Lanjutkan ke Netlog

detik lain
Halaman profil dari buyamasoedabidin

buyamasoedabidin

laki-laki - 78 tahun, Padang, Indonesia
417 pengunjung

Blog / Melangkah dalam Kehidupan dengan bekal Taqwa

Rabu, 26 Januari 2011 jam 22:20

“Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ tanpa membawa bekal taqwa, sedang engkau melihat orang-orang lain membawanya pada hari penghimpunan, pastilah engkau menyesal karena tidak seperti mereka. Mereka pulang mempunyai persiapan sedang engkau tidak memiliki apapun ”. (Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)

Al Hitami, pujangga sufi kelahiran Spanyol mengungkapkan dengan puitis bahwa, “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.” Pernyataan Al Hitami berisi wasiat, bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini tak boleh disikapi dengan sombong atau lupa daratan dengan akibat meninggalkan kerabat dan sahabat.

Sebaiknya, bila sedang dirundung malang, mesti bersabar dengan tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa. Sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda. Ketika sedang berada dibagian atas jangan merasa lebih, dan pula ketika berada di bawah jangan terlalu bersedih hati.

Menurut akidah Islamiyah, hidup yang kini dijalani bukan hidup paripurna. Masih akan ditempuh sesi berikutnya. Yakni hidup sesudah mati. Satu kehidupan kekal abadi. Di akhirat kelak. Firman Allah SWT: “Mengapa kamu sekalian ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan¬Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Baqarah: 28)

Semua yakin bahwa mati itu pasti akan datang. Cepat atau lambat. Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia. Telah banyak orang kaya dihampiri malaikat Izrail. Tidak sedikit yang masih muda belia tiba-tiba meninggal. Kematian akan mendatangi segala umur dan semua lapisan di semua tempat. Firman Allah SWT: “Dimana saja kamu berada, kematian pasti akan menjumpai kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi dan kokoh”. (Q.S An-Nisa’:78)

Seorang muslimin tidak seharusnya takut akan kematian. Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah bagi yang benar beriman dan banyak melakukan kebajikan. Walaupun bagi yang ingkar dan tidak memiliki bekal kebajikan, mati sangat ditakuti, karena selain harus bercerai dengan istri, berpisah dengan keluarga, dan melepaskan semua harta, berarti pula mereka mula merasakan penderitaan akibat siksaan yang berkepanjangan. Na ‘uzubillah.

Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW berikut ini: “Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa: pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu, pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa kefakiranmu dan pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”. (HR. Al Baihaqi)

Mulailah hidup dengan langkah yang baru, dengan energi dan semangat yang baru. Tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat. Teruslah berjalan dengan menelusuri lorong-lorong kehidupan yang menuju ke kampung akhirat.

Umur yang dianugerahkan Allah hendaknya dimanfaatkan dengan baik dengan beramal dan beribadah. Manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pergunakanlah waktu dengan baik. Allah bersumpah demi waktu.

وَالْعَصْرِ -إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ -إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Malik bin Nabi mengungkap di dalam bukunya Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan): “Waktu adalah ibarat sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu, melintas pulau, kota dan desa, memacu semangat atau menina bobokkan manusia. Waktu diam seribu kata, malah ada manusia tak menghargai kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu -selain Allah- tidak mampu melepaskan diri darinya”. Tidak memperhatikan waktu dan umur, membuat kehidupan sia-sia. Waktu amat terbatas. Jika waktu telah berakhir (berlalu), ia tak akan bisa diganti dan tidak mungkin kembali lagi.

Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok". Artinya, dalam menjalani kehidupan haruslah dengan penuh keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Perbanyaklah amal shaleh. Jika umur atau perjalanan hidup tidak diisi taqwa, hidup akan hampa, tidak bermakna dan sia-sia. Dalam peredaran waktu terdapat kewajiban dan tanggung jawab. Manusia berkewajiban menggunakan kesempatan dan mengatur waktunya dengan baik.

NASEHAT AHLI HIKMAH
1. Siapa yang ingin menjadi kaya, maka hendaknya ia selalu senang dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, baik berupa harta benda, kedudukan, maupun yang lainnya.
2. Siapa yang ingin pandai dalam urusan agamanya, maka hendaknya mau menerima kebenaran dari Allah yang disampaikan oleh siapapun dan dimanapun datangnya.
3. Barangsiapa ingin menjadi seorang yang bijak, maka hendaknya dia menjadi orang yang berilmu.
4. Barang siapa ingin aman dari gangguan manusia, hendaknya dia tidak menceritakan aib orang lain.
لاَ تَكُوْنُوا إِمَّعَةً يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنُوْا أَحْسَنْتُ، وَ إِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتُ، لَكِنْ وَ طِّنُوْا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، و إِنْ أَسَاءُوا أَلاَّ تَظْلِمُوْا.
(رواه الترمذي)
Janganlah kalian menjadi seperti bunglon yang berkata, aku bersama orang-orang, jika mereka baik, maka akupun baik pula, dan jika mereka buruk akhlaknya, maka akhlakku pun buruk p[ula. Akan tetapi tanamkanlah sikap pada diri kalian ; jika mereka baik, hendkalah kalian baik; dan jika mereka buruk akhlaknya, maka janganlah kalian berbuat dzalim. (HR. Imam Tirmidzi (2008), dan dia berkata hadist Hasan Ghari:).
5. Siapapun yang ingin dapat kemuliaan di dunia dan akhirat, hendaknya utamakan urusan akhirat diatas kepentingan duniawi.
6. Barang siapa ingin memperoleh surga di dunia dan surga di akhirat, hendaknya dia banyak memberi, karena yg banyak memberi itu dekat dengan surga dan jauh dari neraka.
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمْكَ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلِ سَقَمِكَ، وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

