen dibanding produktivitas tahun sebelumnya. Sementara luas panen padi dan jumlah produksi padi justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,48 persen dan 1,29 persen. Sebagian besar produksi padi merupakan padi sawah, yaitu sekitar 97,99 persen. Produktivitas padi di Kabupaten Sukoharjo adalah tertinggi diantara produktivitas padi di kabupaten/kota lain, yakni sekitar 57,87 kuintal per hektar. Sedangkan produktivitas terendah tercatat di Kota Semarang yaitu sebesar 48,93 kuintal per hektar.
    Secara umum, luas panen, produktivitas per hektar dan produksi tanaman palawija di Jawa Tengah tahun 2007 hampir semua mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kecuali jagung dan ubi jalar. Luas panen ubi kayu dan kacang tanah mengalami penurunan sebesar 6,23 persen dan 5,71 persen.
    Sedangkan untuk jagung, ubi jalar, kacang kedelai dan kacang hijau masing - masing mengalami peningkatan sebesar 14,68 persen,12,87 persen, 49,87 persen dan 0,03 persen.
    Produktivitas hampir semua tanaman palawija tahun 2007 mengalami peningkatan dibandingkan dengan produktivitas tahun 2006. Sedangkan produksi semua tanaman palawija banyak mengalami penurunan kecuali produksi jagung dan ubi jalar yang mengalami kenaikan sebesar 20,36 persen dan 16,10 persen.
    Untuk produktivitas tanaman jagung, ubi kayu dan ubi jalar mengalami peningkatan masing-masing sebesar 4,96 persen, 2,34 persen dan 2,86 persen. Sedangkan untuk produksi ubi kayu, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau mengalami penurunan sebesar 4,03 persen, 2,59 persen, 6,84 persen, dan 1,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
    Secara umum, produksi beberapa jenis sayuran (bawang merah, bawang putih, kentang, kubis, cabe, tomat, wortel, kacang panjang, buncis dan ketimun dll) selama tahun 2003-2007 mengalami fluktuasi. Hampir semua produksi jenis sayuran mengalami penurunan kecuali bawang merah, kentang,wortel, kacang merah, labu siam dan kangkung.
    Produksi beberapa jenis buah-buahan seperti mangga, rambutan, duku, klengkeng, blimbing, durian, pisang, salak, jeruk, nanas dan pepaya dalam periode tahun 2003-2007 juga fuktuatif. Pada tahun 2007, diantara buah-buahan yang mengalami peningkatan produksi dibandingkandenga tahun 2006 adalah duku, pisang, jeruk siam, manggis, markisa dan blewah. Sedangkan produksi buah buah lainnya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

    Luas Produksi Sawah, Padi Ladang
    di Jawa Tengah tahun 2007

    Tahun Pd Sawah/Pd LadangLuas Panen(ha) pd Sawah/pd Ladang rt2 Prod(ku/ha) pd Sawah/pd Ladang Prod(ton) Jagung ls Panen(ha) Jagung rata2 Prod(ku/ha) Jagung Prod(ton)
    2007 1.614.098 53,38 8.616.855 571.013 39,12 2.233.992
    2006 1.672.315 52,20 8.729.290 497.928 37,27 1.856.022
    2005 1.611.107 52,29 8.424.096 596.303 36,75 2.191.258

    Perikanan

    Sub sektor perikanan, meliputi kegiatan usaha perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan darat terdiri dari usaha budidaya (tambak, sawah, kolam, karamba)
    dan perairan umum ( waduk, sungai, telaga, dan rawa ).
    Produksi yang dihasilkan dari kegiatan perikanan tersebut pada tahun 2007 di Jawa Tengah mencapai 296 ribu ton dengan nilai 2.056,2 milyar rupiah. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, produksi turun 0,67 persen sedangkan nilai produksinya meningkat 10,04 persen. Produksi perikanan yang ada didominasi oleh perikanan laut sebesar 184,07 ribu ton (sekitar 62,27 persen dari total produksi perikanan) dengan nilai sebesar 775 miliar rupiah.
    Pada tahun 2007 produksi usaha budidaya perikanan mengalami peningkatan sedangkan perikanan diperairan umum di Jawa Tengah, mengalami penurunan bila dibandingkan tahun tahun sebelumnya.
    Produksi usaha budidaya perikanan dan perikanan perairan umum tercatat masing-masing sebesar 98,55 ribu ton dan 12,89 ribu ton dengan nilai produksi mencapai 1.189,12 milyar dan 91,76 milyar rupiah.

