Halaman profil dari ksubho

ksubho

laki-laki - 31 tahun, bololali, Indonesia
637 pengunjung

Blog 16


  • PELAYANAN KEHIDUPAN BERAGAMA YANG INKLUSIF KEPADA SISWA DI S



    Oleh: Bhikkhu Nyanasuryanadi

    A. Pendahuluan
    Pada saat belajar bagaimana agama-agama mempengaruhi manusia dalam kurun waktu yang panjang, dapat dilihat kesalahan-kesalahan yang menyedihkan yang telah dilakukan manusia karena sikap ketidak-toleranan beragama. Istilah 'penganiayaan', digunakan untuk melukiskan kebrutalan, kekejaman, dan ketidak-toleranan yang dilakukan atas nama agama. Para guru yang bijaksana telah memperkenalkan ajaran-ajaran-Nya dengan tujuan mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan. Tetapi beberapa orang memperkenalkan agama yang mereka anut dengan jalan paksaan dan ancaman. Sejarah dunia menunjukkan kejadian-kejadian yang sangat menyedihkan akibat dari berbagai sikap eksklusif (ketidak-toleranan) beragama. Beberapa pengikut yang kurang pemahamannya terhadap agama mereka memperkenalkan agama dari guru mereka dengan cara-cara yang salah dan patut dipertanyakan. Sebenarnya, memperkenalkan suatu nilai yang bukan nilai agama atas nama pesan perdamaian dari agama.
    Mengapa semua yang tidak menguntungkan ini dapat terjadi? Salah satunya disebabkan lemahnya pemahaman akan agama orang lain, disisi lain beberapa orang telah menyalahgunakan agama untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar di tangannya. Kemudian rasa cemburu dan sikap mementingkan diri sendiri yang dimiliki oleh sebagian orang terhadap kegiatan keagamaan dan budaya pihak lain.
    Telah diungkapkan bahwa banyak kegiatan keagamaan saat sekarang, tidak diperkenalkan oleh pendiri agamanya dulu, tetapi diadakan oleh pengikut-pengikulnya dari waktu ke waktu. Sebagian kegiatan ini bermanfaat dan bermakna tapi ada beberapa di antaranya tidak masuk akal. Namun demikian, bila tahu bahwa praktek tertentu bermanfaat dan tidak menyesatkan dan juga tidak melanggar dasar keagamaan atau moral, maka tugas bagi orang-orang yang berpengertian untuk mentolerannya terlepas dari apakah praktek tersebut tidak lazim baginya atau tidak. Mereka yang menuntut untuk mengacu pada suatu buku atau kitab tertentu dalam segala hal, bahkan untuk mengatur kegiatan keagamaan yang sederhana sekalipun, orang yang demikian tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang berpengertian.
    Di pihak lain banyak penganut agama memasukkan kegiatan-kegiatan yang tidak ditemukan di dalam ajaran aslinya dengan alasan untuk memperkenalkan agama dan melestarikannya. Tindakan yang demikian tidak dapat dihindari dalam proses pengembangan keyakinan dan praktek agama untuk memenuhi kebutuhan banyak orang. Namun demikian, dalam menjalani intisari ajaran atau aspek-aspek spiritual, ada kecenderungan memudar dan menyebabkan manusia menilai suatu agama berdasarkan keuntungan material dan menimbulkan persaingan keagamaan yang tidak sehat.
    Bagi banyak orang, perbuatan tidak bermoral menjadi bermoral di bawah keadaan tertentu bila diperlukan. Pada keadaan yang demikian agama juga dikatakan untuk membenarkan tindakan-tindakan tersebut. Namun moralitas yang dijelaskan Buddha, tidak dapat dirubah untuk keuntungan dari keinginan yang mementingkan diri sendiri (Dhammananda, 1994:34).
    Pemahaman yang mendalam tentang agama akan mendorong memajukan dan mengormati agama sendiri tanpa harus menjadi orang yang tidak hormat dan tidak ramah terhadap agama-agama lainnya. Membangun suatu pemahaman bersama, kerjasama, dan toleransi yang saling menguntungkan di antara semua umat beragama untuk mencapai kebersamaan dalam perbedaan, sehingga mencapai kerukunan hidup beragama yang sehat.
    Semua umat beragama bekerja untuk kebebasan dan pencerahan umat manusia. Pencarian pembebasan dan pencerahan adalah pencarian akan kebenaran. Sayangnya, ditengah-tengah praktek keagamaan terdapat banyak praktek yang kurang berkenan dari agama atau kepercayaan tertentu yang mengatasnamakan kebenaran, namun kenyataannya jauh dari kebenaran. Sebagai umat beragama yang baik, hendaknya mampu dan berani mengakui mana yang merupakan konsep yang terbukti salah dan mencoba memperbaikinya dengan mengacu pada ilmu pengetahuan dan akal sehat dalam melihat kebenaran. Bahkan salah, jika dalam praktek toleransi beragama, bertoleran tanpa menunjukkan kelemahan dan kekurangan ajaran tersebut tanpa mengacu pada kebenaran. Pencarian kebenaran hendaknya membuang sikap persaingan dan bersatu untuk bekerja bahu-membahu dalam mencapai tujuan suci yaitu kerukunan hidup beragama atau bersama dalam keberagamaan demi kesejahteraan umat manusia.
    Sikap demikian ditunjukkan oleh orang yang menganggap hanya agamanya yang benar, dan apa yang lain di luar agamanya tidak benar. Boleh jadi sikap ini membuat seseorang secara fanatik sa¬ngat taat membaktikan diri pada agamanya, namun di sisi lain menimbulkan kesombongan, intoleransi, penghinaan bahkan memandang agama lain sebagai musuh sehingga menjadi ancaman bagi penganut agama yang lain. Penganutan semacam ini juga mengandung kelemahan intrinsik karena sifat yang tidak kritis, kurang objektif dan kurang introspeksi.
    Ajaran dan pesan-pesan yang disampaikan oleh para pendiri agama, bertujuan meringankan penderitaan dan membawa kedamaian serta kebahagiaan bagi seluruh umat manusia melalui pelaksanaan etika moral sesuai dengan cara hidup yang benar. Namun dewasa ini agama-agama telah berkembang menjadi lembaga-lembaga yang terorganisasi secara besar-besaran tanpa mencerminkan keterlibatan perasaan manusia di dalamnya, akibatnya ajaran-ajaran asli dari para pendiri agama masing-masing telah terkikis atau terabaikan, sehingga hampir tidak meninggalkan pengaruh pada para pengikutnya terutama dalam hal kesederhanaan, pengendalian diri, kebenaran dan sifat tidak mementingkan diri sendiri. Isi moral dari suatu agama dan nilai-nilai spiritual yang mendorong kehidupan damai diselimuti oleh nilai-nilai lahiriah yang tampak lebih menarik. Tidak sedikit pemeluk agama (termasuk siswa) yang telah mengabaikan atau meremehkan pesan-pesan pemimpin agama mereka hanya untuk mencari kekuasaan, ketenaran, dan keuntungan lahiriah lainnya guna kepentingan pribadi. Penyalahgunaan semacam ini cenderung menodai pikiran para penganut agama modern dan menyebabkan persaingan-pesaingan tak sehat serta menimbulkan hambatan-hambatan diantara berbagai kelompok agama maupun di dalam kelompok agama yang sama.
    B. Cara Rasional Untuk Memperkenalkan Agama
    Sulit memperkenalkan sebuah agama tanpa memperkenalkan tiga hal utama berikut: kitab suci, ide Ketuhanan, dan kehidupan yang akan datang. Tetapi menurut Nehru, harus mencoba menghindari ketiga hal ini. Ia menyatakan bahwa jika memperkenalkan sebuah agama dengan ketiga dasar ini, maka orang akan cenderung bergantung padanya sehingga akan menerima agama ini tanpa menggunakan akal mereka. Dengan demikian, disarankan untuk memperbolehkan orang mencari kebenaran melalui pengalaman dan dengan pemikiran yang bebas. Ini adalah suatu metode yang ideal untuk memperkenalkan suatu agama. Jika mengikuti cara ini, dapat menghindari prasangka buruk terhadap suatu agama, keyakinan yang membuta, dan salah pengertian.
    Nehru juga mengingatkan bahwa seseorang tidak harus menerima sesuatu, yang tertulis dalam kitab suci atas nama agama. Tapi satu hal yang ia setujui, bahwa: “kebaikan akan mendatangkan kebaikan dan keburukan akan mendatangkan keburukan”, ini adalah prinsip dasar dari suatu agama.
    Menurut Buddha, jika menerima suatu agama, harus menerimanya bukan dengan keyakinan yang membuta. Sama halnya, bila menolak suatu agama, tidak seharusnya membenci agama yang tolak. Buddha tidak meminta pengikutnya untuk hanya meyakini sesuatu tanpa pengertian yang benar. Suatu hari sekelompok orang dari Suku Kalama menyatakan kepada Buddha bahwa mereka mendapat kesulitan dengan 'orang-orang suci' yang mengajarkan jalan yang berbeda-beda. Semuanya menyatakan bahwa jalan mereka adalah jalan satu-satunya, dan jalan yang lain adalah salah. Pemimpin dari suku Kalama ini bertanya kepada Buddha bagaimana dapat mengetahui ajaran mana yang benar dan mana yang salah. Buddha menasehati Kaum Kalama, "Jangan percaya pada suatu tradisi hanya karena telah diwariskan oleh banyak generasi dan di banyak tempat; jangan percaya dengan sesuatu karena hanya banyak didengungkan dan dibicarakan oleh banyak orang; jangan percaya karena telah tertulis dalam suatu kitab kuno; jangan percaya pada apa yang telah kamu bayangkan dan berpikir sebagai suatu yang luar biasa maka ini pasti diciptakan oleh suatu kekuatan supernatural. Setelah mengamati dan meneliti, jika sesuatu itu masuk akal dan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi diri sendiri dan semua orang, maka terimalah, dan hiduplah sesuai dengannya."
    Metode yang digunakan untuk memperkenalkan ajaran-ajaran Buddha adalah secara rasional, tidak emosional, dapat dinalar oleh akal sehat. Ajaran-ajarannya diajarkan dengan jelas dan kesederhanaan yang menarik hati dan juga bebas dari kepicikan religius dan nasionalitas serta fanatisme. Ini membuat orang jelas dan paham. Cara penyampaian ini menarik pikiran intelek untuk menerima Budhhisme tanpa dogma-dogma dan tanpa kepercayaan tahyul. Dengan demikianlah ajaran-ajaran Buddha menembus hati dan pikiran.
    Dalam bukunya, The Discovery of India, Nehru berkata: "Buddha mempunyai keberanian untuk menunjukkan hal yang tidak memuaskan dari agama, tahyul, upacara, dan rekayasa para pendeta. Dia juga tidak tertarik dengan metafisika dan pandangan teologi, mukjijat, wahyu, dan hal-hal yang mengacu pada kekuatan supernatural. Daya tarik dari ajarannya adalah dapat dinalar, logis, dan berdasarkan pengalaman; penekanannya pada aturan moral dan caranya adalah analisa psikologis, suatu psikologi 'tanpa jiwa yang kekal'. Keseluruhan dari pendekatannya bagaikan menghirup angin segar dari pegunungan setelah sumpek oleh udara spekulasi metafisika."
    Buddha mengajarkan bahwa seseorang tidak harus menerima Dhamma oleh karena suatu rasa hormat yang dalam, tetapi hanya setelah melakukan penyelidikan. Mengacu pada nasehat ini, seorang Buddhis meletakkan penalarannya sebagai dasar terpenting dalam menjalani kehidupan yang nyata.
    Dengan demikian Buddhisme tidak hanya sebagai suatu agama tetapi benar-benar suatu jalan hidup yang baik. Buddhisme adalah suatu upaya pembebasan dari kejahatan dengan meraih pencerahan. Ia juga merupakan suatu penyatuan spiritual. Pada kenyataannya bahwa Buddhisme telah melewati batas suatu agama. Buddha merupakan hasil dari evolusi panjang atas kebajikan dari benih-benih perbuatan baik, latihan dan pengembangan batin dan nilai-nilai luhur yang diperoleh melalui masa yang tak terhingga lamanya dan mencapai puncak tertinggi sebagai suatu mahluk yang lebih tinggi dari mahluk supernatural.
    Agar dapat hidup berdampingan secara damai dan serasi dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama, seseorang harus memperoleh pendidikan agama yang mantap dengan menitikberatkan pada nilai-nilai etika moral sebagai langkah positif yang pertama ke arah saling pengertian dan kerjasama yang lebih baik di antara semua pemeluk agama. Seluruh umat beragama bersatu dan saling membantu guna meningkatkan dan menetapkan pendidikan agama yang sesuai dan sistematis, bukan hanya mengenai agama tertentu, tetapi berkenaan dengan pokok-pokok dari semua ajaran agama yang akan memberikan penerangan maupun pandangan yang mendalam tentang sifat nilai-nilai rohaniah yang lebih tinggi dalam kehidupan, terutama nilai-nilai etika moral.
    Langkah seperti ini akan membantu mengurangi atau setidak-tidaknya menghilangkan fanatisme agama yang keras dan prasangka buruk secara turun-temurun, yang telah menjadi biang keladi perselisihan antar agama. Tindakan-tindakan lain yang dapat membantu terciptanya saling pengertian dan saling menghormati antar agama yang lebih baik adalah pendirian organisasi antar agama yang mengatur penyelenggaraan ceramah, tukar pendapat, pembahasan, seminar, dan forum tentang agama serta masalah yang bertalian dengannya secara teratur. Dalam pelaksanaannya, yang selalu menjadi motivasi adalah usaha untuk mencari persamaan ke arah perdamaian dan keharmonisan, bukannya sikap supremasi atau dominasi oleh satu agama atas agama lainnya.
    Menerima kebenaran agama sendiri tanpa menyangkal ada pula kebenaran yang beraneka ragam pada agama lain dengan tataran dan sistem pemikiran yang berbeda. Seseorang dapat menjalankan ajaran agamanya sendiri tanpa perlu mencela yang lain. Sikap ini membuat seseorang tidak hanya berdamai dengan diri sendiri, tetapi juga dengan semua agama lain, membawa penganutnya pada persekutuan yang erat dengan semua jalan yang lain Ketika menempatkan konsepsi kebenaran menurut pandangan sendiri sebagai suprasistem, semua yang lain dianggap sebagai kebenaran parsial dan relatif. Menjadi inklusifberarti percaya bahwa seluruh kebenaran agama lain juga mengacu kepada agamanya sendiri. Pandangan ini dikritik karena membaca agama lain dengan kacamata agama sendiri. Hal-hal yang mengandung kontradiksi dan pemikiran yang tidak logis merupakan kesulitan intrinsik yang mungkin dihadapi.
    C. Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Dalam Kehidupan Beragama Buddha
    Menurut pandangan Buddha, setiap orang adalah orang yang religius jika ia seorang yang baik, tulus, jujur, baik hati dan hidup tanpa mengganggu yang lain. Orang yang demikian dapat menjadi pengikut agama apapun bahkan seorang yang tanpa label agama sekalipun. Juga kalau orang yang demikian dapat berhasil mensucikan pikirannya dari segala kekotoran batin dan pikiran jahat ia akan dapat menikmati hidup yang bahagia, damai, dan berarti, dan akhirnya mencapai kebahagiaan tertinggi.
    Jika seseorang baik, dengan sendirinya ia orang yang religius. Tidak ada bedanya apakah ia seorang umat Buddha, seorang Muslim, seorang Kristiani atau Hindu. Kita memperlakukannya sebagai orang yang religius. Lumrah bila manusia mengikuti praktek tradisi dan kebudayaan yang berbeda atas nama agama. Praktek-praktek ini mulanya berangkat dari keadaan-keadaan dan pola hidup yang membantu lahirnya suatu agama tertentu. Berbagai agama berkembang dengan cara yang berbeda karena perbedaan sosial, ekonomi dan pola intelektual, berdasarkan permasalahan spiritual, dan berdasarkan berbagai kondisi saat itu. Dengan demikian, lidak ada alasan untuk membeda-bedakan yang lain dengan dasar praktek, adat-istiadat dan tradisi yang berbeda. Pada saat yang sama, juga dapat menjadi religius tanpa tradisi-tradisi tersebut. Dan tidak ada gunanya mengikuti tradisi-tradisi yang tak berarti atas nama agama.
    Hanya tiga hal yang diperlukan oleh seseorang untuk menjadi orang yang religius, ia harus mempunyai pikiran yang baik, ucapan yang baik dan melakukan perbuatan-perbualan yang baik. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk membuktikan bahwa ia lebih religius dari yang lain hanya karena ia menyembah dan bersembahyang lebih banyak dalam sehari atau dengan membual persembahan pada Tuhan atau Guru. percaya bahwa jalan satu-satunya untuk menjadi seorang yang religius adalah dengan mengikuti dasar-dasar ajaran agama yang baik untuk mengembangkan aspek moral dan spiritual dalam kehidupan. Mungkin saja ada sebagian orang menjalani dasar-dasar ini dan perbuatan yang demikian baik dan melayani umat manusia tanpa pamrih dan tanpa menyembah siapapun. Dari sudut pandang Buddhisme, orang-orang demikian lebih religius dari pada mereka yang menjalani agama mereka hanya dengan berdoa dan memberi persembahan dengan berbagai pamrih.
    Para guru agama mengerilik kelakuan orang awam tanpa mengikuti disiplin mereka sendiri dan pada saat yang sama umat awam mengeritik kelakuan para guru agama dan mencoba memperbaiki satu sama lainnya tanpa mengikuti disiplin agama mereka.
    Buddha ialah menasehati mereka yang mendengarkannya untuk hidup sesuai dengan Dhammanya. Jika mereka hidup dengan Dhamma, mereka akan dilindungi oleh Dhamma ini; karena Dhamma adalah hukum alam semesta. Tidak perlu mengharapkan perlindungan dari kekuatan luar; manusia dapat melindungi diri mereka sendiri dengan menjalani kehidupan benar berdasarkan hukum universal: Dhamma Hidup dalam Dhamma, melindungi sesama dengan membiarkan sesama hidup penuh damai dan tanpa mengganggu mereka. Buddha menyatakan bahwa jika manusia melanggar hukum alam semesta, mereka akan mendapat kesulitan dan akan berhadapan dengan semua akibat-akibatnya. Dari sudut pandang Buddhisme, adalah tidak mungkin bahkan bagi Tuhan pun untuk merubah akibat dari pelanggaran hukum semesta.
    Bagaimana menapakkan langkah menuju pencerahan spiritual, dengan melihah segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Jalah tengah sebagai jalan kesehatan rohani, kekuatan batiniah, kemurnian, dan pengendalian diri, ketabahan, dan sikap tidak berlebihan. Langkah-langkah yang membawa kepada pencerahan adalah delapan unsur jalan mulia yang dikembangkan melalui latihan perhatian penuh pada pandangan benar dan pikiran/kehendak benar. Letihan etika dengan langkah bicara benar, perbuatan benar, dan mata pencaharian benar. Latihan meditasi dengan langkah usaha yang benar, kesadaran yang benar, dan konsentrasi yang benar.
    Sekalipun anda bukanlah seorang yang beragama Bud¬dha, dan sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang yang beragama Buddha, anda masih memiliki kemampuan untuk menjadi seorang Buddha yang hidup. Karena Buddhisme bukanlah suatu teologi atau agama melainkan suatu tekat bahwa latihan-latihan meditatif beserta latihan-latihan pikiran tertentu dapat secara efektif menunjukkan bagaimana caranya membangunkan sifat Buddha dalam diri sendiri dan membebaskan dari penderitaan dan kebingungan.
    Buddhisme mengatakan bahwa perubahan adalah mungkin terjadi. Buddhisme mengungkapkan bahwa apa pun latar belakang, masing-masing adalah pencipta dari tujuannya sendiri-sendiri. Buddha mengatakan bah¬wa Pikiran, kata-kata, dan perbuatan akan menciptakan masa depan. Segala sesuatu mempunyai tempatnya sendiri-sendiri, segala sesuatu adalah suci, dan segala sesuatu adalah saling berkaitan penyatuan seluruh pengalaman ke dalam jalan yang menuju kepada realisasi kesempurnaan batiniah. Ilmu pengetahuan telah membuat kemajuan besar dalam memanfaatkan dan memahami masalah. Buddhisme merupakan suatu filosofi yang agung yang selama berabad-abad telah mengembangkan suatu metode yang sistematis dari pembentukan dan pengembangan hati dan pikiran suatu metode membangunkan Buddha yang ada di dalam diri.
    Berikut ini adalah beberapa cara untuk menumbuhkan Kesadaran pikiran dan membawa meditasi, ketenangan, dan kejernihan masuk ke dalam aktivitas sehari-hari:
    1. Tarik napas dan tersenyumlah. Ambil waktu untuk meng-hembuskannya, dan Biarkan. Nikmatilah.
    2. Lakukan meditasi berdiri sambil mengantre karcis bioskop atau tiket kereta api, atau menunggu bis di halte. Berdiri sajalah tarik napas, dan bangunlah.
    3. Ketika anda duduk atau berdiri, berhentilah sebentar dan bersyukurlah sebentar atas perubahan yang terjadi, atas kebebasan yang tersedia.
    4. Ketika anda melewati suatu ambang, melewati sebuah pintu, atau memasuki suatu ruangan, pandanglah itu seperti me-masuki sebuah kuil dan lakukan dengan penuh rasa hormat.
    5. Berjalanlah tanpa alas kaki di atas rumput atau di atas karpet tebal dan rasakan setiap sensasi yang terasa pada jari-jari dan telapak kaki anda.
    6. Berjalanlah di tepi pantai, tepat di mana air bertemu dengan pasir, dengan kedua mata anda tertutup, sambil merasakan jalan anda di sepanjang pantai, dengan sepenuhnya waspada dan penuh perhatian.
    7. Berjalanlah perlahan di atas butiran salju atau di atas daun-daun musim gugur yang rontok, mengikuti bunyi yang timbul dari setiap langkah.
    8. Bernyanyilah, lagukan irama-irama, atau berdoalah sampai anda benar-benar lupa dan kehilangan diri anda sendiri; kemudian berhentilah dan berdiamlah di dalam momen isness yang tak dapat diekspresikan, sepenuhnya di luar batas konsep, cerita, maupun strategi.
    9. Lakukan pekerjaan sederhana yang terus-menerus berulang seperti menjahit, membordir, atau bahkan mencuci piring sebagai suatu bentuk meditasi dalam tindakan, sambil mem-fokuskan perhatian sepenuhnya pada momen yang ada dan bukan pada yang lain.
    10. Cobalah lakukan pekerjaan manual dengan cara yang suci, lakukan apa yang anda kerjakan seolah-olah itu adalah pelayanan ilahi yang paling tinggi, karena memang demikianlah apa adanya.
    11. Ketika anda makan, kunyahlah setiap suapan sebanyak lima puluh atau seratus kali untuk mendapatkan sebanyak mungkin yang dapat anda peroleh dari makanan itu dan mttuk lebih mendapatkan makanan dari kekayaan setiap momen.
    12. Cobalah mengunyah sebutir kismis selama beberapa menit dan rasakan segala sesuatu yang dapat anda rasakan darinya. Sebelum berbicara, perhatikan apa motivasi anda untuk mengeluarkan kata-kata itu.
    13. Setel alarm pada arloji atau jam meja anda supaya berbunyi setiap jam sehingga mengingatkan anda untuk terjaga dan mensyukuri mukjizat dari setiap mornen. Panggil nama anda sendiri dan katakan, "Bangun!"
    14. Perhatikan cahaya Buddha yang bersinar pada sedap orang dan segala sesuatu sehingga dengan demikian anda dapat memperlakukan orang lain sesuai dengan sinarnya.
    15. Nikmati sukacita dan kedamaian dari meditasi yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata (Surya Das, 1997:96-97).

