Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari fasihradiana

fasihradiana

perempuan - 23 tahun, Indonesia
45 pengunjung

Blog / He Loves Me (Not). Oh, Allah, Please ... Help Me.

Jumat, 25 Juli 2014 jam 17:47

Gue nggak tau, gue mau buka-bukaan sama diri gue sendiri. Gue nggak punya tempat dan makasih netlog. Maaf, gue lari ke lu karena di sini nggak ada yang tahu gue. Nyambung dari tulisan gue I Know Who I am bahwa seseorang yang punya kepribadian ganda pun ternyata punya sisi-sisi yang ia ingin tampakkan hanya (gue perjelas, HANYA) pada seseorang yang ia percaya. Dan sekarang ini jiwa gue lagi terguncang......

Aku inget banget, pernah doa sama Allah untuk mempertemukan aku dengan lelaki yang akan menjadi separuhku.

Dan entah salah atau benar aku meyakini orang itu adalah kamu. Yang kupercayakan hidupku di fase selanjutnya berbahagia denganmu. Dan membantuku membangun apa yang masih minus..... yang ternyata aku butuh orang lain untuk kugenggam agat tak terpeleset. Seseorang yang bisa kuterima KURANGNYA dan ia bisa menerima KEKURANGANKU. Allah, apa bukan dia orangnya?

Sejauh ini aku useless. Nggak penting. Mau aku ngelakuin hal sebesar apapun untuk hidupmu nggak akan pernah ada artinya, sia-sia. Aku obat. Yang kamu cari ketika sakit saja. Setiap orang punya rahasia. Dan Allah memberi kekuatan untuk menceritakan cacatnya hidupku padamu. Mengapa, Allah? Padahal nyata-nyata ia adalah lelaki yang tak pernah mensyukuriku.

Kamu tahu kenapa aku berani menceritakan siapa aku padamu padahal baru beberapa bulan aku mengenalmu dan itu pun dengan sebuah kesakitan atas pengkhianatan dan kebohongan? Aku nggak tahu, jawabku. Tapi ada keyakinan di dalam diriku (entah, karena sugesti atas doaku atau apa) yang bilang kamulah orangnya. Yang jadi tempat untukku menjadi diriku yang hanya akan kutampakkan pada satu orang. Kupikir kamulah orangnya. Kupikir begitu mulanya. Mungkin karena aku blm pernah sebaik ini dalam menerima keburukan orang lain (pasangan). Selain aku mengenal siapa aku, aku juga mudah mengenal karakter orang lain. Dan aku bisa menyebutkan dari ujung rambut sampai jemari kakimu, di mana lebih dan kurangmu. Di mana baik dan burukmu. Sungguh, aku tahu betul kelemahan, kekurangan, keburukanmu yang seharusnya menjadi alasan terbaik untuk tidak berdoa pada Allah agar menjadi yang pantas menua bersamamu. Tapi mengapa aku begitu legowo nerima semua minus-minus-minusmu, adalah alasanku mempertahankan sesuatu yang menyakitiku berkali-kali. Ada keyakinan di dalam hatiku, hati kecil yang berintuisi menyoal kesiapanku menyanggupimu.

Tapi ternyata rasionalku membantah.

Kamu nggak pernah menghargai usahaku. Kamu nggak berhenti membandingkan aku dengan mantanmu. Dan itu jadi satu alasan aku bisa menyebutmu bukanlah orang yang mensyukuriku. Seandainya kamu memang menerima dengan ikhlas, pastilah keburukanku nggak akan pernah jadi alasan bagimu membandingkan aku dengan orang lain. Itu menyakitkan. Sungguh, detik ini aku bahkan menangisi sikap itu... Sedetik pun memang aku tak pernah mendengar secara langsung kamu membandingkan aku dengan wanita lain. Tapi tersirat begitu jelas. Aku bisa merasakannya dengan mata batinku. Atau hanya perasaanku yang salah? Sungguh, aku berharap pikiranku yang terlalu mengada-ada.

Logikaku menyulitkan aku.

