Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari hafizmukmin

hafizmukmin

laki-laki - 29 tahun, Cirebon, Indonesia
103 pengunjung

Blog / Dagang Dalam Al-Quran

Jumat, 16 Oktober 2009 jam 04:41

PERDAGANGAN DAN JUAL BELI
DALAM KACA MATA AL-QURAN

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
TAFSIR AYAT AHKAM DAN HADIS
Dosen: Dr. Attabik Luthfie, MA.

Disusun Oleh,
Nana Sudiana
505850008
Mahasiswa Pascasarjana
Jurusan Ekonomi Syari’ah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CIREBON
2009

PERDAGANGAN DAN JUAL BELI
DALAM KACA MATA AL-QURAN

A. PENDAHULUAN

Tentunya setiap kita sudah sangat mengimani bahwa perdagangan atau bisnis adalah suatu profesi yang terhormat di dalam ajaran Islam, hal ini terbukti bahwa al-Quran dan Hadis Nabi cukup sering menyebut dan menjelaskan norma-norma perdagangan dan jual beli (business).
Penghargaan Nabi Muhammad terhadap perdagangan sangat luar biasa, bahkan beliau sendiri adalah sosok businessman yang sangat terkenal kepiawaiannya dalam berdagang. Sejak usia muda reputasinya dalam dunia bisnis demikian bagus, sehingga beliau dikenal luas di Yaman, Syiria, Yordana, Iraq, Basrah dan kota-kota perdagangan lainnya di Jazirah Arab.
Dengan demikian tidaklah heran jika banyak para ilmuwan yang melirik kiprah Nabi Muhammad dalam dunia perdagangan untuk diperbincangkan dalam pelbagai media pendidikan.
Dalam berbagai macam sabdanya, semasa hidupnya, ia seringkali menekankan pentingnya perdagangan dalam kehidupan manusia. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Ashbahani diriwayatkan sebagai berikut:
ان أطيب الكسب كسب التجار الذين اذا حدثوا لم يكذبوا واذا وعدوا لم يخلفوا واذا ائتمنوا لم يخونوا واذا اشتروا لم يذموا واذا باعوا لم يمدحوا واذا كان عليهم لم يمطلوا واذا كان لهم لم يعسروا
Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw bersabda; ”Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, jika berjanji tidak menyalahi, jika dipercaya tidak khianat, jika membeli tidak mencela produk, jika menjual tidak memuji-muji barang dagangan, jika berhutang tidak melambatkan pembayaran, jika memiliki piutang tidak mempersulit” (H.R.Baihaqi dan dikeluarkan oleh As-Ashbahani).

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad saw juga mengatakan;
عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الر زق (رواه أحمد)
Artinya, Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki (H.R.Ahmad).

Namun demikian, ada aturan-aturan syariah yang harus diikuti dalam kegiatan perdagangan agar tujuan yang sesungguhnya dari perdagangan itu dapat tercapai, yaitu kesejahteraan manusia di duniawi dan kebahagian di akhirat, yang disebut Umar Chapra dengan istilah falah . Tanpa mengikuti aturan syariah, kegiatan perdagangan hanya akan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan manusia yang jauh dari nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan.
Dengan izin Allah Swt., Makalah yang berjudul ”PERDAGANGAN DAN JUAL BELI DALAM KACA MATA AL-QURAN” ini akan membahas ayat-ayat Al-quran yang berkaitan dengan perdagangan dan jual beli dalam Islam. Mudah-mudahan ini dapat dijadikan bukti bahwa Islam adalah agama yang syamil, ia ada bukan hanya berbicara masalah ibadah saja, namun ia juga mengatur masalah mu’amalah, termasuk perdagangan dan jual beli di dalamnya.
Makalah ini memilih satu ayat utama sebagai obyek kajian dan beberapa ayat lainnya yang relevan sebagai pendukung. Kajian ini juga tentunya diperkuat dengan hadits-hadits Nabi dan disertai dengan mengutip beberapa pendapat ulama.
B. AYAT-AYAT PERDAGANGAN DAN JUAL BELI DALAM AL-QURAN