    D. Aplikasi Unsur Spiritual dalam Pendidian Agama Buddha
    1. Paradigma Pendidikan
    Pendidikan pada dasarnya bersifat terbuka, tidak ada yang disem¬bu¬nyikan (D.III.100). Buddha me¬nyangkal adanya otoritas sego¬long¬an masya¬rakat tertentu, yakni kasta brahmana, yang memonopoli ke¬wenangan agama dan bersifat diskriminatif. Pandangan egalitarian yang melihat semua orang sede¬rajat ini, membuat Buddha menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Ia mem¬bentuk suatu struktur monas¬tik yang dinamakan Sangha, menampung murid dari berbagai go¬longan ma¬syarakat. Jelas pendidikan dalam agama Buddha tidak me¬miliki watak feodalistik, melainkan komu¬nalistik. Peng¬hargaan terha¬dap manusia ditentukan oleh tingkat prestasi, bukan karena status sosial ekonomi dan faktor primordial. Seperti kata Hui-Neng, Pa¬triarch VI: Orang utara mungkin berbeda dengan orang selatan, tetapi pencerahan tidaklah berbeda di kedua tempat itu.
    Kepada Bharadvaja Buddha mengajarkan bahwa bagi orang pan¬dai tidaklah cukup me¬lindungi kebenaran dengan membuat ke¬sim¬pulan: hanya ini saja yang benar dan lainnya keliru (M. II. 171). Se¬ba¬gai agama yang universal, ajaran Buddha menghargai pluralisme, dan tidak bersifat eksklusif.
    Buddha tidak meng¬hendaki pendi¬dikan yang menghasilkan seba¬risan orang buta yang saling me¬nuntun (M. II. 170). Kepada suku Ka¬la¬ma, Buddha meng¬anjurkan agar tidak segera percaya terhadap suatu ajaran, apakah itu berupa tradisi hingga yang tertulis dalam kitab suci sekalipun, sebe¬lum diselidiki sendiri benar (A. I. 191). Buddha sangat menghargai kebebasan berpikir. Karena itu pen¬didikan dalam per¬spek¬tif agama Buddha tidak bersifat otoriter, melainkan bersifat de¬mokratis. Bah¬kan Buddha tidak menginginkan adanya keter¬gantung¬an kepada diri-Nya, dan tidak menunjuk peng¬gan¬ti sebagai pemegang otoritas setelah Ia parinirwana (D. II. 100).
    Perbedaan pendapat merupakan suatu kewajaran. Menghadapi kri¬tik, Buddha mengajarkan untuk menilai sejauh mana kritik itu benar atau salah, dan hendaknya tidak merasa tersinggung karena kema¬rahan akan menghalangi perjalanan mencapai kebebasan. Mengha¬dapi pujian, tidak merasa puas atau bangga, tetapi juga harus menilai kebenarannya berdasarkan fakta (D. I. 3) Sikap Buddha sangat ob¬jek¬¬tif, bahkan terhadap diri-Nya sendiri. Seperti yang ditun¬jukkan da¬lam percakapan dengan Sa¬riputra. Sang murid mengatakan bahwa ia ya¬kin, tidak ada orang yang melebihi kesempurnaan Buddha Gotama. Buddha bertanya, apakah Sariputra mempunyai pengetahuan lang¬sung tentang diri-Nya, tentang semua Buddha di masa lampau, atau Buddha di masa depan. Jawab Sariputra, tidak. Lalu apa dasarnya Sariputra berani membuat kesimpulan seperti itu? (D.II. 82).
    Dharma yang diajarkan oleh Buddha mengundang untuk dibuk¬tikan, disebut ehipassiko, artinya ‘datang dan lihat’ (A. III. 285). Ka¬rena itu pendidikan memberi tempat yang seluas-luasnya pada pengu¬jian, pemahaman yang rasional, dan pengalaman empiris. Da¬lam prak¬¬¬tiknya orientasi pen¬di¬dikan harus pada proses. Suatu proses pada dasarnya merupakan rangkaian sebab dan akibat. “Se¬seorang yang melihat sebab-akibat, melihat Dharma” (M.I.191).
    2. Pengertian dan Dasar Filosofis
    Pendidikan berasal dari istilah sikkha (latihan), tersirat bahwa pendidikan merupakan proses belajar, latihan pelajaran, mempelajari, mengembangkan dan pencapaian penerangan (Butr-Indr, 1979). Pada isitilah ini termasuk juga disiplin moral (síla), konsentrasi (samadhi), dan pengetahuan atau kebijaksanaan (pañña) (A.I.231). Demikian proses secara terus-menerus dari perhatian pendidikan sebagai sifat fungsional dari latihan, praktek, dan kemajuan setahap-demi setahap (anupubbasikkha anupubbakiriyä anupubbapatipadä).
    Selama empat puluh lima tahun Sang Buddha membabarkan jalan pembebasan. Beliau dikenal sebagai guru para dewa dan manusia (sattha devamanussanam) dan pernbimbing manusia. Disiplin moral (síla), meditasi (samadhi) dan kebijaksanaan (pañña) yang dicapai berdasarkan perealisasian keadaan sebenarnya dan kehidupan merupakan dasar dan Jalan yang diajarkan beliau. Hal ini dihubungkan belajar seumur hidup dan meditasi yang ditujukan pada latihan dan mengendalikan pikiran (batin).
    Landasan Filosofi pendidikan dalam agama Buddha mengacu pada em¬¬pat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani), yaitu mengidenti¬fika¬si dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan meng¬akhiri du¬kkha. Lewat formulasi ini Buddha memberi petunjuk bagai¬mana sebaik¬nya mengatasi masalah secara sistematis. Berdasar rumusan Empat Ke¬be¬naran Mulia Kowit Vorapipatana mengembangkan kon¬sep Khit-Pen yang artinya ‘berpikir, mengada’ (to think, to be) atau ‘mampu berpikir’ (to be able to think) untuk menggambarkan strategi peng¬ajaran yang mencakup berpikir secara kritis dan kecakapan me¬me¬cahkan masalah.
    Masalah sentral dalam pandangan Buddha adalah penderitaan ma¬nusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha). Keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang men¬da¬huluinya. Dalam merumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasa¬muppada), Buddha menempatkan di urutan pertama kebodohan (avijja). “Yang lebih buruk dari se¬mua noda itu adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Para Bhikkhu, singkir¬kan noda ini dan jadilah orang yang tak bernoda” (Dhp. 243).
    Agama Buddha memandang bahwa kebodohan merupakan akar penyebab penderitaan dan menyebabkan pikiran yang tidak berkembang menjadi gangguan pencapaian kedamaian, maka seseorang harus menekankan dalam hidupnya untuk mengembangkan mental dan proses pendidikan agar tujuan mulianya tercapai.
    3. Makna dan Tujuan Pendidikan
    Pendidikan adalah penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, si¬kap dan tingkah laku; yang dalam arti luas pendidikan merupakan hidup itu sendiri (dan belajar itu seumur hidup), sebagai proses me¬nyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurna¬an. Pendefinisian ini mendekati pandangan sosiologis, antropologis dan psikologis. Disiplin keilmuan lain mungkin saja memiliki rumus¬an yang lebih khusus. Pendidikan merupakan usaha yang disengaja dan teren¬cana untuk meno¬long seseorang belajar dan bertanggung¬jawab, mengembangkan diri atau mengubah perilaku, sehing¬ga ber¬manfaat bagi kepentingan individu dan masyara¬kat. Dengan memiliki pengetahuan, seseorang memiliki bekal untuk bekerja, dan membantu atau melayani orang lain dengan baik.
    Tujuan umum pendidikan tak berbeda dengan tujuan pembabaran agama sebagaimana yang di¬amanatkan oleh Buddha kepada enam pu¬luh orang Arahat. Mereka mengemban misi atas dasar kasih sayang, demi kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan dan kebaha¬giaan bagi orang ba¬nyak (Vin.I.21). Karena men¬datang¬kan kebaikan ini, memiliki pengeta¬huan dan keterampilan merupakan berkah utama (Mangala-sutta).
    Pendi¬dikan agama Buddha berdasarkan kasih sa¬yang, menjadi sa¬lah satu cara untuk menyingkir¬kan penderitaan dan memperbaiki na¬sib sese¬orang. “Di sini Yasa, tiada yang mencemaskan. Di sini Yasa, tiada yang me¬nyakitkan. Ke sini Yasa, Aku akan mengajarmu,” ucap Buddha kepa¬da Yasa (Vin. 1. 15). Buddha adalah guru yang se¬ring diposisikan juga sebagai dokter, dan ajaran-Nya diiba¬ratkan se¬ba¬gai obat yang dipergunakan dengan tepat (Pmj. 21).
    Pendidikan agama jelas menolong untuk menghentikan segala ben¬¬tuk ke¬jahatan. “Aku telah ber¬henti. Engkau pun berhenti¬lah,” seru Buddha kepada Angulimala (M. II. 99). ”Melihat kejahatan sebagai kejahatan, inilah ajaran Dharma yang pertama. Setelah me¬lihat ke¬jahatan sebagai kejahatan, jauhilah itu, singkirkan itu hingga bersih, bebaskan diri dari hal itu, inilah ajaran Dharma yang ke¬dua.” (It. 33).
    Ajaran Buddha atau Dharma dipan¬dang sebagai pelita yang me¬ne¬rangi kegelapan. Buddha menga¬jarkan: “Peganglah teguh Dharma se¬ba¬gai pelita, peganglah teguh Dharma sebagai pelindungmu,” dan dengan itu berarti seseorang menjadi pelita dan pelindung bagi diri sen¬diri, sehingga tidak me¬nyandarkan nasibnya pada makhluk lain (D. II.100).
    4. Praktek Pengembangan Spiritual
    Pelaksanaan pengembangan spiritual diawali dari upaya dan inspirasi menggerakkan jalan spiritual, dimana upaya diekspresikan dalam berbagai cara, antara lain mengerahkan tenaga, ketekunan, semangat, disiplin diri, kerajinan, konsistensi, kesabaran. Upaya benar yang dikembangkan adalah: (1) upaya untuk menghindari pikiran maupun tindakan baru yang tidak sehat dan negatif, (2) upaya menaklukkan segala pikiran dan tindakan yang tidak sehat, (3) upaya untuk mengembangkan hanya pikiran yang baik dan sehat serta menjalani hidup yang dicerahkan, dan ( 4) upaya untuk mempertahankan kebaikan yang sudah ada.
    Keseluruhan dorongan ajaran Buddha adalah penguasaan pikiran. Jika anda menguasai pikiran, anda akan menuasai tubuh dan kata-kata…. Penguasaan pikiran dicapai melalui kesadaran terus-menerus pada seluruh pikiran dan tindakan. Dengan menjaga kesadaran penuh (mindfulness) secara konstan dengan latihan ketenangan serta wawasan, pada akhirnya anda akan mampu mempertahankan pengenalan akan kebijaksanaan sekalipun berada ditengah aktivitas biasa maupun berbagai gangguan. Jadi kesadaran penuh merupakan penyembuh yang sangat mendasar atas semua penderiatan samsara.
    Pelaksanaan retreat sebagai cermin kesadaran penuh adalah akar dari Dharma, latihan, benang pikiran. Kurang kesadaran penuh akan menyebabkan kekuatan negative menaklukkan anda. Tanpa kesadaran penuh akan disapu kemalasan, kurangnya kesadaran penuh adalah pencita perbuatan jahat, memupuk kekeotoran batin. Terlalu sering orang berpikir bahwa menyelesaikan masalah-masalah dunia harus didasarkan pada menaklukkan bumi, dan bukannya menentuh bumi, menyentuh tanah.
    Praktek Konsentrasi benar, merupakan upaya untuk membuat komitmen untuk berkonsentrasi. Sewaktu meditasi, jika kita ingin menjadi tenang dan berkonsentrasi, kita harus bekerja dengan pikiran dan perasaan kita. Ini akan menjadi lebih mudah jika memberikan sesuatu untuk dikerjakan kepada pikiran yang tidak bersambungan satu sama lain. Untuk melakukannya, memberikan tugas konkret kepada pikiran kecil yang resah, suatu tugas untuk memfokuskan perhatian pada suatu obyek konsentrasi. Me¬lakukannya supaya pribadi suci dari kesadaran bawaan yang berada di dalam diri masing-masing dapat beristirahat dengan tenang di dalam pandangan yang lebih luas atau pikiran alami alami.
    Kemampuan untuk memusatkan perhatian dan secara sengaja membawa kembali perhatian yang melayang-layang ke sana kemari kembali lagi dan kembali lagi merupakan akar dari disiplin mental, kekuatan kehendak, dan bahkan pengembangan karakter. Latihan meditasi apa saja bisa dipahami menurut apa yang saya sebut sebagai lima T.
    1. Taming (Menjinakkan) Untuk sejenak bayangkan pikiran anda yang resah dan tidak saling berhubungan satu sama lain sebagai seekor kuda mus¬tang liar yang cantik. Mula-mula kuda itu harus cukup jinak supaya bisa dimasukkan ke kandang kuda. Pikiran anda paling tidak harus mau masuk ke arena meditasi.
    2. Training (Latihan) melatih kuda mustang liar itu untuk melepaskan rasa takutnya terhadap segala sesuatu yang tidak biasa baginya. Kuda itu akan belajar untuk berhenti melawan dan membedal karena mendapat gantinya, berupa rasa aman yang hangat dan tempat berlindung yang aman. Pada akhirnya, kuda itu akan mampu mencongklang dengan bebas dengan kecepatan penuh, dan gerakannya akan mempunyai tujuan dan makna. Tapi untuk sekarang ini, ia masih sedang belajar berjalan dengan tali kekang yang ketat. Di dalam meditasi kita melatih mind yang resah untuk menjadi tenang dan rileks.
    3. Testing (Menguji) harus bekerja dengan kuda mustang liar tadi; harus membawanya keluar dan menungganginya. Apa yang terjadi manakala kuda itu terkena pengaruh-pengaruh luar, gangguan-gangguan, kebisingan, godaan? Akankah kuda itu mampu mempertahankan sikap tenangnya serta perhatiannya yang disiplin? Dalam mengembangkan latihan kesadaran, menguji apakah kita dapat menjaga kesadaran dan konsentrasi kita ketika kita bergerak menjauh dari ruang meditasi dan masuk ke dunia luar.
    4. Transforming (Mengubah), kuda liar tadi telah diubahkan. Sekarang kuda itu dapat membawa pemiliknya dalam jarak jauh dengan kecepatan berapa pun. Di dalam meditasi tidak lagi dikendalikan oleh pikiran, melainkan dapat memanfaatkan kecakapan unik dari pikiran itu untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Telah tersambung ke dalam kekuatan pikiran yang tidak pernah lelah.
    5. Transcendence (Transendensi), di dalam transendensi atau keadaan rnelarnpaui, baik penunggang maupun sang kuda telah menjadi satu. Tak ada lagi pemisahan antara "anda" yang telah menjinakkan, melatih, atau menguji dan "kuda" itu sendiri. Menyadari adanya kesatuan, keutuhan, dan harmoni (atau keselarasan) dengan alam semesta. Latihan konsentrasi membantu membawa kita kembali kepada keutuhan yang menyatu pada sumber kita. Dapat melangkah dengan mengikuti arus sebagaimana adanya, tanpa perlawanan atau menggantungkan diri, sambil menyadari bahwa kita adalah bagian dari aliran yang tak ada habisnya... Dan ke mana pun kita melangkah, kita pergi bersamanya.
    E. Penutup
    Diskusi ini memungkinkan untuk menemukan dalam Buddhism suatu paradigma baru tentang pengembangan pelayanan kehidupan beragama inklusif dalam agama Buddha yang seimbang didasarkan keutuhan pemandangan dunia.
    Paradigma secara holistik, memperhatikan keseluruhan yang terdiri dari komponen phisik dan spiritual. Dua komponen diharapkan untuk dikembangkan secara berdampingan. Ilmu pengetahuan dan teknologi penting bagi pengembangan fisik dan lingkungan, sedangkan agama penting bagi pengembangan pikiran.
    Gagasan mengenai bentuk pelayanan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual dan sikap religius secara terpadu sebenarnya telah di ajarkan oleh Buddha hingga sekarang, sejauhmana para praktisi (guru) dan lembaga pendidikan mengarahkan langkahnya untuk menata sistem pelayanan kehidupan beragama yang inklusi kepada siswa.