    Produksi dan Nilai Ikan di Jawa Tengah
    Tahun 2007

    1. Kependudukan

    Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2007, jumlah penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 32,28 juta jiwa atau sekitar 14 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai Provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki.Ini ditunjukakan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk permpuan) sebesar 98,46.

    Penduduk Menurut Jenis Kelamin
    di Jawa Tengah Tahun 2007

    Kabupaten/Kota Laki-laki Permpuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin
    01. Kab. Cilacap 827.983 795.193 1.623.176 104,12
    02. Kab. Banyumas 751.304 744.677 1.495.981 100,89
    03. Kab. Purbalingga 396.363 425.507 821.870 93,15
    04. Kab. Banjarnegara 437.041 427.107 864.148 102,33
    05. Kab. Kebumen 606.821 601.895 1.208.716 100,82
    06. Kab. Purworejo 358.389 361.007 719.396 99,27
    07. Kab. Wonosobo 390.474 363.973 754.447 107,28
    08. Kab. Magelang 591.465 569.813 1.161.278 103,80
    09. Kab. Boyolali 455.876 476.822 932.698 95,61
    10. Kab. Klaten 556.627 572.225 1.128.852 97,27
    11. Kab. Sukoharjo 403.727 415.894 819.621 97,07
    12. Kab. Wonogiri 466.783 513.349 980.132 90,93
    13. Kab. Karanganyar 399.719 405.743 805.462 98,52
    14. Kab. Sragen 420.310 437.534 857.844 96,06
    15. Kab. Grobogan 651.371 675.043 1.326.414 96,49
    16. Kab. Blora 407.156 424.753 831.909 95,86
    17. Kab. Rembang 289.392 283.487 572.879 102,08
    18. Kab. Pati 553.953 613.668 1.167.621 90,27
    19. Kab. Kudus 381.144 393.694 774.838 96,81
    20. Kab. Jepara 538.893 534.738 1.073.631 100,78
    21. Kab. Demak 512.176 513.212 1.025.388 99,80
    22. Kab. Semarang 459.243 441.177 900.420 104,09
    23. Kab. Temanggung 360.364 340.481 700.845 105,84
    24. Kab. Kendal 460.389 477.726 938.115 96,37
    25. Kab. Batang 341.830 337.079 678.909 101,41
    26. Kab. Pekalongan 411.522 432.706 844.228 95,10
    27. Kab. Pemalang 675.115 701.837 1.358.952 93,63
    28. Kab. Tegal 700.129 710.161 1.410.290 98,59
    29. Kab. Brebes 896.626 879.313 1.775.939 101,97
    30. Kota Magelang 63.466 68.711 132.177 92,37
    31. Kota Surakarta 246.039 271.518 517.557 90,62
    32. Kota Salatiga 87.516 87.183 174.699 100,38
    33. Kota Semarang 729.457 759.188 1.488.645 96,08
    34. Kota Pekalongan 133.661 139.681 273.342 95,69
    35. Kota Tegal 119.798 120.062 239.860 99,78
    Jumlah 2007 16.064.122 16.316.157 32.380.279 98,46