Pengungkapan perdagangan dalam al-Quran ditemui dalam tiga kalimat (kata), yaitu tijarah, bay’ dan Syira’.
Kata التجارة- adalah bentuk isim mashdar dari kata kerja (تجر يتجر تجرا و تجارة) yang berarti (باع dan شرى ) yaitu menjual dan membeli. Kata tijarah ini disebut sebanyak 8 kali dalam al-Quran yang tersebar dalam tujuh surat, yaitu surah Albaqarah :16 dan 282 , Al-Nisa: 29, at-Taubah: 24 , An-Nur:37 , Fathir: 29 , Shaf : 10 dan Al-Jum’ah:11 . Pada surah Al-Baqarah disebut dua kali, sedangkan pada surah lainnya hanya disebut masing-masing satu kali saja. Di antara delapan ayat yang dimaksud, hanya 5 ayat saja yang memiliki ma’na hakikil. Sedangkan 3 ayat yang lainnya makna tijarah tidak berkonotasi bisnis (perdagangan) yang riel, tetapi dalam makna majazi (bukan sebenarnya), yaitu surat al-Baqarah:16, Fathir:29 dan Shaf:10.
Sedangkan kalimat ba’a باع) ) disebut sebanyak 4 kali dalam al-Quran, yaitu 1). Surah Al-Baqarah:254 , 2). Al-Baqarah: 275, 3). Surah Ibrahim: 31 dan 4. Surah Al-Jum’ah:9 .
Selanjutnya term perdagangan lainnya yang juga disebutkan dalam al-Quran adalah kalimat As-Syira. Kata ini terdapat dalam 25 ayat. Akan tetapi setelah diteliti dalam perspektif penulis, ternyata dari 25 ayat tersebut hanya 2 ayat saja yang (hakiki)berkonotasi perdagangan dalam konteks bisnis yang sebenanya, yaitu pada ayat yang mengkisahkan Nabi Yusuf yang dijual oleh orang menemukannya yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 21 dan 22 . Oleh karena itu kata syira dalam makalah ini sama sekali tidak dibahas.

a. Al-Quran Berbicara Tentang Jual Beli Dan Perdagangan Yang Sebenarnya
Di antara sekian jumlah ayat al-Quran yang membicarakan perdagangan, makalah ini hanya mengusung satu ayat saja sebagai ayat utama. Sedangkan ayat-ayat lainnya merupakan ayat-ayat pendukung. Ayat utama tersebut ialah surah Al-Nisa ayat 29. Alasan penulis mengangkat ayat ini, karena ayat pertama (Al-Nisa 29), berisi tentang larangan memakan harta dengan cara bathil dan keharusan melakukan perdagangan yang didasarkan pada kerelaan.
ياأيها الذين ءامنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم
ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما
Artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka-sama suka di antara kamu, janganlah kamu membunuh diri kamu, sesungguhnya Allah sangat menyayangi kamu”.
Sedangkan ayat-ayat lainnya merupakan ayat pendukung. Di antara ayat pendukung tersebut ialah surah Al-Baqarah 282 yang berisi tentang konsep pencatatan hutang (akuntansi) dalam kegiatan perdagangan atau mu’amalah yang lainnya.

b. Tinjauan Historis Ayat Di Atas
Ayat di atas (al-Nisa:29) termasuk ke dalam ayat Madaniyah, yang diturunkan setelah nabi Hijrah dari Makah menuju Madinah. Secara historis, ayat tersebut tidak memiliki peristiwa asbab al-nuzul. Namun demikian, dalam ayat ini, Allah Swt. sangat jelas memberikan aturan hukum bermu’amalah (jual beli / perdagangan) dalam kehidupan sehari-hari yang sudah menjadi harga mati bagi umat islam untuk menjalankan aturan mainnya. Sebagaimana yang telah termaktub dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 47,50.