    Daftar Refferebsi:

    Dhammananda, Sri.2002. Keyakinan Umat Buddha. Alih bahasa oleh Ida Kurniati. Jakarta: Penerbit Karania.
    Dhammananda, Sri. 1994. Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?. Diterjemahkan Oleh Lim Eka Setiawan. Bandung: Pemuda Vihara Vimala Dharma.
    Gunaratana. 1996. An Approach to Buddhist Social Philosophy. Singapore: Ti-Sarana Buddhist Association.
    Ken Jones. 1989. The Sosial Face of Buddhism. London: Wisdom Publication.
    Siddhi. 1979. The Sosial Philosophy of Buddhism. Bangkok: Mahamangkut Buddhist University.
    Surya Das, Lama. 1997. Awakening The Buddha Within. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
    Wijaya-Mukti, Krisnanda. 2003. Wacana Buddha Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan bekerjasama dengan Ekayana Buddhist Centre.
    Wowor, C. 1991. Pandangan Sosial Agama Buddha. Jakarta: Aryasuryacandra.

  • MENJADI DHARMADUTA HANDAL

    A. Pendahuluan
    Kegiatan dharmaduta mempunyai tujuan yang bersifat komunikatif dan sosial, dimana kegiatan ini bertujuan untuk mempengaruhi, mengubah, dan membentuk sikap serta tingkah laku seseorang atau orang banyak. Dr. Sun Yat Sen menyatakan “ ... berbicara itu mudah, berbuat itu sukar dan memahami lebih sulit ...”, sehingga Dharmaduta tidak hanya cukup pintar berbicara dan pandai dalam pengetahuan, tetapi mampu memberikan “pengertian terpadu” dengan komunikasi apa yang akan disampaikan, secara etika Dharmaduta sesuai atau selaras antara ucapannya didepan umum dengan perbuatan keseharian di masyarakat.
    Pembabaran Dharma yang dilakukan pertama kali oleh Buddha kepada lima orang pertapa di taman rusa Isipatana merupakan tonggak pertama sistem ke-Dharma duta-an, yang dilanjutkan dengan diterimanya Yasa sebagai siswa keenam dan ke 54 orang temannya yang kemudian menjadi siswa Buddha, yang dilanjutkan beberapa abad ( Tiga ratus tahun ) setelah Buddha Parinibbana, pada masa Asokaraja yang mengirimkan Dharmadutanya ke seluruh penjuru dunia. Perkembangan Agama Buddha, khususnya Dharmaduta di Indonesia telah berkembang pesat sejak masa kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah, serta kerajaan Majapahit di Jawa Timur, dan makin surut pada akhir masa kerajaan Majapahit. Agama Buddha bangkit kembali pada masa pasca kemerdekaan dengan penyebaran Dharma yang dilakukan oleh para Rohaniwan dan pembina yang mengabdikan diri pada Buddha Dharma. Para Dharmaduta yang berjasa dalam kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia antara lain Alm. Maha Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, Alm. Bhikkhu Girirakkhito, dan lain sebagainya. Penyiaran agama Buddha dapat diuji dan dibuktikan sendiri, sehingga memungkinkan mereka mencari kebenaran itu sendiri, dilakukan tanpa kekerasan dan cinta damai.
    B. Pengertian Dharmaduta
    Dhammaduta (Dharmaduta = Sanskerta), secara etimologis berasal dari dua kata yaitu: “Dhamma” yang secara khusus berarti ajaran Buddha atau secara umum berarti segala sesuatu dan kata “Duta” yang berarti pesuruh, petugas atau pengemban. Dharmaduta berarti pesuruh atau pengemban dan petugas Dharma. Dharmaduta dalam terminologi Buddhis dikenal sebagai pengkhotbah atau penyebar Dharma.
    C. Tugas dan Tujuan Dharmaduta
    Dharmaduta memiliki tugas secara harafiah untuk menyebarkan Dharma kepada umat manusia agar mereka berbahagia. Buddha mengarahkan setiap siswa-Nya agar menjadi pembabar Dharma, Beliau menyatakan bahwa tidak hanya mempunyai keyakinan dan terpelajar, tetapi juga menjadi pembabar Dharma, lebih jauh lagi ia menyempurnakan diri dalam berbagai keahlian yang lain (A.v.10). Buddha memberi anjuran kepada enam puluh orang Bhikkhu arahat, “para bhikkhu, pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap semua makhluk dan dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia” (Vin.i.21).
    Anjuran Buddha ini merupakan sebuah tugas yang diemban oleh Dharmaduta, sejak dahulu hingga sekarang. Pada jaman Buddha para dharmaduta langsung melaksanakan tugas dengan sempurna dengan berbekal ajaran yang diberikan. Kondisi sekarang ini memerlukan persiapan untuk menerima estafet sebagai Dharmaduta. Persiapan diri berupa kemauan, kecakapan, sikap, kesehatan, kesabaran, dan berusaha melaksanakan tugas dengan penuh suka rela, serta kegembiraan. Kemauan dan kecakapan sangat diperlukan dan memegang peranan penting bagi Dharmaduta, sebab ia cepat mengetahui latar belakang para pendengarnya agar uraian yang disampaikan dapat diterima oleh pendengar. Oleh karena itu ia perlu memperhatikan cara-cara dalam membabar dan menerangkan Dharma.
    Dharmaduta secara khusus bertujuan untuk: 1) Memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Buddha Dharma; 2) Agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dharma dan Vinaya secara benar; 3) Melindungi Buddha Dharma dari usaha penyelewengan dan pencemaran, sehingga umat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Buddha menyebutkan beberapa tujuan Dhammadesana (pembabaran Dharma), agar para pendengar menjadi:
    1) Bijaksana dalam melaksanakan peraturan (Sila/Vinaya) yang benar.
    2) Cakap dan terpelajar.
    3) Memelihara Dharma.
    4) Hidup sesuai Dharma.
    5) Berpegang teguh atau patuh pada pimpinan yang telah ditetapkan (oleh keputusan musyawarah).
    6) Mempelajari sabda-sabda Guru, menerangkan, mengkhotbahkan, mengumumkan, menyusun, mengartikan, menerangkan dengan seksama dan jelas, apabila kemudian timbul pendapat-pendapat yang bertentangan, mereka dapat memberi penjelasan dengan baik, sehingga keyakinan akan timbul (D.iii.22).
    Tujuan Dharmaduta secara umum adalah untuk:
    1) Menyebarkan Dharma dengan jalan:
    a) Pemberitahuan (Vitharanaç), Dharmaduta menyampaikan Dharma dengan baik disertai tingkah laku yang layak, sehingga orang akan menaruh hormat pada Dharma.
    :) Memelihara (havanaç,) Dharma akan dapat terpelihara dengan baik apabila mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakan Dharma dengan penuh hormat; sebaliknya Dharma akan hancur apabila sudah tidak mau mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakan Dharma
    c) Kelangsungan (santaranaç), dalam arti apabila masih ada orang yang menyampaikan dan menghormat Dharma dengan jalan mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakannya, maka Dharma akan terjamin kelangsungannya.
    2) Mengikuti Dharma dengan jalan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan Dharma dan Vinaya dan Dharmaduta mampu menjadi contoh, karena hal tersebut merupakan contoh yang lebih baik daripada khotbah.
    3) Melindungi Dharma dari kehancuran
    Dharmaduta melaksanakan Dharma sebagaimana mestinya, dimana penilaian terhadap suatu agama dilihat dari perilaku rohaniwan atau pembimbingnya.
    4) Membahagiakan orang lain, dengan kata lain dharmaduta berusaha menyampaikan Dharma dengan sebaik-baiknya, sehingga pendengarnya yakin akan kebenaran dan mendapat kedamaian dan kebahagiaan darinya.
    D. Memahami Dasar Pendidikan Buddhis
    Pendidikan, dalam Pali tradisi, diperoleh dari terminologi 'sikkha', secara umum menyiratkan bahwa pendidikan merupakan proses belajar, pelatihan pelajaran, mempelajari, pengembangan, dan pencapaian penerangan (Vin.IV.23). Secara natural termasuk latihan moral yang tinggi (síla), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan atau pengetahuan (paññä) (A.I.231) dan dikombinasikan dengan kata itu 'pada' dalam 'sikkhapada,' yaitu aturan bidang pendidikan, yang mana secara normal dikenal sebagai 'sekhapatipada', yaitu suatu pelatihan bagi pelajar (M.I.354). Proses perhatian berkesinambungan bidang pendidikan mempunyai karakter fungsional dalam pelatihan atau instruksi, pencapaian atau praktek dan kemajuan secara bertahap (anupubbasikkha anupubbakiriyä anupubbapaëipadä) (M.134; D.I.63). Memberikan suatu yang benar kepada peserta didik, petunjuk awal yang mulia dalam berbagai lapisan hidup dan pengertian yang mendalam ke dalam usaha, mengajarkannya bagaimana cara berbuat yang benar, hidup sukses, bahagia, dan mempimpinnya ke arah kemajuan yang menguasai semuanya, sejahtera dan makmur (Kp.134), mengembangan kepribadian yang baik dengan perilaku dan pengetahuan sempurna (D.I.124), dan mengakhiri penderitaan, selamat (It.40,53,104; A.I.231).
    Pendidikan memerlukan kematangan dan suksesnya tiga faktor atau model komplementer, yaitu: model utama dari belajar literatur secara akademis atau berkaitan dengan ajaran Buddha (pariyatti, kemampuan, performansi), kemudian model praktis dari apa yang secara akademis diajarkan dan diingat dengan berusaha dan meletakkan ajaran ke dalam praktek (paëipatti, praktek, pencapaian), dan akhirnya terampil dalam bentuk penetrasi, penguasaan, dan mewujudkan kebenaran (paëivedha) (DhA.II.31; Vin.II.285; A.I.22, 44, 69; A.III.86; A.V.127; D.III.253). Tiga sumber tersebut akan dijelaskan dalam sudut pandang: (1) Mengajarkan agar menjadi baik, peserta didik akan memahami, menyimpan, mengingat, memecahkan, membiasakan diri, mempertimbangkan dalam pikirannya dan merealisir teori (ditthiya) ajaran guru adalah menyenangkan pada awal dan akhir, (M.I.213, 216; A.IV.151). (2) Ia memeriksa dan meneliti arti dari pelajaran yang diajar dan diingat; kemudian berhubungan dengan diri sendiri dan diharapkan untuk ditumbuhnya. Kemudian melakukannya, menumbuhkan dalam aktivitas, berusaha keras; mengujinya, mencoba, dan akhirnya ia merealisir sadari dengan pancaindera menembus kebenaran secara komprehensip (M.II.173). (3) Peserta didik, setelah diajar dengan baik dan dipandu dengan baik, mengenali teks menyangkut doktrin dengan maksud dan tujuan, menerapkan pikirannya kearah apa yang didengar ketika mendengar dan di pelajari (yathäsutaç yathäpariyattaç), melaksanakan meditasi secara terus-menerus dan menjadi terbiasa kontemplasi dalam pikiran, menyerap beberapa obyek konsentrasi dengan baik, pemusatan pikiran dengan baik, secara penuh memusatkan pikiran dan menembusnya dengan kebijaksanaan (D.III.242).
    Selama empat puluh lima tahun Buddha membabarkan jalan pembebasan. Beliau dikenal sebagai guru para dewa dan manusia (sattha devamanussanaç) dan pernbimbing manusia. Disiplin moral (síla), meditasi (samädhi) dan kebijaksanaan (pañña) yang dicapai berdasarkan perealisasian keadaan sebenarnya dan kehidupan merupakan dasar dan Jalan yang diajarkan Beliau. Hal ini dihubungkan belajar seumur hidup dan meditasi yang ditujukan pada latihan dan mengendalikan pikiran (batin).
    Landasan Filosofi pendidikan dalam agama Buddha mengacu pada em¬¬pat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani), yaitu mengidenti¬fika¬si dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan meng¬akhiri du¬kkha. Melalui formulasi ini Buddha memberi petunjuk bagai¬mana sebaik¬nya mengatasi masalah secara sistematis. Berdasar rumusan Empat Ke¬be¬naran Mulia Kowit Vorapipatana mengembangkan kon¬sep Khit-Pen yang artinya ‘berpikir, mengada’ (to think, to be) atau ‘mampu ber¬pikir’ (to be able to think) untuk menggambarkan strategi peng¬ajaran yang mencakup berpikir secara kritis dan kecakapan me¬me¬cahkan masalah.
    Masalah sentral dalam pandangan Buddha adalah penderitaan ma¬nusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha). Keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang men¬da¬huluinya. Mmerumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasa¬muppada), Buddha menempatkan di urutan pertama kebodohan (avijja). “Yang lebih buruk dari se¬mua noda itu adalah kebodohan. Kebodohan merupakan noda yang paling buruk. Para Bhikkhu, singkir¬kan noda ini dan jadilah orang yang tak bernoda” (Dhp. 243).
    E. Pendekatan dalam Penyampaian Dharma
    Buddhisme merupakan suatu ajaran kompleks dan banyak sekali disampaikan oleh Buddha dengan berbagai cara dan metode. Metode-metode tersebut beliau lakukan dengan menyesuaikan siswa menurut tingkatan pemikiran yang ada dan berbeda-beda. Buddha membabarkan Dharma dalam tiga tingkatan, yaitu terperinci (vitatharanaya), singkat (sankhepanaya), dan tidak terperinci maupun tidak singkat (natthivitatharananatthisankhepanaya). Pembabaran Dharma pada umumnya cenderung menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, eksperimen dan cerita yang dilaksanakan dengan karakteristik dan kelebihan maupun kekurangannya masing-masing.
    Buddha mengadopsi berbagai pendekatan metodologis untuk mengajarkan dan belajar, yang akan diringkaskan sebagai berikut:
    1. Pendekatan bertahap (gradual approach) yaitu menyampaikan ajaran kepada pemula, Buddha memanfaatkan suatu prinsip psikologis, sangat hati-hati, dan seksama dalam mempertimbangkan latar belakang para siswa. Ajaran yang mendasar disampaikan kepada para siswa pada awalnya. Mereka yang berniat untuk mengikuti ajaranNya dihimbau untuk menerima praktek awal, sesuai dengan minat, dan kecenderungan, kemudian semakin mendalam dengan berbagai langkah. Dengan cara ini juga, Buddha tidak langsung pada inti ajarannya, tetapi Beliau menghimbau pendengarnya praktek kebaikan seperti kejujuran dan kedermawanan ke perilaku keseharian. Pendekatan yang sikap Buddha adalah “Aku tidak memelihara bahwa pencapaian tentang pengetahuan secara langsung bagi yang datang; sebaliknya, mengajar dengan pelajaran berangsur-angsur, praktek, dan pemahaman progresif” (M.I.479; S.II.28; A.I.50).
    2. Pendekatan Adaptation (approach of adaptation) Buddha beradaptasi dalam praktek gagasan tradisional dan menyesuaikan khotbahnya agar menyenangkan sesuai karakter pendengarNya, suatu metoda yang menjadi dikenal sebagai “upaya-kosallam”, yaitu dengan bijaksana dalam mengubah orang (D.III.220).
    3. Pendekatan Ilustratif (Illustrative Approach) pendekatan ilustratif merupakan penggunaan analogi, kiasan, cerita perumpamaan (upama), penggunaan cerita dan dongeng menarik dari hidup biasa, dalam Buddha ucapan bersama dengan sajak indah dalam rangka membuat dan menarik secara efektif. Sering dikatakan dalam teks: ‘Aku akan memberimu suatu analogi, dengan analogi membuat orang kecerdasan (vinnupurisa) memahami arti dari apa yang dikatakan’ (S.II.114; M.I.148) dan ‘menggunakan kiasan dalam rangka pembelajaran menjadi jelas (M.I.155; III.275; It.114).
    4. Pendekatan pengajaran analitis (Analytical Approach) merupakan salah satu dari karakteristik paling utama yang ditemukan dalam teks lebih awal. Pendekatan analisis ini berhubungan dengan kasus pembelajaran untuk pengikut atau pendengar yang cerdas. Keseluruhan pengajaran Buddha diuraikan sebagai suatu pandangan kritis, untuk dibuktikan dan direalisir oleh yang cerdas (viññì, bijaksana), Buddha menghindarkan kritik yang tak berat sebelah dari para intelektual (D.I.161; M.I.400; A.II.56).
    5. Pendekatan eksperimen (Experimental Approach), Buddha tidak ingin penerima ajaranNya tanpa semangat percobaan kritis. Karena biasanya dihormati sebagai ‘pragmatisme’ dan ‘rasionalisme’ sebagai manfaat pragmatisme, Buddhis kanonik adalah suatu verifiable sistem filosofi hasil eksperimen yang ditemukan oleh Buddha dipandang dari sudut kesuksesan dan kegagalan dalam penelitian yang bersifat eksperimen untuk kebenaran, yang disintesiskan dengan prinsip ilmiah yang menghormati tradisi lalu.
    Cara atau metode yang dilaksanakan oleh Buddha dalam mengajar para siswaNya ada tiga, yaitu:
    1. Beliau mengajar agar mereka yang mendengar dapat mengetahui secara mendalam dan melihat dengan benar apa yang pantas untuk diketahui dan dilihat.
    2. Beliau mengajar dengan alasan-alasan, sehingga mereka yang mendengar, dapat merenungkan (Dharma) dan melihatnya dengan benar (bagi diri mereka sendiri).
    3. Beliau mengajar dengan suatu cara yang luar biasa, sehingga mereka yang mengikuti ajarannya itu dapat memperoleh faedah-faedah sesuai dengan praktek mereka (A.i.276; M.ii.9).
    Buddha membabarkan Dharma dengan cara yang istimewa, sehingga setiap orang merasa khotbah tersebut ditujukan pada diri sendiri, sehingga dengan cara tersebut Buddha memberikan beberapa hal, yaitu: 1) kegembiraan kepada orang bijaksana; 2) menambah pengetahuan orang biasa; 3) memberikan penerangan terhadap seseorang yang sedang kegelapan batin. Beliau menyampaikan beberapa cara dalam membabarkan Dharma, yaitu:
    (1) Membabarkan Dharma setahap-demi setahap dan tidak melewati atau meringkas bagian-bagian yang penting sehingga menyebabkan makna uraian menjadi kabur.
    (2) Menerangkan dengan menggunakan alasan yang masuk akal, sehingga para pendengarnya mengerti.
    (3) Penuh Metta serta berkeinginan agar uraiannya bermanfaat bagi para pendengar.
    (4) Menguraikan Dharma bukan demi keuntungan pribadi.
    (5) Menguraikan Dharma bukan untuk melawan orang lain atau tidak memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (A. iii: 184).
    Pembabaran Dharma juga perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu: a) membabarkan secara bertingkat dan terarah; :) masuk akal; c) tergerak oleh simpati; d) bukan untuk kuntungan duniawi; e) tanpa menyindir diri sendiri maupun orang lain (A.v.159).
    Metode pengajaran dalam menerangkan Dharma menurut Sekte T’ien T’ai ada delapan metode yang dibagi menjadi dua, yaitu:
    1) Metode menerangkan secara seketika, terjadi pada masa Buddha masih hidup dan dilaksanakan tanpa menggunakan cara-cara yang mudah dimengerti oleh umat awam.
    2) Menerangkan dengan perlahan-lahan, yaitu dengan menerangkan Dharma dari yang mudah meningkat ke yang lebih rumit. Metode ini digunakan pada masa atau periode Agama atau pada pemutaran roda Dharma, Vaipulya sampai Prajna.
    3) Metode yang bersifat tersembunyi, metode dalam mengajarkan Dharma dan pendengar merasa bahwa Buddha mengatakan sendiri kepadanya, sehingga pencerapan dan pengertiannya berbeda. Hal ini terjadi pada periode Avatamsaka sampai Prajna.
    4) Metode pengajaran tanpa mistik
    Metode ini disampaikan secara massal dimana orang secara ramai-ramai pergi mendengarkan secara umum, namun tergantung pencerapan dan pengertian para pendengar masing-masing.
    Keempat metode tersebut dilaksanakan pada masa pra Saddharmapundarika Sutra, empat metode berikutnya adalah:
    1) Pengajaran Tripitaka, meliputi semua hal yang diterangkan dalam Maha Vibhasa Sastra dan semua Sutra Agama
    2) Pelajaran persatuan, merupakan metode persatuan dengan munculnya skolastik dan sistem sekolah-sekolah Buddhis (Aliran dan tradisi/Sekte)
    3) Pelajaran yang dicirikan, terjadi dan berlaku pada masa Mahayana serta khusus bagi para Bodhisattva.
    4) Pelajaran keharmonisan agung, terjadi pada masa semua ajaran berada dalam keharmonisan agung, dengan kata lain semua sekte dan tradisi skolastik dikesampingkan dan bersikap non-sekterian serta hanya menjalankan satu jalan agung yaitu jalan Buddha (Ekayana), sehingga hal ini juga disebut dengan istilah satu untuk semua dan semua untuk satu (All for One and One For All).
    Dharmaduta perlu juga menyampaikan manfaat dari mendengarkan Dharma, yaitu:
    1) Mendengarkan sesuatu yang belum pernah didengar, belajar mengetahui sesuatu yang belum pernah diketahui (assutaçsunati).
    2) Sesuatu yang pernah didengar, dilaksanakan dengan tekun untuk mendapatkan kesunyataan (sutaç pariyodapatti).
    3) Bebas dari keragu-raguan (Kaékhaç vihanati).
    4) Berpandangan benar (ditthiç ujuç karoti); dan
    5) Batinnya menjadi bersih, tenang, dan berbahagia (cittamassapasipasidatti).
    Buddha menyatakan bahwa pemberian yang terbaik adalah pemberian Dharma, jasa kebajikan yang terbaik adalah mengajarkan Dharma secara berulang-ulang kepada orang yang menaruh perhatian. Perbuatan yang terbaik adalah mendorong, menanam, membangun keyakinan kepada mereka yang kurang yakin, moralitas kepada mereka yang tidak bermoral, kemurahan hati kepada yang kikir, dan kebijaksanaan kepada mereka yang bodoh (A.iv.364). Memberikan khotbah atau Dharmadesana memerlukan beberapa metode antara lain: (1) Khotbah dengan menggunakan contoh (puggaladitthana); dan (2) Tanpa menggunakan contoh, tetapi berdasarkan pada fenomena tanpa pribadi (Dhammaditthana) (Sad. Pati.77).
    F. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan Dhammadesana
    Dharmaduta mempunyai delapan sifat atau kualifikasi, sebagaimana telah disampaikan oleh Buddha yang menyatakannya sebagai berikut: a) Ia adalah yang telah mendengar banyak tentang Dharma dan Vinaya; :) dapat membimbing orang lain untuk mendengar (ia mampu mengajar mereka); c) terpelajar (telah merenungkan apa yang telah didengar); d) ingat apa yang dipelajari; e) ia adalah yang mengerti kata-kata dan semangat Dharma dan Vinaya; f) dapat membimbing orang lain untuk mengerti; g) tahu apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan (untuk pelaksanaan Dharma); dan h) ia tidak membuat masalah antar Bhikkhu dengan umat awam (A.viii.71).
    Beberapa teori yang perlu dimiliki Dharmaduta untuk menjadi penceramah yang baik yaitu menguasai beberapa syarat, sebagai berikut:
    1) Menguasai perbendaharaan kata (bahasa)
    2) Menguasai atau mempelajari psikologi massa sebagai bagian psikologi sosial.
    3) Mempunyai bekal ajaran yang akan disampaikan
    4) Menguasai seluk beluk/elemen komunikasi
    Dharmaduta sebagai pembabar Dharma yang melakukan hubungan sosial dengan masyarakat baik secara intern maupun ekstern atau umum memperhatikan beberapa hal yaitu: a) Mengetahui adat istiadat setempat; :) Mudah dilayani, tidak banyak permintaan; c) Menguasai karakteristik massa. Selain itu juga mampu menumbuhkan dan memiliki sikap-sikap yang baik antara lain (a) Merasa malu untuk berbuat jahat dan takut akan akibatnya (hiri dan ottapa). (:)engendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan (sila). (c) Mengendalikan dan mengatur pikiran untuk mencapai ketenangan (samadhi). (d) Memahami kebijaksanaan yang sejati dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai dengan situasi dan kondisinya (pañña).
    Walaupun memiliki semangat Misioner yang tinggi, agama Buddha sangat menghargai kebebasan setiap manusia untuk memilih dan menentukan sikapnya sendiri. Buddha menjelaskan bahwa ia menyampaikan ajaran hanya untuk menunjukkan bagaimana membersihkan noda, meninggalkan hal-hal buruk, yang menimbulkan kesedihan di kemudian hari, dan tidak dengan keinginan untuk mendapatkan pengikut, atau membuat seseorang meninggalkan gurunya, melepaskan kebiasaan dan cara hidupnya, dan menyalahkan keyakinan atau doktrin yang telah dianut (D.iii. 56-57).
    Dharmaduta hendaknya menyadari keadaan dimana ia berada, dan beberapa tantangan antara lain:
    1) Hidup bersama dengan sesama agama yang lain sekte
    Dharmaduta menyadari bahwa walaupun berbeda-beda sekte tetapi pada dasarnya adalah sesama siswa Buddha yang memiliki dasar-dasar ajaran yang sama, sehingga yang ditonjolkan oleh Dharmaduta ajaran yang umum dan dimiliki bersama, dengan kata lain tidak mengajarkan organisasi atau majelis atau sekte tertentu tetapi mengajarkan Buddha Dharma.
    2) Hidup bersama dengan masyarakat yang beragama lain.
    Dharmaduta dituntut kematangannya dalam hidup bermasyarakat di suatu negara yang majemuk, berpedoman pada ‘aturan permainan’ yang berlaku dimasyarakat, dengan sasaran pokok hidup beragama agar dapat hidup rukun dengan cara: a) saling hormat-menghormati dan bekerja sama antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda; :) Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing; dan c) tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaan kepada orang lain.
    3) Hidup dalam negara pancasila
    Dharmaduta menyadari bahwa negara tempatnya tinggal memiliki sebuah falsafah negara, sehingga ‘penyebaran’ Dharma berpedoman pada falsafah negara dan juga berdasarkan pada kitab suci, sebagai hubungan antar masyarakat, sedangkan pengemban spiritual pribadi adalah hubungan vertikal antara individu dengan Tuhan yang Maha Esa (Sangyang Adi Buddha). Menyadari bahwa falsafah negara Indonesia adalah Pancasila, yang tentunya tidak bertentangan dengan ajaran Buddha. Dharmaduta mampu memproyeksikan penyebaran Dharma sesuai dengan tujuan pemerintah untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
    4) Hidup dalam kemajuan Sains dan teknologi.
    Dharmaduta juga bisa mengimbangi pengetahuannya dengan mengikuti kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan baik, sehingga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang telah dihasilkan atau yang didapat akan mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat. Dharmaduta yang cukup mempunyai pengetahuan tentang Sains dan teknologi diharapkan dapat memberikan pengertian yang benar sehingga para ahli dan ilmuwan tidak terjerumus pada paham materialistis yang dihasilkan oleh Sains dan teknologi, dengan mengendalikan pembangunan teknologi dan sains yang berimbang, antara dampak positif maupun negatif.
    G. Tata Tertib atau Etika Penyampaian Dhammadesana
    Penyampaian atau penyiaran Dharma dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, saling menghormati antar sesama umat beragama. Sesuai dengan keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.1 tahun 1979 pasal 3-4, Penyiaran Agama tidak dibenarkan apabila ditujukan kepada orang-orang yang telah memeluk agama lain dengan cara: a) menggunakan bujukan dengan memberikan materi agar mau pindah agama; :) menyebarkan pamflet, majalah, buletin, buku-buku, dan bentuk barang terbitan cetakan lain pada pemeluk agama lain; c) melakukan kunjungan dari rumah ke rumah pemeluk agama lain dengan tujuan mempengaruhi.
    Tata tertib dalam penyampaian Dhammadesana lebih banyak mengacu pada kesesuaian dengan Vinaya, artinya menghindari beberapa hal, yaitu: 1) Menyampaikan pada mereka yang berpakaian tidak sopan; 2) Yang memakai tutup kepala; 3) Yang bertolak pinggang; 4) Yang memakai sepatu; 5) Yang sedang membawa hewan atau di atas kendaraan; 6) Yang duduk (berbaring) bermalasan dikursi; 7) Yang duduk lebih tinggi dari pengkhotbah; 8) Yang membawa senjata, dll (Vin.ii).
    Dharmaduta dalam melaksanakan tugasnya selalu diakhiri dengan evaluasi, artinya perhitungan secara lengkap, antara lain tentang: Keberhasilan tugas-tugas yang dilaksanakan; Kekurangan-kekurangan yang ada dalam menjalankan tugas; dan Menerima kritik dari umat atau masyarakat tempat ia bertugas.
    Beberapa hal yang perlu diperhatikan Dharmaduta, antara lain:
    1) belajar dan membaca sebanyak mungkin, khususnya bahan-bahan yang berkaitan dengan Dharma, lebih khusus lagi Dharmaduta hendaknya memiliki perpustakaan pribadi untuk menghimpun buku-buku Buddhis yang akan membantu dalam penyusunan materi khotbah. Akan lebih baik apabila ia menyempatkan diri untuk mendengarkan khotbah yang disampaikan orang lain, kemudian mempelajari materi maupun tekniknya berkhotbah, sehingga hal tersebut akan membantu dalam mengembangkan mutu khotbah yang akan disampaikan.
    2) Dharmaduta ada baiknya mempunyai catatan harian tentang apa yang dikhotbahkan di suatu tempat dan pada waktu tertentu. Hal itu sangat untuk mencegah terjadinya pengulangan materi di tempat yang sama, disamping itu juga untuk mengingatkan Dharmaduta untuk menyampaikannya ditempat lain.
    3) Acara tanya jawab sesudah berkhotbah kadang-kadang dapat merupakan masalah, karena kadang-kadang pertanyaan yang ditanyakan tidak diketahui jawabannya oleh penceramah, pertanyaan sebaiknya didengarkan dan diteliti serta tidak dipotong ditengah-tengah pengajuan pertanyaan untuk segera dijawab, sebaiknya setelah mengerti maksud pertanyaan sebaiknya diulang kembali sebelum dijawab, dimaksudkan agar pertanyaan itu benar-benar dimengerti, dan memberikan kesempatan untuk berpikir. Apakah pertanyaan itu dapat dijawab dengan baik atau tidak. Apabila tidak, ungkapkanlah secara jujur bahwa pertanyaan yang “baik” itu belum dapat dijawab dan akan dijawab pada kesempatan lain. Apabila dapat dijawab, maka ada empat cara untuk menjawab pertanyaan, sebagaimana halnya disebutkan dalam Abhidharma-Kosa, yaitu:
    a) Pertanyaan yang dapat dijawab secara langsung
    :) Pertanyaan yang harus dijawab dengan memerlukan analisa terlebih dahulu.
    c) Pertanyaan yang dijawab dengan mengungkapkan pertanyaan balik.
    d) Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