    Penduduk Menurut Kelompok Umur Jawa Tengah Tahun 2007

    Kabupaten/Kota 0-14 Th 15-64 Th 65+ Th Jumlah
    01. Kab. Cilacap 447.841 1.074.329 101.006 1.623.176
    02. Kab. Banyumas 374.322 1.008.956 112.703 1.495.981
    03. Kab. Purbalingga 213.873 549.612 58.385 821.870
    04. Kab. Banjarnegara 235.594 573.172 55.382 864.148
    05. Kab. Kebumen 326.563 772.893 109.260 1.208.716
    06. Kab. Purworejo 176.472 471.129 71.795 719.396
    07. Kab. Wonosobo 211.622 497.762 45.063 754.447
    08. Kab. Magelang 288.339 781.444 91.495 1.161.278
    09. Kab. Boyolali 215.667 615.027 102.004 932.698
    10. Kab. Klaten 256.220 761.760 110.872 1.128.852
    11. Kab. Sukoharjo 186.524 558.951 74.146 819.621
    12. Kab. Wonogiri 210.895 649.424 119.813 980.132
    13. Kab. Karanganyar 193.979 545.458 66.025 805.462
    14. Kab. Sragen 219.687 562.066 76.091 857.844
    15. Kab. Grobogan 359.812 882.416 84.186 1.326.414
    16. Kab. Blora 194.413 567.402 70.094 831.909
    17. Kab. Rembang 139.689 396.044 37.146 572.879
    18. Kab. Pati 280.764 800.608 86.249 1.167.621
    19. Kab. Kudus 196.175 541.583 37.080 774.838
    20. Kab. Jepara 294.379 722.890 56.362 1.073.631
    21. Kab. Demak 256.173 721.147 48.068 1.025.388
    22. Kab. Semarang 211.618 624.442 64.360 900.420
    23. Kab. Temanggung 169.209 483.677 47.959 700.845
    24. Kab. Kendal 223.983 649.185 64.947 938.115
    25. Kab. Batang 190.144 455.206 33.559 678.909
    26. Kab. Pekalongan 243.466 550.905 49.857 844.228
    27. Kab. Pemalang 381.817 901.688 75.447 1.358.952
    28. Kab. Tegal 402.089 935.957 72.244 1.410.290
    29. Kab. Brebes 530.803 1.153.458 91.678 1.775.939
    30. Kota Magelang 27.823 93.739 10.615 132.177
    31. Kota Surakarta 113.414 372.903 31.240 517.557
    32. Kota Salatiga 37.481 123.803 13.415 174.699
    33. Kota Semarang 331.520 1.068.635 88.490 1.488.645
    34. Kota Pekalongan 71.222 190.468 11.652 273.342
    35. Kota Tegal 56.003 172.648 11.209 239.860
    Jumlah 2007 8.269.595 21.830.787 2.279.897 32.380.279

    Kepadatan Penduduk Jawa Tengah 2007

    Tahun Luas Daerah Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk
    2007 32.544,12 32.380.279 994,97
    2006 32.544,12 32.177.730 988,74
    2005 32.544.12 32.99908.850 1.011,21
    2004 32.544,12 32.397.431 988,49

    2. Keluarga berencana

    Peserta KB aktif di Jawa Tengah pada tahun 2007 mencapai 4,86 juta. Pada tahun yang sama peserta KB baru tercatat sebesar 747 ribu peserta.
    Suntik merupakan metoda kontrasepsi yang paling banyak diminati peserta KB aktif dan KB baru.

    Peserta KB Aktif Menurut Jalur Kemandirian
    Jawa Tengah Tahun 2005

    Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Tahun Jumlah
    Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) 2005 173.501
    2004 178.760
    Medis Operasi Pria (MOP) 2005 9.839
    2004 10.108
    Medis Operasi Wanita (MOW) 2005 80.736
    2004 80.816
    Susuk 2005 113.501
    2004 112.780

    Peserta KB Aktif Menurut Kontrasepsi
    Jawa Tengah Tahun 2007

    Tahun IUD MOP MOW SUSUK
    2007 480.359 67.572 292.739 446.687
    2006 498.366 68.473 291.035 442.778
    2005 529.805 71.522 290.380 467.792
    2004 552.233 69.041 288.603 482.285

    SOSIAL

    1. Pendidikan dan Kebudayaan

    Penduduk yang bersekolah selama periode tahun pelajaran 2006/2007 - 2007/2008 mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya murid tercatat pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Peningkatan murid ini terjadi pada jenjang pendidikan SD sebesar 2,54 persen, tingkat SLTP sebesar 2,88 persen dan SLTA turun 60,58 persen.
    Penyediaan sarana fisik dan tenaga guru yang memadai sangat diperlukan dalam menunjang pendidikan. Tahun 2007/2008 jumlah guru SD meningkat sebesar 23,18 persen, SLTP meningkat 7,70 persen, sedangkan guru SLTA turun 60,65 persen.

