Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari ksubho

ksubho

laki-laki - 31 tahun, bololali, Indonesia
634 pengunjung

Blog / PERAN BHIKKHU SANGHA DALAM MENINGKATKAN KEYAKINAN UMAT BUDD

Rabu, 27 Oktober 2010 jam 14:13

PERAN BHIKKHU SANGHA DALAM MENINGKATKAN
KEYAKINAN UMAT BUDDHA


A. Pendahulan
Semua umat Buddha yang telah menjalankan hidupnya menjadi bhikkhu-bhikkhuni, wajib menagggalkan kehidupan duniawi dan bertempat tinggal dilingkungan tempat ibadah (vihara) yang disebut kuti (tempat tinggal para anggota Sangha). Selain menjalani kehidupan sebagai Bhikkhu-bhikkhuni, juga mengabdikan demi kepentingan perkembangan agama Buddha, membabarkan dhamma ajaran Sang Buddha dengan penuh cinta kasih.
Sangha merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan ajaran Buddha. Dimana sangha adalah bagian dari kesatuan Tri Ratna dari tiga mustika, “ Jika engkau berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha perasaan takut, khawatir, cemas, tidak akan muncul” (S. I ; 220). Buddha sebagai kesadaran yang tertinggi, Dhamma merupakan kebenaran dan Sangha sebagai person yang memiliki jiwa Kebuddhaan. Sangha terbentuk pada waktu kehidupan Sang Buddha dan beliau sendiri menjadi ketua sangha pada waktu itu. Sangha pada kehidupan Sang Buddha sebagai perantara dalam penyebaran ajaran kebenaran tentang Dhamma. Pengikut Buddha yang semakin banyak bukan lain adalah pengaruh keyakinan yang muncul melalui ajaran siswa-siswa Buddha yang menyebar ke berbagai daerah untuk mengajarkan Dhamma.
Ajaran Buddha setelah Mahaparinibbana Sang Buddha, dilanjutkan oleh para siswa-siswa utama melalui konsili-konsili yang menghasilkan kumpulan ajaran Buddha berdasarkan khotbah, aturan dan peristiwa yang terjadi pada waktu kehidupan Sang Buddha. Penyebaran ajaran Buddha memberikan banyak kontribusi kemakmuran pada berbagai negara. Raja Asoka yang terkenal dengan pedangnya dan selalu ingin menguasai negara-negara yang sebelahnya, namun setelah mendengarkan ajaran Sang Buddha, kemudia menjadi pengikut Buddha dan berperang bukan dengan senjata tajam melainkan dengan kebenaran Dhamma.
Sangha berperan sebagai perubah nilai psikologis pada manusia. Orang yang melihat kehidupan dan perbuatan para Bhikkhu yang terlatih dalam sila, memberikan kesejukan hati dan rasa damai. Kegembiraan ini muncul dalam diri manusia yang selalu memberikan penghormatan dan keyakinan terhadap Sangha. Dimana para bhikkhu-bhikkhuni yang selalu memberikan dampak yang baik dalam bertindak.
Perlindungan merupakan ciri utama Sangha sebagai kesadaran tinggi dalam kebuddhaan, memberikan satu perubahan yang besar terhadap perumah tangga untuk menyelamatkan dari ketakutan dan kekhawatiran menmgenai kehidupan dunia. Sangha memberikan rasa aman dan sebagai sifat kebijaksanaan pada kesucian yang dilakukan seseorang dalam sifat perlindungan yang dimiliki berdasarkan pada Ariya Sangha sebagai pengertian falsafah kesucian. Sebagai tempat menanam kebajikan yang merupakan ladang subur bagi perumah tangga, sebab sangha memiliki moralitas yang tinggi dalam sila dan vinaya.
Sangha sebagai guru dalam moralitas dan membimbing perumah tangga dan sebagai perlindungan dalam Buddha Dhamma. Walaupun setelah Mahaparinnibbana Sang Buddha, para Bhikkhu Sangha terjadi corak perbedaan dalam berbagai aspek penerapan vinaya ataupun ajaran Dhamma dari Buddha Gautama. Awalnya bhikkhu adalah sebagai manusia biasa yang melatih diri dalam moralitas dan kebajikan, menunjukan eksistensi dalam pengaktualisasian diri dalam latihan untuk mencapai tingkat kesucian. Disisi yang lain bhikkhu sebagai penganut Buddha yang memiliki peran untuk menyebarkan Dhamma, menyebarkan kebenaran agar para mahluk yang lain memperoleh kesempatan dalam menjernihkan kekotoran batin dengan ajaran Dhamma Sang Buddha. Sehingga prinsip melatih diri sebagai seorang pertapa tidak ditinggalkan, sembari memberikan ajaran kepada para perumah tangga.
Perbedaan pendapat dari kalangan bhikkhu memberikan dampak yang berbeda pula, tetapi sebagai tiang perlindungan dan penerus ajaran Buddha. Sangha merupakan penuntun dan figure untuk keyakinan umat perumah tangga. Berdasarkan aktualisasi diri bhikkhu, menjadikan pertanyaan bagi diri kita, apakah para bhikkhu dalam kenyataannya sekarang ini masih bisa memberikan kontribusi terhadap keyakinan kepada perumah tangga dalam perkembangan agama Buddha.

