Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari fasihradiana

fasihradiana

perempuan - 23 tahun, Indonesia
45 pengunjung

Blog 2


  • He Loves Me (Not). Oh, Allah, Please ... Help Me.

    Gue nggak tau, gue mau buka-bukaan sama diri gue sendiri. Gue nggak punya tempat dan makasih netlog. Maaf, gue lari ke lu karena di sini nggak ada yang tahu gue. Nyambung dari tulisan gue I Know Who I am bahwa seseorang yang punya kepribadian ganda pun ternyata punya sisi-sisi yang ia ingin tampakkan hanya (gue perjelas, HANYA) pada seseorang yang ia percaya. Dan sekarang ini jiwa gue lagi terguncang......

    Aku inget banget, pernah doa sama Allah untuk mempertemukan aku dengan lelaki yang akan menjadi separuhku.

    Dan entah salah atau benar aku meyakini orang itu adalah kamu. Yang kupercayakan hidupku di fase selanjutnya berbahagia denganmu. Dan membantuku membangun apa yang masih minus..... yang ternyata aku butuh orang lain untuk kugenggam agat tak terpeleset. Seseorang yang bisa kuterima KURANGNYA dan ia bisa menerima KEKURANGANKU. Allah, apa bukan dia orangnya?

    Sejauh ini aku useless. Nggak penting. Mau aku ngelakuin hal sebesar apapun untuk hidupmu nggak akan pernah ada artinya, sia-sia. Aku obat. Yang kamu cari ketika sakit saja. Setiap orang punya rahasia. Dan Allah memberi kekuatan untuk menceritakan cacatnya hidupku padamu. Mengapa, Allah? Padahal nyata-nyata ia adalah lelaki yang tak pernah mensyukuriku.

    Kamu tahu kenapa aku berani menceritakan siapa aku padamu padahal baru beberapa bulan aku mengenalmu dan itu pun dengan sebuah kesakitan atas pengkhianatan dan kebohongan? Aku nggak tahu, jawabku. Tapi ada keyakinan di dalam diriku (entah, karena sugesti atas doaku atau apa) yang bilang kamulah orangnya. Yang jadi tempat untukku menjadi diriku yang hanya akan kutampakkan pada satu orang. Kupikir kamulah orangnya. Kupikir begitu mulanya. Mungkin karena aku blm pernah sebaik ini dalam menerima keburukan orang lain (pasangan). Selain aku mengenal siapa aku, aku juga mudah mengenal karakter orang lain. Dan aku bisa menyebutkan dari ujung rambut sampai jemari kakimu, di mana lebih dan kurangmu. Di mana baik dan burukmu. Sungguh, aku tahu betul kelemahan, kekurangan, keburukanmu yang seharusnya menjadi alasan terbaik untuk tidak berdoa pada Allah agar menjadi yang pantas menua bersamamu. Tapi mengapa aku begitu legowo nerima semua minus-minus-minusmu, adalah alasanku mempertahankan sesuatu yang menyakitiku berkali-kali. Ada keyakinan di dalam hatiku, hati kecil yang berintuisi menyoal kesiapanku menyanggupimu.

    Tapi ternyata rasionalku membantah.

    Kamu nggak pernah menghargai usahaku. Kamu nggak berhenti membandingkan aku dengan mantanmu. Dan itu jadi satu alasan aku bisa menyebutmu bukanlah orang yang mensyukuriku. Seandainya kamu memang menerima dengan ikhlas, pastilah keburukanku nggak akan pernah jadi alasan bagimu membandingkan aku dengan orang lain. Itu menyakitkan. Sungguh, detik ini aku bahkan menangisi sikap itu... Sedetik pun memang aku tak pernah mendengar secara langsung kamu membandingkan aku dengan wanita lain. Tapi tersirat begitu jelas. Aku bisa merasakannya dengan mata batinku. Atau hanya perasaanku yang salah? Sungguh, aku berharap pikiranku yang terlalu mengada-ada.

    Logikaku menyulitkan aku.