    H. Penutup
    Dorongan menjadi Dharmaduta timbul dari keinginan memupuk kamma baik dan menyebabkan orang lain terpanggil untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya. Buddha menyatakan “... barang siapa memelihara, memperbanyak, atau mengkhotbahkan Sutra kepada orang lain akan memperoleh pahala, terlindung, mencapai kemuliaan, mendapatkan tempat bersama Tathagata yang akan meletakkan tangan-Nya dikepala mereka ...” (Saddharmapundarika Sutra, X). Pada kesempatan lain beliau bersabda: “... seseorang yang dapat mempelajari dengan baik, mempertahankan, membaca, dan menjelaskan Sutra kepada orang lain, akan memperoleh jasa kebajikan yang tidak terbatas ...” (Vajracchedika-prajnaparamita-sutra, 15).

    Refferensi:
    Dhammananda, K. Sri, 2000, Keyakinan Umat Buddha, Penerbit Karaniya, Jakarta
    Davids, Rhys. T.W (Transl). 1977, The Dialogues Of The Buddha – Digha Nikaya Vol. III Pali Text Society, London
    Hare, E.M. (translate). 1989, The Book of Gradual Sayings-Aéguttara Nikäya-Vol I, Pali Text Society, Oxford.
    Hare, E.M. (translate). 1989, The Book of Gradual Sayings-Aéguttara Nikäya-Vol IV, Pali Text Society, Oxford.
    Horner, I.B. (translate). 1989, The Middle Length Sayings-Majjhima Nikäya-Vol II, Pali Text Society, Oxford.
    Nyanaputra, Bhikkhu, 1998, Dhammaduta, Pustaka Ekayana, Jakarta
    Sañjivaputta, Jan, 1991. Maégala Berkah Utama, Lembaga Pelestari Dhamma, Jakarta
    Siddhi Butr-Indr, 1979, The Social Philosophy of Buddhism, Bangkok: Mahamangutarajaviyalaya Press
    Wijaya-Mukti, Krisnanda. 2003. Wacana Buddha-Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan bekerjasama dengan Ekayana Buddhist Centre.

  • Prilaku Membolos Dikalangan Pelajar

    BAB I
    PENDAHULUAAN

    A. Latar Belakang
    Prilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi banyak pelajar-setidaknya mereka yang pernah mengenyam pendidikan-sebab prilaku membolos itu sendiri telah ada sejak dulu. Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. Buntutnya memang akan menjadi fenomena yang jelas-jelas mencoreng lembaga persekolahan itu sendiri. Tidak hanya di kota-kota besar saja siswa yang terlihat sering membolos, bahkan di daerah-daerah pun prilaku membolos sudah menjadi kegemaran.
    Bayak siswa yang sering membolos bukan hanya disekolah sini saja tetapi banyak sekalah mengalami hal yang sama kesemua di sebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal dari anak itu sendiri. Faktor eksternal yang kadang kala menjadikan alasan membolos adalah mata pelajaran yang yang tidak diminati. Bagi siswa yang kebanyakan remaja dan penuh dengan jiwa yang mementingkan kebebasan dalam berfikir dan berkatifitas itu sangat mengganggu sekali. Sebab masa remaja adalah masa yang penuh gelora dan semangat kreatifitas. Menurut pandangan psikologis usia 15-21 tahun adalah usia pencarian jati diri. Dan tentu saja sistem pendidikan yang ketat tanpa diimbangi dengan pola pengajaran yang ' menyejukkan ' membuat anak tidak lagi betah di sekolah. Mereka yang tidak tahan itulah yang kemudian mencari pelarian dengan membolos, walaupun secara tak langsung itu juga sebenarnya bukan jawaban yang baik. Terbukti, siswa yang suka membolos seringkali terlibat dengan hal-hal yang cenderung merugikan.
    Anehnya lagi ketika kemudian fenomena membolos, atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika, sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan, sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Terbukti, pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anak-anak ‘nakal’. Dalihnya, anak-anak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Memang hal itu benar adanya. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Justru sebaliknya, tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Makanya, jangan heran jika akhir-akhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. Dan biasanya kerap tak terkendali.
    Tumpuan kesalahan prilaku membolos kebanyakan di bebankan kepada anak didik yang terlibat membolos. Ketika kasus demi kasus dapapat terungkap anak didiklah yang menjadi benban kesalahan. Ini adalah sikap yang tidak mendukung justru akan menambah masalah. Sikap hunanis dan saling introspeksi diri itu adalah hal yang mendukung untuk menyelesaikan masalah prilaku membolos. Unsur-unsur yang ada disekolah bisa saja menjadi alasan anak bisa membolos. Seperti fenomena yang telah di paparkan di atas bukan saja anak yang menjadi tumpuan dan beban kesalahan.
    Betapa seriusnya prilaku membolos ini perlu mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. Bukan saja pihak sekolah tetapi juga orang tua, teman dan pemerintah. Prilaku membolos sangat merugikan dan bahkan itu bisa saja sumber masalah baru. Bila ini terusn dibiarkan bukan saja anak itu sendiri tetapi juga sekolah dan guru yang menjadi orang tua di sekolah yang menangungnya. Banyak kasus-kasus yang diakibatkan oleh membolos seperti yang telah diuraikan di atas.
    Pemuda adalah aset bangsa, merekalah generasi-generasi penerus yang akan mengenggam kayu estafet kemajuan bangsa ini. Untuk itulah mestinya para guru melakukan sebuah refleksi tentang fenomena bolos tersebut. Saran penulis, mengapa kita tidak kembali pada esensi dari sekolah itu sendiri. Penyebutan sekolah awalnya berasal dari Yunani yatiu scholl yang artinya waktu luang. Pada zaman itu sekolah adalah tempat bermain dan berbagi antara guru dan murid, hampir tak ada pengekangan dengan kurikulum. Disana mereka berbagi banyak hal. Atau yang sekarang diterapkan di kali code hasil garapan romo Mangun wijaya yaitu; school without wall (sekolah tanpa dinding).
    Penelitian yang praktikan lakukan adalah di SMP Kanisius. Dari situ praktikan mencari klien dan medapatkan sumber atau data-data yang kemudian prktikan klarifikasi sebelum praktikan ambil kasusnya.

    B. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Studi Kasus.
    1. Tujuan Umum
    a. Mampu menerapkan ilmu-ilmu dan pengetahuan psikologi serta konseling secara praktis, intergrasi dan komprehensif.
    b. Mempelajari dan memahami masalah psikologis siswa SMP ini
    c. Agar mahasiswa matakuliah Bimbingan dan jurusan Dharma Acariya memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman dalam menangani kasus dan mempertanggung jawabkan studi kasus yang ditangani.
    d. Agar mahasiswa memahami ciri-ciri dan jenis-jenis masalah yang dialami individu atau kelompok, mampu menganalisis sebab-sebab internal dan eksternal tingkah laku menyimpang, mampu mendiagnosis kasus-kasus dangan berbagai teknik, serta mampu merancang, menetapkan dan memberikan perlakuan dalam menangani kasus. Sehingga diperoleh perubahan tingkah laku yang well justice bagi klien yang memperoleh usaha bantuan melalui konseling.
    2. Tujuan Khusus
    a. Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain.
    b. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah, baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien.
    c. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi.
    d. Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya.

    C. Manfaat Studi Kasus
    1. Bagi Klien
    a. Dapat menguasai situasi dengan baik, apabila sutuasi yang tidak baik datang dan mengganggu kondisi psikologisnya.
    b. Menimbulkan semangat dan suasana hati yang rilek dan tidak tegang.
    c. Mempunyai gambaran strategis untuk mengubah perilaku yang tidak menentu sehingga menimbulkan kecemasan.
    d. Dapat mengatasi kecemasan yang sedang dihadapi.
    e. Dapat memahami bahwa dirinya sebenarnya mampu berkembang dan mampu memperoleh potensi diri yang lebih maju.
    f. Dapat mengambil keputusan setelah diadakan proses konseling, sehingga mampu menumbuhkan perkembangan bagi kondisi psikologis yang dinamis, berkembang secara optimal dan mampu mengembangkan potensinya sesuai dengan kelemahandan kelebihan yang dimilikinya.
    2. Keluarga
    a. Situasi dalam keluarga menjadi tenang dan tentram dan memberikan pola asuh yang dapat membawa perkembangan psikologis anggota keluarga menjadi well justice.
    b. Keharmonisan suasana kehidupan rumah tangga bersama anak.
    c. Mampu memberikan pendidikan berupa tingkah laku sesuai dengan per-kembangannya.
    d. Mampu memberikan pendidikan bagi klien demi masa depannya sehingga memberikan rasa aman bagi perkembangan psikologisnya.