B. Sangha dalam agama Buddha
Sangha dalam agama Buddha diibaratkan sebagai sebuah ladang yang subur dalam menghasilkan panen yang berlimpah. Karena itu benih-benih perbuatan yang berjasa yang ditanam pada sangha adalah sebuah ladang yang subur, dimana hasil yang berrlimpah dapat diharapkan. Umat Buddha meyakini bahwa pemberian dana yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh melaksanakan kehidupan suci akan membawa pahala yang lebih besar tetapi tidak membawa pahala yang besar bila diberikan kepada orang yang tidak memiliki moralitas yang baik. Buddha menasehati bahwa bentuk pemberian makanan kepada seratus Paccekha Buddha, pahalanya akan lebih besar apabila ia memberikan makanan kepada seorang Sammasambuddha yang telah mencapai penerangan sempurna. Jika makanan diberikan kepada para anggota Sangha yang dipimpin oleh sang Buddha, pahalanya akan lebih besar apabila ia mendirikan sebuah vihara yang dapat digunakan oleh para bhikkhu sangha.
Sangha memiliki dua makna, yakni secara sammuti adalah sebagai personal duduk dalam sangha yang bertekan melatih diri dalam moralitas untuk meraih kebijaksanaan, yang belum mencapai tingkat kesucian sedangkan Sangha secara paramatta adalah tingkat kesucian pada sottapana, sakadagami, anagami dan arahat atau Ariya Sangha dalam persaudaraan para bhikkhu-bhikkhuni yang telah mencapai tingkat kesucian. Keberadaan Sangha selalu memberikan nilai kebaikan yang tinggi bagi perumah tangga. Penjelasannya Buddha kepada pemuda bernama Sigala memberikan nasehat fungsi Sangha terhadap umat perumah tangga yakni sebagai pembimbing dan pengajar dalam kehidupan para perumah tangga.
Sangha adalah sebagai bagian dari tiga mustika yang memiliki tempat khusus dalam perkembangan agama Buddha. Sangha merupakan bagian perlindungan agama Buddha dalam kelangsungan penyebaran Dhamma setelah Mahaparinibban Sang Buddha. “Seseorang yang telah pergi berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha akan melihat kebenaran yang mulia dengan pengetahuan yang benar” (Dhp. XIV : 190). Secara harfiah Sangha adalah persaudaraan suci para Bhikkhu-bhikkuni. Persaudaraan suci para bhikkhu-bhikkhuni terbentuk pada kehidupan Buddha. Persaudaraan para bhikkhu-bhikkhuni dengan Sang Buddha sebagai kepala dalam persamuan Sangha, memberikan banyak inspirasi tentang kebenaran pada jaman kehidupan pertapa di India yang tersesat dengan pandangan yang salah.
Praktek pembabaran Dhamma dengan kebijaksanaan memberikan implikasi terhadap perolehan kebahagiaan bagi para pengikut ajaran Dhamma dan memberikan petunjuk terhadap jalan kebahagiaan menuju pembebasan. Masuknya lima petapa pada waktu pertama kali sehingga terbentuklah Sangha pertama, yang menunjukan bahwa keyakinan terhadap kebenaran Dhamma dengan penembusan sendiri menjadi aspek tauladan bagi umat perumah tangga dan pertapa, bahwa Buddha memiliki kekuatan yang sangat besar dalam memberikan inspirasi keyakinan agar manusia selalu berbuat kebajikan.
Berkembangnya ajaran Buddha keberbagai negara dengan perantara para Bhikkhu sebagai penyebar ajaran Buddha dan sebagai pewaris pelaksanaan Dhamma menujukkan adannya keyakinan para umat kepada Dhamma sebagai penerimaan Dhamma, sebagai model hidup untuk memperoleh kebahagiaan. Sangha pada saat ini telah menunjukkan eksistensinya yang besar dalam upaya penyadaran umat perumah tangga kepada ajaran Buddha sebagai kebenaran yang mulia. Di Indonesia telah berdiri beberapa kelompok Sangha berdasarkan aturan pada vinaya yang berbeda dan ajaran sumber kitab yang berbeda pula. Keberagaman sangha di Indonesia atau di seluruh belahan dunia secara esensial memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai kumpulan orang yang melatih diri dalam vinaya dan upaya untuk pembabaran Dhamma kepada umat manusia yang masih banyak dicengkram oleh derita karena kekotoran batinya.
Seseorang yang mempunyai kehendak, tekad dan keinginan kuat untuk memilih hidup menjadi bhikkhu merupakan pilihan yang sangat luhur dan mulia. Menjadi bhikkhu memerlukan perjuangan yang keras, tekun, ulet dan dengan sungguh-sungguh melatih hidup suci sehingga apa yang menjadi cita-citanya dapat tercapai pada kehidupan sekarang. Prosedur untuk menjadi bhikkhu, juga sangat panjang, mulai dari samanera sampai menjadi bhikkhu. Banyak sekali rintangan dan godaan dari luar yang selalu diwaspadainya. Karena Sang Buddha berpesan “berjuanglah dengan sungguh-sungguh, O para bhikkhu, dan waspadalah serta penuh kebajikan ! dengan sekuat tenaga, jagalah pikiran sendiri ! siapa yang mengikuti dhamma dan vinaya dengan baik dan tekun akan mampu mengahkiri penderitaan hidup”.
Kalau seorang bhikkhu memegang terguh pesan Sang Bbuddha, maka para bhikkhu akan tabah menghadapi semua penderitaan, bahaya dan godaan demi tercapainya pemadaman keinginan, penyadaran ahkir dari penderitaan dan menuju pengetahuan yang sempurna. Seperti siswa Sang Buddha Y.A. Sariputra dengan tegas dan lantang mengatakan tekad yang kuat dalam latihan dan tidak akan pernah menggunakan cara-cara rendah yang dicela oleh Sang Buddha. Jika para bhikkhu sekarang ini mempunyai tekad dan kehendak seperti Y.A. Sariputera, kemungkinan tidak ada seorang bhikkhu yang menanggalkan jubahnya.
Dimasa sekarang seseorang yang telah puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai bhikkhu dan melaksanakan peraturan vinaya dengan baik, ada kemungkinan untuk melepaskan jubahnya dengan berbagai macam alasan, karena itu adalah hak setiap diri pribadi manusia dalam latihan. Setelah kembali ditengah-tengah masyarakat iapun menjalani hidup berumah tangga. Ini sama halnya dengan para mahasiswa yang mempertahankan diri untuk belajar, para pekerja yang bekerja keras untuk mencari nafkah secara jujur, tetapi perjuangannya kandas ditengah jalan dengan berbagai macam hambatan dan rintangan yang tidak mampu untuk dilewatinya.
Seorang bhikkhu, melepaskan jubah dan kembali dalam kehidupan perumah tangga adalah sesuatu yang wajar dan diaggap sesuatu yang biasa. Karena menjadi bhikkhu hanya merupakan suatu latihan biasa. Selain itu tidak ada peraturan yang sifatnya mengikat yang seharusnya seseorang untuk menjadi bhikkhu selama hidupnya. Tetapi bagi umat awam, yang mempunyai pengetahuan Dhamma pas-pasan atau bagi umat yang baru mengerti ajaran Buddha, kemungkinan sulit sekali untuk menerima kenyataan ini, karena ia begitu hormat, bakti, bermurah hati dan selalu membantu kegiatan yang berkenaan dengan kepentingan Sangha. Rasa kecewa akan selalu menyelimutinya, tatkala ia mengetahui bahwa mantan bhikkhu tempat ia berbakti itu ternyata sudah menikah. Maka ia mulai mereka-reka penaggalan jubahnya karena tidak kuat menahan godaan wanita. Padahal tidak setiap pribadi bhikkhu melepaskan jubahnya karena alasan tersebut. Tetapi perlu direnungkan lebih mendalam, bahwa setiap permasalahan yang muncul selalu ada batas kemampuan bagi seseorang dalam menyingkapinya, dan mantan bhikkhu pun tidak serendah yang menjadi bayangan. Sehubungan dengan hal tersebut Y.A. Ananda menanyakan kepada Sang Buddha, tentang bagaimanakah cara bhikkhu bersikap terhadap (wanita) permasalahan tersebut ? Sang Buddha menasehatinya “Jangan lihat mereka, Ananda, tetapi Bhante bagaimana kalau kita melihat mereka ? maka jangan bicara kepada mereka, Ananda. Namun bhante, bagaimana kalau kita harus berbicara dengan mereka ? maka dalam hal ini, Ananda, engkau harus selalu waspada”.