‘Manfaatkanlah sebaik-baiknya lima macam kesempatan sebelum datang lima yang lainnya; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu, saat kayamu sebelum tiba saat miskinmu, waktu senggang – lapangmu – sebelum datang waktu sibukmu dan hidupmu sebelum matimu datang menjelang’. (HR.Hakim, mensahihkan nya menurut syarat Bukhari Muslim dengan disetujui oleh Mundziri, al Munthaqa : 2089, dan Dzahabi (4/306). )
7. Tidak akan bisa berkumpul antara iman dan bakhil (kikir) di hati seorang mukmin selamanya. Adakah penyakit yang lebih berbahaya daripada bakhil? – (HR. Bukhari Muslim).
8. Barangsiapa menyangka bahwa ia punya penolong lebih kuat dari Allah, berarti belum mengenal Allah dengan baik. Siapa mengira dirinya punya musuh yang lebih berbahaya dari dorongan nafsunya, berarti belum kenal dirinya dengan baik.
9. Barangsiapa yg menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan memudahkan semua urusannya, menjadikan hatinya kaya, dan dunia akan mendatanginya dengan mudah. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan dirinya senantiasa sibuk dengan dunianya, sedangkan dunia akan menghampirinya sebatas yang telah ditentukan untuknya jua. Tidak lebih.
10. Jadilah orang yang paling baik disisi Allah. Jadilah orang yang paling berkekurangan dalam pandangan dirimu. Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain. “Sesempurna Iman seorang adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR.Tirmidzi).
11. Agar peradaban membawa kemaslahatan dan menyejahterakan umat maka bimbingan agama menjadi penyempurna rahmat Allah bagi manusia.
12. Kewajiban setiap diri memelihara jasmani dengan menjaga kesehatannya. Akal mesti dikembangkan dengan ilmu pengetahuan. Agama wajib dilaksanakan dalam realitas kehidupan. Perintah Allah dengan Alquran mesti diyakini sebagai pedoman hidup yang paripurna.


Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.
1. Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13)
2. Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14)
3. Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 - 19)


Asy Syahid Hasan Al-Bana dalam “Hadits Tsulatsa”, yang disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid, mengajari cara membagi waktu dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab. “Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”.

[b]1. Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, yaitu berupa ketaatan kepada Allah, manusia wajib menjaga waktunya.. Ini pun terbagi dua: (a). yang difardhukan oleh Allah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (:). yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi.

2. Dalam hal-hal yang memberikan manfaat kepada kita, yakni untuk mencari rezki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga yang kita tanggung, maka wajib memanfaatkan waktunya. Jika hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan menjadi amal ibadah.

3. Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain, merupakan bagian dari silaturrahim dalam bentuk pendekatan (qurbah/taqarru:) diri yang paling agung, maka manusia berkewajiban menyediakan waktunya.

4. Dalam hal yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, yaitu waktu istirahat, manusia wajib menggunakan waktunya. Sediakan waktu khusus untuk dapat memperbaharui dan menyegarkan kembali semangat dengan istirahat (irhanaa ya Bilaal bis-shalah), seperti berolah raga, berwisata (siruu fil-ardhi) dengan cara bermanfaat dan positif.
[/b]

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Hamba yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya. Ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Ada waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar). Ada pula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.” (Diriwayatkan oleh lbnu Hibban).

Dikala kita memasuki tahun baru (1432H/2011 M), maka tahun yang lalu sudah menjadi masa lampau, tidak akan terbentang lagi sebagai masa depan. Tahun-tahun selanjutnya adalah tahun yang lain. Menjadi kelanjutan dari perjalanan umur, jika Allah masih memberikan jatah hidup kepada kita.

Sekilas, masuknya tahun baru berarti bertambahlah umur kita satu tahun, Al hamdulilah. Kita patut bersyukur karena Allah telah memperpanjang umur kita. Namun, jika kita menyimak ungkapan bijak, “Umurku berkurang setiap hari.. .Sedang dosa terus bertambah... Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya…”

Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang. Otomatis, maut semakin dekat dan kita tidak tahu kapan berakhir. Sebelum umur berakhir, akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit untuk semakin memacu diri dalam mengisi sisa umur dengan amal shaleh dan ketaqwaan.
Akal sehat dan iman taqwa memandu kita agar sisa umur tak sia-sia dan hidup tak boleh rugi.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15)

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،
اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ،
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ،
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.


Semoga Allah meridhai kita, Amin.

Allahu a ‘lam bishawab.

Wassalam,u'alaikum Wa rahmatullahi wa Barakatuh ..


Reaksi

Kamu harus login untuk memposting komentar. Saya belum mempunyai account, daftar sekarang!
Rating kamu: 0
tidak ada rating