Firman Allah Swt;
              
   
Artinya: 47. dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

c. Tafsir Mufrodat
Ayat ini menurut Sayyid Qutub dengan tegas melarang setiap orang beriman memakan harta dengan cara yang bathil. Memakan harta dengan bathil ini mencakup dua pengertian, yaitu memakan harta sendiri dan memakan harta orang lain. Cakupan ini difahami dari kata ((أموالكم بينكم yang artinya harta kamu dan sesamamu.
Memakan harta sendiri dengan cara bathil misalnya menggunakannya untuk kepentingan maksiat. Sedangkan memakan harta orang lain dengan bathil, adalah memakan harta hasil riba, judi, kecurangan dan kezaliman, juga termasuk memakan harta dari hasil perdagangan barang dan jasa yang haram, misalnya khamar, babi, bangkai, pelacuran, tukang tenung, paranormal, dukun (al-Kahin) dsb. Semua ini adalah perdagangan yang rusak (fasid) yang dilarang dalam Islam.
Menurut An-Nadawi, bathil itu adalah segala sesuatu yang tidak dihalalkan syari’ah, seperti riba, judi, suap, korupsi, penipuan dan segala yang diharamkan Allah . Menurut Al-Jashshah, termasuk memakan harta dengan bathil adalah memakan harta dari hasil seluruh jual beli yang fasid, seperti jual beli gharar.
Selanjutnya, yang sangat penting untuk direnungkan adalah bahwa obyek yang diperdagangkan harus halal dan thayyib. Perintah mengkonsumsi produk yang halal dan thayyib berulang kali disebut dalam Alquran, antara lain Surah Albaqarah: 268, Al-Maidah: 91, Al-Anfal 69 dan An-Nahal 114. Menurut para ulama, kata thayyib harus memenuhi beberapa kriteria sehingga sesuai dengan nilai-nilai etika dan spiritual dalam term halal dan thayyib, yaitu;
1. Barang-barang yang baik, berkualitas,
2. Barang-barang yang suci (tidak najis),
3. Barang-barang Indah
Dengan demikian, barang-barang yang dikonsumsi menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian dan keindahan.
Dalam memahami surah an-Nisak 29 ini, Muhammad Husein Ath-Thabathaba’iy melihat bahwa kalimat ولا تأكلوا أموالكم yang dikait dengan بينكم memberi isyarat larangan memakan harta dengan cara yang curang. Sedangkan maksud bil bathil adalah perdagangan yang membawa kerusakan dan kehancuran. Jadi bila perdagangan itu bersih dari kebatilan dan tipuan akan menimbulkan ketentraman masyarakat, bukan hanya terhadap pembeli dan penjual, bahkan lebih dari itu kepada masyarakat secara keseluruhan.
Tijarah ialah jual beli dan sejenisnya yang berkaitan dengan pengembangan harta. Tijarah ada tiga macam, yaitu, 1. ’ain dengan ’ain, inilah jual beli kontan 2.’ain dengan hutang (salam dan istisna), 3. jual beli ’ain dengan manfa’at, ini disebut ijarah/jasa.
Dengan demikian, maksud dari ayat عن تراض منكم, dalam perspektif penulis ialah masing-masing pihak (penjual-pembeli) rela dan suka dengan suatu transaksi bisnis yang mereka lakukan.
Kata tijarah dalam dalam ayat ini, bisa dibaca marfu’ dan bisa juga manshub.
Jika dibaca manshub, maka fi’il”yakunu/ kana” yang ada dalam kalimat itu statusnya adalah fi’il tam, bukan fi’il naqish. Maka, dhamir mustatir yang terdapat pada kata ”takun” kembali kepada kata Amwal (harta), sehingga kalimatnya menjadi, ”Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan bathil, kecuali ”harta” yang kamu peroleh dari hasil perdagangan yang didasarkan kerelaan di anatara kamu”.
Sebaliknya, apabila tijarah dibaca marfu’, maka kana/takunu itu menjadi fi’il naqish, Sehingga kalimatnya menjadi, janganlah kamu bermaksud memakan harta dengan cara yang bathil, kecuali perdagangan yang dilaksanakan saling ridha di antara kamu.
Larangan memakan harta sesama secara bathil dalam ayat itu dipertentangkan Allah dengan perdagangan suka sama suka. Artinya, bila memakan harta sesama secara bathil dilarang, maka perdagangan atas dasar suka sama suka diperintahkan, sesuai dengan kaedah yang telah di syari’atkan.