C. Aspek – aspek Kehidupan Sangha
Banyak orang masih belum menyadari bahwa Dhamma kebenaran yang dibabarkan Sang Buddha tidak dapat berubah pada situasi apa pun. Aturan vinaya tertentu juga termasuk dalam kategori yang sama dan tidak dapat berubah pada kondisi apa pun. Tetapi beberapa aturan vinaya lain dapat berubah untuk mencegah ketidaknyamanan yang tidak semestinya. Dhamma dan vinaya tidak sama. Hal ini dari beberapa bhikkhu mengamati tradisi tertentu dengan kaku seakan-akan hal itu merupakan prinsip yang religius yang penting. Walaupun yang lainya tidak dapat menemukan kepentingan atau pengertian religius dalam prakteknya.
Sangha dalam berbagai aspek fisik memiliki kelemahan seperti manusia biasa. Sehingga menimbulkan perpecahan dalam beberapa kelompok pada waktu kehidupan setelah Mahaparinibbana Sang Buddha yang merupakan dinamika dalam kelanjutan dari upaya penyebaran ajaran Buddha Dhamma. Sangha dalam wujudnya demi perkembangan agama Buddha mampu meningkatkan keyakinan yang memiliki beberapa aspek kehidupan sangha, yang membawa keberuntungan positif bagi perumah tangga, diantaranya:
1. Aspek model.
Sangha merupakan pewaris dan pelaksana ajaran Buddha, melalui sikap latihan moralitas dan tingkah laku dalam kehidupan. Mampu memunculkan inspirasi kepada umat perumah tangga dalam menemukan kebenaran berdasarkan aspek model yang diberikan oleh bhikkhu sangha. Keberhasilan sangha dalam mengemban misi kelangsungan penyebaran dhamma merupakan peran utama para Bhikkhu-bhikkuni dalam misinya sebagai pertapa yang menumbuhkan kembali sikap dan pandangan manusia yang salah menjadi manusia yang memiliki keyakinan kepada Dhamma sebagai pegangan hidup dalam merealisasi kebahagiaan.
Sangha memberikan efek kedamaian bagi orang yang melihat kualitas moralnya berkat kekuatan Dhamma dan kebijaksanaan yang dimilikinya bagi setiap pribadi bhikkhu-bhikkhuni. Pengendalian ini memberikan kekuatan yang luar biasa terhadap lingkungannya. Bhikkhu Sangha dalam prakteknya mengendalikan idrianya sebagai acuan utama para bhikkhu sangha dalam berpikir berbuat, maupun berbicara. Berjalan dalam sila dan vinaya merupakan moralitas yang tinggi yang dapat memberikan kedamaian dan kekuatan kebijaksanaan.
Beberapa sifat dan sikap bhikkhu sangha sebagai pertapa kepada para perumah tangga adalah mencegah anggota keluarga untuk berbuat jahat, menganjurkan untuk selalu berbuat kebaikan, mengajarkan dhamma ajaran kebenaran Sang Buddha yang baru, yang belum diketahuinya atau didengarnya serta menjelaskan dengan baik. Bhikkhu sangha sebagai tempat untuk menanam jasa bagi perumah tangga yang menuju pada kebahagiaan.