    3. Peneliti
    a. Memperoleh sejumlah tambahan pengetahuan dari kasus yang ditangani, sehingga kelak memberikan wacana dan pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam menggunakan bagi kegiatan konseling yang akan dilakukan.
    b. Melatih diri untuk menerima, mendengar klien secara baik apa adanya sebagaimana ia adalah individu yang mempunyai potensi untuk berkembang.
    c. Mengaplikasikan teknik-teknik konseling pada masalah yang dihadapi oleh klien dalam usahanya mengentaskan permasalahan untuk mengambil keputusan oleh klien bagi perkembangan dirinya.
    d. Mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam rangka melatih diri menghadapi kenyataan di lapangan untuk memperoleh gambaran bagaimana bentuk-bentuk riil konseling.

    BAB II
    IDENTIVIKASI KASUS

    A. Identitas
    1. Identitas Klien
    Nama : Karjono
    Umur : 12 Tahun
    Tempat Tgl Lahir : Pentur, 12 Januari 1996
    Jenis Kelamin : Laki-laki
    Alamt : Pentur Sampetan
    Agama : Islam
    Pendidikan : SMP Kanisius Ampel
    Kelas : I
    Hobi : Monton TV, Membaca

    Nama Orang Tua
    Ayah : Sugito
    Pekerjaan : Buruh/Tani
    Ibu : Romelah
    Pekerjaan : Buruh/Tani
    Adik : smol Yadi

    2. Identitas Praktikan
    Nama : Suwono
    Umur : 26 Tahun
    Tempat Tgl Lahir : Payak, 14 September 1982
    Jenis Kelamin : Laki-laki
    Alamt : Payak, Cluwak, Pati
    Agama : Buddha
    Pendidikan : Mahasiswa Semester VI Matakuliah Bimbingan
    konsling jurusan Dharma Acariya

    B. Sipnosis (Keadaan Psikologis Klien)
    Klien dalam studi kasus yang praktikan kembangan ini klien Sering tidak masuk sekolah walaupun hanya satu minggu sekali bahkan tidak jagang pula satu minggu dua kali. Alasan yang dialami klien untuk tidak berangkat sekolah dikarenakan malas untuk berangkat sekolah dan klien pada waktu tidak berangkat sekolah dia menonton TV di rumah, pingin membantu nemek ke ladang serta menyusul orang tuanya ketempat kerja di Salatiga. Orang tuanya setiap tiga bulan sekali pulang kerumah di Sampetan.
    Dalam proses pembelajaran akan ini juga mengalami permasalahan ini terbukti bahwa anak ini menyukai beberapa mata pelajaran saja dan pelajran yang paling disukai adalah bahasa Indonesia. Dalam hal aktualisasi diri juga mengalami permasalahan ini terbukti ketika dalam proses wawancara anaknya susah diajak komonikasi. Anaknya dalam proses pembelajaran kurang menguasai apa yang disampaikan oleh gurunya serta jarang memperhatikan gurunya dalam pelajaran. Anaknya juga sering terlambat sekolah karena ketinggalan Bus. Pada waktu hujan turun nanaknya tidak mau sekolah dikarenakan bajunya hanya meniliki 2 set biru putih.

    C. Jenis Dan Nama Kasus
    Dari hasil observasi dan data-data yang praktikan dapatkan selama obervasi yang kemidian parktikan identifikasi, praktikan merumuskan dan menyimpulan untuk mengkaji tentang “SETUDI KASUS PRILAKU MEMBOLOS DIKALANGAN PELAJAR KARENA MALAS” D. Pendekatan
    Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini.
    Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya, mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Pendekatan ini lebih bersifat humanis.

    BAB III
    TINJAUAN TEORITIS

    A. Batasan pengertian
    Pengertian prilaku adalah suatu bentuk tingkah laku yang agresif yang sering dilakukan individu (Monks,2001;369). Sedangkan prilaku yang menyimpang adalah suatu bentuk tingkah laku yang menyimpang dari norma susila, norm agama yang bersifat negatif atau suatu prilaku emosional yang menonjol dan mengacu ke hal-hal yang bersifat criminal.
    Membolos berarti tidak masuk atau absent. Membolos sekolah adalah tidak masuk sekolah atau tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. Jadi prilaku membolos adalah suatu bentuk tingkah laku yang menonjol yang dilakukan individu yaitu tidak masuk sekolah.
    Remaja biasannya biasanya melakukan perbuatan untuk mencari identitas diri, ingin menunjukan kemampuannya pada orang lain. Remaja ini mengalami perkembagan mental dan pertumbuhan fisik yang belum stabil. Sejalan dengan hal itu remaja perlu sekali mendapatkan bimbingan dan arahan untuk menemukan jati dirinya dan meminimalkan prilaku yang menyimpang.
    Sementara menurut dari sudut perkembangan fisik, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. In berarti keadaan bentuk tubuh pada umumnya memperoleh bentuk yang sempurna dimana pada akhir peran perkembangan fisik seorang pria yang berotot dan mampu menghasilkan spermatozoa setiap kali berejakulasi dan bagi wanita bentuk badan juga sudah kelihatan terbentuk dengan perubahan pada payu dara serta berpinggul besar setiap bulan mengeluarkan sel telur yang tidak disenyawakan. Masa puber bagi lelaki adalah ketika bermimpi basah yang pertama dan pada perempuan setelah haid. (Sarlito Wirawan,1997: 6-7)
    Prilaku membolos merupakan suatu bentuk kenakalan remaja yang terjadi pada masa pertumbuhan mereka. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) mempunyai arti yang khusus dan terbatas pada suatu masa tertentu yaitu masa remaja sekitar umur 13-21 tahun.
    Prilaku membolos, atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika, sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan, sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Terbukti, pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anak-anak ‘nakal’. Dalihnya, anak-anak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Memang hal itu benar adanya. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Justru sebaliknya, tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Makanya, jangan heran jika akhir-akhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. Dan biasanya kerap tak terkendali
    Menurut Fine Benyian kenakalan remaja adalah satu contoh dari sejumlah tingkah laku yang dilakukan oleh seorang pemuda yang berumur sekitar 18 tahun. Sebagai kebalikan dari daerah hokum dan telah diterima oleh umum dan itu adalah karakter di dalam kelompok anti social. Kenakalan remaja adalah jenis nyata dari penyimpangan prilaku yang melawn hokum/peraturan (Fine Benyian,1957;22).

    B. Benyebap-penyebab prilaku
    1. Sebab internal
    Sebab internal adalah sebab prilaku individu yang timbulnya dari dalam kondisi dalam anak itu sendiri. Ini di sebabkan beberapa faktor.
    a. Kelainan fisik
    Anak-anak menderita kelainan fisik akan merasa tertolak untuk hadir di tengah-tengah temenya yang normal. Maka demi masa depanya diselenggarakan pendidikan khusus bagi mereka.
    b. Kelainan Psikis
    Kelainan psikis adalah kelainan yang terjadi pada kemampuan berfikir (kecerdasan) seorang individu. Kelainan ini baik secara inferior maupun superior bila anak yang taraf kecerdasanya inferior akan sangat tersiksa bila dikumpulkan dalam kelas pada umumnya. Dan anak yang mempunyai tingkat kecerdasan superior dalam arti memiliki kecerdasan yang sangat cerdas sekali. Mereka ini akan merasa tertekan bila harus dicampurkan dengan anak-anak pada umumnya. Alternatif terbaik bag mereka yaitu dengan mengumpulkan mereka sesuai dengan kecerdasanya masing-masing.
    2. Sebab eksternal
    Sebab eksternal adalah sebab-sebab yang timbul dari luar diri seseorang. Sebab eksternal ini berpangkal dari keluarga, pergaulan, salah satu atau pengalaman hidup yang tak emneynangkan.
    a. Keluarga
    Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali di kenal oleh anak. Anak mulai menerima nilai-nilai baru dari dalam keluarga dan dari keluarga inilah anak mulai mensosialisasikan diri. Liengukngan keluarga diakui oleh semua ahli pendidikan maupun psikologi sebagai lingkungan yang sangat menentukan bagi perkembagan anak selanjutnya (Mustaqim,1990;140). Pola asih yang keliru dapat menjadikan sebab yang buruk terhadap perkembangan anak. Untuk menjadi dewasa anak telah memiliki kebiasaan yang didapat dari orang tua yang dirasa benar. Padahal itu salah.
    b. Pergaulan
    Lingkungan masyarakat atau lingkungan pergaulan anak-anak yang telah dididiknya baik oleh orang tuanya anak mendapatkan kesulitan untuk menembangkan diri di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik. Anak dididik jujur akan merasa jengkel bila teryata teman-temanya suka bohong. Anak ini dihadapkan pada dua pilihan, antara jujur dan berbohong karena sesuai dengan teman-temannya.
    Lingkungan pergaulan mempunyai andil bagian yang berarti bagi perkembagan psikis anak, jika lingkungan cenderung baik maka anak cenderung baik begitu pula sebaliknya (Mustaim,1990;141).
    c. Pengalaman hidup
    Pengalaman hidup mengajarkan pada masa lalu tak akan pernah hilang. Artinya bahwa segala seseuatu yang terjadi di dalam hidupnya tidak akan pernah terlupakan.
    Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dari gurunya senantiasa membuat keonaran untuk mendapatkan perhatian yang khusus baignya. Inilah sebab yang melatar belakangi masalah-masalah pada siswa yang menyebakan suatu perilaku yang menyimpang dimana perilaku ini termasuk pada kenakalan remaja.
    C. Bentuk-bentuk masalah
    Masalah-maslah yang dihadapi oleh anak remaja sebagai akibat dari adanya sebab-sebab diatas. Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan anak remaja/siswa dapat dibagi menjadi dua sifat yaitu:
    1. Bersifat Regresif
    Perilaku yang bersifat regresif biasanya ditunjukkan anak-anak dengan kepribadian introvert, bentuk prilaku yang menyimpang misalnya: suka menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk, tidak mau masuk sekolah.
    2. Bersifat Agresif
    Prilaku agresif biasanya ditunjukkan oleh anak yang erkepribadiannya extrovert. Perbuatan yang dilakukan misalnya : berbohong, membikin onar, memeras temanya, beringas dan perilaku-perilaku lain yang bisa menarik perhatian orng lain.
    Bila disingkronkan antara bentuk-bentuk kenakalan dan factor-faktor penyebabnya maka akan didapati ada hubungan yang korelatif antara keduanya. Pemahaman keduanya akan membuat penanganan terhadap masalah menjadi semakin mudah.
    Contoh : seorang anak yang mempunyai prilaku membolos sekolah perhatian yang perlu kita berikan adalah perhatian kepada kenapa dia membolos. Tidak kepada hukuman yang akan diberikan.
    Karena membolos yang dilakukan pasti mempunyai penyebabnya. Pemahaman terhadap factor-faktor penyebab akan memudahkan dalam penyelesaian masah (mustaqim, 1990:143)

    D. Pencegahan dan penanggulangan
    Sebab suatu perilaku yang menyimpang teryata mempunyai latar belakang lingkungan dan kehidupan social yang buruk. Ini bisa dari lingkungan keluarga, teman dan masyarakat. Tidak jarang juga dari status ekonomi keluarga dalam masyarakat.
    Faktor eksogen, remaja hidup dalam iteraksi dengan lingkungan, sehingga mendapat pengaruh yang besar pula bagi pembentukan pribadinya. Lingkungan yang sehat dengan menanamkan pendidikan yang benar dan ada hbungan yang harmonis memungkinkan seseorang dapat menjadikan lebih dewasa dan matang dalam kepribadian. Keadaan keluarga, sekolah dan masyarakat menentukan pula kemungkinan berkembangnya pribadi tersebut.
    Usaha penanggulangan masalah kenakalan ini adalah dengan Studi kasus menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya, mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Sikap humanis ini ditujukan untuk memberikan gambara dan bimbingan yang menghargai hak-haknya dan mengarahkan untuk pemenuhan kewajiban-keajiban yang harus dijalankan.
    Dalam hal ini juga tidak semata-mata bisa di lakukan oleh konselor tetapi juga oleh pihak keluarga, seklah dan masyarakat harus juga berpartisipasi mengembangkan bakat dan kemampuanya secara seimbang baik dalam bidang non material maupu dalam bidang spiritual agar tidak terjadi prilaku yang menyimpang.

    BAB IV
    DATA

    A. Data penelitian
    Penelitian ini digunakan untuk mengumpulan data peneliti menggunakan data non tes, yaitu wawancara dan observasi. Wawancara ditujukan kepada klien yang merupakan sumber utama. Dan sebagai pedukung data praktikan juga mencari data-data dari teman dekat klien, keluarga, guru yang berada di sekitar klien itu sendiri.
    Wawancara merupakan situasi peran antar pribadi bersama (face to face), ketika seseorang atau pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang berhubungan dengan masalah penelitian, kepada klien yang sedang diteliti (responden). Penelitian tidak dilakukan sekali tetapi beberapa kali. Ini dimungkinkan untuk mempermudah dalam pengklarifikasian dan pengembangan kasus yang dihadapi.
    Penelitian ini mendapatkan hasil dari wawancara dengan klien yaitu yang berhubungan dengan kasus yang dihadapi klien. Klien mempunyai prilaku yang kurang baik dimana klien sering membolos tidak mengikuti pelajaran tanpa keterangan yang jelas. Data utama ini yang menjadi sumber utama dalam kasus ini. Klien sering tidak masuk sekolah karena pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar, kurang percaya diri. Kurang mengerti tentang hak dan kewajibannya secara benar.
    Hasil dari wawancara peneliti yang diperoleh dari klien adalah sebagai berikut :
    1. Pertemuan pertama
    Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien.
    2. Pertemuan kedua
    Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya, klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin, sakit dan tanpa keterangan. Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri.
    3. Pertemuan ketiga
    Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah, pekerjaan orang tua. Klien sering sekali di tinggal keluarga mencari nafkah, klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh, orang tuanya pulang tiga bulan sekali. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit.
    Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dia tidak mempunyai kakak justru dia mempunyai adek satu. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik.
    Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya.
    4. Pertemuan keempat
    Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV, membantu nenek ke ladang, kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV.
    5. Pertemuan kelima
    Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat.
    6. Pertemuan keenam
    Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran, bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya, memperbaiki prestasinya, dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah.
    B. Data pendukung
    Data pendukung yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data mengenai klien adalah berupa pertanyaan-pertanyaan serta keterbukaan anak dalam melakukan kejujuranya dalam wawancara serta tanya jawab setelah selesei jam pelajaran pada saat pulang dari sekalah serta dari teman-teman dekatnya tepanya di SMP “Kanisius” Ampel-Boyolali yang menengah. Data yang penulis peroleh dari nilai raport.
    Klien menunjukkan orang intelegensinya kurang. Kehidupannya didasarkan pada ketidak sadaran, tertarik pada hal-hal yang nyata, emosinya mudah bergerak, sensitif, sensualitas, ketidak kesadaran dan ada hambatan dalam perkembangan atau mentalnya. Merasa rendah diri, kurang percaya pada diri sendiri apabila forum umum dia kurang percaya diri. Dia cenderung diam.
    Klien juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tua karena pekerjaan orang tuanya di luar daerah yang kadang hanya tiga bulan sekali pulang kerumah. Keluarga kurang memperhatian tentang pendidikan klien. Selain itu juga klien jarang sekali berkumpul dengan pelajar justru kadang malah hanya berkumpul dengan teman sebaya. Data ini juga diperoleh untuk melihat perkembangan akibat gangguan kecemasan yang ditimbulkan pada masa kanak-kanak. Sehingga kasih sayang kurang yang diapatkan dari kedua orang tuanya mendorong dirinya untuk mencari perlindungan di luar. Didikan yang keras dari keluarga kakeknyalah yang menyebabkan ia berhasil. Selain dari pada itu ia saat ini tinggal di lingkungan yang religius.
    Dalam penelitian praktikan juga menemukan data-data yang bersifat negatif tetapi juga menemukan data-data yang positif dari tindakan-tidakan klien yang tetep harus dikembangkan juga. Dalam hal ini praktikan melihat bahwa klien juga mempunyai rasa bhakti teradap keluarga, klien juga sering membantu keluarga dalam bekerja. Klien kadang tidak masuk sekolah hanya di rumah dan membantu orang tua. Klein tak jarang pergi ke ladang membantu pekerjaan orang tua menggarap ladang. Tidakan ini tidak salah namun yang menjadi tidak baik karena penempatan yang keliru. Yaitu seperti hanya kacena pengen membantu keluarga klien sampai mengabaikan kewajibannya yaitu belajar.

    BAB V
    ANALISIS DAN DIAGNOSIS

    A. Analisis
    Prilaku yang dialami klien sekarang adalah dampak dari eksternal yaitu kurangnya peran keluarga yang kurang dalam keseharianya klien mencoba untuk mengatasi segala permasalahanya sendiri dalam hal moral dan spiritual. Karena usianya yang sekarang dalam masa pubertas, dimana juga klien mencari jati dirinya terpengaruh oleh teman-temannya yang membuat klien suka membolos sekolah. Prilaku membolos membuat klien mengalami ketinggalan pelajaran, sehingga prestasi klien menurun dan nilai rapornya rendah.
    Klien sering tidak masuk sekolah karena hanya ingin melakukan sebuah kegiatan yang disenangi oleh klien, dimana saat klien malas untuk berangkat sekolah sehingga klien ketinggalan pelajaran dan dapat merugikan sendiri. Kemalasan klien tidak terlalu begitu parah karena hanya malas berangkat sekolah. Dalam hal kegiatan yang lain tidak begitu malas.
    Klien membolos karena malas berangkat sekolah. Malas karena ada beberapa pelajaran yang tidak disukai dan bahkan guru yang tidak disukai. Kemalasan yang dimiliki oleh klien karena klien kurang memahami kewajibanya sebagai seorang anak yaitu belajar. Klien tidak mengerti hal utama yang harus dilakukan oleh seorang murid.
    B. Diagnosis
    1. Efisiensi Kasus
    Kasus yang dihadapi klien yaitu prilaku membolos sekolah yang mana prilaku merugikan dirinya sendiri karena ketinggalan pelajaran dari teman-temanya, sehingga sering mendapat nilai rendah. Faktor-faktor efektif yang dialami klein yaitu prilaku membolos sekolah. Prilaku dikarenakan faktor internal dan eksternal. Prilaku yang menyimpang dilakukan karena keinginanya sendiri dan pengaruh dari luar yaitu dari pergaulannya dengan teman-teman serta lingkungan yang kurang mendukung.
    2. Latar Belakang kasus
    Masalah yang dialami klien merupakan prilaku perlu dihindari klien karena membawa pada ketinggalan pelajaran. Prilaki tersebut tidak terlepas dari latar belakang masalah yang dihadapinya. Masalah klien pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
    a. Faktor Internal
    Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam atau dari diri klien sendiri. Klien selalu mempunyai keinginan untuk dirumah lihat TV dan bermain bersama teman-temannya yang mana saat tidak msuk sekolah dan bahkan hanya membantu orang tua pergi ke ladang sampai-smpai klien sendiri sering mengalami malas untuk berangkat sekolah.
    b. Faktor eksternal
    Faktor eksternal adalah faktor yang bersal dari luar klien. Sebab dari prilaku yang menyimpang dengan membolos sekolah berawal dari kemalasan untuk tidak masuk sekolah agar dapat lihat TV serta bermain bersama teman-teman. Kehadiran teman-teman yang memiliki kebebasan dan tidak memiliki tanggjung jawab sebagi seorang murid membuat klien ikut-ikutan.
    Selain dari lingkungan masyarakat klien juga mempunyai keluarga, yang mana klien merasa kurang diperhatikan oleh ayah dan ibu yang pergi untuk melakukan ternak ayam di Salatiga. Walaupu kedua orang tuanya sudah merasa diperhatikan tatapi klien merasa kurang adanya perhatian. Orang tua jarang memberikan bimbingan, serta arahan.
    C. Sebab Timbulnya Kasus
    Masalah yang dihadapi klien bermulai dari pertengahan masuk sekolola SMP Kanisius, dimana dimana klien malas masuk sekolah. Selain itu klien juga mengalami malas untuk datang karena pingin lihat TV dan pingin bermain bersama teman-temannya serta pingin membantu neneknya keladang.
    D. Dinamika Psikis Klien
    Dinamika Psikis Negatif
    Klien memiliki prilaku yang kurang baik, dimana suka membolos sekolah yang mengakibatkan ketingalan perlajaran sehingga prestasinya menurun dan mendapatkan nilai rendah.