    Banyaknya universitas/akademi pada tahun akademik 2007/2008 tercatat sebanyak 274 buah, terdiri dari 5 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 269 Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Banyaknya mahasiswa PTN periode lima tahun terakhir polanya berfluktuasi . Pada tahun 2007/2008, jumlah mahasiswa dan dosen PTN turun menjadi 59.872 mahasiswa dan 3.452 dosen.

    2. Kesehatan

    Peningkatan status kesehatan dan gizi dalam suatu masyarakat sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas manusia dalam aspek lainnya, seperti pendidikan dan produktivitas tenaga kerja. Tercapainya kualitas kesehatan dan gizi yang baik tidak hanya penting untuk generasi sekarang tetapi juga bagi generasi berikutnya.
    Tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat. Hal ini akan terwujud bila adanya dukungan Pemerintah dan swasta sekaligus.
    Pada tahun 2007 untuk jumlah rumah sakit umum pemerintah sebanyak 57 buah, sementara rumah sakit khusus dan rumah sakit umum swasta tahun 2007 tercatat 170 buah.
    Didukung pula oleh tersedianya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang terdapat hampir di seluruh wilayah kecamatan. Pada tahun 2007 terdapat sebanyak 851 buah Puskesmas di Jawa Tengah.
    Fasilitas kesehatan lainnya adalah apotik, toko obat, distributor obat tradisional yang tersebar diseluruh kabupaten/kota, merupakan sarana penyediaan obat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Pada tahun 2007 di Jawa Tengah terdapat 1.420 apotik, 316 toko obat dan 244 pedagang besar farmasi.
    Menurut Dinas Kesehatan, diare merupakan penyakit tertentu yang banyak diderita penduduk Jawa Tengah, tahun 2007 yakni sekitar 625 ribu kasus diare, disusul penyakit Demam Berdarah (20,6 ribu), malaria (1,8 ribu) dan HIV/Aid 0,4 ribu jiwa.

    Indikator berat balita merupakan indikator lain yang dapat digunakan untuk melihat status gizi balita. Dari indikator ini diperoleh gambaran bahwa pada tahun anggaran 2006 tercata sebesar 82,79 persen dari balita mempunyai gizi baik, sedangkan 1,78 persen berstatus gizi buruk.

    3. Agama

    Kehidupan beragamayang harmonis sangat didambakan masyarakat. Hal ini terlihat dari tempat2 beribadatan yang ada disekitar warga, seperti mesjid, gereja, dan pesantren2.
    Banyaknya tempat peribadatan di Jawa Tengah pada tahun 2007, mencapai 141 ribu buah, yang terdiri dari sebanyak 97,15 persen Masjid dan Langgar, sebanyak 2,31 persen Gereja Kristen dan Katholik, dan sisanya berupa Pura dan Vihara.
    Banyaknya Pondok Pesantren tahun 2007 tercatat sebanyak 3,58 ribu unit dengan 33,43 ribu Ustad, 9,01 ribu Kyai, dan 500,89 ribu santri. Sementara itu Jamaah Haji yang diberangkatkan

    4. Perumahan

    Pembangunan sarana perumahan, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal, baik dalam kuantitas maupun kualitas dan dapat dijangkau masyarakat yang berpenghasilan rendah. Pemerintah menunjuk Perum Perumnas untuk pembangunan rumas sederhana dan menetapkan BTN sebagai lembaga penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Selain itu peran swasta untuk membangun perumahan sederhana, juga ditingkatkan.
    Merunur tipenya terdapat 7,33 juta rumah di Jawa Tengah dengan tipe A ( 31,63 persen), tipe B (39,35 persen) serta tipe C (29,02 persen). Dengan alokasi dana bantuan APBD Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,96 milyar rupiah serta dukungan swadaya masyarakat sebesar 0,63 milyar rupiah, telah berhasil dipugar 480 rumah di lingkungan perdesaan pada tahun 2007.