2. Aspek keyakinan
Keyakinan para siswa Buddha tumbuh setelah melihat Bhikkhu sebagai model utama dalam moralitas memberikan rasa damai dan kesejukan pikiran. “Keyakinan atau kepercayaan adalah yang terbaik yang dapat dimiliki seseorang” (S. I : 41). Sangha dalam ini hanya memberikan keyakinan kepada perumah tangga untuk memperkokoh dan memberikan landasan dalam hal pola prilaku sebagai panutan. Buddha dan para bhikkhu sangha adalah pembimbing menuju pada realisasi diri terhadap kebahagiaan. Dengan memiliki keyakinan kepada Sangha, ada yang berhasil mencapai tujuan, namun tidak sedikit pula yang tidak berubah nasibnya. “Para bhikkhu sangha sebagai siswa Buddha hanya menunjukan jalan seperti Buddha, hasilnya jelas tergantung kepada orang yang mendapat petunjuk” (M. III, 4-6).
Aspek keyakinan yang disertai pernyataan berlindung ini mempunyai arti dalam tiga aspek, (1). Aspek kemauan, yang menghendaki adanya kesadaran dan tindakan yang aktif, bukan pasif menunggu berkah dari atas; (2) aspek pengertian, yang menghendaki pemahaman terhadap hakekat perlindungan dan perlunya perlindungan, yang memberikan harapan dan yang menjadi tujuan; (3) aspek perasaan, yang mengandung unsure percaya keiklasan, syukur dan cinta kasih, yang menimbulkan bakti, mendorong pengabdian dan memberikan ketenangan, kedamaian, semangat, kekuatan dan kegembiraan.

3. Aspek perlindungan
keyakinan muncul mendalam bagi seseorang yang telah mengerti Dhamma yang akan memberikan perlindungan yang sejati terhadap kehidupan menuju kebahagiaan. Keberadaan bhikkhu sangha memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kebahagiaan para perumah tangga sebagai kekuatan moralitas. “Setelah melatih diri dengan baik, ia sangat sulit memperoleh perlindungan, sesungguhnya diri sendiri yang menjadi pelindung bagi dirinya” (Dhp. XII : 160).
Ungkapan perlindungan terhadap sangha menjadi acuan utama dalam upacara ritual agama Buddha. peryataan perlindungan bukan berlindung kepada personal sebagai manusia, tetapi kepada sifat moralitas dan kesucian pada bhikkhu sangha. Pelindung kepada sifat kebuddhaan yang dimiliki oleh setiap manusia adalah percaya pada Buddha sebagai sifat kesadaran dan kesempurnaan. Dan aspek dhamma sebagai bentuk kebenaran pada hukum kesunyataan. Namun yang menjadi aspek perlindungan sebetulnya adalah perlindungan kepada diri sendiri yang telah memiliki pemahaman hakekat kebenaran dan kesucian yang ada pada diri setiap seorang. “Karena itu Ananda, jadikanlah pelita bagi dirimu sendiri. Jangan menyandarkan dirimu pada perlindungan dari luar. Peganglah dharma sebagai pelita. Peganglah dengan teguh dhamma sebagai pelindung. Jangan mencari perlindungan di luar dirimu” (D. II ; 100).
Berkembangnya pengikut Buddha merupakan dasar keyakinan yang muncul dalam pegalaman Sang Buddha, dalam pembabaran Dhamma kepada Bhikkhu Sangha. Keyakinan ini berkat keterlibatan Sangha sebagai aspek psikologis dan falsafah yang berarti kesadaran pada tingkat kesucian, diwujudkan oleh umat perumah tangga melalui perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Ungkapan perlindungan kepada sangha sebagai kesadaran jiwa pada realisasi kebenaran. Keyakinan yang mendalam pada manusia yang menyatakan perlindungan kepada Sangha. Perlindungan kepada Sangha dalam Tisarana memberikan arti bukan pada person Bhikkhu melainkan pada ariya Sangha sebagai wujud kesucian.