إذا أمر الله بشيئ كان ناهيا عن ضده و إذا نهى عن شيئ كان أمرا بضده

Artinya, Bila Allah memerintahkan sesuatu, berarti larangan (mengerjakan) lawannya, dan bila dia melarang sesuatu berarti perintah (melakukannya).
Selanjutnya, kata عن تراض direalisasikan dalam bentuk ijab dan qabul, yaitu kata-kata penerimaan dan pembelian dari penjual dan pembeli. Imam Syaf’ii merumuskan عن تراض itu menjadi lapaz ijab dan qabul, karena ridha itu sebenarnya adalah pekerjaan hati, sedangkan yang mengetahui suara hati adalah Allah, maka dalam konteks hukum syari’ah, ridha harus diinterpretasi menjadi lapadz ijab dan qabul .
Permasalahan dalam fikih
Dalam aplikasinya, jika salah satu diantara ke dua belah pihak, atau kedua-duanya berhalangan untuk melafadzkan ijab qobul sebagai wujud عن تراض, maka keduanya boleh menggunakn isyarat sebagai pengganti lafadz ijab qobul yang dimaksud.
Ada beberapa indikator yang menjurus kepada sahnya wilayah عن تراض, diantaranya;
Khiyar
Kondisi suka sama suka عن تراض antara pembeli dengan pedagang itu diwujudkan di tempat berlangsungnya transaksi dagang tersebut. Dalam hal ini menurut ajaran Islam, hak asasi seseorang sangat diihormati. Kemauan adalah hak asasi si pembeli, maka ia tidak boleh dipaksa membeli sesuatu. Seperti diungkapkan Sayyid Sabiq, mungkin terjadi salah satu pihak melakukan transaksi dengan tergesa-gesa. Setelah transaksi berlangsung nampak adanya keperluan yang menuntut pembatan transaksi tersebut. Bila tidak dibatalkan tentu akan merusak kerelaan dari yang bersangkutan, karena jual beli itu merugikannya. Dalam hal ini si pembeli dapat membatalkan transaksi jual beli selagi ia masih berada di tempat transaksi berlangsung. Ketentuan ini disebut dengan khiyar majlis. Sabda Rasulullah saw, ’Dari Abdullah bin Harits katanya, aku mendengar Hakim bin Hazam Ra bahwa Nabi saw bersabda. ”Dua orang yang melaksanakan jual beli boleh melakukan khiyar selama mereka belum berpisah Jika keduanaya benar dan jelas, keduanya diberkati dalam jual beli mereka. Jika mereka menyembunyikan dan berdusta, Tuhan akan memusnahkan keberkatan jual beli merek”a (H.R.Bukhari-Muslim)
Pembatalan transaksi juga bisa dilakukan oleh pembeli bila dia menemukan sesuatu cacat pada komoditas yang dia beli. Ini disebut dengan khiyar aib. Penemuan cacat barang tersebut ditemukan pembeli setelah transaski berlangsung. Tetapi bila cacat tersebut diketahui sebelum transakssi dan si pembeli tetap membelinya juga, maka transaksi tersebut tidak dapat dibatalkan lagi sebab si pembeli itu dipandang rela dengan barang tersebut.
Begitu juga si pembeli dapat membatalkan transaksi bila dia tidak mendapatkan syarat-syarat yang telah disepakati bersama oleh pembeli dan penjual sebelum berlangsungnya transaksi, yang disebut dengan khiyar syarat. Adanya tiga macam khiyar ini bertujuan agar kerelaan pembeli untuk melakukan transanski itu memang betul-betul terwujud

d. Tinjauan Ayat Dalam Perspektif Mufassirin
Dalam menafsirkan surah An-Nisak: 29, ”memakan harta dengan jalan bathil ” ini, Ibnu ’Arabi mengatakan, bahwa paling tidak ada 56 jenis dan bentuk perdagangan yang tidak sah dan dilarang dalam Islam.