    BAB VI
    PROGNOSIS

    A. Dampak-dampak kasus
    1. Dampak negatif
    Prilaku membolos yang dilakukan oleh klien bila tidak segera di atasi maka akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya, sekolah dan keluarga dan bahkan sampai ke lingkungan sekitarnya. Membolos menjadikan klien ketinggalan pelajaran sehingga membuat indek prestasinya dalam kelas menurun.
    Jika klien dibiarkan dalam keadaan ini, prilaku yang dilakukan klien akan menggangu dirinya sendiri, orang tuanya, pihak sekolah dan lingkungannya juga. Klien akan mengalami kekewatiran dimana saat membolos sekolah takut kalau diketahui pihak sekolah dan dan orang tuanya.
    2. Dampak positif
    Dari data-data permasalahan yang peraktikan dapatkan menyimpulan bahwa klien tidak masuk kadang karena tidak suka dengan guru sehingga mengarah juga ke mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut.
    B. Alternatif Pemecahan Kasus
    Dengan adanya studi kasus ini, klien dapat mengerti dari prilakunya yang menyimpang dimana klien dapat memahami prilaku yang dilakukannya tidak membawa kemajuan baginya. Sehingga dengan adanya studi kasus ini klien tahu prilaku membolos sekolah tidak ada manfatnya. Dan klien dapat lebih rajin untuk berangkat sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran dan mendapat nilai raport yang lebih baik

    BAB VII
    TREATHMENT

    A. Metode, Teknik, Sasaran Dan Tujuan Perlakuan.
    1. Metode
    Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan meote reality therapy atau terapi realitas. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. Metode ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya, mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Pendekatan ini lebih bersifat humanis.
    2. Teknik
    Teknik-teknik yang digunakan adalah :
    a) Menggunakan role playing dengan klien.
    :) Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dengan rilek.
    c) Tidak menjanjikan kepada klien maaf apapun, karena telah terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan tingkah lakut tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien.
    d) Menolong klien utnuk merumuskan tingkah apa yang akan diperbuatnya.
    e) Membuat modal-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik.
    f) Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya
    g) Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejakan yang pantas untuk menkanfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tak pantas, misalnya berupa teguran secara langsung atau tiba-tiba terhadap tingkah lakunya atau janji yang tak dapat dipertanggungjawabkan
    h) Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif, misalnya, dengan merencanakan model belajar atau sekolah yang langsung dalam kehidupan dilakukan.
    3. Sasaran
    Dalam menangani kasus ini sasaran yang utama hendak dicapai adalah subyek sendiri, jadi perlakuan yang peneliti lakukan ditujukan kepada subyek.
    4. Tujuan
    a. Menolong individu agar mampumengurus diri sendiri dengan kata lain individu dapat membuat keputusan yang tepat dari tingkah laku yang dibuatnya untuk mencapai masa datang yang lebih baik (memandirikan klien)
    b. Mendorng klien untuk bertanggung jawab serta memikul segala resiko. Tanggung jawab yang dimintakan klien sesuai dengan kemampuaan dan keinginnya
    c. Mengembangkan rencana-rencana nyata dalam mencapi tujuan, rencana herus dibuat realistik dalam arti dapat diwujutkan dalam tingkah laku yang nyata dan merupakan harapan yang dapat dicapi atas kemampuan yang dimiliki klien.
    d. Tingkah laku yang sukses yang dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. Kesuksesan peribadi dicapi dengan nilai-nilai adanya keinginan individu, untuk mengubahnya sendiri jadi tanggungjawab yang penuh atas kesadaran sendiri.
    e. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggungjawab atas kesadaran sendiri
    B. Waktu Dan Proses Pemberian Perlakuan
    Waktu dan pelaksanaan perlakuan yang peneliti laksanakan bersama-bersama dengan klien, dengan menggunakan metode tingkah laku desensitisasi sitematis secara bertahap-tahap dari waktu ke waktu dan beberapa metode yang lain sesuai dengan kondisi klien.

    1. Pertemuan pertama (6 Maret 2008)
    Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien.
    2. Pertemuan kedua (14 Maret 2008)
    Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya, klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin, sakit dan tanpa keterangan. Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri.
    3. Pertemuan ketiga (21 Maret 2008)
    Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah, pekerjaan orang tua. Klien sering sekali di tinggal keluarga mencari nafkah, klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh, orang tuanya pulang tiga bulan sekali. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit.
    Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik.
    Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya.
    4. Pertemuan keempat (12 Maret 2008)
    Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV, membantu nenek ke ladang, kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV.
    5. Pertemuan kelima (26 Mei 2008)
    Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat.
    6. Pertemuan keenam (30 Mei 2008)
    Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran, bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya, memperbaiki prestasinya, dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah.

    C. Evaluasi treatment
    Subyek telah peneliti kenal cukup lama dan sadar bahwa masalah yang dihadapai membutuhkan bantuan konseling, sikap awal pada pertemuan-pertemuan dengan peneliti lebih menunjukkan hubungan yang mempunyai perhatian yang lebih besar dalam suasana keakraban, termasuk dengan anggota keluarga yang lain. Subyek menunjukkan sikap yang senang apabila peneliti datang menemuinya. Sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan perlakukan terhadap subyek, dari awal pengumpulan data sampai dengan pelakuan pada treatment-treatment.
    Setelah perlakukan dikenakan pada subyek, nampak ada perubahan. Sekarang merasa lebih santai dan lebih mantap dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul. Anak-anak merasa diperhatikan dan mendapatkan tempat untuk mengutarakan semua perasaannya
    dibandingkan sebelumnya. Namun demikian perlakuan terhadap ibu baru sekali dan belum banyak peneliti laksanakan lebih banyak karena ibunya (ibu pulang ke ayahnya tanpa minta ijin subyek, karena membawa/menghabiskan sejumlah uang subyek yang cukub banyak) tidak ada di rumah sejak awal treatment ini diperlakukan.
    Jadi selama perlakuan treatment yang peneliti perlakukan dalam waktu yang singkat yaitu kurang lebih satu setengah bulan, menunjukkan perkembangan yang menggembira¬kan. Artinya bahwa subyek mengalami perkembangan yang baik dibandingkan sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa treatment yang dikenakan pada subyek telah berhasil 80%. Tetapi sekalipun studi kasus ini telah berakhir, namun tetap peneliti menekan kepada subyek untuk tetap latihan-latihan releksasi dan sewaktu-waktu subyek membutuhkan bantuan peneliti bersedia dan dengan senang hati.

    BAB VIII
    KESIMPULAN, PENDAPAT DAN SARAN

    A. Kesimpulan
    Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah, baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi. Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya

    B. Pendapat
    Berdasarkan pada analisa, diagnosis dan kesimpulan di atas, penulis berpendapat:
    Subyek mengalami gangguan kecemasan yang di sebabkan oleh faktor psikologis, yaitu adanya kepribadian subyek yang mudah sekali emosional (kurang adanya kestabilan emosional) dalam menghadapi berbagai masalah. Kurang menerima kenyataan terhadap apa yang dihadapi saat sekarang. Subyek terbawa pada pengalaman-pengalam masa lalu yang traumatik dan kehilangan fugur orangg yang peling dekat, membuat subyek mempunyai ketergantungan yang tinggi. Sebaliknya disisi lain subyek harus berperan sebagai figur ibu dan sekalugus ayah.
    Subyek sebenarnya sangat membutuhkan dorongan dan dukungan dari pihak orang tua, namun demikian orang tua justru manambah memberikan beban terhadap subyek (karena keberadaan yang tidak memungkinkan).
    Gangguan kecemasan yang dialami subyek masih dalam batas rasional dan hal ini akan sangat terasa bila subyek sedang banyak mengalami masalah. Dan subyek cukup potesial untuk mengatasi masalah.

    C. Saran
    Saran untuk mengurangi kemalasan yang dialami oleh klien dalam masalah kasus ini khusus ditujukan kepada klien untuk membiasakan latihan-latihan atau melakukan kegiatan yang bersifat kecil sekalipun dan belajar menghargai waktu. Pemahaman rasional baik sedang mengalami suatu masalah atau tidak sendang menglami masalah.
    Kemudian kepada orang tua dan saudara-saudara yang berada dalam lingkungan keluarga klien memberikan dukungan dan dorongan secara psikologis terhadap klien dengan memperikan perhatian dan bimbigan secara teratur sehingga anak merasa di perhatikan dan merasa mendapat dukungan setiap apa yang dilakukan. Memberikan gambaran-gambaran tentang hal-hal yang terbaik dan hal-hal yang harus dilalukan.
    Membangun suasana iklim yang yang baik terhadap hubungan komunikasi kelurga. Kepada sanak famili khususnya pamannya untuk mengerti dan sadar bahwa sebagai klien adalah remaja yang sedang belajar dan menjalani tugas-tugas perkembangannya maka di harapkan untuk memberikan dukungan bagi perubahan klien dalam menjalani latihan-latihan terapi yang baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Molyono, Bambang Y . 1984. Pendekatan Analisis kenakalan Remaja dan penanggulangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
    Partowisastro Kuestuer, Drs. 1983. Dinamika Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga Jakarta
    Mustaqim, Drs. Dan Wahid Abdul, Drs. 1990. Psikologi Pendidikan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
    Hariyadi Sugeng, Drs. MS. 1993. Perkembangan Peserta Didik. Penerbit IKIP Semarang Press. Semarang
    Pujosuwarno Sayekil. Drs. 1983 Berbagai Pendekatan Dalam Konsling. Penerbit IKIP Yogyakarta FIP. Yogyakarta.

  • Peranan Pandita Dalam Perkembangan Buddhism

    Disampaikan oleh: Nyanasuryanadi

    A. Pendahuluan
    Pembabaran Dhamma yang dilakukan pertama kali oleh Buddha kepada lima orang pertapa di taman rusa Isipatana merupakan tonggak pertama sistem ke-Dhamma duta-an, yang dilanjutkan dengan diterimanya Yasa sebagai siswa keenam dan ke 54 orang temannya yang kemudian menjadi siswa Buddha, yang dilanjutkan beberapa abad ( Tiga ratus tahun ) setelah Buddha Parinibbana, pada masa Raja Asoka yang mengirimkan Dhammadutanya ke seluruh penjuru dunia. Perkembangan Agama Buddha, khususnya Dhammaduta di Indonesia telah berkembang pesat sejak masa kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah, serta kerajaan Majapahit di Jawa Timur, dan makin surut pada akhir masa kerajaan Majapahit. Agama Buddha bangkit kembali pada masa pasca kemerdekaan dengan penyebaran Dhamma yang dilakukan oleh Rohaniwan dan pembina yang mengabdikan diri pada Buddha Dhamma. Para Dhammaduta yang berjasa dalam kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia antara lain Alm. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, Alm. Bhikkhu Girirakkhito, dan lain sebagainya. Penyiaran agama Buddha dapat diuji dan dibuktikan sendiri, sehingga memungkinkan mereka mencari kebenaran itu sendiri, dilakukan tanpa kekerasan dan cinta damai.
    Sikap missioner (ke-Dhammaduta-an) Buddhisme ditunjukkan oleh Buddha ketika beliau memberi anjuran kepada enam puluh orang Bhikkhu arahat, “para bhikkhu, pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap semua makhluk dan dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia” (Vin.I, 21). Kegiatan dhammaduta mempunyai tujuan yang bersifat komunikatif dan sosial, karena kegiatan tersebut bertujuan untuk mempengaruhi, mengubah, dan membentuk sikap serta tingkah laku seseorang atau orang banyak. Dr. Sun Yat Sen menyatakan “ ... berbicara itu mudah, berbuat itu sukar dan memahami lebih sulit ...”, sehingga seorang Dhammaduta tidak hanya cukup pintar berbicara dan pandai dalam pengetahuan, tetapi harus mampu memberikan “pengertian terpadu” dengan komunikasi apa yang akan disampaikan, dari segi moral seorang Dhammaduta harus sesuai atau selaras antara ucapannya didepan umum dengan perbuatan keseharian di masyarakat.
    Dorongan menjadi Dhammaduta timbul dari keinginan memupuk kamma baik dan menyebabkan orang lain terpanggil untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya. Buddha menyatakan “... barang siapa memelihara, memperbanyak, atau mengkhotbahkan Sutra kepada orang lain akan memperoleh pahala, terlindung, mencapai kemuliaan, mendapatkan tempat bersama Tathagata yang akan meletakkan tangan-Nya diatas kepala mereka ...” (Saddharmapundarika Sutra, X). Pada kesempatan lain beliau bersabda: “... seseorang yang dapat mempelajari dengan baik, mempertahankan, membaca, dan menjelaskan Sutra kepada orang lain, akan memperoleh jasa kebajikan yang tidak terbatas ...” (Vajracchedika-prajnaparamita-sutra, 15).
    Seorang Dhammaduta harus mempunyai delapan sifat, sebagaimana telah disampaikan oleh Buddha yang menyatakannyasebagai berikut: a) Ia adalah seorang yang telah mendengar banyak tentang Dhamma dan Vinaya; :) dapat membimbing orang lain untuk mendengar (ia mampu mengajar mereka); c) terpelajar (telah merenungkan apa yang telah didengar); d) ingat apa yang dipelajari; e) ia adalah seorang yang mengerti kata-kata dan semangat Dhamma dan Vinaya; f) dapat membimbing orang lain untuk mengerti; g) tahu apa yang menguntungkan dan tidak menguntungkan (untuk pelaksanaan Dhamma); dan h) ia tidak membuat masalah antar Bhikkhu dengan umat awam (A. Viii).

    B. Pengertian Pandita
    Pandita sebagaimana disebut oleh Buddhagosa dalam kitab ulasan paramatthajotika secara harafiah berarti orang yang menempuh kehidupan dengan kebijaksanaan, demi manfaat dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang (Sanjivaputta, 1990: II-2). Dengan rujukan tersebut “pandita” dapat diartikan pula sebagai orang-orang yang memiliki, mengembangkan, dan senantiasa mempergunakan kebijaksanaan dan kearifan dalam segala hal, dengan kata lain disebut sebagai “orang bijak.
    Pada masa sekarang, penggunaan istilah “pandita” dikalangan masyarakat Buddhis berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Pada umumnya masyarakat umum di negara Buddhis seperti Thailand, Srilanka, Birma, maupun beberapa negara lain mengenal istilah pandita sebagai gelar kesarjanaan dikalangan akademisi, khususnya pendidikan Buddhis. Di masyarakat Buddhis, Indonesia kata ini digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang telah mendedikasikan dirinya pengembangan Buddhisme dalam membabarkan Dhamma, membimbing serta memimpin umat Buddha, sehingga hanya bersifat fungsional dan tidak didasarkan pada jenjang pendidikan yang telah ditempuh.

    C. Tujuan Dhammaduta
    Dhammaduta secara khusus bertujuan untuk: 1) Memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Buddha Dhamma; 2) Agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dhamma dan Vinaya secara benar; 3) Melindungi Buddha Dhamma dari usaha penyelewengan dan pencemaran, sehingga umat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Buddha menyebutkan beberapa tujuan Dhammadesana, yaitu agar para pendengar menjadi:
    1) Bijaksana dalam melaksanakan peraturan (Sila/Vinaya) yang benar.
    2) Cakap dan terpelajar.
    3) Memelihara Dhamma.
    4) Hidup sesuai Dhamma.
    5) Berpegang teguh atau patuh pada pimpinan yang telah ditetapkan (oleh keputusan musyawarah).
    6) Mempelajari sabda-sabda Guru, dapat menerangkan, mengkhotbahkan, mengumumkan, menyusun, mengartikan, menerangkan dengan seksama dan jelas, apabila kemudian timbul pendapat-pendapat yang bertentangan, mereka dapat memberi penjelasan dengan baik, sehingga keyakinan akan timbul (D.iii.22).
    Tujuan Dhammaduta secara umum adalah untuk:
    1) Menyebarkan Dhamma dengan jalan:
    i. Pemberitahuan (Vitharanaç), Dhammaduta menyampaikan Dhamma dengan baik disertai tingkah laku yang layak, sehingga orang akan menaruh hormat pada Dhamma.
    ii. Memelihara (havanaç)
    Dhamma akan dapat terpelihara dengan baik apabila orang mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakan Dhamma dengan penuh hormat; sebaliknya Dhamma akan hancur apabila orang sudah tidak mau mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakan Dhamma
    iii. Kelangsungan (santaranaç), dalam arti apabila masih ada orang yang menyampaikan dan menghormat Dhamma dengan jalan mendengar, mengingat, menghafal, mempelajari, dan melaksanakannya, maka Dhamma akan terjamin kelangsungannya.
    2) Mengikuti Dhamma dengan jalan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan Dhamma dan Vinaya dan seorang Dhammaduta harus mampu menjadi contoh, karena hal tersebut merupakan contoh yang lebih baik daripada khotbah.
    3) Melindungi Dhamma dari kehancuran
    Seorang rohaniwan maupun Dhammaduta harus melaksanakan Dhamma sebagaimana mestinya, karena penilaian terhadap suatu agama dilihat dari perilaku rohaniwan atau pembimbingnya.
    4) Membahagiakan orang lain, dengan kata lain seorang dhammaduta harus berusaha menyampaikan Dhamma dengan sebaik-baiknya, sehingga pendengarnya yakin akan kebenaran ajaran itu dan mendapat kedamaian dan kebahagiaan darinya.