D. Karakteristik Bhikkhu Sangha.
Secara moralitas bhikkhu sangha maupun umat perumah tangga terikat dengan sila dan vinaya dalam aturan kedisiplinan. Suatu latihan kedisiplinan dan aturan yang ditetapkan dan diberlakukan apabila telah terjadi peritiwa dan didukung dengan alasan-alasan yang akurat. Dengan demikian orang-orang tidak akan memprotesnya. Sebab didukung dengan bukti-bukti yang otentik. Sang Buddha menetapkan peraturan vinaya untuk pertama kalinya di vesali dan diberlakukanya setelah Bhikkhu Sudinna dari desa Kalandaka, melakukan hubungan seksual dengan mantan istrinya, untuk memenuhi keiginan orang tuanya yang mengharapkan keturunan sebagai penerus silsilah keluarganya.
Tanpa kedisiplinan sila dan vinaya, kehidupan manusia akan menjadi morat-marit, bagaikan kehidupan binatang liar yang hidup dihutan belantara. Tata tertib dalam agama Buddha ditetapkan bukan hanya untuk menciptakan kedamaian dalam masyarakat, ketentraman berbagsa dan bernegara, maupun dalam lingkungan Sangha tetapi lebih dari pada itu, digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan batin bagi yang melaksanakannya. Namun seringkali orang menganggap peraturan adalah beban dan ikatan yang membatasi kebebasan. Padahal, “Sila dan Vinaya sebenarnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam ajarannya, merupakan alat atau rakit untuk menyeberangi lautan menuju kepantai seberang, perlu untuk menyelamatkan diri, bukan untuk dijadikan beban” (M, I : 135). Justru sila dan vinaya dibutuhkan oleh mereka yang ingin mencapai kebebasan. Dengan mematuhi sila dan vinaya orang akan mampu melepaskan dirinya dari ikatan belenggu nafsunya sendiri. Sehingga berhasil menyelamatkan dirinya sendiri dan mencapai kebebasan-Nibbana.
Sila dan Vinaya membawa ketertiban, kerukunan, kedamaian dan kemajuan social. Ketika Sang Buddha menetapkan vinaya kepada para siswaNya, Buddha mengemukakan sejumlah fungsi peraturan, yaitu (1) untuk kebaikan Sangha, menjamin kelangsungan hidup atau eksistensi Sangha, (2) mendatangkan kesejahteraan bagi Sangha, mengurangi rintangan dalam latihan, dan menciptakan keharmonisan serta kedamaian, (3) mengendalikan mereka yang berkelakuan buruk, (4) melindungi mereka yang berprilaku yang baik, (5) melenyapkan kekotoran batin (killesa) yang telah ada sekarang, (6) mencegah munculnya kekotoran batin yang baru kemudian dikemudian hari, (7) meyakinkan mereka yang tidak percaya dan membahagiakan, (8) menigkatkan keyakinan mereka yang telah mendengar dhamma, (9) untuk menegakkan Dharma, yang bertahan lama bila vinaya dilaksanakan dengan baik, (10) untuk menegakkan disiplin sehingga memberikan manfaat bagi semua mahluk (A. V ; 70).
Pelaksanaan sila dan vinaya dengan baik akan memunculkan karakteristik yang menonjol dari seorang bhikkhu diantaranya kemurnia dalam sila dan vinaya, kemiskinan dalam suka rela hidup kesederhanaan, kerendahan hati, pelayanan tanpa mementingkan dirinya sendiri, penuh pengendalian diri, kesabaran, welas asih dan tidak membahayakan. Bhikkhu diharapkan menjalankan empat jenis morallitas utama yaitu (1) patimokkha-sila atau kode etika moralitas fundamental sangha dalam menghindari hal-hal yang dilarang oleh Sang Buddha, (2) Indriyasamvara-sila moralitas yang berhubungan dengan penahanan-indria, (3) ajivaparisuddhi-sila yang berhubungan dengan kesucian penghidupan, (4) paccayannisstia-sila yang berhubungan dengan latihan pengembangan spiritual dalam menggunakan empat kebutuhan pokok.
Penetapan vinaya tidak untuk kebaikan sangha saja, melainkan juga untuk kebaikan seluruh umat. Dengan menjalankan vinaya secara baik, para bhikkhu-bhikkhuni akan memperoleh sokongan perumah tangga. Vinaya akan memusnahkan para bhikkhu sangha yang beritikat buruk. Dharma akan terpelihara dengan baik dengan adanya kelestarian Sangha. Sangha ini terpelihara karena adanya vinaya yang ditaati. Mengajarkan dhamma tanpa vinaya, sama artinya dengan mengajarkan jalan tanpa menunjukkan bagaimana cara memulai dan menempuhnya. Sebaliknya vinaya tanpa dharma hanya merupakan suatu peraturan kosong yang sedikit manfaatnya. “Pelaksanaan sila dan vinaya dengan baik merupakan tindakan yang bebas dari penyesalan (avippatisaro) sebagai tujuan dan buahnya” (A. V ; 1). Dengan memiliki sila dengan baik seseorang akan dicintai, dihormati, dan dihargai oleh orang lain (M. I, 33). Dalam Mahaparinibana-sutta dihadapan perumah tangga Buddha mengemukakan manfaat dari pelaksanaan sila; (1)membuat orang bertambah kaya, (2) mendatangkan nama baik, (3) menimbulkan rasa percaya diri dalam pergaulan dengan berbagai golongan manusia, (4) memberikan ketenangan disaat menghadapi kematian, (5) setelah meninggal dunia akan terlahir dialam surga (D. II, 86).
Seseorang yang memasuki persamuan sangha dan menerima pentahbisan sebagai samanera-bhikkhu pemula, ia mulai terikat untuk mematuhi sepuluh sila samanera dan 75 sekiya, dengan kode disiplin tertentu untuk menjalani hidup sampai ia menerima penthabisan yang lebih tinggi-upasampada menjadi seorang bhikkhu. Bhikkhu pemula wanita disebut samaneri dan yang telah penuh-upasampada disebut bhikkhuni.
Seorang bhikkhu terikat untuk menjalankan empat jenis moralitas utama tersebut yang terdiri dari 227 aturan disamping beberapa aturan kecil yang lainya, untuk bhikkhuni 311 aturan. Peraturan mengenai kehidupan selibat sampai pencapaian spiritual adalah penting dan harus dipatuhi secara ketat. Jika melanggar salah satu aturan dalam peraturan sangha, itu diaggap sebagai “pecundang” dalam komunitas Sangha. Hak-hak religius tertentu dicabut dari komunitas sangha. Dalam hal ini yang melanggar, tentunya menghadapi banyak konsekuensi lainya dan memperbaiki sesuai dengan berat ringanya pelanggaran.
Kehidupan bhikkhu sangha tidak ada sumpah bagi seorang bhikkhu. Ia menjadi bhikkhu berdasarkan kehendaknya sendiri untuk menjalani kehidupan suci selama ia suka atau sebatas kemampuan yang dimilikinya. Karena itu ia tidak perlu merasa terjebah oleh sumpah yang pernah ia ucapkan dalam upacara upasampada-nya, dan menjadi munafikm karena ia sendiri dapat memutuskan apakah ia ingin mematuhi aturan atau tidak. Ia bebas untuk meninggalkan kehidupan komunitas Sangha kapan pun dan dapat menjalani cara hidup perumah tangga sebagai umat Buddha biasa apabila hal itu ia menginginkan. Ia juga dapat kembali memasuki komunitas sangha lagi kapan pun ia mau, namu ada peraturan yang perlu ditaati, aturan yang sama pula diterapkan untuk para bhikkhuni dalam latihan sebagai biara.