    5. Air Bersih

    Pada tahun 2007, air minum yang disalurkan dari 35 PDAM kota/kabupaten di Jawa Tengah tercatat sebanyak 130 juta meter kubik.
    Air minum tersebut digunakan oleh rumah tangga sebesar 86,08 persen, disusul oleh usaha sebesar 5,93 persen, sosial sebesar 6,55 persen dan industri sebesar 1,43 persen.

    6. Persampahan

    Peningkatan produksi sampah dari tahun ke tahun akan menimbulkan berbagai masalah. Produksi sampah pada tahun 2007 di Jawa Tengah rata-rata setiap harinya mencapai 19 ribu meter kubik. Sekitar 58,56 persen sampah tersebut, behasil diangkut oleh 565 buah truk sampah / truk container sampah/ dan sarana pengumpulan lain ke sebanyak 85 TPA( Tempat Pembuangan Akhir).
    Komposisi sampah yang ada terdiri dari sampah organik sekitar 61,82 persen, disusul sampah plastik ( 15,52 persen), sampah kertas (9,07 persen), selebihnya berupa sampah kayu, kain, logam dan sebagainya.

    7. Kemiskinan

    Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 menyebabkan bertambahnya penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan.
    Berdasarkan standar 1998, pada tahun 1996 garis kemiskinan di Jawa Tengah mencapai 32.424 rupiah per kapita per bulan. Jumlah penduduk miskin pada tahun yang sama mencapai 6,4 juta jiwa atau sekitar 21,61 persen dari seluruh penduduk Jawa Tengah.
    Pada tahun 1999 jumlah penduduk miskin bertambah menjadi 8,8 juta atau sekitar 28,46 persen dari total penduduk Jawa Tengah. Garis kemiskinan pada tahun tersebut mencapai 76.579 rupiah perkapita. Jumlah penduduk miskin tahun 2002 menurun menjadi 7,3 juta (23,06 persen) dengan batas miskin sebesar 106,438 rupiah per kapita.
    Jumlah penduduk miskin tahun 2005 menurun lagi menjadi 6,53 juta (20,49 persen) dengan batas miskin sebesar 130.013 rupiah per kapita per bulan.
    Pada tahun 2006 penduduk miskin naik menjadi 7,10 juta (22,19 persen) daya batas miskin 176.859 rupiah perkapita perbulan.
    Pada tahun 2007, jumlah keluarga pra sejahtera di Jawa Tengah mencapai 3,14 juta atau 34,46 persen dari total keluarga. Sementara itu, untuk jumlah keluarga sejahtera I,II,III serta III plus masing masing tercatat 1,71 juta, 1,94 juta, 1,97 juta, serta 343 ribu keluarga, atau dalam persentase berturut turut sebesar 18,71 persen, 21,35 persen, 21,65 persen, dan 3,77 persen.

    8. Sosial lainnya

    Pelayanan sosial memerlukan pengembangan melalui keterpaduan upaya antara lain bimbingan, santunan, dan rehabilitasi sosial bagi penyandang catat. Peran swasta nampak cukup besar dalam mengatasi masalah kesejahteraan sosial. Terbukti bahwa dari jumlah panti asuhan yang ada sekitar 93,92 persen merupakan panti asuhan swasta.
    Bidang kegiatan sosial lainnya adalah jaminan kesehatan pegawai yang dikelola oleh PT Askes. Sampai pada Juni 2008, PT Askes telah menghimpun sebanyak 2,05 juta jiwa peserta bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya angka ini mengalami peningkatan sebesar 5,76 persen.
    Kebakaran merupakan masalah sosial lainnya yang harus selalu diwaspadai. Pada tahun 2007 banyaknya peristiwa kebakaran menurun sekitar 2 persen dari tahun sebelumnya, menelan kerugian sekitar 393,7 miliar rupiah, terdiri dari 648 rumah dan 517 bangunan lainnya.
    Jumlah kejahatan yang dilaporkan di Kepol

« 1 2 3 4 5

Tag blog