Andai aku adalah wanita pada umumnya. Aku hanya perlu merasakan keyakinan di dalam jiwaku bahwa kamulah orang itu. Tapi logikaku tidak terima. Kalau kamu memang orang itu, apa mungkin tega menyakiti? Kenapa tak pernah mengusahakan apapun untukku. Aku merasa hanya aku di sini yang berjuang. Berjuang mengikuti perangaimu. Berjuang beradaptasi denganmu. Berjuang mencari tahu apa yang kamu suka dan tidak. Berjuang merasakan kegelisahanmu. Berjuang dengan doa ketika aku tak lagi punya daya. Dan ketika logikaku mulai menyulitkan aku... membuat aku dan kamu jadi bertengkar, aku meredamnya dengan hatiku. Aku meredamnya dengan meyakinkan diriku bahwa akulah yang semestinya paham perasaanmu. Bahwa aku akan selalu berusaha be your best friend. Aku selalu menyingkirkan logika-logika buruk yang tak pernah kamu tenangkan dan yakinkan itu... dengan mengabaikan diriku. Sebaik mungkin berusaha menstabilkan hatiku sendiri. Sebisa mungkin mengerti. Tapi mengapa seolah-olah aku tak bisa mengerti? Bagimu, aku hanyalah anak kecil yang tidak dewasa dalam menjalin sebuah hubungan. Begitu yang kutahu. Saat itu pula, aku hanya mampu bertengadah, meminta Allah memelukmu. Menjagamu. Mungkin aku yang tak mampu. Aku yang bodoh menjaga hatimu.

Apa Begitu Sulita Buatmu Bicara Jujur....

Ketika seseorang pernah dibohongi, ia akan terus berpikir bahwa ia sedang dibohongi. Tapi kamu terus menyudutkan aku. Ketika aku mulai negatif, kamu bilang aku penggalau. Bukan itu yang kuharapkan. Mengapa mesti mencela, sedangkan kamu nggak pernah sekalipun bicara sesuatu yang meyakinkan aku bahwa kamu mencintaiku. Yang terjadi justru kebohongan-kebohongan kecil, meski kecil, tapi sungguh sakit.

I Know Who I am.

Im not 'unstable'. Aku juga bukan selalu berprasangka buruk padamu. Aku juga tidak sedang menyalahkan perlakuanmu di masa lalu. Aku bukan suka mengumbar kegalauan dan kegelisahanku. Kalau kamu risih, kenapa nggak berusaha meyakinkan aku. Apa karena kamu sendiri nggak yakin? Padahal 20 juli lalu kamu sendiri yang bilang yakin. Lalu salahkah aku yang ingin tahu seberapa besar keyakinan itu. Aku tahu bahwa dulu mengapa aku bisa begitu stabil dalam menjalin hubungan bahkan dalam kurun waktu 9 bulan aku hanya bertemu 4 kali. Mengapa? Karena aku yakin. Akulah satu-satunya, aku dicintai dengan tulus, ia memperjuangkan aku, bahwa tak ada yang lain kecuali bertujuan mengikat janji dengan akad. Tapi sungguh, aku belum pernah sekalipun mendengar ucapmu meyakinkan aku. Belum pernah sekalipun melihat kamu melakukan sesuatu untuk membuat keraguan itu hilang. Ketika aku memberi satu pernyataan yang jadi pertanyaan, kamu membiarkan menggantung begitu saja, tanpa penjelasan apapun. Kalau begitu, apa salah kalau kuanggap itu adalah suatu kebenaran? Kamu tidak mengklarifikasi, maka itulah yang terjadi kan?

Seandainya kamu tahu, hati kecilku sudah yakin dan percaya. Hanya saja logikaku belum. Bukankah seharusnya kamu melakukan sesuatu yang sederhana saja tapi tulus. Tapi aku tahu, bagimu, aku hanyalah seorang penuntut yang tidak pernah mengerti kamu. Yang tidak sabar. Iya, aku tahu bagimu aku sama cacatnya dengan hdpku.

Apa keyakinan bahwa kamulah orangnya hanyalah pikiran yang salah?

Sebab sesuatu yang kugelisahkan, kukhawatirkan, tak pernah kamu beri penjelasan, tak pernah kamu bantah, tak pernah kamu tenangkan. Lalu apa yang harus kulakukan. Apa cukup dengan keyakinan di hati kecilku saja? Apa bisa hanya dengan itu aku bertahan?

Allah, aku percaya Engkau pemberi kekuatan paling baik dari segala yang terbaik. Maka berilah aku sedikit saja dari kekuatan-Mu. Dan beritahu aku, bagaimana menghilangkan semua keraguan dan kegelisahan dari logika-logikaku jika ia tak pernah mau meyakinkan aku.......

Atau kepergian jadi satu jalan? Allah, dekap ia. Jaga dia. Dan beri aku kekuatan. Sungguh... Ku mohon hentikan air mata dari semua ketakutanku.

I love you, semoga Allah melindungi kamu. Dan aku. Atau kita seandainya kamu juga berharap yang sama.


Rating kamu: 0
tidak ada rating