E. Peran dan Nilai Religius Sangha
Munculnya sangha sebagai pewaris Dhamma yang memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran Dhamma. Setelah para bhikkhu mencapai 60 orang arahat, Sang Buddha mengumpulkan para bhikkhu dan mengutusnya untuk menyebarkan Dhamma kesegala penjuru. O para bhikkhu, pergilah berkelana, demi kebaikan semua mahluk, demi kesejahteraan, kebahagiaan cinta kasih dan kasih sayang dunia ini, dan demi kebahagiaan dan kebaikan para dewa dan manusia, janganlah kalian pergi bersamaan kearah sama. Babarkanlah para bhikkhu, Dhamma yang indah dan mulia pada awal, pertengahan dan pada akhirnya. Baik yang tersirat maupun yang tersuart. Ajarkanlah kehidupan luhur. Dimana ada manusia yang matanya terselimuti oleh sedikit debu-debu, jika tidak mendengarkan Dhamma akan terjatuh. Mereka itulah yang akan memahami Dhamma. Laksanakan tugas mulia ini, kibarkanlah bendera kebijaksanaan. Ajarkanlah Dhamma, bekerja demi kebaikan semua mahluk.
Peran Sangha dalam pembabaran ajaran Buddha mulai dengan penyebarannya enam puluh para bhikkhu arahat dalam meneruskan ajaran Dhamma pada kehidupan Sang Buddha. sangha sebagai figure yang melaksanakan Dhamma mendapatkan simpati para dewa dan manusia yang ingin mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Kisah pertapa Kondana setelah Sang Buddha menguraikan khotbah dhamma yang pertama, langsung memperoleh mata dhamma, karena dapat mengerti dengan jelas makna khotbah tersebut sehingga beliau mencapai tingkat kesucian sotapanna dan disebut Anna Kondana artinya bhikkhu yang mengerti. Y.A. Sariputra mendapatkan keyakinan hanya mendengarkan tentang ajaran Buddha melalui ajaran yang sederhana bahwa segala sesuatu tiada yang kekal, pasti memiliki sebab dan akibatnya sehingga Sariputra mengeri Dhamma dan mencapai tingkat kesucian.
Buddha memiliki pengaruh religius yang sangat besar pada waktu kehidupannya setelah pencapaian penerangan sempurna. Masuknya lima pertapa teman seperjuangan Sidharta Gautama ahkirnya menjadi pengikut Buddha setelah mendapatkan ajaran tentang kebenaran mulia bahwa fenomena kehidupan ini telah tersimbak dan hanya mereka yang masih memiliki banyak kekotoran batin dapat menikmati dan melaksanakan Dhamma hingga mencapai pembebasan.
Persaudaraan suci para bhikkhu telah terbentuk pada kehidupan Buddha. persaudaraan para bhikkhu dengan sang Buddha sebagai kepala dalam sangha, memberikan inspirasi tentang kebenaran. Praktek pembabaran Dhamma dengan kebijaksanaan memberikan implikasi terhadap pencapaian kebahagiaan bagi para pengikut ajaran Dhamma dan memberikan petunjuk dalam kehidupan menuju Nibbana.
Moralitas Sangha memberikan peran dalam aspek psikologis bagi orang yang melihatnya dan dinyatakan mampu dalam pengendalian diri terhadap orang-orang yang tidak teguh. Bagi para bhikkhu lain dan umat perumah tangga akan dapat merasakan kebahagiaan dengan para bhikkhu sangha yang melaksanankan sila dan vinaya dengan baik, melatih diri dalam upaya pembebasan terkesan sangat simpatik dan memberikan kesejukan jiwa. Nilai religius muncul dalam keterlibatan Sangha terhadap kebenaran Dhamma, diwujudkan dengan penghargaan dan perlindungan. Secara fisik, sangha sebagai kumpulan para bhikkhu sangha, umat perumah tangga memiliki rasa dan sikap ramah tamah, memiliki uacapan yang baik, pikiran yang terkendali, serta menuntun dalam sikap dan perbuatan kejalan kebenaran.
Hubungan antara bhikkhu Sangha dengan umat merupakan hubungan yang bersikap moral religius dan sifatnya timbal balik sebagaimana yang telah dijelaskan Sang Buddha dalam Sigalovada Sutta; umat perumah tangga (umat Buddha) hendaknya menghormati bhikkhu sangha dengan cara; (1) membantu dan memperlakukan mereka dengan perbuatan yang baik, kata-kata yang ramah (2) pikiran yang penuh kasih saying, (3) selalu membuka pintu untuk mereka masuk (4) dan memberikan keperluan dalam hidupnya. Sebaliknya para bhikkhu yang mendapatkan penghormatan demkian akan mencintai umatnya dengan cara; (1) mencegah mereka berbuat jahat, (2) menganjurkan mereka untuk berbuat baik, (3) mencintai mereka dengan penuh kasih saying, (4) megajarkan dhamma yang belum mereka dengar dan menjelaskan dhamma dengan baik, (5) menunjukan jalan menuju pembebasan.
Para bhikkhu yang sungguh-sungguh menjalankan Dhamma-vinaya merupakan sahabat yang sangat baik (kalyana mitta) guru dhamma yang melestarikan ajaran agama Buddha, yang patut mendapatkan pelayanan dan penghormatan. Dimana ia berada pada orang yang tekun dalam pelaksanaan kebaikan, semangat dan berusaha untuk melayani semua kebutuhannya. Karena nilai religius sesuatu kebenaran merupakan suatu kebenaran yang universal. Orang-orang yang dengan sungguh melaksanakan Dhamma-vinaya akan menjadi orang yang bijaksana, tidak sombong, sederhana, bebas dari keserakahan, kemarahan, kemelekatan, senantiasa tenang, penuh tenggang rasa, bersemangat dan tanpa keinginan untuk memperoleh nama dan kemasyuran diri sendiri. Kesempatan baik bagi perumah tangga dalam menanam kebajikan dengan menopang kehidupan para bhikkhu sangha.
Sebaliknya umatpun dapat berpaling dari bhikkhu sangha yang melakukan pelanggaran vinaya, dengan cara tidak melayani, tidak menghormati, dan tidak memberikan persembahan makanan karena bhikkhu sangha tersebut telah lalai melakukan kewajibannya. Sehingga membuat nama buruk. Jika seorang bhikkhu masih menyakiti orang lain dan hidup sama seperti perumah tangga, maka sesungguhnya ia bukanlah seorang samana.
Mengingat kehidupan bhikkhu sangha tidak meminta kepada umat, maka sebaliknya umat seyogyanya menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh bhikkhu sesuaia dengan keperluan dan tidak bertentangan dengan peraturan kebhikkhuan. Karena kehidupan bhikkhu tergantung dari pemberian umat, jadi ia harus merasa puas, tidak memilih atau meminta sesuatu tertentu dari umat kecuali umat menawarkan kesempatan dalam pengembangan karma baiknya. Melalui perbuatan baik berdana kepada sangha pada setiap hari kathina. Ada empat kebutuhan pokok bagi para bhikkhu sangha yaitu; jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan serta sarana yang lain yang mendukung dalam kehidupan sangha.
Peran religius sangha memberikan perkembangan yang besar dalam sejarah Buddha-Dhamma hingga sekarang ini, menunjukkan adanya keterlibatan bhikkhu Sangha sebagai inspirasi pada keyakinan terhadap kebenaran Buddha.