    Andai aku adalah wanita pada umumnya. Aku hanya perlu merasakan keyakinan di dalam jiwaku bahwa kamulah orang itu. Tapi logikaku tidak terima. Kalau kamu memang orang itu, apa mungkin tega menyakiti? Kenapa tak pernah mengusahakan apapun untukku. Aku merasa hanya aku di sini yang berjuang. Berjuang mengikuti perangaimu. Berjuang beradaptasi denganmu. Berjuang mencari tahu apa yang kamu suka dan tidak. Berjuang merasakan kegelisahanmu. Berjuang dengan doa ketika aku tak lagi punya daya. Dan ketika logikaku mulai menyulitkan aku... membuat aku dan kamu jadi bertengkar, aku meredamnya dengan hatiku. Aku meredamnya dengan meyakinkan diriku bahwa akulah yang semestinya paham perasaanmu. Bahwa aku akan selalu berusaha be your best friend. Aku selalu menyingkirkan logika-logika buruk yang tak pernah kamu tenangkan dan yakinkan itu... dengan mengabaikan diriku. Sebaik mungkin berusaha menstabilkan hatiku sendiri. Sebisa mungkin mengerti. Tapi mengapa seolah-olah aku tak bisa mengerti? Bagimu, aku hanyalah anak kecil yang tidak dewasa dalam menjalin sebuah hubungan. Begitu yang kutahu. Saat itu pula, aku hanya mampu bertengadah, meminta Allah memelukmu. Menjagamu. Mungkin aku yang tak mampu. Aku yang bodoh menjaga hatimu.

    Apa Begitu Sulita Buatmu Bicara Jujur....

    Ketika seseorang pernah dibohongi, ia akan terus berpikir bahwa ia sedang dibohongi. Tapi kamu terus menyudutkan aku. Ketika aku mulai negatif, kamu bilang aku penggalau. Bukan itu yang kuharapkan. Mengapa mesti mencela, sedangkan kamu nggak pernah sekalipun bicara sesuatu yang meyakinkan aku bahwa kamu mencintaiku. Yang terjadi justru kebohongan-kebohongan kecil, meski kecil, tapi sungguh sakit.

    I Know Who I am.

    Im not 'unstable'. Aku juga bukan selalu berprasangka buruk padamu. Aku juga tidak sedang menyalahkan perlakuanmu di masa lalu. Aku bukan suka mengumbar kegalauan dan kegelisahanku. Kalau kamu risih, kenapa nggak berusaha meyakinkan aku. Apa karena kamu sendiri nggak yakin? Padahal 20 juli lalu kamu sendiri yang bilang yakin. Lalu salahkah aku yang ingin tahu seberapa besar keyakinan itu. Aku tahu bahwa dulu mengapa aku bisa begitu stabil dalam menjalin hubungan bahkan dalam kurun waktu 9 bulan aku hanya bertemu 4 kali. Mengapa? Karena aku yakin. Akulah satu-satunya, aku dicintai dengan tulus, ia memperjuangkan aku, bahwa tak ada yang lain kecuali bertujuan mengikat janji dengan akad. Tapi sungguh, aku belum pernah sekalipun mendengar ucapmu meyakinkan aku. Belum pernah sekalipun melihat kamu melakukan sesuatu untuk membuat keraguan itu hilang. Ketika aku memberi satu pernyataan yang jadi pertanyaan, kamu membiarkan menggantung begitu saja, tanpa penjelasan apapun. Kalau begitu, apa salah kalau kuanggap itu adalah suatu kebenaran? Kamu tidak mengklarifikasi, maka itulah yang terjadi kan?

    Seandainya kamu tahu, hati kecilku sudah yakin dan percaya. Hanya saja logikaku belum. Bukankah seharusnya kamu melakukan sesuatu yang sederhana saja tapi tulus. Tapi aku tahu, bagimu, aku hanyalah seorang penuntut yang tidak pernah mengerti kamu. Yang tidak sabar. Iya, aku tahu bagimu aku sama cacatnya dengan hdpku.

    Apa keyakinan bahwa kamulah orangnya hanyalah pikiran yang salah?

    Sebab sesuatu yang kugelisahkan, kukhawatirkan, tak pernah kamu beri penjelasan, tak pernah kamu bantah, tak pernah kamu tenangkan. Lalu apa yang harus kulakukan. Apa cukup dengan keyakinan di hati kecilku saja? Apa bisa hanya dengan itu aku bertahan?

    Allah, aku percaya Engkau pemberi kekuatan paling baik dari segala yang terbaik. Maka berilah aku sedikit saja dari kekuatan-Mu. Dan beritahu aku, bagaimana menghilangkan semua keraguan dan kegelisahan dari logika-logikaku jika ia tak pernah mau meyakinkan aku.......

    Atau kepergian jadi satu jalan? Allah, dekap ia. Jaga dia. Dan beri aku kekuatan. Sungguh... Ku mohon hentikan air mata dari semua ketakutanku.

    I love you, semoga Allah melindungi kamu. Dan aku. Atau kita seandainya kamu juga berharap yang sama.