    D. Peranan Pandita dalam pengembangan Buddha Dharma
    1) Peran sebagai Dhammaduta
    Berdasarkan berbagai uraian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa Peranan pandita sebagai Dharmaduta dalam pengembangan Buddha Dharma sangatlah penting hal itu terbukti pada munculnya berbagai organisasi majelis, yang beranggotakan para aktivis Buddhis yang berafiliasi pada pengembangan dan penyebaran Buddha Dharma di Indonesia. Pada perkembangan agama Buddha, peranan pandita atau dhammaduta sangat vital dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja.
    Ada beberapa fungsi dan peran Dhammaduta antara lain peran penyebaran, pemeliharaan, dan pelestarian Dharma. Hal ini ditunjukkan dengan tugas-tugas Dhammaduta yang diatur sedemikian rupa oleh Buddha dalam berbagai aturan dan ketentuan. Guna memelihara dan meningkatkan kedamaian, seorang dhammaduta berperan:
    1. Menunjukkan sikap dan perilaku keteladanan. Keteladanan ini dalam bentuk: (1) murah hati dan tidak mementingkan diri sendiri, (2) menjaga dan melaksanakan kesenangan pribadi demi kesejahteraan rakyat, (3) siap mengorbankan kesenangan pribadi demi kesejahteraan rakyatnya, (4) jujur dan menjaga persatuan, (5) baik hati dan lemah lembut, (6) memberikan contoh hidup sederhana kepada rakyatnya, (7) membebaskan pikiran dari segala bentuk kebencian, (8) melatih diri menghindari kekerasan, (9) melaksanakan kesabaran, (10) menghargai saran dan pendapat orang lain demi menciptakan suasana damai dan harmonis (Ja.v.378).
    2. Senantiasa menanamkan kesadaran beragama dengan mengambangkan dialog atau musyawarah. Sebagai upaya untuk mencapai kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bentuknya: (1) mengadakan musyawarah dan menghasilkan mufakat, (2) menyelesaikan masalah dengan damai, (3) menetapkan hukum-hukum yang baru, dan telah memperbaiki tradisi mereka yang lama atau mereka meneruskan peraturan-peraturan lama sesuai dengan kebenaran (dharma), (4) menunjukkan rasa hormat dan bakti serta menghargai orang lain yang lebih tua, menganggap sangat berharga dan bermanfaat nasehatnya, (5) melarang dengan keras adanya penculikan atau penahanan wanita-wanita atau gadis-gadis dari keluarga baik-baik, (6) menghormati dan menghargai tempat-tempat suci mereka dan mereka dengan taat melaksanakan puja bakti, baik ditempat suci yang ada di kota maupun diluar kota, (7) melindungi serta menjaga orang-orang suci dengan sepatutnya, bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan diusahakan supaya memiliki pekerjaan, hidup dengan aman dan damai (Mahaparinibbana sutta).
    3. Mengkondisikan terciptanya suasana yang menunjang pelaksanaan, pengamalan ajaran agama Buddha.
    4. Penegak kebenaran. Buddha menjelaskan berhubungan kebenaran dan pengetahuan seorang dhammaduta dalam Sutta-Nipata Anguttara Nikaya sebagai berikut: (1) tahu kebenaran, bahwa perbuatan baik merupakan penyebab timbulnya kebahagiaan, sedangkan perbuatan jahat merupakan penyebab timbulnya penderitaan (dhammannuta), (2) tahu manfaat, bahwa kebahagiaan adalah pahala dari perbuatan baik, sedangkan penderitaan adalah akibat perbuatan jahat (atthannuta), (3) tahu diri sendiri, dalam arti biasa menyesuaikan tingkah laku menurut kelahiran, keluarga, pengetahuan, kemampuan, kedudukan, pengikut, kekayaan, dan kemasyhuran yang dimiliki (Attannuta), (4) tahu batas, dalam hal mencari, mengumpulkan serta menggunakan kekayaan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup yang layak (Matannuta), (5) tahu waktu, dalam menunaikan segala tugas dan kewajiban (Kalannuta), (6) tahu membawa diri, dalam pergaulan di pelbagai lapisan masyarakat (Parisannuta), (7) tahu menilai serta memilih orang, yang berciri begini patut diajak bergaul, sedangkan yang berciri begitu tidak patut diajak bergaul (Puggalaparoparannuta). Berkenaan dengan penegakan kebenaran dalam Cakkavatti Sihanada Sutta Buddha bersabda “hiduplah dalam kebenaran; berbakti, hormati dan sujudlah pada kebenaran, pujalah kebenaran, sucikanlah dirimu dengan kebenaran, jadikalah dirimu panji kebenaran dan tanda kebenaran, jadikanlah kebenaran sebagai tuanmu”.

    2) Peran organisatoris
    Selain mempertahankan umat, seorang Pandita perlu mempunyai program untuk memperbanyak umat Buddha, yaitu dengan mengenalkan Dhamma kepada mereka yang belum kenal. Adapun hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan disini adalah:
    1. Teknik Promosi
    Promosi ini penting sekali! Hendaknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita mempromosikan ajaran Sang Buddha ini kepada masyarakat. Teknik promosi ini ada bermacam-macam, misalnya dengan koran yang merupakan media massa. Umpamanya pada hari Waisak kita membuat artikel mengenai makna Waisak dan kita muat di beberapa media massa sehingga masyarakat bisa mengenal agama Buddha. Itu adalah promosi. Untuk bisa berhasil maka promosinya harus kuat.
    2. Produk Jasa
    Vihara harus menjadi tempat yang bisa menghasilkan produk jasa, misalnya: untuk latihan baca paritta/Dhammapada, diskusi Dhamma, meditasi, belajar bahasa Inggris, badminton, dsb. Atau ikut melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti; ikut berpartisipasi mengaspal jalan, sehingga lingkungan merasa bahwa umat Buddha juga ada manfaatnya.
    3. Perhatian
    Perhatian harus diberikan bukan hanya untuk umat yang ada saja tetapi juga kepada umat yang belum pernah datang maupun yang sudah pernah datang tetapi tidak datang lagi. Mereka yang belum datang/tidak datang lagi, kita ajak untuk datang ke vihara. Mereka yang sudah datang ke vihara juga kita rawat dan kita berikan perhatian. Misalnya: dengan mengadakan acara keakraban, kemping Dhamma, dsb. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai terjadi pengelompokkan-pengelompokkan sehingga mereka yang baru datang juga mempunyai teman. Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman atau tidak diperdulikan, karena ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan di masa yang akan datang mereka tidak mau datang lagi.
    Disinilah letak peranan dan fungsi pandita yang tidak hanya ditujukan untuk umat di lingkungan vihara saja tetapi lebih luas lagi, misalnya di tempat kost, tetangga, dll. Mereka itulah yang menjadi obyek ke-dhammaduta-an kita! Minimal mereka bisa mengerti Dhamma tanpa menjadi umat Buddha. Oleh karena itu, tugas seorang pengurus sebetulnya adalah melakukan Dana Dhamma. Kalau setiap pengurus dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, sebetulnya pengurus tersebut sudah melakukan Dana Dhamma.

    Referensi:
    Dhammananda, K. Sri, 2000, Keyakinan Umat Buddha, Penerbit Karaniya, Jakarta
    Davids, Rhys. T.W (Transl). 1977, The Dialogues Of The Buddha – Digha Nikaya Vol. III Pali Text Society, London
    Hare, E.M. (translate). 1989, The Book of Gradual Sayings-Aéguttara Nikäya-Vol I, Pali Text Society, Oxford.
    Hare, E.M. (translate). 1989, The Book of Gradual Sayings-Aéguttara Nikäya-Vol IV, Pali Text Society, Oxford.
    Horner, I.B. (translate). 1989, The Middle Length Sayings-Majjhima Nikäya-Vol II, Pali Text Society, Oxford.
    Nyanaputra, Bhikkhu, 1998, Dhammaduta, Pustaka Ekayana, Jakarta
    Sañjivaputta, Jan, 1991. Maégala Berkah Utama, Lembaga Pelestari Dhamma, Jakarta

  • ULAMBANA DAN PATIDANA

    BAB I
    PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah
    Patidana dan ulambana merupakan pelimpahan jasa kepada semua mahluk. Pelimpahan jasa ini seringkali dilakukan oleh umat awam dengan memberikan dana makanan kepada para Bhikkhu Sangha.
    Upacara ullambana dan patidana dilatar belakangi gagasan dari ullambana patra-sutra Bhikkhu Moggalana setelah mencapai tingkat kesempurnaan, mampu melihat almarhum ibunya yang menderita sebagai hantu kelaparan. Bhikkhu Moggalana mencoba untuk menolong dengan mengirimkan makanan dengan mangkuk bhikkhu tetapi setelah diterima oleh ibunya makanan itu berubah menjadi abu panas, hingga ia tidak dapat memakannya dan setiap kali Y. A. Moggalana mengirimkan makanan untuk ibunya selalu tidak berhasil. Atas petunjuk Buddha serta dengan bantuan himpunan kekuatan batin para anggota sangha yang suci barulah hantu kelaparan itu tertolong.
    Mengenai manfaat melaksanakan persembahan ullambana atau patiddhana tidak semua mahluk dapat menikmatinya, hanya mahluk di alam peta tingkat pertama saja yang mampu menerima persembahan tersebut. Seseorang yang memberi persembahan, juaga mengingat kembali apa yang pernah mereka lakukan. Bila persembahan diberikan pada sangha, manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar

    BAB II
    PEMBAHASAN


    A. Sejarah Upacara Ullambana Atau Pattumodana
    Upacara ullambana (cioko) adalah upacara yang diadakan setiap bulan ketujuh (cit gwee) oleh kalangan masyarakat tionghoa di klenteng ataupun vihara, umumnya mereka berpendapat bahwa upacara itu hanya sebagai upacara tradisional masyarakat cina dan tidak tahu makna yang sebenarnya dari upacara ullambana. Upacara ullambana pada hakekatnya juga merupakan upacara agama Buddha, bilamana kita mendalami arti dan makna dari upacara tersebut meskipun upacara ullambana dianggap sebagai upacara tradisi dan alangkah baiknya apabila dalam pelaksanaan upacara ulambana di sertai dengan pengertian sesuai dengan ajaran agama Buddha.
    Upacara ullambana dan patidana dilatar belakangi gagasan dari ullambana patra-sutra Bhikkhu Moggalana setelah mencapai tingkat kesempurnaan, mampu melihat almarhum ibunya yang menderita sebagai hantu kelaparan. Bhikkhu Moggalana mencoba untuk menolong dengan mengirimkan makanan dengan mangkuk bhikkhu tetapi setelah diterima oleh ibunya makanan itu berubah menjadi abu panas, hingga ia tidak dapat memakannya dan setiap kali Y. A. Moggalana mengirimkan makanan untuk ibunya selalu tidak berhasil. Atas petunjuk Buddha serta dengan bantuan himpunan kekuatan batin para anggota sangha yang suci barulah hantu kelaparan itu tertolong.

    B. Hakekat Upacara Ullambana
    Dalam kitab suci Dhammapada dinyatakan bahwa intisari dari agama buddha dicantumkan dalam satu bait sajak yang berbunyi:
    “ Jangan berbuat jahat
    Tambahkan kebaikan
    Sucikan hati dan pikiran
    Inilah inti ajaran para Buddha”

    Bagaimanakah cara untuk mengurangi kejahatan dan menambah kebaikan?. Inilah masalah yang sangat penting dan perlu dipecahkan, jalan yang harus ditempuh yang pertama adalah melalui saddha yaitu menanamkan keyakinan melalui bhakti dan beramal atau dana, yang kedua dengan menyelami hukum kesunyataan (Dhamma) yang menjelaskan bahwa pengadilan agung bagi diri umat manusia setelah meninggal semata-mata tergantung seluruhnya dari amal perbuatannya sendiri (hukum karma). Demikian surga dan neraka sebenarnya tidak lain adalah hasil dari perbuatan dan jahat yang telah dilakukan oleh setiap umat manusia. Menurut agama Buddha, apabila sutu mahluk dalam kehidupannya yang lalu melakukan perbuatan jahat maka dalam kehidupan berikutnya akan terlahir di alam peta yaitu alam hantu kelaparan atau hantu kuburan.
    Pada tanggal 15 bulan ke 7 penanggalan imlek, umat Buddha menyelenggarakan ullambana. Menurut catatan sejarah, semula orang-orang menyelenggarakan upacara ini dengan persembahan yang ditujukan pada buddha dan sangha atas nama ketujuh generasi leluhur. Pada jaman dinasti tang, seorang bhikksu tantra, yaitu Amoghawajra menyesuaikannya dengan tradisi pemujaan leluhur dari rakyat setempat, sehingga upacara selanjutnya ditujukan bagi arwah leluhur. Upacara yang mistik itu sebagai wujud pelimpahan jasa kemudian berkembang menjadi suatu bentuk solidaritas sosial. Hingga sekarang upacara ullambana yang ada di Indonesia disebut cioko.
    Brahmana Janussoni bertanya pada Buddha mengenai manfaat melaksanakan persembahan pada mereka yang telah meninggal dunia apakah mereka menikmatinya?. Buddha menjawab, ada yang dapat menikmatinya, dan ada yang tidak. Mereka yang terlahir di alam –alam surga, neraka, atau binatang tidak mendapatkan manfaatnya. Hanya mereka yang terlahir di alam hantu saja yang bisa menikmatinya, ada yang membutuhkan persembahan dari keturunanya sehingga dapat menikmati persembahan itu. Kalau pun sang leluhur tidak dapat terlahir dialam tersaebut, hantu-hantu yang lain dapat ikut menikmatinya. Karena itu persembahan bagi oarang sudah meninggal tidak dianggap sebagai suatu perbuatan yang sia-sia (A.V, 269-270).
    Menurut Tirokuddha sutta, para arwah atau hantu mengharapkan persembahan dari sanak keluarganya, dan berdoa agar keturunannya panjang usia. Seseorang yang memberi persembahan, juaga mengingat kembali apa yang pernah .mereka lakukan. Bila persembahan diberikan pada sangha, manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar ( Khp.7). Suatu upacara pelimpahan jasa (patiddhana), dengan melakukan persembahan bagi orang yang telah meninggal dunia dan melakukan kebajikan atas namanya, dapat dilakukan pada hari apa saja, khususnya yang berhubungan dengan almarhum dan almahummah.

    C. Hari Patidana Menurut Versi Theravada
    Patidana dalam tradisi Theravada merupakan pelimpahan jasa kepada semua mahluk. Pelimpahan jasa ini seringkali dilakukan oleh umat awam dengan memberikan dana makanan kepada para Bhikkhu Sangha.
    Penjelasan Sang Buddha kepada Raja Bimbisara :
    Pada suatu hari raja Bimbisara mengundang Sang Buddha dan para Bhikkhu untuk bersantap siang di istana. Pada malam harinya terjadi keributan di istana serta kekacauan yang dilakukan oleh mahluk-mahluk setan kelaparan. Raja Bimbisara melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha dan mengeluh bahwa setelah berdana makanan kepada Sang Buddha bahkan memerima akibat yang tidak di inginkan.
    Kemudian sang buddha menceritakan :
    Pada kehidupan yang lampau raja Bimbisara pernah terlahir sebagai seorang raja pada zaman kehidupan Buddha Kakkusanda. Pada suatu hari raja mengundang sang Buddha Kakkusanda untuk bersantap siang di istana. Sebelum makan-makan disiapkan sang raja, para pejabat tinggi istana telah mengambil dan memakan sebagian makanan yang telah tersedia sebelum Sang Buddha Kakkusanda beserta para bhikkhu bersantap. Akibatnya setelah meninggal mereka terlahir kembali di alam setan kelaparan yang sangat menderita. Mahluk setan kelaparan ini memohon pertolongan Buddha Kakkusanda, kemudian diberitahu supaya memohon kepada Buddha yang akan datang. Demikian pula pada jaman Buddha Konagamana dan Buddha Kassapa.
    Pada jaman Buddha Gotama, raja tersebut terlahir kembali sebagai raja Bimbisara. Mahluk setan kalaparan yang membuat kekacauan tersebut sebenarnya memohon pertolongan kepada Buddha Gotama. Karena itu Sang Buddha Gotama menganjurkan kepada raja Bimbisara untuk menyelenggarakan upacara besar dan memberikan makanan kepada mahluk setan kelaparan, untuk membebaskannya dari siksaan penderitaan alam Peta. Tepat bulan Juli tanggal 15 kalender bulan, raja Bimbisara menyelenggarakan upacara tersebut. Sang Buddha dan para bhikkhu membacakan doa-doa tertentu, diantaranya Tirokuda Sutta sehingga mereka dapat makan dan terbebas dari alam Peta.
    Aliran Theravada tidak mementingkan upacara pattidana, karena lebih mementingkan pembersiahn pikiran pribadi untuk mencapai kesucian arahat melalui meditasi dan perenungan-perenungan untuk membantu arwah-arwah keluarga dengan merenungkan Pattidana, yaitu memancarkan kekuatan jasa-jasa perbuatan baik kepada arwah yang telah meninggal.

    D. Ullambana Versi Mahayana.
    Didalam ullambana sutra diceritakan bahwa : ibu dari Y.A. Moggalana pada waktu hidupnya suka membunuh hewan. Kemudian karena karmanya memang sudah masak, setelah meninggal bertumimbal lahir di alam setan kelaparan. Pada suatu hari Y.A. Moggalana dalam meditasi ingin mengetahui dimana ibunya tumimbal lahir, dan terlihat oleh Y.A. Moggalana ibunya berada di alam Peta. Dengan kekuatan batinya menciptakan makanan dalam pattanya, kemudian dikirim kepada ibunya. Akan tetapi setelah makanan itu akan sampai dimulut ibunya menyembur api panas terus menerus. Kemudian Y.A. Moggalana menghadap Sang Buddha dan memohon petunjuk agar Sang Buddha memberitahu kenapa hal tersebut bisa sampai terjadi.
    Sang Buddha memberitahukan kepada Y.A. Moggalana bahwa tak seorangpun yang dapat menolong mahluk yang ada di alam Peta. Namun Sang Buddha memberikan penjelasan salah satu cara untuk dapat menolong adalah dengan mengadakan upacara yang disertai pembacan doa-doa oleh para suci. Makanan yang diberikan bisa diterima atau dimakan bersama dan kebajikan para suci mampu mengangkatnya dari alam yang menyedihkan. Kemudian Y.A. Moggalana menyelenggarakan upacara tersebut dan ibunya akhirnya terlahir di salah satu alam dewa. Para bhikkhu dan para umat kemudian ikut menyelenggarakan upacara tersebut. Upacara yang dilakukan Moggalana terjadi pada bulan Juli tanggal 15 kalender bulan. Dan akhirnya sampai sekarang di rumah-rumah, di vihara pada bulan tujuh mengadakan upacara ullambana untuk mengirimkan makanan kepada arwah keluarga dan semua mahluk di alam yang menyedihkan dibacakan sutra-sutra Mahayana disertai permohonan kepada Bodhisatva Khsitigarbha untuk membebaskan arwah-arwah yang ada di alam menyedihkan. Dan memohon kepada Sang Buddha Amitaba dengan tujuan arwah tersebut dapat terlahir di surga Sukhavati.

    BAB III
    PENUTUP

    A. Simpulan
    Upacara patidana dan ullambana (cioko) adalah upacara yang diadakan setiap bulan ketujuh (cit gwee) oleh kalangan masyarakat tionghoa di klenteng ataupun vihara. Upacara ullambana pada hakekatnya juga merupakan upacara agama Buddha, bilamana kita mendalami arti dan makna dari upacara tersebut meskipun upacara ullambana dianggap sebagai upacara tradisi dan alangkah baiknya apabila dalam pelaksanaan upacara ulambana di sertai dengan pengertian sesuai dengan ajaran agama Buddha.
    Mengenai manfaat melaksanakan persembahan ullambana atau patiddhana tidak semua mahluk dapat menikmatinya, hanya mahluk di alam peta tingkat pertama saja yang mampu menerima persembahan tersebut. Seseorang yang memberi persembahan, juaga mengingat kembali apa yang pernah mereka lakukan. Bila persembahan diberikan pada sangha, manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar ( Khp.7).

    DAFTAR RUJUKAN
    ….. 1986. The Book Of The Gradual Sayings (Anguttara Nikaya) Vol V.London: Pali Text Society.
    Majalah Dharma Duta, Edisi Bulan Juli 1986. Cirebon.
    Majalah Manggala, Edisi No. 36 Tahun IX.. Medan
    Wijaya-Mukti, K. 2003. Wacana Buddha Dharma. Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan Dan Ekayana Buddhist Centre.
    Catatan Materi

  • UPAYA MENGATASI KEMROSOTAN MORAL

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah
    Sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi di era globalisasi sekarang ini yang begitu berkembang pesat dalam berbagai bidang IPTEK.dan kemudahan – kemudahan berbagai jenis hiburan yang bisa dinikmati dengan mudah disamping membawah kemajuan juga mendatangkan kegelisahan.dengan kemajuan diberbagai bidang komunikasi maupun informasi timbul masalah yang menyangkut masalah moral.banyak orang tidak memiliki lagi pegangan tentang norma kehidupan ataupun norma kesusilaan.
    Sedangkan norma-norma dalam kehidupan memiliki peran yang penting dalam pembentukan kehidupan yang harmonis.pada dasarnya moral itu dimulai dari diri pribadi masing-masing individu sejak dini dengan pemahaman moral yang baik akan mengurangi kemerosotan moral dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kedamaian, kesejahteraan dan keharmonisan dalam bermasyarakat dan bernegara.
    Segala sesuatu di dunia ini selalu berpasang-pasangan begitu juga dengan perkembangan jaman seperti dijelaskan diatas disamping membawa kemajuan juga mendatangkan kegelisahan.dibalik kemudahan-kemudahan yang didapat dalam perkembangan teknolagi membawa dampak negatif terhadap keberadaan moral dan etika yang mulai dilupakan.untuk itu perlu pembahasan mengenai upaya mengatasi kemerosotan moral menurut pandangan agama buddha sehingga didapat jalan keluarnya.