F. Penutup
Sangha memiliki peran yang sangat penting terhadap pelestarian dan pembabaran Dhamma ajaran Sang Buddha. kebajikan moralitas yang menjadikan acuan dalam berpikir, bertindak, berucap yang positif sebagai seorang pertapa yang memberikan rasa damai dan bahagia. Sehingga menimbulkan keyakinan yang mendalam pada diri orang yang mengenal Dhamma.
Keyakinan dalam agama Buddha bukan keyakinan yang membuta berdasarkan dogma-dogma. Apabila tidak dilaksanakan membawa manusia pada alam neraka. “Keyakinan dalam Buddha yang paling utama adalah keyakinan kepada Buddha, keyakinan pada jalan mulia berunsur delapan, keyakinan kepada ketiadaan hawa nafsu (Viraga) atau Nibbana yang dinyatakan juga sebagai dhamma dan keyakinan kepada Ariya-Sangha, persaudaraan orang-orang suci” (A. II : 34). Buddha memberikan petunjuk terhadap keyakian adalah datang dan buktikan. Perbuatan yang memberikan dampak kebahagiaan harus tetap dilaksanakan, tetapi perbuatan yang membawa penderitaan jangan dilakukan. Buddha menolak ajaran pandangan yang salah berdasarkan keyakianan yang membuta, dilakukan oleh kaum titiya dan carvaka yang menggangap bahwa kehidupan manusia akan mengalami kebahagiaan dan hidup hanya sesaat atau tubuh adalah sumber penderitaan dan harus disiksa.
Menurut Asangga keyakinan itu mengandung tiga unsur, yaitu (1) keyakinan yang kuat akan sesuatu hal, (2) menimbulkan kegembiraan yang mendalam terhadap sifat-sifat yang baik, (3) harapan untuk memperoleh sesuatu dikemudian hari. Keyakinan yang kuat bukan berarti sebatas percaya seperti yang lazim dikenal oleh kebanyakan orang. Keyakinan disini menekankan aspek melihat, memahami dan mengetahui. Persoalan akan percaya akan timbul apabila kita tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas. Begitu melihat dengan sendiri dengan jelas, pada saat itu pula tidak ada lagi persoalan percaya atau tidak. Dalam ajaran yang bersifat ehipasiko, yang selalu kita temukan adalah melihat atau membuktikan, sehingga keyakinan memiliki kepastian, bukan percaya kepada sesuatu yang masih belum jelas.
Kegembiraan terhadap sifat yang baik akan ditemukan pada orang-orang yang memiliki pengertian dan kebijaksanaan. Tidak mungkin orang percaya karena takut dapat merasakannya. Dan sesuatu pengharapan dari sikap moral manusia mencapai kesempurnaan lewat jalan kebijaksanaan dan pemusatan pikiran yang bersih dari dorongan yang keliru. Sariputra memberikan kesaksian bagaimana seseorang dapat memiliki keyakinan yang sempurna kepada Tathagatha dan tidak meragukan ajaran-Nya. Keyakian diuji dengan mengendalikan indria. Dengan keyakianan ini, semangat kesadaran, konsentrasi, kebijaksanaan yang terus menerus. “Sebelumnya aku hanya mendengar hal ini, sekarang aku hidup dengan mengalaminya sendiri, kini dengan pengetahuan yang dalam, aku mampu menembusnya dan membuktikan secara jelas dan sendiri keindahan itu telah hadir” (S. V : 226).