  • I Know Who I am

    Entah saya harus mulai dari mana atas kegelisahan yang nggak juga selesai. Mungkin cuma dengan nulis saya bisa bernapas lebih baik. Dan di sini jadi tempat pelarian ketika nggak akan ada yang kenal saya, nggak akan ada yang tahu, nggak akan ada yang mengerti apa maksud tulisan saya. Sungguh, entah kepada siapa saya harus melepaskan gundah yang nggak ada akhirnya ini....

    Gue tahu gue cacat. Gue berangkat dari hal yang udah rusak sejak awal. Gue bobrok. Dan ketika gue bisa ngatur jalan gue harus ke mana aja, harus ngapain aja, di saat itu gue mulai membangun personal branding dari minus, bukan dari nol. Gue tahu banget gue punya banyak kekurangan. Mungkin nggak ada lebihnya sama sekali. Gue tumbuh jadi pribadi yang nggak percaya diri, tertutup, cuek, pesimis, lemah (dan gue tutupin dengan menjadi pribadi yang keras dan angkuh), gue tahu gue bisa melakukan segalanya sendirian.

    Dalam keterbatasan perhatian yang gue dapet dari sisi manapun, ketika gue mulai kenal lawan jenis (SMP), nggak lantas bikin gue jadi perempuan yang merengek-rengek minta diberi kasih sayang. Gue pacaran tapi sekadar karena perasaan yang gue rasa bisa gue sebut cinta. Entah, cinta apa, cinta monyet atau apalah namanya. Sampe gue berhasil membangun personal branding gue dan tanpa gue minta, banyak cowok ngedeketin gue. Dan hampir semua sahabat lelaki gue jatuh cinta sama gue. Gue tipe intrapersonal. Ya, gue kenal banget diri gue. Gue paham di mana letak kurang dan lebih gue. Dan gimana cara mengatasi keduanya biar seimbang. Dari situ gue yang begitu rapuh terlihat jadi sedikit lebih kuat. Di mata mereka, gue adalah pribadi yang apa adanya (bukan seadanya). Gue nggak pernah jadi orang lain. Gue hidup dengan apa adanya gue. Gue perempuan yang ketika sedih ya gue bilang lagi sedih, ketika seneng gue bilang lagi seneng. Gue bicara apa adanya. Nggak ada yang gue tutupin. Ya, itu bagi mereka.

    Semakin ke sini, gue semakin jadi perempuan yang love-able. Gue mudah disayangi hanya karena gue jujur. Gue terbuka. Gue mudah cerita apa yang sedang gue rasain. Ketika gue nggak suka, gue bilang. Ketika bagi gue ada yang kurang tepat, gue bilang. Gue nggak peduli, gue nggak pernah takut jadi berbeda. Gue nggak pernah takut dibenci hanya karna gue ngomong apa adanya. Gue punya prinsip, lebih baik nggak punya temen tapi gue jujur daripada gue bermuka ganda. Dan siapa sangka, mereka justru semakin mudah sayang sama gue. Eits, banyak juga yang nggak sepaham dengan gue. Tapi gue juga punya prinsip bahwa gue nggak akan membuat semua orang suka sama cara gue, gue nggak akan bisa maksa setiap orang untuk setuju dengan pola hidup gue. Tapi nggak lantas bikin gue menutup diri dari masukan dan saran. Asal dilakukan dengan cara yang tepat, insyaAllah gue introspeksi ketika memang kritikan itu membangun. Sejak SMP, gue lebih mudah temenan sama laki-laki. Bukan karena gue ganjen, tapi karena mereka lebih jujur dan apa adanya ketimbang yang sejenis sama gue. Mereka realistis, logis, dan tegas. Sehingga gue lebih keukeuh dengan diri gue yang logis. Gue sepola pikir dengan mereka ketimbang perempuan yang lebih banyak menggunakan perasaan. Apalagi gue ngelanjutin sekolah ke Sekolah Menengah Teknik, yang notabene muridnya laki-laki. Gue semakin punya banyak relasi laki-laki dan mengokohkan kepribadian gue yang cenderung lebih rasional ketimbang perempuan lain. Itu bikin laki-laki yang pacaran sama gue jengah. Gue terlalu rasional. Dan ketika mereka mulai protes, gue selalu bilang, "kalo kamu nggak suka dengan begininya saya, silakan cari wanita lain." Toh, kenyataannya, nggak ada satupun yang ninggalin gue. Mereka justru semakin respek sama gue.