    B. TUJUAN
    Sebagai mahasiswa Buddhis dan calon guru agama yang nantinya akan terjun dimasyarakat hendaknya kita mempunyai moral atau etika yang baik yang nantinya akan dijadikan panutan bagin masyarakat.oleh karena itu perlunya suatu pengertian tentang moral dan etika yang baik maka dari itu tujuan penyuisunan makalah ini adalah:
    1. memahami masalah moral
    2. timbulnya kesadaran untuk memjunjung tinggi nilai-nilai moral atau norma yang berlaku
    dimasayarakat.
    3. mengetahui bagai mana menghadapi masalah moral

    C. RUMUSAN MASALAH
    1. Apakah pengertian moral
    2. Perkembangan Moral
    3. lamdasan Moral Dalam Konsep Buddha
    4. Bahaya Kemerosotan Moral
    5. Penyebab Kemerosotan Moral
    6. Upaya Mengatasi Kemerosotan Moral

    BAB II
    PEMBAHASAN

    A. Pengertian moral
    1. Umum
    Ada 2 (dua) kata yang saling membicarakan tentang tingkah laku manusia di dalam kehidupan sehari-hari yaitu :
    1) Moral berasal dari bahasa latin yaitu ”mos” atau ”mores” yang mempunyai arti kebiasaan atau adat sedangkan ”mores” masih dipakai dalam arti yang sama. antara etimologi kata etika sama dengan kata moral karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan hanya bahasanya yang berbeda
    2) Etika berasal dari bahasa yunani dan moral berasal dari bahasa latin. dalam kamus besar bahasa indonesia lama ”moral” dijelaskan sebagai
    ”pengetahuan tentang asas-asas makhluk” sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia baru moral dijelaskan dengan membedakan tiga pengertian yaitu:
    1. ilmu tentang yang baik dan yang tidak dan mengenai hak dan kewajiban
    2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
    3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
    Dari pengertian moral diatas dapat disimpulkan bahwasannya moral adalah suatu nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi semua orang atau masyarakat secara luas. bisa dikatakan moral sebagai salah satu cara untuk mengubah pola kehidupan di zaman sekarang ini yang semakin bebas dengan berbagai kemudahan-kemudahan teknologi dan hiburan yang mudah untuk dinikmati. disamping itu moral sebagai pedoman pola hidup perorangan atau kelompok untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan masyarakat secara luas. terkadang kita menyamakan moralitas dengan moral, pada dasarnya moralitas berasal dari kata sifat moralitas dan menpunyai arti yang sama dengan moral.
    Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruknya ’ (K. Bertens,2001: 5)
    2. Menurur pandangan Buddhisme
    Agama merupakan salah satu sumber nilai etika dan moral yang paling penting. Selain nilai etika dan moral seringkali juga disebutkan nilai spritual, spritual artinya kejiwaan, kerohaniaan, mental, yang jelas terkait dengan moral itu disebut juga sebagai nilai spritual
    Setiap agama tentunya mengajarkan mengenai moral pada umumnya ajaran setiap agama itu sama dan memiliki kesamaan dalam nilai-nilai yang mendasar, misalnya mengenai jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan berjina yang membedakan hanyalah mengenai keyakinan mereka.
    Menurut pandanga agama Buddha moral atau moralitas identik dengan sila mendapatkan tempat yang paling penting sebagai salah satu cara atau upaya untuk mencegah perbuatan-prerbuatan yang menyaimpang dari ajaran agama sedangkan dalam agama Buddah sila juga bisa dikatakan sebagai salah satu jalan untuk mencapia tujuan uatama umat Buddha yaitu Nibana. Dalam Buddhisme sila merupakan moralitas yang merupakan peraturan-peraturan yang mengkordinasi dan menyelaraskan perbuatan.” Ananda, kebiasaan-kebiasaan yang baik ( sila ) tujuannya adalah untuk tidak menyesal dan manfaatnya adalah tidak menyesal”
    (A.V.1)
    Sila merupakan tahap permulaan untuk memasuki kehidupan baik, bahagia serta dapat melindungi seseorang yang melaksanakannya. Sila juga berfungsi sebagai dasar keadaan yang baik dan menguntungkan. moral selalu berhubungan dengan tingkahlaku, perbuatan” kamma ” baik atau buruknya moral yang dimemiliki akan mempengaruhi kamma. kamma akan menghasilkan penderitaan atau pun kebahagiaaan itu tergantung pada individu masing-masing (Sri Dhamananda 2002: 181) .

    B. Perkembangan Moral
    Dalam wacan Buddha Dhamma perkembangan moral menurut Dawey membagi proses perkembangan moral atas 3 tahap, yaitu tahap promal , tahap konsional dan tahap otonom. selanjutnya Piaget melukiskan dan menggolongkan seluruh pemikiran moral anak dalam kerangka pemikiran Dewey: (1) pada tahap promoral anak belum menyadari keterikatan pada aturan. (2) tahap konvensional ditandai oleh ketaatan pada kekuasaan (3) tahap otonom bersifat keterikatan pada aturan yang didasarkan pada resiprositas. Kemudiaan Kohlberg mengembangkannya menjadi 6 tahap yaiyu:
    1. Orentasi pad hukum dan ganjaran serta pada kekuatan fisik dan matriil. Hidup dinilai dalam pengertian kekuatan atau perolehan dari pribadi yang terlibat. Seseorang tidak mencuri bukan karena kesadaran bahwa mencuri itu jahat, ia tidak mencuri karena takut hukum.
    2. Orentasi Hedonistis dengan suatu pandangan instrumental tentang hubungan-hubungan manusia. gagasan mengenai timbal balik mulai berkembang, dengan suatu tekanan atas pertukaran jasa,
    3. Orintasi anak manis berusaha menpertahankan harapan harapan dan memperoleh persetujuaan dari kelompok (yang paling dekat). Hidup dinilai dari segi hubungan indifidu dengan dengan orang lain atau penilaian terhadapnya.
    4. Orentasi Pada Oteritas, Hukum dan kuwajiban untuk pertahankan tatatertip yang tepap, yang dianggap suatu nilai yang utama, tidak terbatas pada pada kelompok sendiri.
    5. Orentasi kontrak sosial dengan penekanan atas persamaan derajat dan kuwajiban timbalbalik didalam suatu tatanan yang ditetapkan secara demokratis. Terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme nilai-nilai dan pendapat pribadi, serta suatu tekanan pada prosedur yang sesuai untuk mencapai kesempatan.
    6. Orentasi pada keputusan suara hati dan pada prinsip perinsip etis yang dipilih sendiri. moralitas prinsip suara hati yang individual dan yang memiliki sifat komprehensif logis universal dan konsisten, tidak takut mematang arus.
    Tahap 1dan 2 yang khas bagi anak-anak muda dan anak-anak nakal, dilukiskan sebagi tahap promal (prakonversional), sebab semua putusan sebagaiaan besar dibuat atas atas dasar kepentingan diri dan pertimbanagan matriil. Tahap3 dan 4 berorentasi pada kelompok merupakan tahap konvensional.

    C. Landasan Moral Dalam Konsep Buddha
    Agama Buddha merupakan salah satu sumber nilai etika dan moral yang paling penting. selain nilai etika dan moral, sering kali juga disebutkan nilai spiritual arti kejiwaan, kerohaniaan memtal, yang jelas terkait dengan moral. menurut Hans Kung, setiap agama memiliki dogmanya masing-masing yang berbeda satu sama lain, tetapi etika dan perilaku agama-agama memiliki banyak kesamaan. karena unsur kemanusiaan merupakan salah satu kreteria bagi kebenaran suatu agama.
    Seseorang yang beragama memerima dan melaksanakan ajaran moral karena alasan keimaman. kebanyakan agama memempatkan moralitas sebagai unsur antara manusia dengan tuhan yang mengajar yang baik dan menghukum yang jahat.
    Buddha memberikan lima aturan moral (pancasila) sebagai petunjuk etika moral dasar mereka. apabila dilaksanakan dengan baik akan membawa kemajuaan, kemakmuran besar, kehidupan surga, baik sebagai manusia atau Dewata.
    1. saya bertekat akan melatih diri menghidari pembunuhan makhluk hidup.
    2. saya bertekat akan melatih diri menghidari pengambilan barang yang tidak diberikan pemiliknya
    3. saya bertekat akan melatih diri menghidari perbuatan asusila
    4. saya bertekat akan melatih diri menghidari ucapan yang tidak benar
    5. saya bertekat akan melatih diri menghidari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
    Dalam Majima sila terdapat delapan sila dan kelima pertama telah disebutkan diatas dan ditambah tentang aturan makan, wangi-wangian dan musik, serta tempat tidur yang mewah dan ditambah lagi Dasa sila 4 pertama disebutkan terhadap pemfitnahan, terhadap ucapan yang keras dan kasar, terhadap ocehan yang tidak karuaan, keirihatian, terdapat kedengkiaan, terhadap pandangan sesat (Filsafat Buddhis, 49)
    Dari sekian landasan moral dalam Buddhisme, pada dasarnya meniliki tujuan yang sama, kelompok sila terdiri dari ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencahriaan benar” (M.I.301)

    D. Bahaya Kemerosotan Moral
    Menurut Buddhisme kemeresotan moral bisa disebabkan oleh berbagi macam faktor. Faktor tersebut bisa dari dalam ataupun dari luar. Kemerosotan moral juga biasanya selalu dihubungkan dengan tingkah laku atau sikap yang menyimpang dari norma. Kemerosotan moral juga sangat erat hubunganya dengan sila karena sila merupakan tatanan bagi manusia.
    Dalam hukum karma, sesuai benih yang tabur maka akan menetik buahnya. Apabila kita menanam kejahatan kita akan memetik buah kejahatan (penderitaan), demikian pula sebaliknya kita menanam kebajikan maka akan memenetik kebajikan (kebahagian).
    Dalam parinibbhana sutta Sang Buddha bersabda ” Wahai saudara-saudara berkeluarga, orang-orang yang tidak susila dan karena kemerosotannya moral orang-orang itu maka mereka akan menjumpai lima bahaya.
    1. kehilangan sebagian besar kekayaan, karena sifat mereka acuh tak acuh
    2. perbuatan mereka yang tidak baik
    3. perbuatan mereka yang memelukan dan menyusahkan setiap warga masyarakat, apa itu mereka sebagai bhikkhu, pendeta, berkeluarga atau pertapa.
    4. mereka akan meninggal dunia dalam kebingungan
    5. Pada saat kehancuran tubuh mereka setelah kematian mereka akan terlahir kembali dalam alam penderitaan, keadaan yang tidak bahagia”(M. 20).
    E. Penyebab Kemerosotan Moral
    1. umum
    Masalah moral adalah suatu masalah yang menjadi perhatiaan orang dimana saja, ini disoroti oleh masyarakat yang maju maupun masyarakat yang terbelakang, kerusakan moral seseorang sangat mengganggu ketenangan masyarakat, apabila dalam masyarakat bayak orang yang rusak moralnya, maka goncanganlah keadaan masyarakat itu. Kemerosotan moral banyak disebabkan beberapa faktor :
    a. kurang tertatanya jiwa agama dalam masyarakat
    b. keadaan masyarakat yang tiak setabil
    c. pendidikan moral kurang terlaksana dengan semestinya
    d. diperkenalkanya obat-obatan secara populer seperti ala-alat anti hamil
    e. rumah tangga kurang baik
    f. banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran Tv yang tidak mengarah pada kemoralan (tatanan susila)
    g. tidak ada serta kurangnya tempat-tempat bimbingan dan penyluhan bagi anak-anak dan pemuda (zakiah Darajat, 1977. 13)

    2. Pandangan Buddhis
    Menurut pandangan Buddhis kemerosotan moral merupakan meniliki dampak yang sangat laus sekali. Semua itu tidk mencangkut masalah pribadi tetapi berpengaruh terhadap lingkungn sekitar. Kalau kita kaji dengan seksama kemerosotan moral itu berada dari masing-masing individu. Dalam dasuttara sutta, ada beberapa sebab tantang kemerosotan moral yaitu
    1. Mempunyai pikiran yang tidak baik
    seseorang yang meniliki kebijaksanaan dalam berpikir, dalam melakukan segala sesuatu tampa didasari pertimbangan yang baik

    2. Keras kepala
    Orang yany keras kepala, cendrung memiliki sifat egois yang tinggi dan tidak mengabaikan nasehat orang lain.
    3. Mencarai pegaulan dan teman-taman yang tidak baik
    Bergaul dengan orang-orang jahat sangat mepengaruhi tingkah laku seseorang. Apabila ingkungan tidak baik maka cendrung akan meniliki moral yang tidak baik.
    4. Akar kejahatan kekerasan (lobha akusala mula)
    Keserakahan adalah bentuk pemuasan nafsu indra yang berlebihan sehingga akan menimbulkan cinta kasih
    5. Akar kejahatan kebencian (dosa akusala mula)
    Dalam Buddhisme cinta kasih merupakan hal yang sangat ditekankan karena cinta kasih merupakan upaya untuk melaksanakan landasan moral dalam agama Buddha
    6. Akar kejahatan ketidak tahuaan (moha akusala mula)
    Ketidak tahuaan disini adalah tidak memberdayakan mana yang baik dan buruk
    7. ikatan kesenangan
    8. ikatan perwujutan
    9. ikatan pandangan
    10. ikatan ketidak tahuaan
    11. lima kekuata batin yang tandus (catokhula)
    a. meniliki sifst bimbang, ragu-ragu terhdap guru
    b. menilikin sifat bimbang, ragu-ragu terhadap dhamma
    c. meniliki sifat bimbang,ragu-raguterhadap sangha
    d. meniliki sifat bimbang,ragu-raguterhadap terhadap latihan
    e. meniliki kesal hati tidak senang terhadap teman, dan dan keras hati terhadap teman (M. II. 6)
    12. lima kekuatan tidak hormat
    13. delapan dasar kemalasan
    14. sepuluh arah perbuatan buruk

    F. Upaya Mengatasi Kemerosotan Moral
    Kemorosotan moral dalam pandangan Buddhisme sesuatu yang dapat menghalangi tujuan utama yang tertinggi yaitu Nibana. Dalam Buddhisme memendang kemerosotan moral sebagi pelanggaran yang serius, karena dalam setiap agama meniliki konsep yang berbeda,tetapi mempunyai tujuan yang sama.
    Dalam filsafat Buddhis kebajikan moral mereka menyinggung topik yang sangat luas, seerti penyuapan, koropsi, perjudiaan, korban, peramalan, penggunaan sihir dan jampen, disamping itu juga banyak pengekangan terhadap kejahatan-kejahatan besar yaitu pembunuhan, pencuriaan, pendustaan, dan ketidak susilaan.
    Upaya kemerosotan moral dalam buddhisme itu dimulai dari peribadi masing-masing, bagaimana seseorang bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk dan tertaman didalam diri manusia yaitu hiri dan ottap. Hiri adalah merasa malu untuk berbuat jahat sedangkan ottapa adalah mersa takut terhadap akibat perbuatan jahat.
    Jika didalam pribadi manusia ditanamkan sifat tersebut paling tidak umat Buddha akan mengurangi dampak kemerosotan moral dan disamping itu umat Buddha harus menpunyai tindakan yang sesuai dengan Dhamma ajaran sang Buddha.

    G. Peran Moral Dalam Kehidupan moderen
    Dalam kehidupan moderen moral memiliki tigha ciri
    1. kalo kita lihat dalam pluralitas moral, morma sekarang pada saat era komonikasi. karena pada saat dulu untuk menyampaikan berita tantang suatu kejadiaan yang sangat penting memerlukan waktu yang lama tetapi sekarang informasi dari seluruh dunia bisa masuk kerumah-rumah
    2. timbul masalah etis baru yang terutama disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kusunya ilmu biomedis. diantara masalah yang paling berat adalah dapat disebut apa yang harus kita pikirkan tentang penipu logis genetis, kusunya menipulasi dengan gen-gen manusia
    3. suatu kepeduliaan etis yang tampak diseluruh dunia melewati perbatasan negara.
    moral dalam kihidupan moderen itu mengajak kita untuk mendalami studi etika. karena studi etika memberi cara untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Sedangkan pola moral yang tradisi tidak meniliki dasar untuk berpijak, akibatnya banyak perubahan sosial dan religius. Peran Sofis tidak berhasil memberi jawaban untuk mangatasi krisis, tetapi sebaliknya meruncikan keadaan yang baru. Bagi kita pun tidak ada jalan lain dari pada rasiko untuk memecahkan masalah moral yang kita hadapi sekarang yaitu dengan melalui dasar rasional perlu adanya kesepakatan dalam bidang moral. salah satu usaha kearah itu adalah etika terapan yang sekarang diterapkan yang sekarang diterapkan dalam kalangan luas

    BAB III
    PANUTUP

    A. Simpulan
    Seseorang seharusnya memiliki moral yang baik, karena Buddha telah mengajarkan untuk memiliki rasa malu untuk berbuat jahat dan takut akan hasil perbuatan jahat (Hiri dan Otapa ). Dalam menjalani kehidupan sehari-hari selalu berpegang tetuh pada sila Dalam ajaran Buddha. Apabila seseorang tidak menjalankan sila dengan baik maka moralnya menjadi tidak baik dipandang di dalam masyarakat.
    Dalam parinibbana sutta Sang Buddha bersabda ” Wahai saudara-saudara berkeluarga, orang-orang yang tidak susila dan karena kemerosotan moralnya maka mereka akan menjumpai lima bahaya. sebelum menimbulkan masalah itu maka dia hendaknya selalu wapada dalam bertingkah alku baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran.
    B. Saran
    Setelah mengetahui dengan jelas bahaya tidak menjalankan sila di dalam kehidupan sehari-hari maka hendaknya sebagai umat Buddha hendaknya berusaha menjalani Pancasila Buddhis sehingga memiliki rasa malu untuk berbuat jahat dan takut akan hasil perbuatan jahat (Hiri dan Otapa ).
    Semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan dapat diterapkan di dalam kehidupannya dan dapat menunjukkan kepada masyarakat luas sehingga dapat membantu seseorang agar memiliki kemoralan yang baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    David J. Kalupahana, 1986, Filsafat Buddha, Jakarta, Erlangga
    K. Bartens, 2001, Etika, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama
    Lawerence, Kohlber, 1995, Tahap-tahap Perkembangan Moral, Yogyakarta, Kamisius
    Jo Priastama, 2000, buddha Dhamma konstektual, Jakarta, Yasodhara Putri
    J.A. Jagdish Kumara, 1964, Mahaperinibana Sutta, Jakarta C.V. Lovinda India
    Lembaga Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha, 1983, Sutta Pitaka, Digha Nikaya, Jakarta, Departemen Agama R.I.
    Lembaga Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha, 2002, Sutta Pitaka, Digha Nikaya XI, Jakarta, C.V. Dwi Kayana Abadi
    Sri Dhamanada, 2002, Keyakinan Umat Buddha, Jakarta, Karania.

« 1 2