Refrensi
......., 1980, Kebahagiaan dalam Dhamma, Majelis Buddhayana Indonesia, Jakarta.
Ingersah, 2002, Hubungan antara Bhikkhu dan umat Buddhis, Vihara Dhamma Metta Arama, Pekan Baru.
Krishnanda Wijaya-Mukti, 2003, Wacana Buddha-Dhamma, Ekayanan Buddhis Centre, Jakarta.
Mulyadi Wahyono, SH , 2002, Pokok – Pokok Dasar Agama Buddha, Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta.
Sri Dharmananda, 2002, Keyakinan Umat Buddha, Karaniya, Jakarta
Surya Widya pandita Sasanadhaja, 2001, Dhammapada, Abdi Dhamma Indonesia, Jakarta.
Teja S.M. Rashid, 1997, Sila dan Vinaya, Buddhis Bodhi, Jakarta.
Woodrvold Translit, 1989, The Book Of The Gradual Saying’s (Anguttara-Nikaya), Pali Text Society Oxford, London.
Ven. Narada Mahathera, 1998, Sang Buddha dan AjaraNya Bagian I dan II, Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta.
Ven, Piyadassi Mahathera,……..,Theravada Buddhism, Present Situation, W.B.F. Unity Of Diversity, Thailand.


Komentar

Kamu harus login untuk memposting komentar. Saya belum mempunyai account, daftar sekarang!
Rating kamu: 0
tidak ada rating