    Banyak dari mereka mengenal gue adalah penulis dengan tema cinta. Menye-menye. Galau. Sehingga mereka yng kenal gue lewat tulisan-tulisan gue mengira gue adalah perempuan yang lemah lembut, anggun, dan mudah galau. Tapi mereka selalu heran dan nggak percaya bahwa gue adalah penulis tulisan-tulisan itu. Why? Karena ketika malam gue ngepost tulisan galau, paginya lu nggak akan pernah lihat gue dengan wajah sendu. Gue pasti senyum dan ketawa. Karena kegalauan dari tulisan itu adalah penghabisan. Nggak akan ada di dunia nyata. Itu kenapa, yang kenal gue lebih dulu dari dunia nyata nggak pernah percaya bahwa gue bisa nulis seromantis itu. Lu boleh tanya sama orang tua gue, kapan terakhir mereka lihat gue nangis. Kata ibu, gue sekaku rambut gue yang kaya sapu ijuk. Nonton film sedih banget juga nggak nangis.

    Sebenernya gue punya semua jawaban dari perkara di atas. Yang akhir-akhir mulai tampak ke permukaan. Segala kegelisahan yang jadi sebuah ketakutan.

    I know who I am. Gue paham banget. Itu salah satu kelebihan gue. Sehingga mudah bagi gue mengendalikan diri karena gue ngerti banget gue gimana. Lu perlu tahu bahwa di dalam diri seseorang sebenarnya nggak pernah punya satu kepribadian. Hanya kebanyakan orang hanya bisa memelihara satu bentuk kepribadian saja. Kenapa? Karena kepribadiannya adalah kebiasaan yang ditumbuhkan sejak awal. Yaps, lu inget di awal tulisan ini. Gue bilang, gue berangkat dari sesuatu yang sudah hancur. Dan gue menata segala yang udah terbentuk dari kepingan yang hancur itu dengan diri gue sendiri, semampu gue. Dan itulah penyebab gue memelihara lebih dari satu kepribadian. Sebut saja kepribadian ganda.

    Dengan pribadi yang berkembang sejak masa gue yang udah lalu-lalu itu, sekarang gue belokin dengan kepribadian yang gue tumbuhkan sendiri. Gue jadi punya dua sisi. Maksudnya? Bingung? Biar gue perjelas....

    Di awal tulisan ini gue bilang bahwa gue adalah pribadi yang nggak percaya diri, tertutup, pesimis, lemah, cuek, dll. Tapi gue menumbuhkan kepercayaan diri gue dengan berbagai hal. Menulis adalah salah satu cara orang introvert membuka dirinya. Gue punya selera fashion yang cukup baik dan bikin gue sering kebanjiran pertanyaan gimana, gimana, dan gimana sih itu bajunya, hijabnya, dll. Gue punya perhatian khusus terhadap mereka yang curhat sama gue. Gue menghormati mereka. Dan itu bikin gue sering dapet pesan facebook, sms, whatsapp, email, dan jejasos lain dari mereka-mereka yang pengen cerita. Dan banyak dari mereka yang gue gak kenal siapa. Dari situ, gue membentuk kepribadian baru yang semua berkebalikan dengan kepribadian gue di awal tadi.

    Stop. Jangan berpikir bahwa ketika seseorang punya kepribadian yang multi... adalah sama dengan mereka yang bermuka ganda. Kepribadian ganda berbeda dengan bermuka ganda yah. Orang-orang yang bermuka ganda biasanya adalah yang baik di depan tapi buruk di belakang. Mereka sebenarnya hanya memelihara satu kepribadian, tetapi ketika ada orang mereka mengubah diri menjadi yang bukan dirinya.

    Gue kasih contoh.

    Kepribadian ganda:

    Ketika dia ada di komunitas yang serius, kalem. Dia bisa memposisikan dirinya menjadi seperti itu. Sedang ketika berada di sekeliling orang-orang yang kocak, rame, cerewet, dia pun bisa menjadi bagian dari komunitas itu. Loh, kok bisa?

    Bisa. Jawabannya karena seseorang yang punya kepribadian ganda sudah memelihara kepribadian lebih dari satu. Sehingga ia tetap menjadi diri mereka di manapun mereka berada. Ketika ada di komunitas orang-orang kalem, maka dia mengadaptasikan diri dengan mengeluarkan kepribadian pendiamnya. Ketika berada di komunitas orang kocak, dia menyuguhkan dirinya dengan kepribadiannya yang juga asik. Layaknya bunglon. Dan itu nggak mudah. Punya dua kepribadian dalam satu tubuh, satu jiwa.

    Bermuka ganda:

    Hanya akan terjadi bila misal: sebenarnya ia punya kepribadian yang kaku, tetapi agar diterima di suatu komunitas ia berpura-pura menjadi orang yang ramah-tamah. Tetapi biasanya orang-orang bermuka dua tidak bisa bertahan lama dalam suatu komunitas karena cpt lambat orang-orang tau seperti apa sebenarnya.