ما لا يصح ستة و خمسون معنى نهي عنها
Perdagangan yang tidak sah itu itu antara lain, jual beli gharar, memperdagangkan barang-barang haram yang tidak bernilai menurut syara, seperti khamar, bangkai darah, berhala, salib, anjing piaraan, bisnis prostitusi (mahr al-baghi), jual beli tipuan (bay’ al ghasysyi), bay’ al muqtaat atau jual beli barang sejenis dengan kuantitas yang berbeda, atau jual beli barang yang tak sejenis tetapi kredit (nasi’ah), ba’i munabazah , Semua ini kata Ibnu ’Arabi termasuk kepada riba. (Wa hazda kulluhu dakhilun fi bay’ ar- riba).

Demikian juga dua jual beli dalam satu jual beli, bay’ al mulamasah , dan menjual sesuatu yang barangnya tidak ada di tangan, jual beli tanaman yang belum jelas hasilnya (ijon), bisnis paranormal, (hilwan kahin), jual-beli barang yang tidak bisa diserahkan, dan membeli sesuatu yang telah dibeli oleh orang lain. Semua ini merupakan perdagangan bathil.
Sayyid Qutub:
Dalam Fi Dzilal Quran, sayid Qutub menegaskan bahwa memakan harta dengan cara yang bathil sangatlah diharamkan, sebagimana yang dilaramh oleh Allah SWT dalam ayat tersebut. Dalam pada itu, Allah juga memberikan solusi untuk mengambil jalan yang halal, yaitu dengan melakukan perniagaan sebagiman yang diridloi oleh kedua belah pihak. Hal ini semata-mata bukti Allah maha pengasih terhadap hamba-hamba-Nya.

e. Potret Buram Sistem Jual Beli di Masyarakat
Sedih, adalah kata yang teramat tepat untuk menyanjung sistem tijaroh yang dilakukan oleh masyarakt dewasa ini. Ada beberapa indikator dan bukti bahwa banyak sekali praktek tijaroh yang berlaku di masyarakat yang sudah menyimpang dari nilai-nilai syari’at, diantaranya adalah:
1. Perdagangan yang masih mengandung unsur ribawi. Contoh kasus yang terjadi di lapangan biasanya, seorang pihak yang menghutang kepada pihak pemberi utang adalah keharusan pihak yang menghutang untuk membayar uang lebih dari jumlah yang dihutangkan. Padahal syari’at telah menyatakan bahwa hal tersebut adalah Haram.
2. Manipulasi harga dengan memanfa’atkan kebodohan dari pihak penjual. Biasanya hal ini dilakukan oleh para tengkulak yang datang ke desa-desa terpencil untuk membeli barang dengan harga yang tidak sewajarnya. Larangan tersebut karena pedagang tidak tahu harga pasar dan tidak memiliki informasi yang benar tentang harga di pasar. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian bagi para pedagang. Praktek semacam ini dikenal dalam fikih sebagai Talqqi Rukban. Substansi dari larangan talaqqi rukban ini adalah tidak adilnya tindakan yang dilakukan oleh pedagang kota yang tidak menginformasikan harga yang sesungguhnya yang terjadi di pasar. Mencari barang dengan harga lebih murah tidaklah dilarang. Namun apabila transaksi jual beli antara dua pihak, dimana yang satu pihak memiliki informasi yang lengkap dan yang satu tidak tahu berapa harga di pasar sesungguhnya dan kondisi demikian dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang lebih, maka terjadilah penzaliman oleh pedagang kota terhadap petani yang dari desa. Hal inilah yang dilarang.
3. Perdagangan yang mengandung unsur kebohongan, baik dari sisi kuantitas, kualitas, harga, atau waktu penyerahan. Artinya, dalam perdagangan

KESIMPULAN


Komentar

Kamu harus login untuk memposting komentar. Saya belum mempunyai account, daftar sekarang!
Rating kamu: 0
tidak ada rating